Sebuah Refleksi dalam Sunyi


oleh: Icha Farihah D. F

Aku terbangun dari tidur yang tak sengaja ku niatkan bersama
tumpukan buku disampingku yang biasa digunakan sebagai referensi tugas dan ujian daring. Dengan langkah gontai, aku beranjak dari kasur dan mengamati jam dinding merah muda yang berdetak di tengah sunyi. Pukul 02.00 WIB dini hari. Waktu yang tepat untuk memandang langit dari atap. Hari ini, 15 Ramadhan, bulan sedang menampakkan kesempurnaan
bentuknya. Aku menaiki beberapa anak tangga untuk mencapai atap sembari membawa buku catatan dan pulpen. Nampaknya menarik untuk
menumpahkan semua pikiran dan emosi dalam tulisan sembari ditemani
cahaya bulan.
Kalau orang kebanyakan memilih senja sebagai simbol romantisme
dan kekinian. Menurutku, waktu menjelang fajar lebih sesuai. Aku selau
menyukai waktu-waktu ini, waktu ketika hampir seluruh manusia terlelap dan
hanya menyisakan ketenangan, waktu ketika para manusia tangguh
menunjukkan kegigihan untuk mencari rezeki meski tubuh kadang tak bisa
berkompromi, dan waktu terindah ketika seseorang bersujud di sepertiga
malam dengan suara lirih kepada Tuhan Yang Selalu Terjaga. Sungguh
sebuah waktu yang Tuhan sendiri menjelaskan keutamaannya di dalam
alquran.
Banyak yang berkata bahwa ramadan kali ini berbeda karena pandemi
yang terjadi. Tak ada tarawih dan itikaf di masjid, iftar bersama teman dan
keluarga besar, dan kegiatan-kegiatan yang seharusnya menjadi ajang
merekatkan ukhuwah islamiyah. Sebuah kesedihan yang besar bagi umat
muslim ketika semua masjid di seluruh dunia ditutup dan semua orang hanya
boleh beribadah di rumah masing-masing. Beberapa menyatakan keadaan
pandemi ini merupakan azab karena menjauhkan kita dari ibadah. Padahal
kalau kita berpikir ulang, mungkin inilah waktu yang tepat untuk
mengembalikan semangat dan niat ibadah dari hati masing-masing, yaitu
ketika ibadah yang kita lakukan benar-benar penuh privasi dengan Allah
ta’ala, tanpa perlu pengawasan dan pandangan manusia.
Dari seberang terdengar suara seseorang membangunkan masyarakat
untuk makan sahur. Suara yang cukup keras dan tegas untuk membuat
mereka yang sedang terlelap dalam balutan selimut bangun. Aku menutup
kedua telinga dengan tanganku ketika volume suara pada toa mulai meninggi
dan akhirnya saat suara itu mulai menghilang, aku menghela napas dan

mengulum senyum. Indonesia mungkin pengecualian dalam pelarangan
beribadah di masjid, batinku. Di tengah pandemi yang mengerikan ini,
beberapa warga masih bersantai dan menjalankan aktivitas seperti biasa,
entah karena tidak takut, kurang informasi, atau terdesak untuk memutar
roda ekonomi. Belum lagi mereka yang memainkan teori konspirasi untuk
memecah belah pendapat umum. Aku menghela napas untuk kedua kali.
Sungguh ironi. Aku ingat terakhir kali ketika memikirkan semua permasalahan
itu membuat kepalaku pusing dan jatuh pada kecemasan yang tak wajar.
Akhirnya, aku memilih menerapkan apa yang disampaikan Stephen R. Covey
dalam bukunya, fokus terhadap sesuatu yang bisa kamu lakukan dan
pengaruhi (circle of influence), daripada fokus kepada sesuatu yang hanya
bisa kamu pikirkan tanpa ada yang bisa kamu ubah (circle of concern).
Berhenti menghabiskan energi untuk sesuatu yang tak dapat disudahi
dengan tangan sendiri.
Aku tahu pandemi ini menyebalkan, mengecewakan, dan membuat
putus asa. Semua orang mungkin sudah menghujat dan mengutuk si virus
karena ulahnya menjangkiti bumi. Tak ada yang salah dengan berkeluh
kesah sesekali, apalagi jika ada teman yang bercerita masalah karena
pandemi ini, sesepele rindu nongkrong di warung kopi hingga kehilangan
pekerjaan karena para pemilik modal yang tak mampu memberi gaji.
Mendengarkan adalah kunci, tanpa perlu banyak menasihati karena bisa jadi
mereka memang berada di tahap yang sulit dan tak patut mendapatkan toxic
positivity dari seseorang yang tak merasakan hal tersebut. Jadi, yang dapat
dilakukan adalah mmberikan empati tanpa perlu menghakimi.
Tak bisa dibohongi bahwa berada dalam “kurungan” pandemi memang
membosankan. Di saat-saat seperti ini barulah aku menyesali tentang
apresiasi, bahkan di tengah kesibukan bekerja dan belajar yang biasanya aku
maki karena lelah dan terlalu duniawi, aku lupa mengucap puji syukur.
Ternyata kesibukan pun merupakan sebuah bentuk nikmat yang baru terasa
ketika mendapat keluangan waktu yang sangat luang ini. Sebentar, aku
berpikir ulang. Jadi, waktu luang yang sangat luang ini pun perlu diapresiasi?
Alhamdulilah, ucapku tanpa suara. Semua memang butuh keseimbangan
dan saling melengkapi. Kita tidak tahu nikmatnya sehat jika tidak merasakan
sakit, begitu pula tentang kesibukan dan waktu luang.
Jika melihat jauh ke belakang, perjalananku untuk berada di titik ini
cukup panjang dan melelahkan. Jatuh bangun dan berliku. Berambisi dengan
penuh target-target hidup yang ingin dicapai, mulai dari pendidikan, karir,

keluarga, cinta, dan hal-hal lain yang kasat mata dan penuh gemerlap dunia.
Sekarang semua itu terasa bergetar dengan penuh kebimbangan. Hidup di
tengah pandemi yang tak pasti ini ternyata hanya mengharap satu hal dasar
sebagai makhluk hidup: menjadi seorang penyintas. Bertahan hidup adalah
hal yang sama-sama diperjuangkan manusia saat ini. Sungguh manusia
memang sangat rapuh dan tak berdaya.
Mungkin pandemi ini dirancang untuk mengembalikan hakikat
manusia. Apalagi kehadirannya membersamai bulan suci ramadan. Momen
seperti ini merupakan waktu yang sangat cocok untuk muhasabah diri. Masih
ingatkan Rasulullah Shallahu ‘Alaihi Wa Salam mendapatkan wahyu pertama
di Gua Hira setelah menjalani tahanuts (menyendiri, red) beberapa hari di
sana? Artinya, kita memerlukan karantina dalam ramadan ini untuk
mengembalikan hati yang mungkin sudah hampir menghitam dan mulai
membatu. Momen yang perlu diapresiasi dengan memanfaatkan setiap
kesempatan dalam kesendirian ini sebaik mungkin karena tak ada yang tahu
tentang masa depan kecuali Sang Pemilik Waktu itu sendiri yaitu Allah ta’ala.
Aku tersadar dari renungan yang ku lakukan sebagai bentuk
prokrastinasi untuk menulis setelah seekor nyamuk berhasil mendapatkan
darah dari lenganku. Aku meraih pena dan mulai mengalirkan pikiran ke
dalam kata dengan cahaya bulan sebagai lampu penerang.
Wahai, Ramadan…
Terima kasih telah sudi menghampiri kami lagi.
Maaf karena tak mampu mengisi serambi-serambi masjid kali ini.
Berharap kekhusyuan kami bersamamu tetap sama meski dalam sunyi.
Berucap puji pada setiap pelajaran kehidupan yang diberikan oleh Sang Ilahi.
Menguatkan iman dalam kesendirian dan ketidakpastian masa depan.
Meyakini bahwa esok hari hanya milik Allah dan yang pasti adalah sekarang.
Sehingga kami hanya perlu mengejar kebajikan pada tiap kesempatan.
Memastikan bahwa setiap waktu dalam ramadan digunakan dalam ketaatan.
Agar Allah ridhoi ramadan di tengah pandemi sebagai cara mencapai takwa.
Sebagaimana yang telah diajarkan dalam alquran.

Bahwa keimanan akan menghadapi ujian dan cobaan
Bahwa segala kesulitan ini akan terlewati selama Allah menghendaki

Like
Like Love Haha Wow Sad Angry
3

Leave a Reply