TERAPI BEKAM SESUAI SUNAH RASUL UNTUK MASA TUA TERHINDAR DARI HIPERTENSI

bekam2

Penulis: Nur Mahmudah1, Rosalia Kusuma Dewi2, Faried Alwi Mar’ie3

Editor: Rezeki Ananda Elyani4

1Fakultas Kedokteran Universitas Sriwijaya

2Fakultas Kedokteran Universitas Negeri Jenderal Soedirman

3Fakultas Kedokteran Universitas Abdu Rab Pekanbaru Riau

4Fakultas Kedokteran Universitas Lambung Mangkurat

Hipertensi atau tekanan darah tinggi merupakan peningkatan tekanan darah sistolik lebih dari 140 mmHg dan tekanan darah diastolik lebih dari 90 mmHg pada dua kali pengukuran dengan selang waktu lima menit dalam keadaan cukup istirahat/tenang. Penyakit ini cukup banyak diderita penduduk baik di perkotaan maupun pedesaan. Berdasarkan Riset Kesehatan Dasar tahun 2013, hipertensi merupakan salah satu masalah kesehatan dengan prevalensi yang tinggi, yaitu sebesar 25,8%. Keadaan ini sering dijumpai pada lansia tetapi seringkali diabaikan. Sebanyak 65% orang berusia 60 tahun atau lebih mengalami hipertensi. Sementara itu, orang-orang dengan tekanan darah yang normal pada usia 55 tahun memiliki risiko sebesar 55% untuk menderita hipertensi di kemudian hari.

Pengobatan farmakologis dengan agen antihipertensi seperti diuretika, penyekat reseptor beta adrenergic, penyekat saluran kalsium, inhibitor Angiotensin-Converting Enzyme (ACE) atau penyekat reseptor alfa adrenergic memiliki tantangan tersendiri. Pengobatan tersebut bergantung pada pertimbangan pasien termasuk mengenai biaya, karakteristik demografik, penyakit penyerta, dan kualitas hidup. Berbagai faktor menyebabkan kepatuhan meminum obat pada lansia sulit dicapai dengan baik, ditambah dengan fungsi organ tempat metabolisme obat yang menurun serta efek samping yang dapat timbul dari konsumsi obat-obatan menyebabkan hipertensi menjadi lebih sulit dikontrol. Padahal, peningkatan tekanan darah yang berlangsung dalam jangka waktu lama dapat menimbulkan berbagai masalah lebih lanjut seperti kerusakan pada ginjal (gagal ginjal), jantung (penyakit jantung koroner), dan otak (stroke) bila tidak dideteksi secara dini dan tidak mendapat pengobatan yang memadai. World Health Organization tahun 2012 menyebutkan bahwa hipertensi menyebabkan 8 juta kematian per tahun di seluruh dunia. Selain dengan mengubah pola hidup yang tidak sehat, terapi bekam merupakan salah satu pilihan pengobatan non-farmakologis untuk hipertensi.

Bekam dalam dunia medis dikenal dengan istilah oxidant release therapy, oxidant drainage therapy, atau detoksifikasi. Bekam dilakukan dengan cara penyedotan menggunakan alat khusus yang sebelumnya didahului dengan pembedahan minor di titik-titik tertentu. Bekam merupakan metode pengobatan dengan cara mengeluarkan darah yang terkontaminasi toksin atau oksidan dari dalam tubuh melalui permukaan kulit ari.

Tidak hanya di Indonesia, bekam juga dikenal di berbagai negara dengan bermacam istilah. Bekam merupakan istilah yang dikenal dalam bahasa Melayu, bahasa Arab mengenalnya sebagai Hijamah, dalam bahasa Inggris dikenal sebagai cupping, orang Cina mengenalnya sebagai guasha, sedangkan orang Indonesia mengenalnya sebagai cantuk atau kop.

Berbagai penelitian telah mengungkapkan banyaknya manfaat yang didapat dari terapi bekam seperti mencegah penyakit kardiovaskular, mengatasi berbagai penyakit seperti hiperlipidemia, hipertensi, aterosklerosis, penyakit jantung koroner, asam urat, nyeri otot, hepatitis, dan kondisi kelebihan zat besi dalam darah seperti talasemia, meningkatkan aktifitas saraf-saraf vertebra, menghilangkan kejang-kejang dan keram otot, serta mengatasi gangguan kulit, alergi, jerawat, dan gatal-gatal.

Hasil penelitian yang dilakukan oleh dr. Faried Alwi Mar’ie di rumah sakit Prof. Dr. Tabrani Pekabaru Riau pada Juni 2014 mengenai efek kerja bekam pada hipertensi menunjukkan bahwa bekam mampu memperbaiki aterosklerosis dengan cara mengurangi penebalan diniding pembuluh darah serta mengurangi sumbatan pembuluh darah. Hal ini dilakukan terhadap beberapa pasien hipertensi yang bersedia melakukan pemeriksaan arteriografi ulang setelah pembekaman untuk mengevaluasi perbaikan yang terjadi.

Terapi Bekam Menurut Sunah
Bekam merupakan suatu teknik pengobatan yang telah dipraktikkan oleh manusia sejak lama baik kaum muslimin maupun bukan. Rasulullah shallallahu’alaihi wa sallam pun telah melakukan dan menganjurkan terapi bekam untuk mengobati berbagai penyakit.
Rasulullah shallallahu’alaihi wa sallam pernah bersabda: “Sekiranya ada pengobatan yang baik untuk kalian jadikan sebagai obat, maka itu terdapat pada bekam dan sengatan api panas (terapi degan menempelkan besi panas di daerah yang luka) namun aku tidak menyukai kay (terapi degan menempelkan besi panas di daerah yang luka).” (Sahih Bukhari No. 5269)
Dalam hadis riwayat lain, Rasulullah shallallahu’alaihi wa sallam bersabda: “Sesungguhnya berbekam adalah pengobatan yang paling utama atau termasuk terapi yang paling baik.” (Sahih Muslim No. 2952)

Metode Bekam dari Waktu ke Waktu
Alat yang digunakan dalam melakukan bekam dapat terbuat dari tanduk kerbau atau sapi, gading gajah, bambu, gelas, atau dengan alat vakum yang bersih dan higinies. Perkembangan sains dan teknologi menjadikan cara pengobatan ini lebih praktis, efektif dan higienis serta mengikuti kaidah-kaidah yang telah diilmiahkan, sehingga memudahkan setiap orang untuk melakukan terapi ini tanpa disertai efek samping. Alat bekam digunakan untuk penyedotan. Kevakuman udara yang terjadi di dalam alat bekam itu akan menarik darah sehingga terjadi turbulensi yang disebabkan oleh bertambahnya tekanan internal dibandingkan tekanan yang berasal dari luar. Lalu darah keluar dari urat-urat kecil yang menimbulkan bekas seperti memar sementara. Hal itu akan meringankan atau menghilangkan terjadinya congestion (penimbunan) yang ada di daerah pembekaman. Ditambah lagi dengan berbagai reaksi balik lain yang memiliki pengaruh sangat jelas dalam menghilangkan rasa sakit dan meringankan kesenakan. Jika pembekam menempelkan alat bekam pada kulit setelah penorehan (penggoresan tipis pada permukaan kulit) dengan pisau bedah ataupun alat tajam apapun, maka hal itu akan mempercepat keluarnya darah dari tubuh melalui tempat-tempat penorehan. Dan hal itu akan mencegah terjadinya pembekuan pada luka toreh dan melancarkan keluarnya darah.

Mengenai metode berbekam, Imam Ibnul Qoyyum berpendapat bahwa waktu yang baik untuk berbekam adalah pada waktu menjelang petang, lalu tepat pada waktu petang hingga waktu-waktu berikutnya, bila kebutuhan akan bekam mendesak, maka bisa dilakukan pada semua hari, mulai dari awal hingga akhir bulan. Hal ini berdasarkan hadis-hadis yang sesuai dengan apa yang telah disepakati oleh para dokter.10 Selain itu, berdasarkan jenis penyakitnya, titik-titik bekam berada di ummu mughits (puncak kepala), al-akhda’ain (dua urat leher), al-kaahil (punduk), al-katifain (bahu kiri dan kanan), dua jari di bawah punduk, belikat kiri dan kanan, ala-warik (pinggang), dan ala dzohril qadami (betis).

Berbekam sebagai Terapi Hipertensi ditinjau dari Ilmu Kedokteran Modern

Bekam bertujuan untuk mengeluarkan darah kotor yang ada dalam tubuh. Dalam tubuh manusia terdapat darah-darah yang tidak bisa bergerak lagi atau statis. Darah itu tidak berfungsi lagi, sehingga membuat aliran darah menjadi tidak lancar dan menjadi penyebab berbagai macam penyakit. Darah yang statis tersebut mengendap di permukaan bawah kulit dan dengan berbekam darah statis itu disedot keluar. Fungsi pengobatan bekam terhadap kesehatan ada dua yaitu sebagai pencegah dan penyembuh. Sebagai pencegah atau pemeliharaan kesehatan bekam dapat dijalankan kepada orang yang relatif tidak mengalami gangguan kesehatan yang berarti. Sementara bagi orang yang memiliki gangguan kesehatan tertentu, bekam berfungsi untuk menyembuhkan.

Penelitian telah membuktikan bahwa bekam sebagai pengobatan yang dianjurkan oleh Nabi Muhammad shallallahu’alihi wa sallam mempunyai manfaat yang dibuktikan secara ilmiah dapat mengobati penyakit dengan membersihkan darah dan cairan interstisial dari substansi penyebab penyakit. Beberapa cara kerja bekam dapat dijelaskan sebagai berikut. Kulit dan otot memiliki banyak titik saraf di bawahnya. Titik-titik ini saling berhubungan antara organ tubuh satu dengan lainnya sehingga bekam dilakukan tidak selalu pada bagian tubuh yang sakit namun pada titik simpul saraf terkait.11 Pada sistem baroreseptor arteri, mediator-mediator inflamasi yang keluar pada saat dilakukan bekam menstimulus vasokontriksi dan vasodilatasi pembuluh darah sehingga pembuluh darah dapat merespon dan meningkatkan kepekaan terhadap faktor-faktor hipertensi.

Bekam biasanya dilakukan pada permukaan kulit (kutis), sehingga menyebabkan terjadinya kerusakan pada jaringan bawah kulit (subkutis). Kerusakan ini akan menyebabkan pelepasan beberapa zat seperti serotonin, histamin, bradiknin, slow reaction substance (SRS) serta zat-zat lain yang belum diketahui. Zat ini menyebabkan terjadinya dilatasi (pelebaran) kapiler dan arteriol, serta flare reaction pada daerah yang dibekam. Dilatasi kapiler juga dapat terjadi di tempat yang jauh dari tempat pembekaman. Ini menyebabkan terjadinya perbaikan mikrosirkulasi pembuluh darah sehingga timbul efek relaksasi (pelemasan) otot-otot yang kaku. Di samping itu, vasodilatasi (proses perluasan pembuluh darah) umum akan menurunkan tekanan darah secara stabil. Peran lain juga dilakukan oleh adenohipofisis yang akan melepaskan corticotrophin releasing factor (CRF). CRF selanjutnya akan menyebabkan terbentuknya hormon-hormon seperti ACTH, corticotrophin, dan kortikosteroid. Hormon kortikosteroid ini mempunyai efek menyembuhkan peradangan serta menstabilkan permeabilitas sel. Di samping itu, stimulasi saraf permukaan kulit oleh terapi bekam ini akan dilanjutkan ke arah thalamus sehingga menghasilkan endorphin. Selanjutnya endorphin akan meningkatkan aktivitas saraf simpatis sehingga curah jantung menurun dan tekanan darah akan turun.

Sedangkan golongan histamin yang ditimbulkannya mempunyai manfaat dalam proses reparasi (perbaikan) sel dan jaringan yang rusak, serta memacu pembentukan reticuloendhotelial cell yang akan meninggikan daya resistensi (daya tahan) dan imunitas (kekebalan) tubuh. Sistem imun ini terjadi melalui pembentukan interleukin dari sel karena faktor neural, peningkatan jumlah sel T karena peningkatan set-enkephalin, enkephalin, dan endorphin yang merupakan mediator antara susunan saraf pusat dan sistem imun, substansi P yang mempunyai fungsi parasimpatis dan sistem imun, serta peranan kelenjar hipofisis dan hipotalamus anterior yang memproduksi CRF.

Penelitian lain menyebutkan bahwa bekam melalui zat nitrit oksida (NO) dapat berperan dalam vasodilatasi dan meningkatkan suplai nutrisi dan darah yang dibutuhkan oleh sel-sel dan lapisan-lapisan pembuluh darah arteri maupun vena, sehingga menjadikannya lebih kuat dan elastis serta mengurangi tekanan darah. Bekam juga berpengaruh dalam menstabilkan saraf simpatik sehingga sekresi renin dapat dikontrol. Kestabilan sekresi renin ini kemudian menstabilkan pengeluaran hormon aldosterone sehingga pengeluaran garam dan air dapat disesuaikan dengan kondisi tubuh seseorang dan volume cairan dalam tubuh dapat dikendalikan. Kondisi ini kemudian berpengaruh terhadap perubahan tekanan darah menjadi normal kembali. Pada proses autoregulasi vaskular, kadar natrium dalam darah yang normal menyebabkan tekanan vaskular terutama pada tekanan arteri sistemik pembuluh darah menjadi normal. “Dan jangan kamu berputus asa dari rahmat Allah. Sesungguhnya tiada berputus asa dari rahmat Allah, melainkan kaum yang kafir.” (Yusuf:87)

DAFTAR PUSTAKA

  1. 2014. Hipertensi. Jakarta Selatan: Pusat Data dan lnformasi Kementerian Kesehatan RI.
  2. Dickerson LM, Gibson MV. Management of Hypertension in Older Persons. Am Fam Physician.2005 Feb 1;71(3): 469-476.
  3. Santoso, Apriyatmoko R, Mardiyaningsih E. Pengaruh Terapi Bekam terhadap Tekanan Darah pada Lansia Penderita Hipertensi di Kota Semarang. Dari http://perpusnwu.web.id/karyailmiah/documents/4822.pdf. Diakses pada 20 Maret 2017.
  4. Rahman MA. Pengaruh Terapi Bekam terhadap Tekanan Darah pada Pasien Hipertensi di Klinik Bekam Abu Zaky Mubarak. Jakarta: Universitas Islam Negeri Syarif Hidayatullah Jakarta. 2016. h. 3-33.
  5. Andari R. 2013. Pengaruh Bekam Basah terhadap Kadar Gula Darah Puasa pada Pasien Diabetes Melitus di Semarang. Jurnal Media Medika Muda. Semarang: Universitas Diponegoro. 2013. h. 2.
  6. Nurdiyana, dkk. 2010. Berbekam Alternatif Pengobatan. Laporan Penelitian. Banjarmasin: Fakultas Keguruan Dan Ilmu Pendidikan Universitas Lambung Mangkurat.
  7. Akbar N, Mahati E. Pengaruh Bekam Basah terhadap Kolesterol dan Tekanan Darah pada Pasien Hipertensi di Semarang. Jurnal Media Medika Muda. Semarang: Universitas Diponegoro. 2013. h. 2.
  8. Mustika F, Rahayuningsih A, Fajria Pengaruh Terapi Bekam terhadap Tekanan Darah pada Pasien Hipertensi di Klinik Bekam DeBesh Center Ar Rahmah dan Rumah Sehat Sabbihisma Kota Padang tahun 2012. Artikel Ilmiah. Padang: Universitas Andalas. 2012. h. 2-3.
  9. Mar’ie, Farid Alwi. 2017. Efek Bekam terhadap Hipertensi. Wawancara kepada Peneliti. 18 April, pukul 08.13.
  10. Haryono O. Hijamah (Bekam) Menurut Hadits Nabi SAW. (Studi Tematik Hadits). Skripsi. Semarang: Institut Agama Islam Negeri Walisongo. 2008. h. 13-32.
  11. Safrianda, dkk. 2015. Efektivitas Terapi Bekam Basah Terhadap Perubahan Tekanan Darah Pada Penderita Hipertensi Di Rumah Terapi Thibbun Nabawy Naskah Publikasi. Pontianak: Program Studi Keperawatan Fakultas Kedokteran Universitas Tanjungpura Pontianak.
  12. Santi, YumiraRia., dkk. 2014. Terapi Bekam dan Akupunktur Terhadap Penurunan Tekanan Darah pada Penderita Hipertensi Primer (Esensial) di Klinik Herbal El Zahra Kota Tarakan. Jurnal Ners dan Kebidanan Indonesia. 2(3): 147-154.

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *


*

sixty six − sixty one =