Yuk, Tetap Syar’i di Ruang OK

Ruang operasi/operatie kamer (ruang OK) menuntut siapapun yang berada di dalamnya, baik pasien maupun tenaga medis harus dalam keadaan bersih dan steril, agar menghindari kemungkinan terjadinya infeksi nosokomial. Salah satu cara pencegahan infeksi di ruang operasi adalah dengan penggunaan alat pelindung diri (APD) berupa masker, sepatu, pakaian khusus, sarung tangan, apron, cap.

Salah satu APD, yakni pakaian khusus OK akhir-akhir ini telah menjadi dilema bagi tenaga medis muslimah. Di mana, pakaian OK yang lumrah kita temui adalah dalam bentuk baju atasan dan celana panjang, bahkan bentuk pakaian ini sudah menjadi standar tidak resmi bagi kebanyakan RS Indonesia.

 

Hati nurani muslimah pun terketuk, bahwa sebagai tenaga medis muslimah, berpakaian di ruang operasi tidak hanya terikat dengan kebijakan yang mempertimbangkan beberapa hal terkait pencegahan infeksi dan keselamatan, tetapi utamanya juga terikat dengan aturan yang dibuat oleh Sang Pencipta, yakni menggunakan pakaian muslimah yang sebaik-baiknya sesuai QS Al Ahzab 59 dan QS An Nuur 31, berupa hijab dan jilbab yang menutupi seluruh aurat wanita kecuali wajah dan telapak tangan, tidak transparan, longgar, serta tidak menyerupai laki-laki. Oleh karena itulah, tenaga medis muslimah ingin sekali memperjuangkan pakaian OK yang bersesuaian dengan syari’at.

 

Standardisasi pakaian OK (operatie kamer)

Peraturan Menteri Kesehatan Republik Indonesia Nomor 340/MENKES/PER/III/2010 Tentang Klasifikasi Rumah Sakit mengatur cara berbusana di ruangan Operasi, meliputi: Masker, Sepatu Boots, Gaun/Sarung tangan/Kaos kaki disposable, goggles, apron.

 

Kostum OK diperlukan untuk mencegah terjadinya infeksi nosokomial di ruang operasi. Penyakit infeksi terjadi apabila ada mikroorganisme di tempat yang biasanya steril dan mendapat respon secara imunologi oleh tubuh sehingga mengakibatkan kerusakan host dan atau perubahan fisiologi dan diikuti gejala klinik. Mikroorganisme tersebut bisa berupa bakteri, virus, maupun jamur. Perpindahan mikroorganisme ke tempat infeksi dapat melalui kontak langsung dan tak langsung, droplet, airborne, vehiculum, dan vektor.

 

Salah satu sumber penyebaran mikroorganisme ialah tubuh manusia. Maka, syarat pakaian OK yang paling utama untuk menghindari transmisi mikroorganisme dari petugas kesehatan kepada pasien ataupun sebaliknya, yakni menggunakan kostum OK yang bersih, melindungi kulit, dan tidak menghalangi gerakan saat beraktivitas. Warna yang digunakan hijau/biru agar mata tidak mudah lelah. Kain yang digunakan lembut, kuat, dan bisa menyerap keringat.

 

Hukum menggunakan pakaian syar’i muslimah sebagai pakaian OK

  • Segi kedokteran

Hal yang seringkali dipermasalahkan terkait sterilitas adalah ujung bawah pakaian OK, baik dari segi luas permukaan dan panjangnya. Luas permukaan ujung celana memang lebih kecil dibanding ujung gamis, namun tidak ada perbedaan signifikan di antara keduanya dalam kontribusi penyebaran kuman di ruang OK. Dalam Dress Code Policy Sheffield Teaching Hospitals disebutkan bahwa pekerja wanita boleh mengenakan beberapa alternatif bawahan (pakaian) seperti rok, dress ataupun celana dengan syarat bagian bawah pakaian tersebut tidak menyentuh tanah saat berjalan demi keselamatan dan kebersihan lingkungan bangsal serta kamar operasi. Maka dalam segi panjang, penggunaan keduanya diperbolehkan selama ujung pakaian tidak menyentuh lantai ruang OK.

 

Penggunaan kerudung sebagai ciri khas muslimah juga mempunyai keuntungan, yakni kerudung lebih menjamin tidak adanya rambut yang jatuh saat aktivitas di ruang OK jika dibandingkan dengan topi OK yang terkadang pemasangannya kurang benar.

 

Hal yang terkadang ditakutkan adalah pembatasan ruang gerak, namun alasan ini kurang bisa dijadikan acuan, karena sesungguhnya kegiatan di ruang OK sendiri tidak membutuhkan gerakan yang terlalu bebas, tetapi gerakan biasa. Terbukti saat ingin sign in, tim operator harus memakai jas steril yang modelnya mirip gamis, menutup seluruh tubuh, ada juga beberapa RS yg menutup sampai lutut/betis.

 

Kesimpulan: Jika memang dirasa penggunaan rok/gamis di ruang OK tidak membatasi aktivitas tenaga medis, tidak masalah dari segi kedokteran. Prinsip utamanya, harus memperhatikan risiko terjadinya infeksi nosokomial, kemudahan akses alat-alat kesehatan, dan mobilitas tenaga medis.

 

  • Segi agama Islam

Muslimah diperintahkan Allah untuk berpakaian sesuai dengan syari’at, tercantum dalam QS Al Ahzab 59 dan QS An Nuur 31. Syarat-syaratnya yakni memakai hijab, jilbab, pakaian tidak transparan, tidak ketat, dan tidak menyerupai laki-laki.

Perintah ini wajib kita taati sebagai seorang mukminah, di mana pun kita berada, tak terkecuali ruangan OK. Terutama dalam hal menangani pasien, kita sebagai manusia biasa hanya mampu melakukan pemberian pertolongan pada pasien, sementara kesembuhan hanya dari Allah subhanahu wa ta’ala. Sungguh tidak patut jika kita mengharap pertolongan Allah untuk kesembuhan pasien, namun di saat yang sama kita menantang perintahNya. Dengan menaati perintah Allah, in syaa Allah muslimah juga akan mendapat ketenangan dalam melakukan tindakan medis.

 

Tips agar tetap syar’i dan minim infeksi di ruang OK

  1. Menggunakan gamis/rok dengan lapisan celana panjang yang ujungnya dimasukkan ke dalam sepatu boot.
  2. Menggunakan gamis/rok yang ujung bawahnya tidak menyentuh lantai.
  3. DARURAT: menggunakan celana yang dimodifikasi agar tidak ketat (dilonggarkan), tidak menampilkan lekuk tubuh.

“Dan berjihadlah kamu di jalan Allah dengan jihad yang sebenar-benarnya. Dia telah memilih kamu dan Dia tidak menjadikan kesukaran untukmu dalam agama.” – QS Al Hajj 78.

Maka dalam keadaan darurat, seorang tenaga medis muslimah diperbolehkan mengambil rukhsah yakni menggunakan celana di dalam ruang operasi.

Namun, tetaplah yang paling utama, kembali kepada pakaian muslimah yang sebaik-baiknya, yakni menggunakan rok/gamis.

Langkah advokasi untuk para tenaga medis muslimah

  1. Perbanyaklah doa dan jangan pernah berhenti berdoa.

Salah satunya adalah doa menghadapi orang yang ditakuti.

“Allahumma inna naj ‘aluka fii nuhurihim wa na’udzubika min syururihim”

Ya Allah kami jadikan Engkau di depan mereka, dan kami berlindung kepada-Mu dari kejahatan mereka

Dan ingatlah QS Thaha :1-10.

  1. Tampakkan sikap teguh dengan pilihan kita memakai jilbab di OK. Lalu tampilkan kepribadian Islam, tidak banyak cakap, sabar, senang menolong, amanah, sopan, pintar, dan tidak lelet. Dengan sendirinya mereka lebih senang mencari bantuan ke kita yang menggunakan gamis syar’i karena lebih amanah dan lebih tulus, dibanding yang tidak syar’i.
  2. Ajukan proposal penerapan pakaian syar’i di ruang OK rumah sakit jika diperlukan. Sampaikan dengan cara yang baik, bahwa dalam berpakaian di OK ada aturan sesuai agama Islam dan kaidah sterilitas itu sendiri.
  3. Jalin hubungan baik dengan para pimpinan.

Semoga Allah subhanahu wa ta’ala memberi kita ilham di setiap perkara yang kita temui. Aamiin.

 

Harapan untuk penerapan pakaian syar’I OK di rumah sakit Indonesia

  1. Zulfatma : Saya harap semua OK di RS bisa menerapkan pakaian syar’i, karena Allah subhanahu wa ta’ala. Semoga dari sana pertolongan Allah terhadap pasien-pasien kita lebih mudah turun. Dengan menolong agama Allah, pasti Allah subhanahu wa ta’ala menolong kita.
  2. Burhanuddin : Sudah banyak RS yang menerapkan penggunaan pakaian syar’i di ruang OK. Tidak ada alasan untuk melarang.

Prof Zainal : Himbauan untuk RS adalah seharusnya pihak RS harus tolerable tetapi tetap tidak melanggar syari’at Islam (jika memang pakaian OK harus jilbab lebih pendek, tetaplah harus menutup dada, dsb). Begitu juga dengan individu masing-masing.

 

Masukan untuk tenaga medis muslim/muslimah agar dapat tetap menegakkan syari’at Islam dalam dunia kedokteran.

Kerap kali kita mendengar kata “beda”, Indonesia sendiri memiliki jargon “berani beda”. “Beda” di sini dari segi Islam, dibedakan menjadi 3. Wajib beda, haram beda, dan kualitas beda. Wajib beda adalah harus beda, mutlak, tidak boleh menyamai, contohnya adalah beda antara orang mukmin dan orang kafir. Kemudian haram beda, beda di sini adalah yang sebenarnya berbeda tapi dari segi Islam tidak boleh dibeda-bedakan, yaitu pada sesama orang mukmin. Kemudian, beda yang terakhir adalah kualitas beda. Nah di segi inilah kita harus saling berlomba-lomba, yaitu ketaqwaan. Maka, berprestasilah dan berlomba-lombalah dalam hal kebaikan.

 

Narasumber:

  1. Zulfatma, M.Kes, Sp.OG
  2. Burhanuddin Hamid Darmadji, MARS
  3. Prof. Dr. dr. Zainal Adnan, Sp.PD-KR-FINASIM

Tim Kajian Strategis dan Dakwah

Departemen Kajian Kedokteran Islam dan Advokasi

Dewan Eksekutif Pusat FULDFK 2016-2017

 

Referensi:

Fatwa MUI Nomor : 04/KF/MUI/Tahun 2009 tentang Pakaian Kerja Bagi Tenaga Medis

Rancangan Peraturan Menteri Kesehatan Republik Indonesia tahun 2009.

Departemen Kesehatan RI. Pedoman Pencegahan dan Pengendalian Infeksi di Rumah Sakit dan Fasilitas Pelayanan Kesehatan Lainnya. Jakarta: Departemen Kesehatan RI, 2008.

NHS Foundation Trust. Sheffield Teaching Hospitals: Dress Code Policy. 2006

Relman DA and Falkow S, 2010. A Molecular Perspective of Microbial Pathogenicity. In Mandell, Douglas, and Bennetts Principles and Practice of infectious diseases 7th ed pp.3-13

 

Like
Like Love Haha Wow Sad Angry

Tinggalkan Balasan