Muslimah Inspirasional

Pada tanggal 8 Maret lalu, International Women’s Day dirayakan secara global oleh masyarakat dunia. Perayaan tersebut dilaksanakan di berbagai negara dan dimeriahkan oleh banyak orang dengan berbagai macam latar belakang.

Topik-topik yang diusung berfokus pada masalah ketidaksetaraan gender dan isu-isu lain yang dialami oleh para kaum hawa sekarang. Hal ini tidak mengherankan karena seksisme merupakan suatu isu nyata yang sayangnya masih menjadi masalah hingga saat ini. Salah satu topik yang sering diangkat adalah wanita yang dianggap lebih rendah kedudukannya dari laki-laki. Contoh dari perwujudan nyata dari isu ini contohnya adalah dilihatnya wanita sebagai suatu objek yang nilainya hanya ditentukan dari fisik. Entah sudah berapa ribu majalah wanita yang dipenuhi dengan artikel bertopik tentang bagaimana caranya untuk terlihat kurus, berkulit mulus dan putih dan entah apalagi kriteria yang masuk dalam kategori cantik menurut penilaian masyarakat umum. Banyak orang yang tidak setuju dengan tatanan sosial ini. Dan taukah anda siapa lagi yang berusaha menghilangkan patriarki patologis dan objektivikasi wanita yang masih marak terjadi pada zaman ini?
Ya, Islam.

Allah SWT Yang Maha Adil tidak membeda-bedakan hamba-Nya dan hanya menilai seseorang dari ketaqwaannya. Tanpa embel-embel fisik, ras, maupun gender seperti yang dijelaskan pada Q.S Al Hujarat : 13
يَا أَيُّهَا النَّاسُ إِنَّا خَلَقْنَاكُمْ مِنْ ذَكَرٍ وَأُنْثَىٰ وَجَعَلْنَاكُمْ شُعُوبًا وَقَبَائِلَ لِتَعَارَفُوا ۚ إِنَّ أَكْرَمَكُمْ عِنْدَ اللَّهِ أَتْقَاكُمْ ۚ إِنَّ اللَّهَ عَلِيمٌ خَبِيرٌ
Yang artinya: “Hai manusia, sesungguhnya Kami menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan seorang perempuan dan menjadikan kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku supaya kamu saling kenal-mengenal. Sesungguhnya orang yang paling mulia diantara kamu disisi Allah ialah orang yang paling takwa diantara kamu. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui lagi Maha Mengenal.”

Di zaman pra Islam, masyarakat Arab mempunyai tradisi untuk selalu menomor duakan wanita dan hal ini berubah setelah Rasulullah SAW datang. Aturan baru mengenai hak wanita dalam aspek perkawinan, perceraian, harta maupun warisan membawa perubahan yang baik terhadap kaum hawa yang bahkan dulunya langsung dibunuh sesaat setelah mereka lahir. Dalam berumah tangga pun Rasulullah SAW mencontohkan bahwa posisi istri bukan dibawah suami, melainkan sejajar dan merupakan seorang mitra. Hal-hal ini dijelaskan pada dalil-dalil berikut:
“Sesungguhnya Allah mengharamkan atas kalian durhaka pada ibu, menolak untuk memberikan hak orang lain dan menuntut apa yang bukan haknya, serta mengubur anak perempuan hidup-hidup. Dan Allah membenci bagi kalian banyak menukilkan perkataan, banyak bertanya, dan menyia-nyiakan harta.” (HR. Al-Bukhari No. 5975 dan Muslim No. 593)

حِلَّ لَكُمْ لَيْلَةَ ٱلصِّيَامِ ٱلرَّفَثُ إِلَىٰ نِسَآئِكُمْ ۚ هُنَّ لِبَاسٌ لَّكُمْ وَأَنتُمْ لِبَاسٌ لَّهُنَّ ۗ عَلِمَ ٱللَّهُ أَنَّكُمْ كُنتُمْ تَخْتَانُونَ أَنفُسَكُمْ فَتَابَ عَلَيْكُمْ وَعَفَا عَنكُمْ ۖ فَٱلْـَٰٔنَ بَٰشِرُوهُنَّ وَٱبْتَغُوا۟ مَا كَتَبَ ٱللَّهُ لَكُمْ ۚ وَكُلُوا۟ وَٱشْرَبُوا۟ حَتَّىٰ يَتَبَيَّنَ لَكُمُ ٱلْخَيْطُ ٱلْأَبْيَضُ مِنَ ٱلْخَيْطِ ٱلْأَسْوَدِ مِنَ ٱلْفَجْرِ ۖ ثُمَّ أَتِمُّوا۟ ٱلصِّيَامَ إِلَى ٱلَّيْلِ ۚ وَلَا تُبَٰشِرُوهُنَّ وَأَنتُمْ عَٰكِفُونَ فِى ٱلْمَسَٰجِدِ ۗ تِلْكَ حُدُودُ ٱللَّهِ فَلَا تَقْرَبُوهَا ۗ كَذَٰلِكَ يُبَيِّنُ ٱللَّهُ ءَايَٰتِهِۦ لِلنَّاسِ لَعَلَّهُمْ يَتَّقُونَ
Yang artinya: “Dihalalkan bagi kamu pada malam hari bulan puasa bercampur dengan isteri-isteri kamu; mereka adalah pakaian bagimu, dan kamupun adalah pakaian bagi mereka. Allah mengetahui bahwasanya kamu tidak dapat menahan nafsumu, karena itu Allah mengampuni kamu dan memberi maaf kepadamu. Maka sekarang campurilah mereka dan ikutilah apa yang telah ditetapkan Allah untukmu, dan makan minumlah hingga terang bagimu benang putih dari benang hitam, yaitu fajar. Kemudian sempurnakanlah puasa itu sampai (datang) malam, (tetapi) janganlah kamu campuri mereka itu, sedang kamu beri’tikaf dalam mesjid. Itulah larangan Allah, maka janganlah kamu mendekatinya. Demikianlah Allah menerangkan ayat-ayat-Nya kepada manusia, supaya mereka bertakwa.” (Al-Baqarah 2:187)

لطَّلَٰقُ مَرَّتَانِ ۖ فَإِمْسَاكٌۢ بِمَعْرُوفٍ أَوْ تَسْرِيحٌۢ بِإِحْسَٰنٍ ۗ وَلَا يَحِلُّ لَكُمْ أَن تَأْخُذُوا۟ مِمَّآ ءَاتَيْتُمُوهُنَّ شَيْـًٔا إِلَّآ أَن يَخَافَآ أَلَّا يُقِيمَا حُدُودَ ٱللَّهِ ۖ فَإِنْ خِفْتُمْ أَلَّا يُقِيمَا حُدُودَ ٱللَّهِ فَلَا جُنَاحَ عَلَيْهِمَا فِيمَا ٱفْتَدَتْ بِهِۦ ۗ تِلْكَ حُدُودُ ٱللَّهِ فَلَا تَعْتَدُوهَا ۚ وَمَن يَتَعَدَّ حُدُودَ ٱللَّهِ فَأُو۟لَٰٓئِكَ هُمُ ٱلظَّٰلِمُونَ
Yang artinya: “Talak (yang dapat dirujuki) dua kali. Setelah itu boleh rujuk lagi dengan cara yang ma’ruf atau menceraikan dengan cara yang baik. Tidak halal bagi kamu mengambil kembali sesuatu dari yang telah kamu berikan kepada mereka, kecuali kalau keduanya khawatir tidak akan dapat menjalankan hukum-hukum Allah. Jika kamu khawatir bahwa keduanya (suami isteri) tidak dapat menjalankan hukum-hukum Allah, maka tidak ada dosa atas keduanya tentang bayaran yang diberikan oleh isteri untuk menebus dirinya. Itulah hukum-hukum Allah, maka janganlah kamu melanggarnya. Barangsiapa yang melanggar hukum-hukum Allah mereka itulah orang-orang yang zalim.” (Al-Baqarah 2:229)
Muslimah sangat dimuliakan dalam islam dan dijaga dengan baik sesuai dengan yang dijelaskan dalam surat An-Nisa ayat 19 berikut:

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا لَا يَحِلُّ لَكُمْ أَنْ تَرِثُوا النِّسَاءَ كَرْهًا وَلَا تَعْضُلُوهُنَّ لِتَذْهَبُوا بِبَعْضِ مَا آتَيْتُمُوهُنَّ إِلَّا أَنْ يَأْتِينَ بِفَاحِشَةٍ مُبَيِّنَةٍ وَعَاشِرُوهُنَّ بِالْمَعْرُوفِ فَإِنْ كَرِهْتُمُوهُنَّ فَعَسَى أَنْ تَكْرَهُوا شَيْئًا وَيَجْعَلَ اللَّهُ فِيهِ خَيْرًا كَثِيرًا
Yang artinya: “Hai orang-orang yang beriman, tidak halal bagi kamu mempusakai wanita dengan jalan paksa dan janganlah kamu menyusahkan mereka karena hendak mengambil kembali sebagian dari apa yang telah kamu berikan kepadanya, terkecuali bila mereka melakukan pekerjaan keji yang nyata. Dan bergaullah dengan mereka secara patut. Kemudian bila kamu tidak menyukai mereka, (maka bersabarlah) karena mungkin kamu tidak menyukai sesuatu, padahal Allah menjadikan padanya kebaikan yang banyak.” (QS. An Nisa [4]: 19)
Rasulullah SAW juga memberikan contoh bagaimana memperlakukan wanita dan berikut dalil-dalilnya:

اِسْتَوْصُوا بِالنِّسَاءِ خَيْرًا

Yang artinya: “Aku wasiatkan kepada kalian untuk berbuat baik kepada para wanita.” (HR Muslim: 3729)

خَيْرُكُمْ خَيْرُكُمْ لأَهْلِهِ وَأَنَا خَيْرُكُمْ لأَهْلِى
Yang artinya: “Sebaik-baik kalian adalah yang paling baik terhadap istrinya, dan aku adalah yang paling baik terhadap istriku.” (HR Tirmidzi, dinyatakan shahih oleh Al Albani dalam “ash-shahihah”: 285)

Sebegitu disayangnya para muslimah oleh Allah SWT hingga cara berpakaian pun diatur agar kita dijauhkan dari fitnah dan gangguan. Serta dimaksudkan agar mudah dikenali dan terjaga kehormatannya. Bukankah seorang ratu yang terhormat tidak akan memperlihatkan diri pada sembarang orang? Hal ini sesuai dengan firman Allah pada QS. AL-Ahzab ayat 59 berikut:

يَا أَيُّهَا النَّبِيُّ قُلْ لِأَزْوَاجِكَ وَبَنَاتِكَ وَنِسَاءِ الْمُؤْمِنِينَ يُدْنِينَ عَلَيْهِنَّ مِنْ جَلَابِيبِهِنَّ ذَلِكَ أَدْنَى أَنْ يُعْرَفْنَ فَلَا يُؤْذَيْنَ وَكَانَ اللَّهُ غَفُورًا رَحِيمًا
Yang artinya: “Hai Nabi, katakanlah kepada isteri-isterimu, anak-anak perempuanmu dan isteri-isteri orang mukmin: “Hendaklah mereka mengulurkan jilbabnya
ke seluruh tubuh mereka.” Yang demikian itu supaya mereka lebih mudah
untuk dikenal, karena itu mereka tidak di ganggu. Dan Allah adalah
Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” (QS. Al Ahzab : 59)

Nah, dari penjelasan tersebut banyak sekali pelajaran yang dapat kita petik dan aplikasikan ke dunia nyata. Sumber belajar tidak hanya bisa kita dapatkan dari Al-Quran dan Hadist, tetapi ada banyak sekali muslimah hebat yang kisahnya dapat kita ambil hikmahnya dan dijadikan panutan.

Salah satu contohnya adalah Fatimah Al Fihri, seorang muslimah yang mendirikan Universitas Al-Qarawiyyin di tahun 859M dengan uangnya sendiri. Beliau berhasil mendirikan universitas tertua di dunia dan membantu memajukan proses pencarian ilmu di negaranya, Maroko.

Ada juga Nusaibah binti Ka’b yang mematahkan stereotipe bahwa wanita itu lemah. Beliau adalah seorang pejuang muslimah dari Anshar yang juga disebut sebagai Ummu Umarah. Beliau yang mendapat gelar ‘Sang Perisai Nabi’ bertarung dan berjuang bersama Rasulullah dan para sahabat dalam medan peperangan Uhud.

Dan contoh terakhir, nama yang pasti akrab kita dengar, Aisyah binti Abu Bakar. Beliau tercatat termasuk orang yang banyak meriwayatkan hadist dan memiliki keunggulan dalam berbagai cabang ilmu diantaranya ilmu fikih, kesehatan, dan syair Arab. Para sahabat apabila menjumpai ketidakpahaman tentang agama, mereka pun bertanya pada Aisyah. Berkata Abu Musa al-Asy’ari “Tidaklah kami kebingungan tentang suatu hadist lalu kami bertanya kepada Aisyah, kecuali kami mendapatkan jawaban dari sisinya.” (Shahih Sunan At-Tirmidzi (3044)).

Begitu banyak ajaran syariat islam yang apabila diterapkan kedalam masyarakat luas dapat menyelesaikan masalah-masalah mengenai ketidaksetaraan gender yang seakan-akan tidak pernah selesai dan terus menjadi isu setiap tahunnya. Oleh karena itu, semangat untuk menjadi muslimah berani pembawa perubahan dan terus menjadi inspirasi!

Like
Like Love Haha Wow Sad Angry
10

Tinggalkan Balasan