SIAPKAH AKU?

SIAPKAH AKU?

w2

Halooo perkenalkan namaku Fulan. Dari SD hingga SMA aku selalu sekolah ditempat yang favorit di daerahku lhooo. Masa-masa sekolahku sangatlah indah, apalagi masa SMA ku. Yah kuakui, masa-masa tersebut sangatlah berkesan bagiku. Aku mengikuti berbagai macam kegiatan… mulai dari organisasi.. lomba, dan aku pun juga berprestasi lhooo, selain itu.. aku juga memiliki banyak teman, dari yang satu sekolah atau beda sekolah denganku. Banyak guru yang mengenal diriku karena prestasi-prestasiku yang cemerlang.

Salah satu guru SMA pernah berkata padaku “Wah kamu berprestasi sekali,  organisasi iya, olahraga bisa, prestasi cemerlang, dan pintar seni juga.  Kamu lulus mau jadi apa?”

“Insyaa Allah pengusaha, bu.”

“Waah pengusaha ya. Ibu doakan semoga kamu bisa menggapai cita-citamu ya.”

“Aamiin buu.”

Now, here I am. Aku berhasil masuk ke sebuah Universitas ternama di jurusan yang aku inginkan setelah melewati berbagai ujian yang sekaligus berhasil menurunkan berat badanku sebanyak 10 kg ( ini mah ujian hidup ). Selain berusaha dengan maksimal, keberhasilanku tidaklah luput dari doa orang tua, guru, dan juga teman-temanku.

Bagiku dunia perkuliahan adalah kesempatan terakhir untuk membuat kesalahan, karena dunia pekerjaan keras sob, salah sedikit saja, waaah bahaya. Apabila dokter melakukan kesalahan saja… bisa mengakibatkan terancamnya nyawa pasien, para penegak hukum yang melewatikan satu bukti saja… bisa mengakibatkan terhukumnya orang yang tak bersalah, pegawai bank yang salah memasukkan angka nol saja… waah tak terbayang bahayanya, dan juga pekerjaan lainnya yang menuntut kesempurnaan. Untuk itulah, masa perkuliahan merupakan tempat kita melakukan kesalahan sebanyak-banyaknya, agar kelak kesalahan tersebut tidak kita lakukan ketika sudah bekerja.

 

Pada suatu waktu, di saat aku sedang gabut (re:tidak ada pekerjaan), tiba-tiba pikiranku jadi kemana-mana. Aku memikirkan keluargaku yang jaraknya 200 km dari tempat kuliahku, memikirkan IP ku yang gitulaaah, hingga memikirkan nasib rakyat Indonesia jaman sekarang. Satu hal yang sejujurnya belum bisa terjawab oleh diriku sendiri ialah akan jadi apa aku di masa depan? Apakah akan jadi melanjutkan pendidikan S2 ku di Luar Negeri? Membuka usaha? Menjadi pegawai kantoran? Atau jadi monster penghancur bumi.. hmm kira kira jadi apa ya ? dan tiba-tiba aku teringat oleh ibuku, “apa aku jadi seperti Ibu ya ?, menjadi Ibu Rumah Tangga saja?”.

 

Allah Subhanahu Wa Ta’ala Maha Mengetahui mana yang baik dan mana yang buruk untuk umat-Nya dan Allah Maha Pemberi Petunjuk. Allah Subhanahu Wa Ta’ala memberikan petunjuk kepadaku lewat pertemuanku dengan seorang ibu di kendaraan umum. Saat itu aku sedang menunggu kendaraan umum untuk pulang ke kosanku. Disebelahku terdapat seorang ibu yang Masyaa Allah dari wajahnya saja sudah tampak aura ke-ibuannya. Beliau sedang menggendong seorang bayi mungil nan cantik dan 2 orang bocah kembar berumur sekitar 6 tahunan. Salah satu anak kembarnya bertanya kepada ibunya ketika melihat seorang pak polisi

“Ibu, dia sedang apa? Kenapa dia daritadi bolak-balik dijalanan? Apa dia tidak takut tertabrak?”. Kemudian ibunya dengan sabar menjawab “Itu namanya pak polisi, nak. Itu memang sudah pekerjaannya untuk mengamankan jalan.”

Kemudian anak kembar lainnya bertanya, “ibu, boleh tidak kalau sudah besar aku jadi polisi?”

“Boleh  sayang. Apapun itu, Insyaa Allah Ibu mendukungnya, asal pekerjaan itu bisa bermanfaat untuk orang lain.”

Tak lama kemudian angkutan umum yang kami tunggu datang. Aku membantu si kembar untuk naik ke angkutan umum karena kulihat mereka kesusahan untuk menaikinya. Di dalam angkutan umum, terjadi perbincangan antara aku dan ibu tersebut

“Mau kemana bu?”

“Ini mau ketempat neneknya, neng. Kasihan mereka udah seminggu belum ketemu kakek-neneknya.”

“Oh gitu ya bu. Jauh bu tempat neneknya?”

“yah… ngga jauh-jauh amat sih, Cuma 2 kali ganti angkot aja udah sampai kesana.”

“wah lumayan ya bu. Kenapa ngga tinggal di deket rumah kakek-neneknya aja bu?”

“ibu maunya sih gitu, neng. Tapi ya… namanya istri mah udah bukan tanggung jawab orang tua lagi, tapi udah tanggung jawab suami. Jadi ya sekarang saya tinggal di rumah suami.”

“Ini ibu berempat aja? Suami ibu kemana?”

“iya berempat aja. Tadinya suami saya mau ikut, sekalian silaturahmi. Tapi tiba-tiba ada pekerjaan mendadak yang tidak bisa ditinggalkan. Ya udah deh jadinya berempat aja.”

“suami ibu kerja apa?”

“pegawai biasa aja neng.”

“Ibu sendiri kerja?”

“Awal nikah tuh neng, ibu masih kerja jadi perawat. Ibu kerja karena pengen jadi wanita karir gitu neng istilahnya. Ibu pengen punya penghasilan sendiri. Tapi setelah punya anak, ibu udah ngga kerja, neng. Ibu di rumah aja jagain rumah sama anak hehe”

“Oh iya? Kenapa ngga lanjut kerja bu? Ngga sayang bu pendidikan udah tinggi-tinggi, udah susah-susah, tapi malah dirumah aja?”

“Ngga lah neng. Semua impian ibu untuk menjadi wanita karir itu ntah kenapa hilang setelah liat si kembar neng. Rasanya tuh ibu ngga pengen ada orang lain (re:baby sitter) yang ngerawat mereka selain ibu, ibu ngga pengen ada orang lain yang mendengar mereka pertama kali ngomong, ibu ngga pengen justru orang lain yang tau kebiasaan si kembar, ibu ngga pengen justru orang lain yang melihat mereka tersenyum ataupun tertawa, ibu pengen banget jadi orang yang pertama kali mereka lihat ketika membuka mata sekaligus jadi orang yang terakhir ketika mereka mau tidur… Terdengar egois sih, tapi gimana ya neng ya, ibu cuma ngga pengen aja si kembar lebih sayang sama baby sitter dibanding ibu.”

Akupun terkesima dengan jawabannya dan hanya bisa terdiam.

“Iya neng. Untuk apa kita kerja dapet gaji banyak tapi pendidikan, sikap, dan perilaku anak kita sendiri yang ngajarin malah orang lain? Mending kalo orang itu sabar, nah kalo orang itu pemarah? Masa iya ibu capek-capek ngandung 9 bulan, ibu yang nahan sakit pas ngelahirin, dia yang ngga ada hubungan apa-apa malah marah-marahin si kembar. Lagian neng, kalaupun kita dirumah kan enak neng, selain bisa ngerawat anak dan ngurus rumah, ibu juga bisa sekalian melayani suami.”

“iya juga ya bu. Saya malah mikirnya saya mesti ambil S2 di luar negeri, punya investasi ini itu, jadi manajer, yah pokoknya tentang wanita karir yang bisa menghasilkan uang sendiri gitu tanpa mengandalkan uang dari suami. Saya selama ini malah ngga kepikiran sama sekali buat jadi Ibu Rumah Tangga.”

“Ketika kamu sudah bisa menghasilkan uang seniri, lalu suatu waktu kamu nerima uang gajian suami kamu, terus ternyata gaji suami kamu lebih dikit dari gaji kamu, dan akhirnya kamu merasa kecewa. Hati-hati kufur nikmat itu, ngga bersyukur atas rejeki yang Allah SWT berikan lewat suami kamu.”

“iya juga sih bu.”

“Bukan berarti ibu ngelarang kamu sekolah tinggi-tinggi. Malah kamu harus sekolah tinggi-tinggi karena menuntut ilmu itu wajib loh… Terus kalo gitu, buat apa sekolah tinggi-tinggi kalo nanti kerjaannya cuma di rumah? Percuma dong? Eiits jangan salah. Mendidik anak itu susah loh, butuh ilmu yang bahkan ilmu nya tidak kamu dapatkan ketika duduk di bangku perkuliahan, jangan kamu anggep remeh. Apa selama kamu sekolah ataupun kuliah diajarkan cara menyusui yang benar? Mengganti popok? Menenangkan bayi yang rewel? Memberikan nutrisi yang tepat untuk pertumbuhan anak? Melayani suami? Membahagiakan mertua? Ada? Bukan berarti ibu ngelarang kamu untuk berkarir, sah-sah aja wanita kerja. Tapiii anak kamu lebih wajib tanggungannya buat kamu. Ibu cuma pesen satu buat kamu, calon ibu, jangan lupakan pendidikan anakmu dan jangan sampe kamu lebih sayang ke pekerjaan kamu dibandingkan ke anak kamu sendiri. Apa kamu ngga pengen ngeliat anak kamu pulang sekolah, menghampirimu, memelukmu, menciummu, dan menceritakan pengalaman di sekolahnya kepada kamu? Apa kamu pengen baby sitter kamu yang mendengar cerita tersebut pertama kali? Apa kamu hanya ingin melihat anakmu ketika mereka terlelap di malam hari saja karena saking sibuknya kamu?  Kalo menurut ibu sih sayang ya… Karena pengalaman anak, lucu-lucunya anak, rewel-rewelnya anak dan tangisnya itu terjadi Cuma sekali seumur hidup kamu. Nanti seiring mereka bertambah besar, ngga ada lagi tuh pengalaman kaya gitu. Jangan sampai kamu menyesal aja.”

“iya bu.”

“Duh maapin ya ibu cerita panjang lebar. Ibu jadi menggurui kamu padahal ibu bukan siapa-siapa kamu. Ibu duluan ya, soalnya udh sampai.”

“iya ngga papa bu. Saya malah seneng ibu mau berbagi pengalaman dengan saya. Terima kasih bu hihi. Hati-hati ya bu.”

“Hati-hati juga neng. Ingat, utamakan anak.”

“Siap inysaa Allah, bu.”

Kemudian ibu tersebut turun bersama anak-anaknya. Wejangan beliaulah yang selalu ku ingat hingga detik ini…. Membuat aku selalu bertanya-tanya, “Siapkah aku menyandang gelar sarjanaku tanpa mempraktikkannya di dunia kerja? Siapkah aku menjadi seorang istri? Siapkah aku menjadi ibu rumah tangga? Siapkah aku mendidik aku? Siapkah aku?”

 

Kesimpulan:

  1. Mendidik anak itu bukanlah perkara yang mudah.

Seorang guru ataupun dosen tidak mungkin berbicara tanpa ilmu. Kita sebagai calon orang tua pun harus memiliki ilmu dalam mendidik anak, baik ilmu dunia maupun ilmu akhirat. Dalam mendidik anak, tidak hanya ilmu yang dibutuhkan, tetapi juga kesabaran, kecerdikan, ketelatenan, dan skill lain yang tidak diajarkan di bangku perkuliahan. Oleh karena itu, yuk generasi muda calon penerus bangsa, calon bapak-ibu, kita manfaatkan waktu muda kita untuk memaksimalkan diri sebaik mungkin, menambah ilmu, memperbaiki diri, melatih soft skill, dan bisa juga sesekali membaca tentang parenting.

  1. Seorang wanita adalah pemimpin bagi anggota keluarga suaminya serta anak-anaknya.

Setiap kalian adalah pemimpin dan setiap kalian akan ditanya tentang yang dipimpinnya. Pemimpin negara adalah pemimpin dan ia akan ditanya tentang yang dipimpinnya. Seorang laki-laki adalah pemimpin bagi keluarganya dan ia akan ditanya tentang yang dipimpinnya. Seorang wanita adalah pemimpin bagi anggota keluarga suaminya serta anak-anaknya dan ia akan ditanya tentang mereka. Seorang budak adalah pemimpin atas harta tuannya dan ia akan ditanya tentang harta tersebut. Setiap kalian adalah pemimpin dan setiap kalian akan ditanya tentang yang dipimpinnya.” (HR. Bukhari 893 dan Muslim 1829).

  1. Mari kita berinvestasi akhirat dengan memiliki anak yang sholih/sholihah.

Ibu merupakan madrasah untuk anak-anaknya. Selain mengajarkan tentang ilmu dunia, kita juga harus mengajarkan ilmu agama kepada anak agar menjadi anak yang sholih/sholihah.

Jika anak adam mati, maka terputuslah amalannya kecuali tiga perkara: shadaqah jariyah, ilmu yang bermanfaat, atau anak shalih yang mendoakannya,” (HR Muslim).

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *


*

two + 3 =