Rembulan di Bulan Ramadhan

Oleh: Dyahati Wahyurini

“Helloo Darling” nada dering telpon genggam Za berbunyi, tanda ada telpon dari pujaan hati, Sam. Dengan senyum merekah di bibirnya, Za dengan sigap mengangkat telponnya.

“Hallo Sam, kemana saja? Seharian tidak ada kabar?”

“Za, kita putus ya, ini sudah mau bulan Ramadhan. Kita bisa pisah baik baik kan?”

Za hanya terdiam, otak dan hatinya masih berusaha mengartikan kata kata Sam.

“Kenapa? Ada cewek lain?Ya udah kita putus”

 “Astaghfirullah Za….”

Suara Sam terhenti karena Za mematikan teleponnya. Emosinya tak bisa menutupi kesedihan di wajahnya. Kekecewaan jelas tergambar dari matanya yang mulai berkaca-kaca. Senyum lebar dibibirnya sirna seketika.

“Za, ayo bangun! Sudah mau imsyak nih, nanti kamu tidak sempat sahur,” panggil Ibu dengan nada semakin meninggi.

“Iya Bu, Za segera ke meja makan.”

Za lansung bergegas bangkit dari tempat tidur. Hari ini puasa hari pertama, mereka berlima duduk bersama di meja makan dan mulai menyantap makanan sahur buatan ibu yang selalu enak dan akan tetap enak.  Kali ini meja makan dengan taplak bunga bunga itu penuh dengan makanan dan anggota keluarga yang lengkap. Di sisi kanan ada Zahara biasa dipanggil Za mahasiswi yang sudah menyelesaikan skripsi dan menunggu wisuda namun  terkendala dengan pandemi COVID-19. Tepat di samping Za, ada Dirga, adik bungsu, mahasiswa semester 3, dan di sisi kiri ada Bulan, anak pertama yang mandiri, seorang eterpreneur online. Ibu duduk di sebelahnya, dan Ayah duduk di tengah menghadap kami semua.

Bulan Ramadhan kali ini terasa sangat berbeda bagi Za. Bagaimana tidak? Za sudah bukan mahasiswi lagi tapi juga belum  berpenghasilan. Sehari-hari ia hanya menghabiskan waktu berjam-jam untuk membuka media sosial, membantu Ibu memasak, bermain games atau sekedar rebahan di kasur. Awalnya, banyak rencana yang ingin Za lakukan, mulai dari pergi liburan ke luar kota, makan di luar rumah, karaoke, buka bersama dan lain-lain. Za anak yang aktif berorganisasi, jumlah temannya terlampau banyak hingga tidak ada yang benar benar dekat dengannya. Setiap tahun, lebih lebih dari separuh bulan Ramadhan Za buka bersama di luar. Adanya pandemi Covid-19,  social distancing dan “di rumah aja”,memporakporandakan semua agenda Za hampir setiap hari Za menghabiskan waktunya di rumah. Za juga merasakan kesepian karena Sam sudah tidak menemani sahur, buka atau bahkan sekedar menanyakan kabar. Semakin hari, kegiatan Za semakin monoton dan kegabutan mulai terasa baik secara jiwa maupun raga.

Hari hari terus berlalu, Za selalu melihat kegiatan semua orang yang ada di rumah, dan kegiatan orang lain di media sosial. Za pun mulai membanding-bandingkan kehidupan, “Kenapa ya mereka bisa seperti ini, sedangkan aku tidak ada hasil apa apa? Hmm, kayak tidak berguna,” gumam Za lirih. Tak berapa lama Za memutuskan keluar dari kamar dan melihat anggota keluarga yang lain. 

“Dek, kamu hari ini ada kerjaan apa?” tanya Za antusias.

“Aduh Kak, ya kuliah laah, jadwal kuliah aku kan dari jam 7.30-16.00.”

“Oooh gitu, kirain libur,” jawab Za lirih.

Za lalu pergi ke ruang kerja kak Bulan, dan mulai melihat sekeliling, berharap ada yang bisa ia kerjakan.

“Kak, lagi apa? Main yuk!”

“Duh Za, kakak masih ada kerjaan nih, mau bantu?”

“Oh, ntar aja lah” jawab Za singkat.

Za pergi dengan wajah datar dan beralih ke ruang tamu, dan melihat ayah dan ibu sedang membuka laptop.

“Yah, lagi sibuk?”

“Iyaa nih, lagi mau kasih kuliah online

“Kalau ibu? Bu, masak buat buka puasa yok!” ajak Za penuh harap.

“Ibu sudah masak. Kamu mau masak apa? Nanti gagal lagi kayak kemarin, haha,” jawab ibu seraya meledek Za

“Kamu kayak gak ada kerjaan sih Za? Bersihin mobil atau bantu ibu ngoreksi aja!” tanya Ayah.

“Hmm, aku ke kamar lagi aja”

Za kembal lagi ke kamarnya, “Rencana liburan, bukber, reunian gagal semua. Hp juga udah tidak bunyi lagi, tidak ada yang mencari. Pekerjaan? belum ada. Penghasilan? Apalagi. Masak? Gagal terus. ah  aku ni bisa apa sih? Gak bermanfaat banget hari hari ku, ah bete, aaaah aku bosan! aku bosan! Bosan!” keluh Za di dalam kamar sedikit berteriak.  

Sore itu, senja tampak begitu indah diiringi dengan rintik rintik hujan yang mulai reda dan guratan warna warni di langit bebas. Pada akhirnya, keindahan senja akan berganti dengan gelapnya malam dan dinginnya angin menggetarkan jiwa. Waktu buka tiba, semua keluarga berbuka bersama di meja makan.

“Za, kenapa sih kok lesu, kayak tidak ada semangat? Kamu sakit?” tanya Ibu

“Gak,” jawab Za singkat

“Jadi kenapa?” tanya Ibu lagi, berusaha mencari tahu.

“Gak ada yang sayang dan peduli sama aku,” jawab Za lantang.

Za pergi meninggalkan meja makan tanpa menghabiskan makanan penutup malam itu. Dadanya terasa sesak dengan semua keluh kesahnya, nafasnya berat dengan semua kesepian yang melanda, nuraninya seakan tertutup dengan semua kilau dunia. Tangisnya pecah, air matanya tak lagi dapat terbendung, air mata mengalir mewakili perasaan yang tak terungkap dengan kata. Tiba tiba kak Bulan mengetuk pintu, dan masuk kamar.  

“Kamu kenapa sih? Tadi marah, sekarang nangis,”

 “Gak tau kak, aku pingin marah aja.”

“Sama siapa?”

“Aku mau marah aja kak, tapi gak tau sama siapa kak. Aku kesel kak, aku bosen,” jawab Za sambil menyeka air matanya. 

“Aku cuman kesel sama semua keadaan, kayak aku gak ada gunanya gitu kak, hari hari cuman berlalu gitu aja, gak ada yang mau ngehargai keberadaan aku di rumah,” lanjut Za sambil terus menangis

“Siapa yang bilang? Gak ada yang seperti itu Za, semua sayang sama kamu, kamu kan udah bantu banyak di ruma, kamu berguna kok, mungkin itu dari pikiran kamu aja,” kata Bulan berusaha menenangkan

“Aku bosan kak di rumah terus, aku merasa tidak dihargai, tidak ada yang bisa aku kerjakan,” jawab Za lirih sambil terus menangis.

“Kamu kurang bersyukur Za, coba deh di pikir,  Ramadhan kali ini, kita selalu sahur dan buka  bareng sekeluarga, udah lama kan tidak seperti ini? Kakak kerja dari rumah, kakak yang paling sering di rumah. Kakak merasa rumah ini sangat berbeda semenjak kita disuruh di rumah aja. Dapur selalu ramai dengan senda gurau saat masak, meja makan selalu penuh dengan cerita ringan sehari hari, ruang keluarga penuh dengan tawa canda. Kakak lebih mudah bicara tentang rencana pernikahan kakak, kakak bisa ketemu keluarga lebih sering. Yaa, semua itu tergantung pikiran kamu Za, kita gak bisa lama-lama sama keluarga kan? Jadi mumpung sekarang di rumah aja, yaa kita nikmatin aja, tidak ada yang tidak bisa kok Za, yang ada mau atau tidak mau, kalau mau yok bismillah, insyaAllah dibantu sama Allah. Kamu  mau penghasilan? Ya kamu jangan duduk saja. Mau bisa masak? Ya kamu harus latihan Za, tidak ada yang instan Za, semua butuh proses, nikmatin aja prosesnya. Tuh buktinya skripsi kamu selesai?

“Iyaa sih kak, tapi percuma skripsi selesai juga aku belum di wisuda,” jawab Za lirih.

“Aduh, diganti dong pemikirannya, alhamdulillah skripsi sudah selesai jadi sudah tidak repot lagi?”

“iya sih kakk.”

“Coba deh, sini lihat bulan Purnama di luar!  Terang kan?” tanya Bulan sembari menatap langit.

“Bagus kan? Tapi apa akan selalu bersinar seperti itu?”

Za menggeleng sembari menghapus air matanya.

“Pasti ada saatnya bulan itu tertutup awan, terus berubah bentuk, hilang dalam kelamnya malam, iya kan? Sama kayak kita Za, tidak selamanya kita itu selalu dalam keadaan yang sama, senang, sedih, suka, duka itu wajar, itu pasti ada, hanya bagaimana cara kita memandangnya saja, dan berusaha melewatinya, iya kan?”

“Tapi bulan kan benda mati kak, tidak sama dengan kita,” bantah Za

“Kita bisa belajar dari mana saja Za, termasuk dari benda mati. Sudahlah, nanti coba deh kamu renungkan, kakak kembali ke kamar ya, jangan nangis lagi” kata Bulan sambil menepuk pundak Za.

“iya kak”

“Eee, satu lagi, jangan samapi kamu menyesal karena belum lama menghabiskan waktu dengan Ibu sama Ayah ya Za, seperti aku sekarang. Kakak baru sadar, belum banyak berbakti ketika kakak udah mau nikah, ah jadi sedih, udah aah, daaa” kata Bulan sembari melambaikan tangan pada Za.

“Kakak benar, aku yang berpikir terlalu dangkal hingga tidak bisa melihat semua nikmat yang jelas ada di depan mataku. Mungkin selama ini yang membuatku kesepian, bosan, dan marah adalah diriku, karena ternyata yang tidak pernah menghargai aku adalah diriku sendiri,” perlahan air mata Za mulai reda berganti dengan senyum tipis di bibirnya. Kata-kata Bulan menerangi pikiran Za dan membuka lebar kedua matanya seterang rembulan di malam itu.  Mulai malam itu, Za bertekad untuk menjadi pribadi yang lebih baik lagi setiap harinya, dimulai dari syukur.

Bahkan dalam Al-Quran sudah dijelaskan berkali-kali seperti salah satu ayat di dalam Qs. Ar Rahman yang diulang sebanyak 31.

“Fabiayyi’aalaa’I Rabbikumaa Tukadzdzibaan”

“Maka nnikmat Tuhan kamu yang manakah yang kamu dustakan?”

Yaa, maka nikmat Tuhan-Mu yang mnakah yang kamu dustakan? karena pasti akan ada celah yang dapat kita syukuri dari suatu keadaan atau lebih tepatnya, tidak akan ada celah untuk kita tidak bersyukur.

-Selesai-

Like
Like Love Haha Wow Sad Angry
721

Leave a Reply