Puasa Ramadhan

 

Definisi Puasa Ramadhan

Puasa menurut bahasa adalah menahan diri. Sedangkan menurut syari’at, puasa adalah menahan diri dari makanan, minuman, hubungan suami-istri, dan semua perkara yang membatalkan puasa mulai dari terbitnya fajar sampai dengan terbenamnya matahari dengan niat ibadah.

Allah telah mewajibkan puasa kepada umat Muhammad sebagaimana Dia mewajibkannya kepada umat-umat terdahulu. Sesuai dengan firman-Nya,

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا كُتِبَ عَلَيْكُمُ الصِّيَامُ كَمَا كُتِبَ عَلَى الَّذِينَ مِنْ قَبْلِكُمْ لَعَلَّكُمْ تَتَّقُونَ

“Hai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kalian berpuasa sebagaimana diwajibkannya atas orang-orang sebelum kalian agar kalian bertaqwa” [Q.S. Al-Baqarah : 183].

Puasa pada bulan Ramadhan adalah wajib berdasarkan al-Qur’an, as-Sunnah dan ijma’. Allah berfirman

شَهْرُ رَمَضَانَ الَّذِي أُنْزِلَ فِيهِ الْقُرْآنُ هُدًى لِلنَّاسِ وَبَيِّنَاتٍ مِنَ الْهُدَىٰ وَالْفُرْقَانِ ۚ فَمَنْ شَهِدَ مِنْكُمُ الشَّهْرَ فَلْيَصُمْهُ ۖ وَمَنْ كَانَ مَرِيضًا أَوْ عَلَىٰ سَفَرٍ فَعِدَّةٌ مِنْ أَيَّامٍ أُخَرَ ۗ يُرِيدُ اللَّهُ بِكُمُ الْيُسْرَ وَلَا يُرِيدُ بِكُمُ الْعُسْرَ وَلِتُكْمِلُوا الْعِدَّةَ وَلِتُكَبِّرُوا اللَّهَ عَلَىٰ مَا هَدَاكُمْ وَلَعَلَّكُمْ تَشْكُرُونَ

“(beberapa hari yang ditentukan itu adalah) bulan Ramadhan, yang di dalamnya diturunkan (permulaan) al-Qur’an sebagai petunjuk bagi manusia dan penjelasan-penjelasan mengenai petunjuk dan pembela (antara yang haq dan yang batil). Karena itu, barangsiapa diantara kalian menyaksikan bulan itu, maka hendalah ia berpasa pada bulan itu.” [Q.S. al-Baqarah : 185].

Dalam sebuah hadist Rasulullah bersabda, “Tali Islam dan kaidah Agama itu ada tiga, dan Islam dibangun di atas ketiganya. Barangsiapa meninggalkan salah satu dari ketiganya, maka ia kafir dan darahnya halal. (ketiga tali Islam itu, dan kaidah agama) itu adalah kesaksian bahwa tidak Tuhan yang berhak disembah melainkan Allah, shalat wajib, dan puasa Ramadhan.” [H.R. Abu Ya’la, dalam Musnadnya, 4/236 dengan sanad hasan].

Dari Thalhah bin Ubaidillah radhiyallahu’anhu, dia mengisahkan

أَنَّ أَعْرَابِيًّا جَاءَ إِلَى رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ ثَائِرَ الرَّأْسِ فَقَالَ يَا رَسُولَ اللَّهِ أَخْبِرْنِي مَاذَا فَرَضَ اللَّهُ عَلَيَّ مِنْ الصَّلَاةِ فَقَالَ الصَّلَوَاتِ الْخَمْسَ إِلَّا أَنْ تَطَّوَّعَ شَيْئًا فَقَالَ أَخْبِرْنِي مَا فَرَضَ اللَّهُ عَلَيَّ مِنْ الصِّيَامِ فَقَالَ شَهْرَ رَمَضَانَ إِلَّا أَنْ تَطَّوَّعَ شَيْئًا فَقَالَ أَخْبِرْنِي بِمَا فَرَضَ اللَّهُ عَلَيَّ مِنْ الزَّكَاةِ فَقَالَ فَأَخْبَرَهُ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ شَرَائِعَ الْإِسْلَامِ قَالَ وَالَّذِي أَكْرَمَكَ لَا أَتَطَوَّعُ شَيْئًا وَلَا أَنْقُصُ مِمَّا فَرَضَ اللَّهُ عَلَيَّ شَيْئًا فَقَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَفْلَحَ إِنْ صَدَقَ أَوْ دَخَلَ الْجَنَّةَ إِنْ صَدَقَ

Ada seorang Arab badui yang rambutnya berdiri datang menemui Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Dia berkata, “Wahai Rasulullah, beritahukanlah kepadaku tentang sholat yang diwajibkan Allah kepadaku.” Beliau menjawab, “Sholat lima waktu kecuali jika kamu ingin menambah sholat yang lain sebagai tambahan.” Lalu dia berkata, “Beritahukanlah kepadaku puasa yang diwajibkan Allah kepadaku”. Beliau menjawab, ”Puasa di bulan Ramadhan, kecuali apabila kamu mau melakukan puasa lain sebagai tambahan.” Lalu dia berkata, “Beritahukanlah kepadaku zakat yang diwajibkan Allah kepadaku.” Maka Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam pun memberitahukan kepadanya syari’at-syari’at Islam. Lalu lelaki itu berkata, “Demi Tuhan yang memuliakanmu. Aku tidak akan menambah dan mengurangi apa yang Allah wajibkan kepadaku barang sedikit pun.” Maka Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Dia pasti beruntung jika dia jujur.” atau “Dia pasti masuk surga jika dia jujur.” [HR. Bukhari dalam Kitab as-Shiyam]

Keutamaan dan Manfaat Puasa Ramadhan

Keutamaan puasa disebutkan dan ditegaskan didalam hadist-hadist berikut. Rasulullah bersabda :

إِنَّمَا الصِّيَامُ جُنَّةٌ يَسْتَجِنُّ بِهَا الْعَبْدُ مِنَ النَّارِ

“puasa adalah perisai dari Neraka, sebagaimana perisai salah seorang diantara kalian untuk perang” [H.R. Ahmad, no. 15844]

Dari Abu Hurairah radhiyallahu’anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

الصِّيَامُ جُنَّةٌ فَلَا يَرْفُثْ وَلَا يَجْهَلْ وَإِنْ امْرُؤٌ قَاتَلَهُ أَوْ شَاتَمَهُ فَلْيَقُلْ إِنِّي صَائِمٌ مَرَّتَيْنِ وَالَّذِي نَفْسِي بِيَدِهِ لَخُلُوفُ فَمِ الصَّائِمِ أَطْيَبُ عِنْدَ اللَّهِ تَعَالَى مِنْ رِيحِ الْمِسْكِ يَتْرُكُ طَعَامَهُ وَشَرَابَهُ وَشَهْوَتَهُ مِنْ أَجْلِي الصِّيَامُ لِي وَأَنَا أَجْزِي بِهِ وَالْحَسَنَةُ بِعَشْرِ أَمْثَالِهَا

“Puasa adalah perisai. Maka janganlah dia berkata-kata kotor dan berbudat bodoh. Apabila ada orang lain yang memerangi atau mencacinya, hendaklah dia katakan, ‘Aku sedang puasa’ (dua kali). Demi Tuhan yang jiwaku berada di tangan-Nya, sesungguhnya bau mulut orang yang berpuasa itu lebih harum di sisi Allah ta’ala daripada bau minyak kasturi. Dia rela meninggalkan makanan, minuman, dan syahwatnya karena Aku. Puasa itu untuk-Ku dan Aku sendiri yang akan membalasnya. Satu kebaikan dibalas sepuluh kali lipatnya.” [HR. Bukhari dalam Kitab as-Shiyam]

مَنْ صَامَ يَوْمًا فِى سَبِيلِ اللَّهِ بَعَّدَ اللَّهُ وَجْهَهُ عَنِ النَّارِ سَبْعِينَ خَرِيفًا

“Barang siapa berpuasa satu hari di jalan Allah, maka Allah akan menjauhkan wajahnya dari Neraka disebabkan (puasa) hari itu sejauh (perjalanan) tujuh puluh tahun” [H.R. al-Bukhori, no. 2840; Muslim, no. 1153].

“sesungguhnya orang yang berpuasa itu mempunyai doa yang tidak ditolak pada saat ia berbuka” [H.R. Ibnu Majah, no. 1753 dan al-Hakim, dan ia menshahihkannya].

إِنَّ فِى الْجَنَّةِ بَابًا يُقَالُ لَهُ الرَّيَّانُ ، يَدْخُلُ مِنْهُ الصَّائِمُونَ يَوْمَ الْقِيَامَةِ ، لاَ يَدْخُلُ مِنْهُ أَحَدٌ غَيْرُهُمْ يُقَالُ أَيْنَ الصَّائِمُونَ فَيَقُومُونَ ، لاَ يَدْخُلُ مِنْهُ أَحَدٌ غَيْرُهُمْ ، فَإِذَا دَخَلُوا أُغْلِقَ ، فَلَمْ يَدْخُلْ مِنْهُ أَحَدٌ

“sesungguhnya di dalam Syurga itu terdapat sebuah pintu yang disebut sebagai ar-Rayyan, orang-orang yang berpuasa masuk (ke dalam Syurga) pada hari Kiamat melalui pintu itu dan tidak ada seorang pun selain mereka yang masuk melalui pintu tersebut. Ditanyakan, ‘Di manakah orang-orang yang berpuasa?’ kemudian mereka berdiri dan masuk melaluinya tanpa seorang pun selain mereka. Jika orang-orang yang berpuasa telah masuk, pintu tersebut ditutup sehingga tidak ada seorangpun selain mereka yang bisa masuk melaluinya” [H.R. al-Bukhori, no. 1896; Muslim, no. 1152].

Bulan Ramadhan mempunyai keutamaan yang besar dan keistimewan yang bermacam-macam yang tidak dimiliki bulan-bulan yang lain. Hadist-hadist berikut menetapkan hal itu dan menguatkannya :

“shalat lima waktu dan jum’at ke jum’at berikutnya, serta Ramadhan ke Ramdhan selanjutnya adalah penghapus dosa-dosa diantara keduanya, selama dosa-dosa besar dijauhi.” [HR. Muslim, no. 16].

“Barangsiap yang berpuasa pada bulan Ramdhan dengan penuh keimanan dan mengharap pahala dari Allah, maka dosa-dosa nya yang telah lalu akan diampuni.” [H.R. Bukhori, no. 38; Muslim, no. 760].

“Aku melihat salah seorang dari umatku terngah-engah kehausan, setiap kali ia tiba di kolam air, maka ia tercegah darinya (tidak dapat mencapainya), kemudian (masa) puasa Ramadhan datang padanya, sehingga memberina air minum dan melepaskan dahaganya.” [H.R. ath-Thabrani].

“Pada malam pertama bulan Ramadhan setan-setan dan pembesar-pembesar jin dibelenggu, pintu-pintu Neraka ditutup dan tidak ada satupun pintunya yang dibuka, sementara pintu-pintu Syurga dibuka dan tidak ada satupun pintunya yang ditutup, lalu seorang penyeru berseru, ‘Hai pencari kebaikan datanglah dan hai pencari keburukan behentilah.’ Allah mempunyai orang-orang yang terbebas dari Neraka dan itu terjadi pada setiap malam.” [H.R. al-Tirmidzi, no. 682 dan dia mengatakan bahwa hadist ini gharib.  Diriwayatkan pula oleh al-Hakim 1/582 dan dia menshahihkannya sesuai dengan syarat al-Bukhori dan Muslim].

Manfaat Puasa bagi Kesehatan

Adapun beberapa manfaat puasa bagi kesehatan telah disepakati oleh para medis dari kalangan Muslim dan non muslim, manfaat ini beragam mencakup, berbagai sistem anatomi tubuh dari pencernaan, peredaran darah, pernapasan dan lainnya. Manfaat puasa efektif melindungi kesehatan tubuh, hinga orang-orang non muslim saja mengkhususkan beberapa hari untuk mereka puasai. Bahkan sebagian mereka ikut berpuasa bersama kaum muslimin karena tinjauan kesehatan. Diantara manfaat puasa yang tercantum dalam buku-buku kedokteran dan ilmiah adalah sebagai berikut :

Puasa mampu mengobati gangguan usus kronis, obesitas, tekanan darah tinggi, radang ginjal dan penyakit kulit. Hal ini dikarenakan tidak makan dan tidak minum selama beberapa waktu dapat mengurangi kadar air dalam tubuh. Otomatis hal ini berpengaruh pada keberadaan airdalam kulit, sehingga menambah daya perlawanannya pada penyakit dan mempercepat penyembuhan.

Mengatasi gangguan pencernaan

Mengurangi kadar gula darah

Mengurangi berat badan

Baik untuk penyembuhan bebrapa penyakit jantung

Baik untuk penyembuhan radang ginjal dan persendian/rematik.

Pertama, mengatur menu makanan dan makan dengan teratur, berarti mengorganisasi kerja suatu alat yang fundamental dalam tubuh, yakni alat pencernaan.  Menjadwal lambung dan usus untuk bekerja dan istrahat dalam waktu-waktu tertentu adalah suatu proses yang sehat lagi penting untuk menguatkan ketahanan lambung dan usus. Tidak makan dan tidak minum selama beberapa waktu saat menjalankan puasa memberikan kesempatan kepada organ lambung dan usus untuk membuang sisa-sisa makanan yang kebanyakan tidak baik untuk tubuh. Mikroba-mikroba yang kita dapati dalam alat pencernaan akan menjadikan sisa-sisa makanan ini sebagai sarang utama pertumbuhan dan perkembangbiakannya. Maka ketika residu makanan ini hanya ada sedikit dalam sistem pencernaan, mikroba-mikroba tersebut tidak memiliki kesempatan hidup, dengan demikian, racun dan bahaya sarang ini pun berkurang.

Kedua, puasa dapat mengurangi kadar minyak yang dihasilkan kelenjar-kelenjar minyak dan dapat mengurangi aktivitas kelenjar-kelenjar ini, sehingga kondisi kulit yang berminyak dapat berkurang. Dari situ, radang kulit berminyak dan radang pada lipatan-lipatan kulit pada orang yang memiliki kulit seperti juga akan membaik, penyebaran jerawat juga akan melambat, bisul yang biasa muncul pada kulit berminyak akan hilang. Mengurangi mengkonsumsi makanan-makanan yang mengandung zat-zat tertentu, seperti protein yang terdapat pada keju, daging, telur dan ikan yang semua ini potensial menimbulkan penyakit sensitif. Juga dapat mengurangi gatal-gatal dan menyembuhkan eksim. Puasa juga dapat mengurangi kondisi garam pada makanan dan minuman hingga dapat meminimalisir bertumpukny cairan dan iar pada jaringan-jaringan dalam tubuh. Dengan demikian akan mengurangi resiko munculnya radang kulit kronis, sebab pada bagian tubuh yang bengkak dan mengandung cairanlah mikroba-mikroba mendapati peluang besar untuk berkembang biak dan menciptakan penyakit baru.

Ketiga, puasa efektif mengurangi gangguan psikologis dan syaraf yang berdampak menimbulkan beberapa jenis gangguan penyakit kulit. Puasa, meninggalkan dosa-dosa kecil maupun dosa besar dan menuju pada Allah dapat mengurangi beban urusan yang membelit hati, sehingga mampu melahirkan ketenangan jiwa. Keadaan ini jelas membantu dalam mengatasi penyakit-penyakit kulit yang sangat dipengaruhi oleh kondisi syaraf, seperti vitilogo (suatu penyakit kulit dimana warnah kuling berkurang yang akan menimbulkan bercak-bercak putih pada kulit). Puasa juga menetralkan tabiat, mencerdaskan pikiran menajamkan mata hati dan menyinari jiwa untuk menerima limpahan karunia kesucian dan penerangan Rabbani.

Keutamaan Perbuatan Baik selama Ramadhan

Karena keutamaan Ramadhan, setiap kebaikan dan bermacam-macam perbuatan baik pun diutamakan. Diantara perbuatan-perbuatan baik tersebut antara lain sebagai berikut :

Shadaqoh : keutamaan Shadaqoh pada bulan Ramadhan ialah diantara dalil-dalil berikut ;

~”sedekah yang paling utama adalah sedekah pada bulan Ramdhan” [H.R. al-Tirmidzi, no. 663. Hadist ini adalah hadist dhaif].

~”Barangsiapa yang memberi makanan untuk berbuka puasa bagi orang yang berpuasa, maka ia akan mendapatkan seperti pahala orang yang berpuasa tersebut, tanpa mengurangi pahala orang yang berpuasa itu sedikit pun” [H.R. Ahmad, no. 21168; dan at-Tirmidzi, no. 807. Hadist ini adalah hadist shahih].

~”Barangsiapa yang memberi makanan atau minuman untuk berbuka puasa bagi orang yang berpuasa dari hartanya yang halal, maka malaikat akan memanjatkan shalawat baginya selama beberapa saat pada bulan Ramdhan dan malaikat Jibril akan memanjatkan shalawat baginya pada malam Qadar (Lailatul Qadar).” [H.R. at-Thabrani dalam al-Mu’jam al-Kabir 2/261 dan Abu asy-Syaikh].

~”Rasulullah adalah orang yang paling dermawan diantara manusia dalam melakukan kebaikan dan beliau lebih dermawan lagi melakukan kebaikan tersebut pada bulan Ramadhan dimana malaikat Jibril mendatanginya.” [H.R. al-Bukhori, no. 6].

 

Shalat Sunnah pada Malam Ramadhan ; Berdasarkan dalil-dalil berikut, Rasulullah bersabda :

“Barangsiapa yang melakukan qiyamul lail pada bulan Ramadhan dengan penuh keimanan dan mengharap ganjaran Allah, maka dosa-dosanya yang telah lalu akan diampuni.” [H.R. al-Bukhori, no. 37; Muslim, no. 760].

 

“Rasulullah senantiasa menghidupkan malam-malam Ramadhan, dan jika memasuki sepuluh hari terakhir dari bulan Ramadhan, beliau membangunkan keluarganya dan semua anak-anak serta orang dewasa yang mampu melakukan shalat.” [H.R. Muslim, no. 1174].

 

Membaca al-Qur’an al-Karim : karena Rasulullah memperbanyak membaca al-Qur’an al-Karim pada bulan Ramadhan dan malaikat Jibril membacakan al-Qur’an kepada beliau pada bulan Ramadhan [H.R. al-Bukhori].

Rasulullah membaca al-Qur’an didalam shalat lebih lama pada bulan Ramadhan daripada bacaannya pada bulan-bulan yang lain. Pada suatu malam, Hudzifah melaksanakan shalat bersama Rasulullah , dan beliau membaca surat al-Baqarah, kemudian Ali Imran dan an-Nisa. Setiap kali membacakan ayat memberikan peringatan tentang sesuatu yang menakutkan, beliau berhenti sejenak untuk berdo’a. tidaklah beliau melaksanakan shalat melainkan dua rakat sampai Bilal datang dan mengumandangkan adzan untuk shalat. [H.R. Muslim, no.772].

Rasulullah juga bersabda : “puasa dan al-Qur’an akan memberi syafa’at kepada seoang hamba pada hari Kiamat. Puasa berkata ‘Wahai Rabb, aku menahannya dari makan dan minum pada siang hari. Dan al-Qur’an berkata, ‘Wahai Rabb, aku menahannya dari tidur pada malam hari, maka izinkan kami memberikan syafa’at kepadanya.” [H.R. Ahmad, no. 6589 dan an-Nasa’i].

 

I’tikaf : yaitu menetap di Masjid untuk melakukan ibadah sebagai upaya mendekatkan diri kepada Allah. Rasulullah selalu melakukan I’tikaf selama sepuluh hari terakhir dari bulan Ramadhan sampai Allah memanggilnya sebagaimana disebutkan dalam hadist shahih [Muslim, no. 1171]. Rasulullah juga bersabda :

“Masjid adalah rumah bagi setiap orang yang bertaqwa,dan Allah akan menjamin bagi orang yang menjadikan masjid sebagai rumahnya dengan memberinya kasih sayang, rahmat dan keberhasilan melewati titian menuju keridhaan Allah sampai ke Syurga.” [H.R. at-Thabrani dalam al-Kabir, 6/254; dan al-Bazzar, 6/506].

 

Umrah : yaitu melakukan ziarah ke Baitullah Masjidil Haram untuk melaksanakan Thawaf dan Sa’I pada bulan Ramadhan. Ini berdasarkan sabda Rasulullah,

“Umrah pada bulan Ramadhan sama dengan haji bersamaku.” [H.R. Al-Bukhori, no. 1863; Muslim, no. 1256].

“Umrah satu sampai dengan umrah yang berikutnya adalah penghapus dosa-dosa yang dilakukan diantara keduanya.” [H.R. al-Bukhori, no. 1773; Muslim,no. 1349].

 

Rukun-Rukun Puasa

Rukun-rukun puasa adalah sebagai berikut :

Niat, yaitu kemantapan hati untuk berpuasa sebagai (wujud) ketaatan atas perintah Allah, atau mendekatkan diri kepada-Nya, berdasarkan sabda Rasulullah,

“sesungguhnya seluruh amal perbuatan itu bergantung pada niatnya” [H.R. al-Bukhori]

 

Jika puasa yang akan dilaksanakannya adalah puasa Wajib, maka niatnya wajib dilakukan pada malam hari sebelum terbit fajar. Ini berdasarkan Sabda Rasulullah,

“barangsiapa yang tidak meniatkan puasa sejak malam harinya, maka tidak ada puasa baginya.” [H.R. at-Tarmidzi, no. 730 dengan lafadz yang berbeda].

 

Hadist ini ada dalam riwayat an-Nasa’i, no. 2334. Jika puasa itu adalah puasa sunnah, maka puasanya sah, walaupun niatnya dilakukan setelah terbitnya fajar dan matahari telah meninggi dengan syarat ia belum makan apapun. Ini berdasarkan pernyatan Aisya,

“pada suatu hari Rasulullah masuk ke dalam rumahku, kemudian bertanya, apakah kalian mempunyai makanan? Kami menjawab, ‘Tidak.’ Lalu Rasulullah bersabda, ‘(jika demikian), maka aku berpuasa’.” [H.R. Muslim, no. 1154].

 

Imsak, yaitu menahan diri dari perkara-perkara yang membatalkan puasa seperti makan, minum dan berhubungan seksual.

Waktu, yang dimaksudkan dengan waktu disini adalah siang hari, yaitu sejak terbitnya fajar sampai terbenamnya matahari. Jika seseorang berpuasa pada malam hari dan berbuka pada siang hari, maka puasanya sama sekali tidak sah, sebagaimana Allah berfirman,

“kemudian sempurnakanlah puasa itu sampai datang malam.”[Q.S. al-Baqarah : 187].

 

Sunah-Sunah Puasa

Perkara-perkaa yang disunahkan dalam puasa adalah :

Menyegerakan berbuka puasa (ta’jil), yaitu segera berbuka puasa ketika waktu berbuka telah tiba pada saat matahari benar-benar telah terbenam, sebagaimana sabda Rasulullah,

“manusia senantiasa dalam kebaikan, selama mereka menyegerakan berbuka puasa.” [H.R. al-Bukhori, no. 1957; Muslim, no. 1098]

Anas bin Malik juga berkata,

“sesungguhny  Nabi tidak mengerjakan shalat Magrib sampai berbuka puasa (terlebih dahulu) walaupun hanya seteguk air.” [H.R. ath-Thabrani dalam al-Mu’jam al-Ausath, 8/335].

Berbuka puasa dengan kurma matang, atau kurma kering, atau air. Yang terbaik diantara ketiganya adalah yang pertama, yaitu kurma matang, sedangkan yang kurang baik adalah yang terakhir, yaitu air. Seorang Muslim disunahkan berbuka puasa dengan sesuatu yang ganjil : tiga, lima, atau tujuh, sebagaiman Anas bin Malik berkata,

“Rasulullah berbuka puasa dengan beberapa kurma ruthab (yang setengan matang)sebelum mengerjakan shalat Maghrib. Jika ruthab tidak ada, beliau berbuka puasa dengan kurma matan. Jika (kurma matang) tidak ada, beliau meneguk beberapa tegukan air.” [H.R. at-Tirmidzi, no. 696].

Berdoa ketika berbuka puasa, karena Rasulullah berdoa ketika berbuka puasa, sebagai berikut,

“Ya Allah untukMu kami berpuasa dan dengan rikiMu kami berbuka, (maka terimalah (puasa) kami, sesungguhnya Engkau Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui)” [H.R. ath-Thabrani, 12/156; Abu Dawud, no. 33-58].

 

Ibnu Umar juga berdo’a ketika berbuka puasa, yaitu dengan do’a berikut :

“Ya Allah, aku meminta kepadaMu dengan rahmatMu yang meliputi segala sesuatu, semoga Engkau mengampuni dosa-dosaku.” [H.R. Ibnu Majah, riwayat shahih].

 

Sahur, yaitu makan dan minum pada saat sahur diakhir malam dengan niat puasa, sebagaimana sabda Rasulullah,

“sesungguhnya pembeda antara puasa kita dengan puasa Ahli kitab adalah makan sahur.” [H.R. Muslim, no. 1096]. Dan sabda Rasulullah,

تَسَحَّرُوا فَإِنَّ فِي السَّحُورِ بَرَكَةً

 

”makan sahurlah kalian, karena sesungguhnya di dalam sahur itu terdapat berkah.” [H.R. al-Bukhori, no. 1923; Muslim, no. 1095].

 

Mengakhirkan sahur sampai akhir bagian malam hari, berdasarkan sabda Rasulullah,

“Umtku senantiasa dalam kebaikan selama mereka menyegerakan berbuka puasa dan mengakhirkan sahur.” [H.R. Ahmad, no. 20805, hadist shahih].

Waktu ahur dimulai sejak pertengahan malam yang akhir dan berakhir beberapa saat sebelum fajar tiba. Ketentuan ini berdasarkan pernyataan Zai bin Tsabit,

سَحَّرْنَا مَعَ رَسُولِ اللَّهِ – صلى الله عليه وسلم – ثُمَّ قَامَ إلَى الصَّلاةِ قَالَ أَنَسٌ قُلْت لِزَيْدٍ كَمْ كَانَ بَيْنَ الأَذَانِ وَالسَّحُورِ قَالَ قَدْرُ خَمْسِينَ آيَةً

“Kami melaksanakan sahur bersama Rasulullah kemudian beliau berdiri untuk shalat. Aku bertanya, ‘Berapa jarak waktu antara adzan dengan sahur?’ Rasulullah menjawab, “sekitar (membaca) 50 ayat. [H.R. al-Bukhori, no. 1921; Muslim, no. 1097].

 

CATATAN :

Orang yang merasa ragu-ragu mengenai terbitnya fajar, ia boleh makan dan minum sampai ia merasa yakin bahwa fajar telah terbit, kemudian ia berhenti dari makan dan minum, sebagaimana firman Allah menyebutkan,

أُحِلَّ لَكُمْ لَيْلَةَ الصِّيَامِ الرَّفَثُ إِلَىٰ نِسَائِكُمْ ۚ هُنَّ لِبَاسٌ لَكُمْ وَأَنْتُمْ لِبَاسٌ لَهُنَّ ۗ عَلِمَ اللَّهُ أَنَّكُمْ كُنْتُمْ تَخْتَانُونَ أَنْفُسَكُمْ فَتَابَ عَلَيْكُمْ وَعَفَا عَنْكُمْ ۖ فَالْآنَ بَاشِرُوهُنَّ وَابْتَغُوا مَا كَتَبَ اللَّهُ لَكُمْ ۚ وَكُلُوا وَاشْرَبُوا حَتَّىٰ يَتَبَيَّنَ لَكُمُ الْخَيْطُ الْأَبْيَضُ مِنَ الْخَيْطِ الْأَسْوَدِ مِنَ الْفَجْرِ ۖ ثُمَّ أَتِمُّوا الصِّيَامَ إِلَى اللَّيْلِ ۚ وَلَا تُبَاشِرُوهُنَّ وَأَنْتُمْ عَاكِفُونَ فِي الْمَسَاجِدِ ۗ تِلْكَ حُدُودُ اللَّهِ فَلَا تَقْرَبُوهَا ۗ كَذَٰلِكَ يُبَيِّنُ اللَّهُ آيَاتِهِ لِلنَّاسِ لَعَلَّهُمْ يَتَّقُونَ

 

Dihalalkan bagi kamu pada malam hari bulan puasa bercampur dengan isteri-isteri kamu; mereka adalah pakaian bagimu, dan kamupun adalah pakaian bagi mereka. Allah mengetahui bahwasanya kamu tidak dapat menahan nafsumu, karena itu Allah mengampuni kamu dan memberi maaf kepadamu. Maka sekarang campurilah mereka dan ikutilah apa yang telah ditetapkan Allah untukmu, dan makan minumlah hingga terang bagimu benang putih dari benang hitam, yaitu fajar. Kemudian sempurnakanlah puasa itu sampai (datang) malam, (tetapi) janganlah kamu campuri mereka itu, sedang kamu beri’tikaf dalam mesjid. Itulah larangan Allah, maka janganlah kamu mendekatinya. Demikianlah Allah menerangkan ayat-ayat-Nya kepada manusia, supaya mereka bertakwa. [Q.S. al-Baqarah : 187].

Seorang berkata kepada Ibnu Abbas, “Aku sedang sahur tetapi tiba-tiba aku merasa ragu-ragu sehinga aku berhenti sahur.” Ibnu Abbas berkata kepadanya, “Makanlah selama kamu merasa ragu-ragu sampai kamu tidak merasa ragu-ragu (yakin).” [H.R. Ibnu Abu Syaibah 2/288].

Al-Hafidz meriwayatkannya dalam “Al-Fath.” Makan dan minum sampai benar-benar nyata terbit fajar adalah pendapat jumhur (mayoritas) ulama. Imam Malik berpendapat bahwa orang yang makan dan minum dalam keadaan ragu mengenai terbitnya fajar, maka ia harus mengganti puasanya, dan ini hanya sekedar upaya untuk berhati-hati.

 

Perkara-Perkara yang Makruh dalam Puasa

Bagi orang yang sedang berpuasa, makruh hukumnya melakukan perkara-perkara yang dapat merusak puasanya, meskipun jika dilakukan secara wajar, tetapi perkara-perkara tersebut tidak membatalkan puasa. Diantaranya adalah sebagai berikut :

Berlebih-lebihan dalam berkumur dan membersihkan hidung dengan menghirup dan mengeluarkan air ketika berwudhu, berdasarkan sabda Rasulullah

“dan bertindaklah maksimal dalam menghirup air dengan hidung kecuali engkau sedang berpuasa.” [H.R. Abu Dawud, no. 2366; at-Tirmidzi, no. 788; an-Nasa’I, no. 87; Ibnu Majah, 1/78, ia menshahihkannya].

Rasulullah tidak menyukai terlalu dalam menghirup air karena takut akan masuknya air tersebut ke dalam rongga (hidung)nya yang akan merusak puasanya.

Ciuman, karena mencium kadang-kadang membangkitkan syahwat yang dapat merambat sampai merusak puasanya dengar keluarnya air madzi atau dengan hubungan suami istri yang harus dibayar dengan kaffarah.

Dari ‘Aisyah radhiyallahu’anha, beliau berkata,

إِنْ كَانَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ لَيُقَبِّلُ بَعْضَ أَزْوَاجِهِ وَهُوَ صَائِمٌ ثُمَّ ضَحِكَتْ

“Sesungguhnya Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dulu pernah mencium sebagian istrinya dalam keadaan beliau sedang berpuasa.” Kemudian ‘Aisyah tertawa” [HR. Bukhari dalam Kitab as-Shiyam]

 

Suami terus menerus melihat istri dengan syahwat.

Menghayalkan hubungan suami istri.

Menyentuh wanita dengan tangan atau menempel tubuhnya dengan tubuh.

Mengunyah daun sirih karena dikhawatirkan beberapa baginya masuk ke dalam tenggorokan.

Mencicipi makanan.

Berkumur-kumur bukan wudhu atau keperluan yang mengharuskannya.

Bercelak pada permulaan siang, tetapi jika bercelak pada akhir siang, maka hal itu diperbolehkan.

Berbekam atau mengeluarkan darah karena dikhawatirkan akan melemahkan tubuh yang menyebabkan harus membatalkan puasanya, karena hal yang demikian terdapat perkara yang dapat membatalkan puasa.

 

Perkara-Perkara yang Membatalkan Puasa

Perkara-perkara yang membatalkan puasa adalah sebagai berikut ;

Masuknya cairan ke dalam tubuh melalui hidung seperti memasukkan obat lewat hidung, atau mata dan telinga, seperti meteskan cairan/obat ke keduanya, atau melalui dubur dan kemaluan wanita, seperti suntikan.

Sesuatu yang masuk ke dalam tubuh karena berlebih lebihan dalam berkumur dan menghirup air dengan hidung ketika berwudhu dan lainnya.

Keluarnya air mani karena melihat wanita secara terus-menerus, selalu memikirkannya, mencium, atau berhubungan suami istri.

Muntah dengan sengaja, sebagaimana sabda Rasulullah,

“barang siapa yang muntah dengan sengaja, maka ia harus mengganti puasanya.” [H.R. a-Tarmidzi, no. 720].

Sedangkan orang yang muntah tanpa disengaja karena tak mampu menahannya, misalnya,maka hal itu tidak membatalkan puasa.

Makan dan minum atau bersenggama dalam keadaan terpaksa untuk itu.

Orang yang makan dan minum karena menduga masih malam, tetapi kemudian nyatalah baginya bahwa fajar telah terbit.

Orang yang makan dan minum karena menduga bahwa hari telah malam, tetapi kemudian nyata baginya bahwa hari masih siang.

Orang yang makan dan minum karena lupa, tetapi kemudian ia tidak berhenti darinya karena menduga bahwa berhenti makan dan minum itu tidak wajib selama ia telah makan dan minum hinga meneruskan berbuka sampai malam.

Masuknya sesuatu yang bukan makanan atau minuman ke dalam tubuh melalui mulut, misalnya menelan permata atau benang, sebagaimana diriwayatkan bahwa Ibnu Abbas berkata, “Puasa itu karena sesuatu yang masuk, dan bukan karena sesuatu yang keluar.” Yang dimaksudkan oleh Ibnu Abbas adalah bahwa puasa itu batal dengan masuknya sesuatu ke dalam tubuh dan bukan karena keluarnya sesuatu darinya, seperti darah dan muntah.

Menolak berniat puasa meskipun tidak makan dan minum jika penolakan tersebut ditafsirkan sebagai berbuka puasa, tetapi jika sebaliknya, maka puasa itu tidak batal.

Murtad (keluar) dari Islam, walaupun ia kembali masuk ke dalam Islam, berdasarkan firman Allah

“jika kamu mempersekutukan (Tuhan), niscaya akan terhapuslah amalmu dan tentulah kamu termasuk orang-orang yang merugi.” [Q.S. Az-Zumar : 65].

 

Perkara-Perkara yang Diperbolehkan Bagi Orang yang Berpuasa

Orang yang berpuasa diperbolehkan melakukan perkara-perkara sebagai berikut :

Menggunakan siwak pada siang hari. Tetapi, menurut Imam Ahmad, menggunakan siwak makruh hukumnya bagi orang yang sedang berpuasa setelah matahari condong ke arah barat.

Mendinginkan badan dengan air karena panas yang sangat menyengat, baik dengan menyiramkan air ke seluruh badan atau dengan berendam di dalam air.

Makan dan minum dan hubungan suami istri pada malam hari, hingga terlihat dengan jelas terbitnya fajar.

Bepergian untuk suatu kebutuhan yang diperbolehkan meskipun perjalanan tersebut bisa jadi akan mengakibatkan dirinya berbuka puasa.

Berobat dengan jenis obat apapun yang halal selama tidak ada yang masuk ke dalam tubuh, misalnya denan menggunakan jarum jika hal itu bukan infus.

Mengunyahkan makanan unuk anak kecil jika yang bersangkutan tidak menemukan orang yang dapat mengunyahkan makanannya dengan syarat tidak ada sesuatu apapun yang masuk ke dalam tubuhnya.

Menggunakana minyak wangi dan wewangian, hal ini karena tidak ada riwayat yang melarangnya dari pembuat syari’at.

 

Perkara-Perkara yang Dimaafkan

Perkara-perkara yang dimaafkan apabila dilakukan oleh orang yang berpuasa adalah sebgai berikut :

Menelan ludah walaupun banyak. Maksudnya adalah ludahnya sendiri, bukan ludah orang lain.

Terpaksa muntah dan mengeluarkan cairan dari perut (dengan syarat) jika tidak aa yang masuk lagi ke dalam perutnya setelah (keluar) sampai pada ujung lidahnya.

Menelan lalat (serangga) karena terpaksa dan tanpa disengaja.

Debu jalanan, dan asap dari pabrik-pabrik, asap kayu bakar dan seluruh bentuk asap yang lain yang tidak dapat dihindari.

Bangun pagi dalam keadaan junud, meskipun ia menghabiskan seluruh siangnya dalam keadaan junud.

Mimpi basah, tidak ada akibat apapun bagi orang yang berpuasa jika ia mengalami mimpi basah, hal itu tidak meyebabkan puasanya batal. Rasulullah bersabda,

“hukum tidak dapat diberlakukan atas tiga orang, yaitu : orang gila sampai ia sadar, orang tidur sampai ia bangun, dan anak kecil sampai ia bermimpi (baligh).” [H.R. Ahmad, no. 1330 dan Abu Dawud, no. 4399].

Makan dan minum tanpa disengaja atau lupa. Tetapi Imam Malik berpendapat bahwa orang yang makan dan minum karena lupa, ia harus mengqadha’ nya puasanya jika puasa itu adalah puasa wajib, sebagai kehati-hatian darinya. Sedangkan puasa sunnah, tidak kewajiban mengqadha’nya. Hali ini berdasarkan sabda Rasulullah;

إِذَا نَسِيَ فَأَكَلَ وَشَرِبَ فَلْيُتِمَّ صَوْمَهُ فَإِنَّمَا أَطْعَمَهُ اللَّهُ وَسَقَاهُ

“orang yang lupa sedangkan ia berpuasa, kemudian ia makan atau minum, maka ia harus menyempurnakan puasanya, karena sesungguhnya Allah-lah yang memberinya makan dan minum.” [H.R. al-Bukhori, no. 1933; Muslim, no. 1155].

Sabda Rasulullah yang lain,

“ barang siapa yang berbuka puasa pada bulan Ramadhan karena lupa, ia tidak wajib mengqadha’nya dan tidak wajib pula membayar kafarat (denda).” [H.R. ad-Daraquthni 2/178. Hadits shahih].

Like
Like Love Haha Wow Sad Angry
2

Tinggalkan Balasan