Sahabat Sehidup Sesurga

Hari jum’at kala itu masih sama seperti jum’at pada biasanya, teman – teman mulai memadati barisan depan untuk saling berlomba dalam kebaikan. Ada yang sedang mengerjakan sholat, sedang muroja’ah hafalan, maupun juga membelai lembut lembaran-lembaran mushaf dan Al Qur’an digital di ponsel mereka untuk menyelesaikan target Al-Kahfi nya.

Ah ya, rasanya sedikit aneh jika duduk bersama mereka. Ada aura tersendiri yang membuatku berpikir, “Ayo jangan kalah dalam kebaikan. Ini kesempatanmu!” Bisa jadi, ini adalah amalan terakhirmu selain dengan harta dan ilmu.

Tak lama kemudian, adzan mulai dikumandangkan. Mode silent pun dimulai, karena sayang jika pahala jum’at kala itu tergadai karena masih ramai ketika ada khutbah. Dan tibalah saat itu..

Khotib pun memulai khutbahnya, “Izinkan saya menceritakan sebuah kisah..”

“Rasulullah SAW tengah duduk-duduk santai dengan para sahabatnya. Di tengah-tengah perbincangan santai itu, tiba-tiba Rasulullah tertawa hingga terlihat gigi-gigi putihnya yang rapi.

Melihat kejadian itu, Umar ra bertanya, “Demi Engkau, Ayah dan Ibuku sebagai tebusannya, apa yang membuatmu tertawa, wahai Rasulullah?”

“Aku diberi tahu bahwa pada hari kiamat nanti, ada dua orang yang bersimpuh di hadapan Allah sambil menundukkan kepala. Salah satunya mengadukan ihwalnya kepada Allah, ‘Ya Rabb, ambilkan kebaikan orang ini untukku, karena dulu di dunia ia pernah berbuat zalim padaku’.”

Mendengar aduannya itu, Allah SWT berfirman, “Mana mungkin saudaramu bisa melakukan ini, karena tidak ada sedikit pun kebaikan di dalam dirinya?”

“Kalau begitu ya Rabb, biarlah dosa-dosaku dipikul olehnya,” kata si pengadu.

Sampai di sini, mata Rasulullah terlihat berkaca-kaca. Beliau tidak mampu menahan tangis, dan lalu air matanya tumpah.

Beliau, Rasulullah, berkata, “Hari itu hari yang begitu mencekam, dimana setiap manusia ingin agar dosa-dosanya dipikul orang lain.”

Kemudian, Rasulullah SAW melanjutkan kisahnya, Allah meminta kepada orang yang mengadu itu, “Angkat kepalamu…!”

Orang itu mengangkat kepalanya, dan mengatakan, “Ya Rabb, aku melihat di depanku ada istana-istana megah terbuat dari emas, dan di dalam istana itu singgasananya terbuat dari emas bertatahkan berlian…

Istana-istana untuk para Nabi yang mana, ya Rabb? Untuk orang jujur yang mana, ya Rabb? Sedang untuk para syuhada yang mana, ya Rabb?”

Allah berfirman, “Istana-istana itu disediakan bagi siapa saja yang mampu membayar harganya.”

Orang itu lalu bertanya, “Siapakah orang yang mampu membayar harganya itu, ya Rabb?”

Allah berfirman, “Engkau pun mampu membayar harganya.”

Orang itu terheran-heran, sambil berkata, “Dengan cara apa aku bisa membayarnya, ya Rabb?”

Allah berfirman, “Caranya dengan engkau memaafkan kesalahan saudaramu yang duduk di sebelahmu itu, yang telah engkau adukan kezalimannya kepada-Ku.”

Orang itu berkata, “Ya Rabb, baiklah aku maafkan kesalahannya.”

Allah berfirman, “Kalau begitu, pegang tangan saudaramu itu, dan ajak dia masuk surga bersamamu.”

Setelah menceritakan kisah itu, Rasulullah bersabda,

“Bertakwalah kalian kepada Allah, dan hendaknya kalian saling berdamai, sesungguhnya Allah mendamaikan persoalan yang terjadi di antara kaum muslimin.”

(Kisah tersebut terdapat dalam hadits yang diriwayatkan al-Hakim, dalam Al Mustdrak nya, Ibn Asakir dalam Mu’jamnya.)

Ah, sial. Kutengok kiriku mulai terisak – isak mendengar khutbah beliau. Terlebih lagi disaat doa yang beliau utarakan.

Sedangkan aku? Ah, kenapa aku hanya berkaca – kaca sedangkan ada muslim lain yang menangis.

Timbul pertanyaan dalam diriku yang sering kurenungkan.

Apakah aku bisa menjadi sosok yang memegang tangan saudaraku itu dan mengajaknya masuk surga bersama sama? Ataukah justru malah aku adalah alasan saudara ku masuk neraka?

Apakah aku bisa menjadi sosok pemaaf yang berani meminta maaf seperti kisah tersebut? Ataukah justru aku menundanya di dunia hingga akhirnya sama sekali bukan sosok pemaaf yang berani meminta maaf sampai akhir hayat?

Apakah kelak aku bisa menjadi sosok yang menyelamatkan sahabatku yang juga sekaligus saudaraku dan merelakannya? Ataukah justru malah aku menjadi sosok yang memperberat hisabnya?

Kuteringat dosaku atas teman-temanku. Bagaimana mungkin akan tega kami yang dulunya di dunia saling berbahagia tapi kini di hadapanNya justru menjadi musuh utama yang saling menyerang?

Apakah solusinya adalah bersahabat karena Allah seperti yang Ustadz sampaikan? Ah, ketakutanku dengan ketakutannya berbeda.

Dan akhirnya khutbah pun selesai. Mengingatkan sejauh mana hubungan dengan temanmu, sahabatmu, atau orang lain yang berinteraksi denganmu. Sehingga hanya akan ada dua pilihan, saling bersahabat yang terbatas di dunia saja, ataukah persahabatan karena Allah untuk selalu bersama hingga akhirat kelak.

(Dikutip dari tulisan Achmad Fajar dengan sedikit perubahan)

Like
Like Love Haha Wow Sad Angry

Leave a Reply