Obesitas dan Pola Makan yang Berlebih-Lebihan (Israf) dalam Islam

Obesitas merupakan salah satu masalah kesehatan dunia dengan prevalensi yang selalu meningkat setiap tahunnya, baik pada usia anak-anak hingga usia dewasa. Obesitas dapat meningkatkan risiko terjadinya berbagai macam komplikasi penyakit yakni diabetes melitus, penyakit kardiovaskuler, kanker, gangguan psikososial, bahkan berujung pada kematian.

Penyebab obesitas bersifat multifaktorial, namun penyebab yang paling utama ialah pola makan yang berlebihan, yakni lebih banyak kilokalori yang masuk melalui makanan dibandingkan kebutuhan energi tubuh. Islam telah mendahului ilmu pengetahuan modern dalam menekankan masalah pentingnya keseimbangan dalam mengkonsumsi makanan dan minuman. Islam telah memperingatkan akan bahaya berlebih-lebihan dalam makan dan minum terhadap kesehatan manusia melalui Al Qur’an dan hadits. Perilaku berlebih-lebihan ini disebut sebagai israf. Solusi pencegahan obesitas dalam Islam ialah dengan mengikuti apa yang telah diperintahkan Allah subhanahu wa ta’ala dan sunnah Rasulullah shallallahu ‘alayhi wa sallam untuk tidak israf ketika makan dan meningkatkan aktivitas fisik.

______________________________________________________________________

Apa itu obesitas?

Obesitas adalah gangguan kesehatan yang ditandai oleh adanya penimbunan lemak dalam tubuh sebagai akibat dari ketidakseimbangan antara energi yang masuk dan energi yang keluar dalam jangka waktu yang lama (Basuki, 2015). Asupan energi yang tinggi disebabkan oleh konsumsi makanan sumber energi dan lemak yang tinggi, sedangkan pengeluaran energi yang rendah disebabkan karena kurangnya aktivitas fisik, olah raga dan sedentary life style (Kemenkes RI, 2012). Definisi tersebut juga mempunyai arti bahwa obesitas terjadi apabila positive energy balance atau keseimbangan energi positif dalam jangka waktu lama terjadi. Maksud dari keseimbangan energi positif adalah energi yang masuk ke dalam tubuh lebih besar daripada kebutuhan tubuh. Hal ini menyebabkan terjadinya penambahan berat badan yang terus menerus. Adanya keseimbangan energi positif menunjukkan terjadinya asupan makanan berlebih dan atau kurangnya aktivitas fisik. (Kusumastuty, 2016).

 

Gambar 1. Keseimbangan energi (Kusumastuty, 2016)

Bagaimana cara mengetahui obesitas seseorang?

Cara untuk mengetahui seseorang mengalami obesitas adalah dengan melakukan perhitungan Indeks Massa Tubuh (IMT), yaitu berat badan (kg) dibagi tinggi badan kuadrat (m2).Batasan IMT yang digunakan untuk menilai status gizi pada dewasa adalah sebagai berikut: kurus (IMT < 18,5), normal (IMT ≥ 18,5 – ≤ 22,9), overweight (IMT ≥ 23,0), berisiko (IMT 23,0 – 24,9), obesitas tingkat 1 (IMT 25,0 – 29,9), dan obesitas tingkat 2 (IMT ≥ 30,0).

Epidemiologi obesitas

Obesitas menjadi salah satu permasalahan kesehatan yang penting dalam beberapa tahun ini dikarenakan prevalensinya yang terus meningkat di dunia. Diperkirakan 1,6 miliar orang dewasa diseluruh dunia mengalami berat badan berlebih (overweight) dan sekurang-kurangnya 400 juta diantaranya mengalami obesitas (Basuki, 2015). Masalah obesitas di Indonesia terjadi pada semua kelompok umur dan strata sosial ekonomi (Kemenkes RI, 2012). Berdasarkan hasil RISKESDAS tahun 2013, diketahui bahwa prevalensi masalah berat badan berlebih pada anak umur 5-12 tahun masih tinggi yaitu 18,8%, terdiri dari 10,8% kegemukan (overwight) dan 8,8% obesitas. Pada remaja umur 16-18 tahun prevalensinya sebesar 7,3 % yang terdiri dari 5,7% kegemukan (overweight) dan 1,6% obesitas. Sedangkan prevalensi obesitas pada dewasa (>18 tahun) sebesar 15,4%. Prevalensi obesitas penduduk laki-laki dewasa (>18 tahun) pada tahun 2013 sebesar 19,7% lebih tinggi dari tahun 2007 (13,9%) dan 2010 (7,8%) dan prevalensi obesitas pada penduduk perempuan dewasa (>18 tahun) sebesar 32,9%, naik 18,1% dari thun 2010 (7,8%). Dari data tersebut dapat diperkirakan bahwa angka kejadian obesitas setiap tahunnya meningkat.

Etiologi dan faktor risiko obesitas

Penyebab utama obesitas adalah terjadinya ketidakseimbangan energi positif. Energi yang masuk kedalam tubuh lebih besar dari pada kebutuhan energi tubuh. Hal ini menyebabkan terjadinya penambahan berat badan yang terus menerus (Kusumastuty, 2016).

Terdapat beberapa faktor risiko yang dapat meningkatkan kemungkinan seseorang menderita obesitas. Faktor yang pertama adalah lingkungan dengan gaya hidup yang modern, faktor risiko ini menghasilkan aktivitas fisik yang lebih rendah dan asupan kalori yang lebih tinggi. Asupan kalori yang tinggi didapatkan melalui pola makan yang salah, hal tersebut menjadi pencetus utama terjadinya obesitas. Pola makan salah adalah aktivitas mengonsumsi makanan melebihi dari kebutuhan, makan tinggi energi, tinggi lemak, tinggi karbohidrat sederhana dan rendah serat. Sedangkan perilaku makan yang salah adalah memakan makanan seperti junk food, makanan dalam kemasan dan soft drink (Kemenkes RI, 2012; Queensland Health, 2017). Faktor risiko yang kedua meliputi tingkat pendidikan dan sosial ekonomi. Pada suatu penelitian obesitas terbaru oleh 15 negara OECD (Organization for Economic Co-operation and Development), 8 negara mendapatkan bahwa seorang wanita yang tingkat pendidikannya rendah memiliki dua sampai tiga kali kemungkinan lebih besar mengalami obesitas dibandingkan dengan mereka yang tingkat pendidikannya lebih tinggi. Begitu pula pada pria, prevalensi dan insidensi obesitas meningkat pada pria dengan tingkat pendidikan yang rendah. Latar belakang sosial ekonomi memiliki hubungan timbal balik dengan obesitas. Seseorang yang mengalami obesitas akan memiliki produktivitas pekerjaan yang lebih buruk dibandingkan dengan orang dengan berat badan normal, aktivitasnya akan terganggu karena kemungkinan untuk mengalami penyakit lain lebih besar dan berkurangnya jam kerja sekitar 10% (OECD, 2017). Faktor risiko diatas merupakan faktor risiko yang dapat dimodifikasi dengan cara menerapkan perubahan gaya hidup sehat. Sedangkan untuk faktor risiko yang tidak dapat dimodifikasi diantaranya umur, riwayat keluarga, dan genetik (NIH, 2015).

Patomekanisme obesitas

Obesitas terjadi jika dalam suatu periode waktu, lebih banyak kilokalori yang masuk melalui makanan daripada yang digunakan untuk menunjang kebutuhan energi tubuh. Peningkatan frekuensi dan jumlah makanan yang dikonsumsi dipacu oleh terganggunya homeostasis pengendalian rasa lapar dan kenyang. Penelitian yang dilakukan menemukan bahwa pengontrolan nafsu makan dan tingkat kekenyangan seseorang diatur oleh mekanisme neurohumoral yang dapat dipengaruhi oleh genetik, nutrisi, lingkungan, dan kondisi psikologis. Mekanisme dirangsang oleh respon metabolik yang berpusat pada hipotalamus. Mekanisme neurohormonal ini dapat dibagi menjadi 3 komponen yaitu: (Kumar, 2010).

  1. Sistem perifer/ sistem eferen: menyalurkan sinyal dari berbagai tempat, di mana komponen utamanya adalah leptin dan adiponektin (dari adiposit), ghrelin (dari lambung), peptida YY/PYY(dari ileum dan colon), insulin (pankreas).
  2. Nukleus arkuatus dalam hipotalamus: memproses dan mengintegrasikan sinyal perifer dan menghasilkan sinyal eferen kepada 2 jenis neuron orde pertama, yaitu (1) POMC (proopiomelanocortin) dan CART (cocaine and amphetamine-regulated transcripts) neuron, (2) neuropeptida Y (NPY), dan AgRP (Agouli-related peptide). Neuron orde pertama ini akan berkoordinasi dengan neuron orde kedua.
  3. Sistem eferen yang menerima sinyal yang diberikan neuron orde pertama dari hipotalamus untuk mengontrol asupan makanan dan penggunaan energi, Hipotalamus juga berkomunikasi dengan otak depan dan tengah untuk mengontrol sistem saraf otonom.

Neuron POMC dan CART meningkatkan penggunaan energi dan penurunan berat badan dengan menghasilkan MSH (Melanocyte Stimulating Hormone), dan mengaktifkan reseptor melanokortin nomor 3 dan 4 (MC3/4R) sebagai neuron orde kedua sebagai efek anoreksigenik. Sedangkan neuron NYP dan AgRP merangsang lapar (food intake) dan peningkatan berat badan dengan mengaktifkan reseptor Y1/5 pada neuron orde kedua sebagai efek oreksigenik (Kumar, 2010).

Gambar 2. Pengaturan keseimbangan energi dan jalur neurohormonal yang mengatur keseimbangan energi (Kumar, 2010).

 

Berdasarkan mekanisme tersebut, pengaturan keseimbangan ini diperankan oleh hipotalamus melalui 3 proses fisiologis, yaitu pengendalian rasa lapar dan kenyang, pengontrolan laju pengeluaran energi dan regulasi sekresi hormon. Apabila asupan energi melebihi dari kebutuhan energi tubuh, maka kelebihan energi tersebut akan disimpan sebagai trigliserida pada jaringan adiposa (lemak) disertai dengan peningkatan kadar hormon leptin di dalam darah. Kemudian, leptin merangsang anorxygenic center di hipotalamus agar menurunkan produksi neuropeptida Y (perangsang nafsu makan dari nukleus arkuatus di hipotalamus) sehingga terjadi penurunan nafsu makan. Jika hal ini terjadi dalam jangka waktu yang lama secara terus-menerus seperti pada orang dengan obesitas, maka dapat terjadi resistensi hormon leptin. Resistensi hormon leptin menyebabkan tingginya kadar leptin tidak dapat menurunkan nafsu makan (Jeffrey, 2009; Sherwood, 2013).

Bahaya obesitas

Bahaya obesitas terhadap kesehatan bervariasi mulai dari kematian prematur sampai kualitas hidup yang rendah. Pada umumnya, obesitas dikaitkan dengan non-communicable disease seperti non-insulin-dependent diabetes melitus (NIDDM), penyakit kardiovaskuler, kanker, dan berbagai gangguan psikososial. Selain komplikasi fisik dari obesitas, juga dapat terjadi komplikasi sosial dan emosional mayor. Beberapa penderita obesitas mengeluhkan masalah kecemasan, depresi, dan penarikan diri dari sosial karena masalah berat badan. Kegemukan ditinjau dari segi psikososial merupakan  beban bagi individu yang bersangkutan karena dapat menghambat kegiatan jasmani, sosial, dan psikologis. Selain itu, akibat bentuk yang kurang menarik, sering  menimbulkan masalah dalam pergaulan dan seseorang menjadi rendah diri dan putus asa. Stres psikososial yang berkelanjutan menimbulkan gejala-gejala fisik seperti depresi, disforia, insomnia, keletihan, mudah tersinggung, rentan terhadap infeksi, serta berkurangnya performa fisik dan mental (Wardani, et al. 2015).

 

Hubungan obesitas dan perilaku berlebih-lebihan

Berdasarkan konsep keseimbangan energi, obesitas dapat terjadi jika terdapat ketidakseimbangan asupan energi masuk dan energi keluar. Pola makan dapat menjadi pencetus asupan energi masuk yang tinggi, jika tidak diimbangi dengan aktivitas fisik dan olah raga sebagai wujud pengeluaran energi. Saat ini dukungan perkembangan teknologi seperti smartphone berpangaruh terhadap penurunan aktivitas fisik seseorang. Hal ini dikarenakan seseorang dapat mewujudkan keinginan hanya dengan menelepon/ mengirimkan pesan singkat kepada pihak yang dituju. Selain itu saat ini, banyak tersedia makanan ringan seperti junk food, makanan dalam kemasan dan soft drink yang menyita keinginan untuk makan. Kecenderungan aktivitas fisik yang kurang dan makan makanan yang meningkat ini dapat menimbulkan obesitas. Menilik kembali fenomena obesitas tersebut, apakah makan yang menimbulkan input energi berlebihan dapat dikatakan berlebih-lebihan? Bagaimana makan yang baik agar tidak termasuk israf?

Hakikat makan

Pada hakikatnya, makan merupakan kebutuhan primer manusia untuk mencapai kesehatan badannya. Makanan memiliki fungsi yaitu sebagai zat untuk membangun dan memelihara tubuh serta dapat memberi tenaga yang dibutuhkan tubuh untuk bergerak dan bekerja. Berdasarkan kebutuhan, zat makanan dibagi dalam dua kelompok besar, yaitu makronutrien dan mikronutrien. Kelompok nutrisi makronutrien makanan utama yang membina tubuh dan membekalkan tenaga, di antaranya yakni karbohidrat, lemak, dan protein. Sementara mikronutrien adalah komponen yang diperlukan agar makronutrien berfungsi dengan baik, di antaranya yakni vitamin, mineral, dan elektrolit. (Murray, 2009)

Persentase kebutuhan makronutrien lebih banyak dibanding mikronutrien. Kebutuhan tubuh terhadap mikronutrien terpenuhi dalam jumlah yang sedikit. Lain halnya dengan makronutrien yang dibutuhkan dalam jumlah banyak karena memegang fungsi penting yang utama yakni sumber energi. Pada dasarnya, manusia perlu makan makanan yang mencukupi dan mengandung semua zat gizi dalam jumlah serta kadar yang cukup agar tumbuh dan berkembang dengan baik dan sehat. (Murray, 2009)

Berdasarkan hasil penelitian Kartika dan Siti Rahayu Nadirah di Surabaya (2012) sebagian besar kelompok obesitas memiliki frekuensi konsumsi pangan, makanan cepat saji dan kudapan lebih banyak daripada kelompok non obesitas. Bahkan pada tingkat konsumsi lemak, 90% kelompok obesitas memiliki tingkat konsumsi lebih, terutama konsumsi makanan cepat saji dan kudapan. Frekuensi makan kelompok obesitas tercatat lebih sering bila dibandingkan dengan kelompok non obesitas, sehingga total kalori harian pada kelompok obesitas lebih besar daripada kebutuhan harian kalorinya. (Suryaputra dan Nadhiroh, 2012).

Berhubungan dengan perilaku makan orang obesitas, firman Allah Ta’ala dalam surat AI-Maidah ayat 88 menyebutkan, “Dan makanlah yang halal lagi baik dari apa yang Allah telah merizkikan kepadamu”. Apabila memperhatikan firman Allah tersebut, makan yang diperintahkan Allah adalah baik dan cukup. Islam memberikan pelajaran di dalam memilih dan melakukan makan bukan hanya baik atau halal, malah makan tidak boleh ber1ebih-lebihan atau israf. Israf dalam makan dapat diwujudkan dengan keadaan makan yang terlalu kenyang, makan yang melebihi kebutuhan kalori, makan makanan yang banyak macamnya, makan makanan yang mewah, makan makanan yang tidak halal dan memperbanyak waktu makan. Maka hendaklah setiap orang menjaga perilaku makan dari tindakan israf agar terhindar dari dampak buruk seperti obesitas.

Apa itu israf?

Israf merupakan isim mashdar dari kata asrafa yusrifu israafan yang artinya yaitu berlebih- lebihan, melampaui batas, pemborosan, dan menghambur hamburkan harta. Kata israf di dalam Al Qur’an disebutkan sebanyak 23 kali dengan berbagai derivasinya. Berdasarkan analisis ayat, kebanyakan dari ayat-ayat israf, yang dimaksud dengan israf adalah orang-orang yang mendurhakai Allah, bermaksiat kepada Allah, tidak mempercayai dan tidak mau mengakui para utusan Allah. ‘Abidin menjelaskan israf adalah memanfaatkan sesuatu berlebihan dari yang sepantasnya. Contohnya untuk keperluan berkendaraan untuk sekedar pergi ke kantor, sebenarnya bisa memakai motor yang seharga 15 juta rupiah dan aman digunakan namun bisa dikatakan israf jika terlalu berlebihan membeli barang dalam kisaran harga 50 juta. Ada banyak dampak ataupun akibat yang ditimbulkan oleh perilaku israf ini, di antaranya tidak disukai Allah dan dianggap sebagai saudaranya setan (Alifah, 2016).

Israf dapat dikenali dengan mengetahui jenis kebutuhan yaitu kebutuhan material dan mental spiritual. Kebutuhan material manusia sebagai makhluk fisikal yang pemenuhannya merupakan hak suci setiap orang meliputi: pangan, sandang, papan, pengobatan, dan keseimbangan lingkungan. Sedangkan kebutuhan manusia secara mental spiritual adalah suatu kebutuhan yang sebenarnya tidak secara mutlak bersifat kebendaan seperti pendidikan, informasi, kebebasan berkeyakinan, dan menyatakan diri. Dalam pemikiran umat Islam, kedua jenis kebutuhan tersebut, secara hirarkis, di bagi menjadi tiga tingkatan. Pertama, kebutuhan dlaruri atau elementer yaitu suatu kebutuhan yang jika tidak terpenuhi, dapat mengakibatkan kebinasaan eksistensi manusia yang bersangkutan secara fisik maupun mental. Kedua, kebutuhan komplementer yaitu suatu kebutuhan yang jika tidak terpenuhi tidak sampai mengancam eksistensi akan tetapi dapat mendatangkan kesulitan dalam perkembangannya. Ketiga, kebutuhan takmili atau suplementer yaitu kebutuhan yang jika tidak terpenuhi tidak mendatangkan kesulitan, tetapi kurang memberikan kemudahan dan kelengkapan. Di atas kebutuhan takmili, ada keinginan. Berbeda dengan kebutuhan (needs/hawaij) yang bersumber pada kesadaran manusia untuk mengaktualisasikan hakikat dirinya yang spiritual dan transendental, keinginan (wants/syahawat) pijakannya adalah nafsu manusia semata-mata sebagai makhluk kebendaan dan kekinian. Pada tingkat yang awal keinginan ini terkait dengan nafsu berhias (tazyin), menyusul kemudian nafsu kemewahan (israf), dan terakhir nafsu penghamburan (tabdzir). (Abdurrahman, 2005).

Firman Allah, QS. Al-A’raf: 31 menyebutkan: “Hai anak Adam, pakailah pakaianmu yang indah di setiap (memasuki) masjid, makan dan minumlah, dan janganlah berlebih-lebihan. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang berlebih lebihan”. Ayat tersebut memerintahkan kepada kita untuk memanfaatkan rizki yang telah Allah berikan, salah satunya dengan makan dan minum serta semua yang telah Allah halalkan untuk manusia tanpa berlebihan. Maksud sebaliknya dari ayat tersebut adalah larangan bagi kita untuk melakukan perbuatan yang melampaui batas, yaitu tidak berlebihan dalam menikmati apa yang dibutuhkan oleh tubuh dan jangan pula melampaui batas-batas makanan yang dihalalkan.

Hadis riwayat At-Tarmidzi menyebutkan, “Tidak ada yang lebih jahat dari pada orang yang memadati perutnya. Cukuplah seseorang dengan beberapa suap makan untuk menguatkan badannya. Jika perlu ia makan, hendaklah perutnya diisi sepertiga makan, sepertiga minum, dan sepertiga lagi untuk bernafas”. Umar bin Khattab R.A menyebutkan juga, “Sebagian mudharat dalam kesehatan disebabkan konsumsi yang tidak benar”. Diantara contoh hal itu adalah yang ditegaskan dalam perkataan beliau, “Hindarilah memenuhi perut dengan makanan dan minuman, karena dia merusak badan, menyebabkan penyakit, dan memalaskan shalat. Dan hendaklah kamu sederhana dalam keduanya karena dia lebih maslahat bagi badan, dan lebih jauh dari pemborosan”.

 

Solusi Islam sebagai preventif dan kuratif terhadap obesitas

Salah satu cara yang disuguhkan Islam dalam mencegah obesitas ialah dengan menghindari perilaku israf saat makan. Berupaya menghindari israf merupakan suatu langkah mendekatkan diri dengan Allah. Dalam uraian Masdar F. Mas’udi dinyatakan bahwa, “Yang disebut orang-orang suci dalam pandangannya adalah mereka yang mampu menahan diri untuk tidak tazyin, apalagi israf dan tabdzir. Mereka sadar, kekayaan materi/duniawi yang tidak ditaklukkan untuk membangun kehidupan akhirat dengan mentasarufkannya bagi kemaslahatan sesama dapat menjauhkan jati dirinya yang spiritual dari tujuannya semula, yakni Allah SWT” (Darsudin, 1994; Abdurrahman, 2005).

Cara menghindari israf makan di antaranya mengurangi waktu makan, menghindari dari makanan yang mewah-mewah, tidak banyak menghidangkan makan dalam satu waktu, makan tidak sampai kenyang, memilih makanan yang betul-betul halal dan memperbanyak shadaqah. Perilaku tersebut hendaknya dilaksanakan muslim agar terhindar dari bahaya israf makan seperti menimbulkan penyakit obesitas, menambah dan rakusnya terhadap duniawi, boros, kikir sehingga enggan bershadaqah dan buruk sangka kepada orang lain (Darsudin, 1994; Abdurrahman, 2005).

Selain menghindari israf makan, solusi obesitas berdasarkan sunnah Rasulullah ialah meningkatkan aktivitas fisik dan olahraga. Hadits riwayat At-Thabrani menyebutkan “Setiap sesuatu yang tidak termasuk mengingat Allah, ia merupakan permainan yang sia-sia kecuali empat hal; seorang lelaki berjalan di antara dua tujuan (untuk memanah), melatih berkuda, bermesraan dengan keluarga, dan mengajarinya berenang.” Rasulullah menganjurkan untuk berjalan kaki dan berolahraga seperti memanah, berkuda, dan berenang. Melalui olahraga rutin dan aktivitas fisik tersebut, seorang muslim dapat memperoleh jasmani yang sehat dan kuat. (Hasan, 2013)
 

Penulis: Rosalia Kusuma Dewi1, Wulan Alawiyah Jahra 2, Wahyudi3

Editor: Najla Asysyifa4

1Fakultas Kedokteran Universitas Negeri Jenderal Soedirman

2Fakultas Kedokteran Universitas Lampung

3Fakultas Kedokteran Universitas Andalas, Bagian Ilmu Penyakit Dalam

4Fakultas Kedokteran Universitas Lambung Mangkurat

Departemen Kajian Kedokteran Islam dan Advokasi Dewan Eksekutif Pusat

Forum Ukhuwah Lembaga Dakwah Fakultas Kedokteran Indonesia

 

DAFTAR PUSTAKA

Abdurrahman, Dudung. 2005. Israf dan Tabdzir: Konsepsi Etika-Religius dalam Al Qur’an dan Perspektif Materialisme Konsumerisme. Jurnal Sosial dan Pembangunan. Volume XXI No. 1: 65 -80.

Alifah, Umi. 2016. Makna Tabzir dan Israf dalam Alquran. Skripsi. Fakultas Ushuluddin dan Pemikiran Islam UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta.

Basuki G, Hartati S. 2015. The Meaning of Obesity: A Phenomenological Study Among Early Adult Women. Semarang: Universitas Diponegoro.

Darsudin. 1994. Implikasi Paedagogis dari Larangan Israf Makan Menurut Surat Al-A’raf Ayat 31. Skripsi. Fakultas Tarbiyah Universitas Islam Bandung.

Hasan, Mohammad. 2013. Olahraga Perspektif Hadits. Skripsi. Fakultas Ushuluddin, Studi Agama dan Pemikiran Islam UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta.

Jeffrey A, et al. 2009. Stronger Relationship between Central Adiposity and C Reactive Protein In Older Women Than’ Men’, Source Menopause: 16(1):           84-9

Kemenkes RI. 2012. Pedoman Pencegahan dan Penanggulangan Kegemukan dan Obesitas pada Anak Sekolah. Jakarta: Kemenkes RI

Kemenkes RI. 2013. Riset Kesehatan Dasar 2013. Jakarta: Kemenkes RI

Kumar, V., 2010. Robin and Cothran Patologic Basic of Disease. 8th Ed. Philadelpia: Shaunders An Imprint of Elsavier.

Kusumastuty, I. 2016. Energy Balance Prevent Obesity. [Online]. (http://gizi.fk.ub.ac.id/en/keseimbangan-energi-cegah-terjadinya-obesitas/, diakses tanggal 30 April 2018).

Murray, R. K., Granner, D. K., & Rodwell, V. W. Biokimia harper (27 ed.). Jakarta: Buku Kedokteran EGC; 2009

NIH, 2015. Overweight and Obesity. [Online]: (https://www.nhlbi.nih.gov/health-topics/overweight-and-obesity ,diakses 29 April 2018).

OECD, 2017. Obesity Update. [Online]: (https://www.oecd.org/els/health-systems/Obesity-Update-2017.pdf ,diakses tanggal 29 April 2018).

Quinsland Health, 2017. Overweight and Obesity Prevention Strategy: Health Wellbeing Strategic Framework Obesity. [Online]: (https://www.health.qld.gov.au/__data/assets/pdf_file/0020/663050/health-wellbeing-strategic-framework-obesity.pdf , diakses: 29 April 2018).

Sheerwood L. 2012. Keseimbangan energy dan pengaturan suhu tubuh. Fisiologi manusia dari sel ke sistem. Jakarta: EGC. Hal. 704- 10.

Sherwood, Lauralee. 2013. Fisiologi manusia: dari sel ke sistem. Edisi ke-8. Jakarta: EGC.

Suryaputra K, Nadhiroh SR. 2016. Perbedaan Pola Makan dan Aktivitas Fisik antara Remaja Obesitas dengan Non Obesitas. Makara Kesehatan. 16(1):          45-50

Tuasikal, Muhammad Abduh. 2016. Antara Israf dan Mubazir. [Online]. (https://rumaysho.com/13216-antara-israf-dan-mubazir.html, diakses tanggal 5 April 2018).

Wardani, et al. 2015. Obesitas, body image, dan perasaan stres pada mahasiswa di Daerah  Istimewa Yogyakarta. Jurnal Gizi Klinik Indonesia. Vol. 11: 161-169.

WHO. 2006. Controlling the global obesity epidemic. [online] diakses: 7 April        2018, dari: http://www.who.int/abouttc/opyright/en/

WHO. 2007. WHO Multicentre Growth Reference Study. Geneva: WHO Library

 

Like
Like Love Haha Wow Sad Angry

Tinggalkan Balasan