NERAKA SEDINGIN SURGA

Angin sejuk berhembus halus menepis setiap yang ia lewati. Matahari mulai memunculkan diri dari tempat ia bersembunyi. Cahaya langit mulai muncul dengan aroma embun pagi. Burung-burung camar bersahutan seolah bernyanyi. “Alhamdulillah pagi yang menyegarkan” ucapku.

Seperti hari biasanya, hari ini aku terbangun untuk melakukan aktivitas kuliah. Sudah dijamin hari ini lebih ekstra melelahkan. Bagaimana tidak? bulan ramadhan seperti ini kami mahasiswa FK harus tetap menjalani aktivitas kami seperti biasanya mulai dari pagi hingga sore menjelang berbuka. Ketika fakultas lain dibatasi jam kuliah sampai jam 3 sore, untuk kami itu tak berlaku. Kami harus tetap menjalankan aktivitas kampus sampai jam 5 sore. Tidak adil? Ah kami sudah terbiasa dengan hal ini.

“Kring… Kring…”

Terdengar suara bel sepeda seakan memanggilku, sudah bisa ditebak itu pasti Rini. Ia sahabatku. Kami berdua berasal dari kota yang sama. Kota pati. Kota yang istimewa bagi kami. Segala cerita kami berdua dimulai dari sana hingga Allah pertemukan kami lagi disini. Di kota yang sama istimewanya yakni Yogyakarta. Dari bangku SD sampai bangku kuliah kami selalu bersama. Jurusan pun sama. Seperti suatu hal yang disengaja atau sebuah kebetulan. Tapi bukan keduanya melainkan Allah mungkin mengirimkan Rini dengan suatu alasan yaitu untuk menjagaku, menjaga imanku.

Aku pun keluar menuju pintu gerbang kost an. Rentetan pintu masih tertutup rapi. Wajar karena teman-teman yang lain masuk lebih siang daripada kami. Ku buka pintu gerbang itu dan benar saja dengan senyum lebarnya perempuan itu tengah menungguku.

Assalamu’alaykum, yuk berangkat! Loh mana sepedanya” sahutnya sambil tak melepaskan senyumnya

Wa’alaykumussalam, Iya rin, hari ini kamu berangkat sendiri ya, aku soalnya udah janjian sama temen buat berangkat bareng”

Oh sama temen, ada kerja kelompok dulu kah? yang jelas sama-sama perempuan kan? Hahaha” ucapnya padaku sambil tertawa menyelidik candanya “Ya sudah aku duluan yaa” tambahnya dengan melambaikan tangan dan berlalu pergi.

Aku terpaku tak menjawab pertanyaannya sama sekali. Hatiku seperti tertohok. Ia mempercayaiku sebagai sahabatnya yang tak mungkin berjalan bersama lelaki asing. Ah apakah kali ini aku menghianatinya. Merusak kepercayaannya. Fikiranku terus berkecambuk hingga datangnya suara klakson motor menyeruku.

Yuk berangkat!” kata pria yang sudah tengah berada dihadapanku dengan sepeda motornya. Aku lantas tak berkata apa-apa. Langsung saja aku duduk dibelakangnya. Sudah beberapa hari ini aku memang berangkat bersamanya. Kami bukanlah sepasang kekasih yang menjalin hubungan bernama pacaran. Seperti halnya aku dengan Rini. Aku mulai menjalin persahabatan dengannya. Bukan karena apa-apa. Hanya saja ia seperti Rini yang selalu mengingatkanku kepada Rabb ku. Bahkan ia selalu mengajarkanku tentang apa apa yang belum ku ketahui dan mendorongku tentang apa apa yang belum terbiasa ku kerjakan. Ia selalu mengingatkanku tentang utamanya amalan sunnah dan bagaimana keutamaan seorang penghafal Al-Qur’an. Aku selalu tertarik dengan setiap ucapannya. Ia mampu membawaku dari orang yang cukup malas mengkaji Islam menjadi orang yang paling bersemangat mempelajarinya. Ia mampu membuat bahasan yang terkesan rumit menjadi lebih mudah untuk dicerna. Iya dia sahabatku. Ridho. Seorang yang mulai kukenal di semseter dua. Aku bertemu dengannya karena suatu kepanitiaan. Saat itu ia selalu menyelipkan bahasan tentang Islam dalam setiap pertemuan rapat. Dan itu yang membuatku selalu bertanya tentang apa yang belum ku ketahui hingga akhirnya kami menjadi dekat dan menjalin hubungan ini.

Di kampus, kami mulai memisahkan diri. Bukan karena apa-apa. Hanya saja kami tak mau membuat orang-orang bergosip tentang kami. Karena sekali lagi kami itu tidak pacaran. Kami hanyalah menjalin suatu hubungan bernama persahabatan.

Kami berangkat cukup siang waktu itu. Hingga beberapa orang melihat kami. Dan mengatakan “cieeee”. Aku sendiri dan Ridho hanya menanggapinya dengan senyuman tanpa berkata apa-apa. Cukup rumit ketika kami harus menjelaskan kepada mereka tentang status kami.

Kuliah saat ini berlangsung lancar. Aku duduk disamping Rini. Iya kami selalu bersama, diskusi tentang ilmu kedokteran bersama bahkan diskusi Islam pun kami selalu bersama. Karena kami adalah sahabat. Rini selalu bilang jadikan persahabatan ini adalah persahabatan yang mampu membuat kita sampai di Syurga-Nya. Persahabatan yang ketika temannya jatuh dalam kemaksiatan maka salah satunya harus menjadi penolong memberikan obat penawarnya. Itu janji kami.

Lagi-lagi aku merasa aku telah menghianatinya. Tapi aku tepiskan pemikiran itu dan melanjutkan aktivitas kuliahku. Hingga akhirnya pagi yang menyegarkan menyambutku lagi. Tak seperti biasanya bunyi bel sepeda Rini tak menyahutku padahal hari ini aku sudah bersiap berangkat bersamanya. Apakah ia sakit? Pikirku.

Aku melanjutkan perjalananku dengan menunggang sepeda kesayanganku. Ketika aku masuk kelas aku sedikit heran Rini sudah sampai dikelas dan kursi-kursi disampingnya telah berjejeran tas orang lain tanda bahwa kursi itu telah ada yang menempati. Aku berkecamuk dengan fikiranku. Apa yang telah aku lakukan. Rini marah padaku? Ku putar seluruh fikiranku untuk menemukan jawaban.

Aku semakin terheran ketika aku mulai menyapanya. Jawaban ia singkat bahkan terlalu singkat bagi seorang yang dikatakan sahabat. Aku terus bertanya-tanya dalam fikiranku apa kesalahanku. Rini selalu melakukan sikap seperti itu setiap kalinya aku melakukan kesalahan. Bukan kesalahanku terhadap ia. Tapi kesalahanku kepada Rabb ku. Itu memang sudah ciri khasnya dalam mencoba memperingatiku. Dengan diamnya, dia tahu bahwa ada satu titik waktu dimana aku akan bertanya kepadanya apa yang salah dari diriku.

Hingga titik waktu itu akhirnya muncul. Aku bertanya apa yang salah pada diriku. Tetesan mulai keluar dari mataku. Aku yakin ada sesuatu yang salah hingga sahabatku hari ini begitu mengacuhkanku.

Dia duduk disampingku. Menghela nafas tanda ia mulai untuk bicara.

“Rena, masih ingatkan janji persahabatan kita? Jadikan persahabtan ini berdiri tegak diatas cinta-Nya. Jadikan persahabatan ini sampai Surga-Nya. Jadikan persahabatan ini sebagai obat penawar kala salah satu dari kita jatuh menghiananti cinta Rabb kita”

 

 

Aku hanya mengangguk pelan tanda mengerti.

“Rini sayang sama Rena. Rini melakukan ini bukan berarti benci sama Rena. Bukan. Rini mengatakan ini juga bukan berarti Rini lebih baik dari Rena. Tapi Rini sedih ketika mendengar dari lisan orang lain bahwa Rena berboncengan dengan laki-laki asing. Rini tau kan hukumnya apa?” jelasnya padaku

            Aku mencoba menjelaskan kembali tentang hubungan rumitku ini bersama Ridho “Iya rin, aku tau tapi kami gak pacaran ko. Kami han ya sahabat. Ia selalu menambah ilmu islamku. Ia selalu mengingatkanku. Ia selalu mendorongku untuk menambah amalan sunnahku. Kami hanya sahabat rin. Seperti halnya persahabatanku dengan kamu”

            “Sahabat? Kita pernah membahas ini ren. Bukankah tidak ada persahabatan yang benar benar murni antara laki-laki dan perempuan? Kamu yakin  gak ada rasa sama dia?” tanyanya menohok padaku

“Ingat rena, janji kita untuk menjadi bidadari syurga. Seorang wanita muslimah yang terjaga kesucian dan kehormatannya. Seorang muslimah yang ta’at pada Allah dan cinta pada Rasul-Nya. Wanita seperti itu bukanlah wanita yang menjalin suatu hubungan dengan lelaki non-mahromnya diluar syara membolehkannya. Setan saat bulan Ramadhan itu dikunci rapat. Tapi ingat hawa nafsu kita sebagai manusia juga harus tetap dikontrol. Jangan-jangan hawa nafsu kita lah yang menjadi setan penghias diri. Oke, aku terima kamu bilang kamu tidak pacaran. Kamu hanya sahabatan. Lalu apa bedanya dengan orang orang yang menjalani hubungan pacaran islami. Itu sama aja rena. Kamu dengan mereka” imbuhnya

Rini melanjutkan penjelasannya “Kamu sama saja melakukan hal itu. Kamu sama saja berpendapat bahwa ada khamr islami, babi islami, dan semua diembel embel islami. Untuk meghalalkan apa yang telah Allah tetapkan haram. Kamu bilang ia selalu mengingatkanmu pada Allah? Tapi apakah ia juga mengingatkanmu bahwa hubungan yang kalian jalani juga dilarang oleh Allah?. Bukan statusnya yang Allah katakan haram tapi aktivitas yang kamu lakukan bersamanya. Persahabatan tak Allah larang. Tapi ketika kamu menjalin hubungan itu dengan non-mahrommu maka sama saja kamu telah melanggar batas-batas kamu dengan lelaki asing yang telah Allah atur batas-batasannya.  Dan batas-batas yang telah kamu langgar salah satunya adalah dengan berboncengan dengannya.

Rini menghela nafas kembali kemudian berkata sambil menatapku “Kamu seolah-olah dengannya mengharapkan neraka akan sedingin surga pungkasnya memperingatkan

Aku tertohok dengan kalimat-kalimat yang ia ujarkan kepadaku. Membelah seluruh harapanku pada Ridho. Ya memang semakin aku mengenalnya semakin aku mengaguminya dan semakin mulai tumbuh benih-benih cinta. Ya Allah, ini bulan Ramadhan tapi kenapa aku malah berlomba dalam kemaksiatan bukan dalam kebaikan. Maafkan aku Yaa Rabb. Hati dan fikiranku tergoncang.

Aku terdiam dan berfikir sejenak. Pada akhirnya aku menumpahkan bulir-bulir bening itu dalam pelukan Rini. Sahabatku.

            “jadikan Ramadhan ini adalah Ramadhan perubahan kita menjadi lebih baik lagi. Tak peduli kesalahan yang telah kita lakukan, seberapa buruknya kita dulu. Yang bisa kita lakukan saat ini adalah memohon ampunan-Nya. Maksimalkan amalan shalih dan meninggalkan apa yang telah Ia larang. Jadikan ramadhan ini menjadi ramadhan terbaik dan ramadhan yang penuh berkah bagi kita semua” bisik Rini menenangkanku

 

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *


*

+ 48 = fifty seven