Tahun Dukacita Rasullullah

Tahun Dukacita
Rasulullah

Wafatnya Abu Thalib

Menjelang kematian Abu Thalib,Rasulullah sempat menemuinya dan pada saat yang bersamaan di dekatnya terdapat Abu Jahl dan Abdullah bin Abi Umayyah. Rasulullah berkata, “ Wahai pamanku , Laa ilaaha ilallah. Ini adalah sebuah kalimat yang dengannya aku akan membelamu di sisi Allah.” Lalu Kedua orang (Abu Jahl dan Abdullah bin Abi Umayyah) itu berkata,”Wahai Abu Thalib,apakah engkau benci kepada agama ‘Abdul Muththalib?” Keduanya terus menerus mengatakkannya (seperti itu),hingga Abu thalib berkata di akhir hayatnya.”Aku di atas agama ‘Abdul Muthalib”.

Rasulullah pun menjawab,” Sungguh aku akan memintakan ampun untukmu selama aku tidak dilarang dari (hal itu untuk) mu.” Lalu turunlah (ayat) At-Taubah ayat 113 dan Al-Qasash ayat 56 :
“Sesungguhnya kamu (wahai Muhammad) tidak akan mampu untuk memberikan petunjuk (hidayah taufik) kepada orang yang engkau cintai.”

Khadijah Menuju Ke Rahmatullah

Belum berakhir duka Rasulullah dengan wafatnya Abu Thalib,menyusul pula Ummul Mu’minin Khadijah. Itu terjadi pada Bulan Ramadhandi tahun yang sama yakni tahun ke-10 kenabian, setelah wafatnya Abu Thalib sejarak kurang lebih 2 bulan atau (ada yang mengatakan) tiga hari saja. Khadijah bagi Rasulullah adalah pendamping yang membenarkan Al-Islam,yang membantu beliau dalam menyampaikan risalah, juga yang menolong beliau dengan jiwa dan hartanya, serta ikut menanggung semua gangguan dan kesedihan bersama beliau.

Rasulullah pernah berkata , “Dia telah beriman kepadaku di kala orang-orang mengharamkannya untukku, dan Allah memberiku rizki dengan anak-anaknya, sementara Allah tidka menganugerahkan anak dari istri-istriku selain dia.”

Nabi sering menyebutnya,mendoakan rahmat untuknya, dan selalu terbawa perasaan sedih dan haru setiap kali mengingatnya. Beliau sering menyembelihkan seekor kambing lalu mengirimnya kepada sahabat Khadijah.

Wafatnya sang paman dan sang istri membuat penganiayaan kaumnya terhadap Rasulullah semakin keras. Sampai-sampai seorang yang dungu dari sekian orang yang kurang akal di kalangan Quraisy pernah menaburkan tanah ke kepala Nabi. Sehingga salah seorang putri beliau harus membersihkannya sambil menangis. Beliau berkata, ”Janganlah engkau menangis,wahai putriku. Sungguh Allah yang akan menjaga ayahmu ini.”

Beliau juga berkata, ”Tidak pernah orang-orang Quraisy itu menganiayaku sedikitpun yang paling aku benci hingga datangnya kematian Abu Thalib.”

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *


*

ninety nine − 93 =