Perjalanan Mengetuk Pintu Ramadan

oleh: Aughi Nurul Aqiila

Sore; langit tidak tampak akan kelabu, namun jalanan sepi. Orang-orang termakan seruan negara untuk mengunci diri di rumahnya masing-masing. Hanya segelintir yang terpaksa berada di luar karena kalau di rumah, mungkin buka puasanya hanya bisa sampai maghrib nanti.

Saya terduduk, melamun menatap ambang pintu yang tiba-tiba diketuk. Rupaya tetangga–imam masjid kampung kami–datang memakai masker. Di tangannya ada semangkuk kolak kesukaan saya. Katanya, “Buat buka puasa nanti.” Saya tersenyum dan berterima kasih. Dia berbalik menuju rumahnya yang hanya berjarak 2 rumah dari sini. Sejenak, saya terdiam di balik pintu. Hening membawa saya memutar kembali Ramadhan tahun lalu ketika kami masih bisa tarawih berjamaah di masjid. Saya ingat betul bacaannya yang syahdu, membuat saya betah berlama-lama berdiri. Andai saja tahun ini…., ah! Mendadak saya kesal. Angin sore melambai-lambai membangunkan emosi yang saya tahan beberapa minggu belakangan ini.

“Ramadhan pasti ada di tempat lain,” ujar saya yakin dalam hati. Saya menyambar kunci motor di meja, lalu bergegas pergi.

Tidak disangka, jalanan seperti tak berpenghuni. Biasanya dengan mudah saya dapat menemukan penjaja kudapan buka puasa yang ramai oleh kerumunan pembeli. Mudah juga menemukan orang-orang yang berbagi takjil kepada para pengemudi. Suasana yang berbeda ini rasanya membuat jeda yang lebih panjang antara ashar dan maghrib.

Masjid Raya

Saya mengemudikan motor menuju masjid raya yang lumayan besar di pinggir jalan utama. Pada jam-jam ini biasanya ada jadwal pengajian. Ibu sering mengajak saya ikut. Walaupun awalnya terpaksa, namun akhirnya hati luluh juga. Mungkin benar, setan-setan di bulan Ramadan dibelenggu. Hati saya yang seperti batu bisa juga mendadak sendu ketika nasihat ustad menyambar-nyambar telinga. Sayangnya, hari itu sepertinya tidak ada pengajian. Saya hanya menemukan sepasang sandal di depan masjid.

Pintu masjid tertutup. Saya mencoba membukanya namun terkunci. Kulihat samping kanan kiri, mencari pintu lain yang bisa dibuka. Namun hasilnya nihil. Padahal dalam hatiku ada harap yang besar untuk dapat kembali melaksanakan tarawih di sini. Kemudian saya memutuskan duduk di depan pintu.

Tiba-tiba saya mendengar suara aneh. Seperti gesekan kayu yang sudah lapuk. Bunyi itu makin keras dan rasanya ada di dekat sini. Saya terperanjat. Berulangkali mengucap istighfar. Saya tidak berani menoleh ke arah sumber suara. Hampir saya terlonjak ketika seseorang berdiri di hadapan.

“Ada apa, Mas?” tanya seorang berpeci.

Saya mendongak. Syukurlah, ternyata manusia. Saya masih diam menenangkan rasa deg-degan yang tadi menyerang. Dia kemudian terkekeh. “Maaf, pintu masjid memang susah dibuka. Ditambah lagi sekarang jarang dibuka, jadi bunyinya seperti itu,” jelasnya menenangkan saya.

“Apa nanti malam ada tarawih berjamaah di sini?” tanya saya berharap.

“Tidak ada.”

“Kalau besok?”

“Tidak ada juga”

“Bagaimana dengan lusa?”

“Pulanglah, Nak. Tarawih berjamaah di rumah saja”

“Kalau saya I’tikaf di sini boleh?”

“Lebih baik kamu pulang. Di rumah lebih aman”

 Lelaki itu meninggalkan saya. Menutup kembali pintu masjid. Saya menunduk. Mungkin Ramadan ada di masjid lain. Saya bergegas menuju motor sebelum gelap menggerogoti langit.

Masjid kedua

Masjid ini bukan masjid raya. Letaknya di dekat rumah nenek. Masjid ini tidak besar dan sebagian besar jamaahnya adalah orang kampung nenek. Dalam pikiran saya, orang-orang kampung akan lebih mungkin untuk mematuhi aturan pemerintah untuk tidak sholat berjamaah di masjid. Saya bisa menduga bahwa akan ada anak-anak yang melingkar berlatih mengaji, ibu-ibu yang menyiapkan makanan buka puasa, dan kakek-kakek yang berdizikir di pojokan.  Jadi, saya dengan percaya diri melangkah masuk ke pelataran masjid yang sebenarnya pintunya pun masih kelihatan tertutup.

Alih-alih menemukan orang, saya justru disambut kucing yang mengeong di pelataran masjid. Saya masih berprasangka positif sampai di depan pintu masjid, ternyata terkunci. Dari kaca jendelanya pun tak tampak orang-orang yang ada dalam dugaan saya tadi. Hening. Bahkan suara lantunan ayat suci yang dikumandangkan dari speaker pun tidak terdengar. Saya menuju halaman belakang, berharap akan bertemu orang.

Nyatanya tidak.

Saya kesal bukan main. Ingin rasanya berteriak dan memaki keadaan. Saya menghela napas berulang kali. Mencoba menenangkan diri, pasti di rumah nenek pintunya akan selalu terbuka untuk saya.

Rumah Nenek

Setiap Ramadan, selalu ada jadwal buka puasa bersama di rumah nenek. Entah setiap minggu atau dua minggu sekali. Tradisi ini kami lakukan untuk mempererat tali silaturahim antar keluarga. Saya bisa mengingat sepupu-sepupu yang masih kecil akan saling berebut mainan, berteriak, membuat gaduh seisi ruangan. Para lelaki biasanya mengobrol sambil menonton TV. Sementara para wanita pasti sedang di dapur atau meja makan menyiapkan hidangan. Nyaman sekali rasanya berada di tengah kehangatan keluarga besar. Momen itu yang selalu saya tunggu di saat Ramadan tiba. Namun sekarang, jadwal berbuka puasa bersama tidak muncul di grup whatsapp keluarga.  Mereka justru saling mengingatkan untuk tetap berada di rumah.

Sebernarnya, Ibu melarang keras untuk pergi ke rumah nenek. Saya tahu nenek sakit-sakitan beberapa tahun terakhir ini. Ibu khawatir kondisi nenek terlalu lemah untuk bertahan dari virus menyebalkan itu, maka anak-anaknya pun menjaga mati-matian nenek dari dunia luar. Bahkan Bibi–yang tinggal serumah dengan nenek–pernah secara terang-terangan memberitahu saya untuk tidak berkunjung sampai kondisi ini pulih.

Saya tidak peduli! Saya rindu Ramadan di rumah nenek. Saya hanya ingin semuanya berjalan seperti biasanya.

Dengan energi dan emosi yang meluap, saya mengetuk pintu rumah nenek. Satu kali, dua kali,…. sepuluh kali. Tidak ada jawaban. Nenek memang suka memasak di dapur belakang, jadi mungkin tidak dengar. Bibi juga mungkin sedang keluar. Jadi, saya memutuskan untuk duduk di teras.

Beberapa menit kemudian Bibi datang. Di tangannya ada dua plastik sepertinya berisi makanan untuk buka puasa. Saya mendadak kegirangan dan langsung ingin menyalaminya. Namun, Bibi mundur beberapa langkah. Wajahnya menunjukkan raut tidak suka. Masker yang tadinya hanya tergantung di telinga, dia rapatkan menutup mulut dan hidung. Saya bisa merasakan hawa tidak mengenakkan.

“Ada apa?” tanya Bibi penuh selidik.

“Mau buka puasa bersama nenek, Bi. Kangen.”

Bibi terdiam. “Lain waktu saja. Nenek sedari kemarin batuk-batuk.” kata Bibi menohok saya. Saya tertolak lagi.

“Nih, buat buka puasa di rumah” Bibi menyerahkan sebungkus plastik. Mata saya rasanya memanas. Saya tidak kuat lagi. Dengan suara bergetar, saya menolak. Saya pamit pulang dengan kekecewaan yang menggebu.

Benar, pintu masjid saja tertutup untuk saya. Saya tidak menemukan Ramadan di masjid. Pintu rumah nenek sekalipun dikunci rapat-rapat. Ramadan juga tidak ada di rumah nenek. Ramadan tidak pula ada di sepanjang jalan pulang. Dalam hati, saya bingung harus mencari Ramadan dimana lagi.

***

Saya melewati waktu maghrib dengan kesendirian di atas motor. Sedikit mengganjal perut dengan roti dan air minum yang dibeli di warung dekat sini. Saya masih merenung melihat jalan yang lengang. Di telinga saya berulang kali diputar suara-suara khas Ramadan. Speaker masjid yang dikeraskan atau obrolan tetangga tentang anaknya yang baru mulai belajar berpuasa. Saya merasa memasuki Ramadan dengan pintu-pintu amalan yang tertutup, lalu saya harus melakukan apa?

Adzan isya berkumandang.

Saya memutuskan untuk pulang. Membawa pulang setumpuk kekecewaan. Mungkin akan saya hadiahkan pada Ibu, Bapak, atau adik. Mungkin juga kami saling memberi hadiah kekecewaan yang sama.

Sesampainya di rumah, saya melihat Bapak, Ibu, dan adik sedang tarawih berjamaah. Saya tahu mereka bertiga selalu tarawih berjamaah di rumah. Sementara saya lebih memilih sholat sendiri karena merasa jamaah seharusnya dilakukan di masjid. Bapak dan Ibu tidak marah. Mereka bilang bahwa saya memang butuh waktu untuk mengerti. Saya hanya duduk di kursi dekat mereka dan memperhatikan bagaimana mereka melaksanakan sholat berjamaah.

Mendadak ada yang menghangat dalam dada.

Bapak mengucap salam yang terakhir. Pertanda tarawih telah selesai. Dalam balutan mukena, Ibu lantas memeluk saya. “Kemana saja kamu?”

Saya baru ingat bahwa saya tidak membawa ponsel selama bepergian tadi. Saya hanya terdiam.

“Ibu masak makanan kesukaan kamu. Tuh masih ada di meja makan. Sudah buka puasa kan?” tanya ibu lembut.

“Sudah bu,” jawab saya lirih. Ibu masih memeluk saya. Saya bisa mencium aroma khawatir dari Ibu. Mendadak, saya merasa bersalah. Ibu yang tak pernah mempunyai jeda untuk dirinya sendiri karena sibuk memperhatikan kami.

“Bu,” panggilan saya membuat Ibu melepas pelukannya. “Apa di Ramadan kali ini semua pintu kebaikan telah tertutup untuk saya?”

“Pintu kebaikan seperti apa yang kamu maksud?”

“Pintu sholat berjamaah dan I’tikaf di masjid. Hmm, bahkan pintu silaturahim di rumah nenek pun juga tertutup untuk saya,” ujar saya sedih.

Ibu menatap Bapak dalam. Kemudian tersenyum. Katanya, “Kamu lupa ada pintu kebaikan yang justru terbuka lebar sekali untukmu?”

Saya terkejut. “Apa itu?”

“Pintu kebaikan sabar dan ridha,” tegas Ibu.

Hening mengisi keseluruhan ruang udara dalam rumah. Bapak dan adik menatap saya dengan seksama. Saya masih mencerna kata-kata Ibu yang banyak benarnya.

“Ibu tahu kondisi ini sulit buatmu dan buat kita semua. Namun, Ramadan tetapkah Ramadan. Keistimewaan dan keberkahannya masih tetap sama. Kamu hanya perlu fokus terhadap apa yang bisa kamu amalkan, jangan mencari hal lain yang kamu sudah tahu tidak akan bisa didapatkan.”

Saya seperti disambar petir di siang bolong. Saya memang belum berusaha untuk menjadi sabar dan menerima keadaan. Apalagi memahami bahwa sebenarnya masih banyak hal yang bisa saya amalkan daripada sekadar berandai tentang apa yang seharusnya terjadi.

“Besok, kamu coba membuka pintu kebaikan yang lebih besar lagi nggak?” tanya Bapak memecah keheningan.

“Apa itu, Pak?”

“Besok kamu jadi imam tarawih berjamaah di rumah, ya!” ujar Bapak semangat. Sontak, adik saya meloncat kegirangan. Ibu dan Bapak tertawa. Beberapa detik kemudian, saya ikut tertawa.

Ridha dan sabar memang sulit. Kita lakukan pelan-pelan ya. Saya membisikkan pada Ramadan yang malam itu akhirnya saya temukan di rumah, “Semoga selalu berkah.”

Like
Like Love Haha Wow Sad Angry
6

Leave a Reply