Kumandang Adzan di Langit Senja Kota

Khoirul Fahri Arrijal

Jalanan kota nampak lengang pagi ini, sekali-dua kali kicauan burung membuat syahdu langit kota. Aku telah bersiap di posisi sesuai arahan tadi malam. Tinggal menunggu aba-aba kepala pasukan.

Namun ada perasaan yang mengganjal, aku melihat perempuan diam mematung di bawah lampu jalanan, menatap kosong jalanan. Aku menatap lamat-lamat, melihat dengan saksama. Sepertinya aku mengenal sesosok perempuan itu. Meskipun yang terlihat hanya punggung badannya.

“Bagaimana keadaan di pos satu?” Aku mendengarkan melalui piranti modern yang ditempel di daun telinga, sangat jelas kalimat pertanyaan itu.

“Siap aman.” Jawab pasukan di seberang.

Aku masih menatap, menelaah tingkah laku perempuan itu. Tetap saja, diam mematung, dan tatapannya kosong.

“Keadaan pos dua, clear?” Tanya kepala pasukan.

Clear bos. Siap lanjutkan.” Jawab pasukan di sudut perempatan.

“Pos tiga, apakah sudah aman? Jika sudah, operasi toko emas akan segera dimulai.” Intruksi kepala pasukan. Aku mendengarkan dengan jelas, dan ada keraguan pada satu hal. Jika aku mengambil keputusan untuk dimulai, salah satu nyawa tak berdosa akan hilang.

“Beri aku lima detik, bos.” Jawabku cepat.

“Oke, hitungan dimulai dari sekarang.” Lanjut perintah ketua pasukan.

Tanpa pikir panjang, aku berlari ke arah perempuan yang diam mematung itu. Menyekap mulutnya dengan kain yang telah aku siapkan. Dia meronta-ronta, menggenggam keras lenganku. Aku menyeretnya ke celah ruko, agak kumuh. Menahan dia dalam posisi berdiri, mendekap kuat.

Dorrr… dorrr… dorrr…

Terdengar suara senapan angin memekakkan telinga, tiga kali tembakan dilontarkan. Entah apa yang mereka tembak, aku tak tahu pasti. Yang terpenting perempuan ini aman. Seandainya dia masih terdiam di sana, maka akan jadi sasaran tembak.

********

Rembulan menyabit anggun, menggantung indah di langit malam. Kerlipan cahaya gemintang ikut mewarnai gelapnya malam. Rapat operasi toko emas akan segera digelar, tinggal menunggu dua orang bodyguard ketua pasukan. Semenjak sore tadi, mereka mensurvei lokasi, menentukan sasaran tembak dan mencari dalih untuk pengalihan isu sementara.

“Mana peta kota?” Tanya ketua pasukan pada forum. Kami mendongak, fokus mengarah pada ketua pasukan.

“Ini bos, sudah siap.” Anak buah mengambil peta kota, kemudian membentangkan diatas meja eksekusi dengan satu lampu kuning temaram diatasnya.

Suara dorongan pintu dan hentakan kaki membuat kami menengok ke arah pintu utama. Dua orang bodyguard telah datang, matanya tajam, wajahnya seram, seyumnya sangar, tanggannya mengepal dan langkah kakinya berderap tegas.

“Ini tuan, hasil survei kami.” Dua orang bodyguard menceritakan taktik operasi toko emas. Idenya sangat brilian, dibagi menjadi 3 pos koordinasi, ditentukan pula jam kedatangan, langsung melakukan aksi cepat, diciptakannya ledakan hebat dan pengalihan massa untuk isu sementara turut dipaparkan dengan ciamik.

“Berarti tempat utama pas di depan toko itu?” Tanya ketua pasukan sambil menunjuk ke arah jendela. Bingkai jendela terbentang luas, sehingga pusat kota nampak jelas dari gudang di dataran tinggi ini. Anggukan kedua bodyguard sangat mantap, mengiyakan hal tersebut.

Briefing operasi malam ini selesai. Siapkan mental kalian. Bulatkan tekad. Dan teriakkan… ‘Kita satu, sama-sama mau.’ Seluruh isi ruang bergetar akan kalimat semangat pasukan.

 Aku berfikir ulang, mengingat konsep, mencoba meraba-raba, mengotak-atik trial and error konsep itu. Dan ketemu titik terangnya.

“Baik, inilah kesempatan ku.” Aku meyakinkan diri, memberikan semangat untuk terus menerjang segala keadaan.

********

Aku menarik tangan perempuan ini, menyeretnya jauh dari celah pertokoan. Berlari sejauh mungkin dari situ. Aku paham ide berikutnya. Toko petasan akan segera diledakkan dalam hitungan detik setelah tiga tembakan dihujamkan. Aku berlari sekencang-kencangnya, tetap menggandeng perempuan ini. Melepaskan atribut dan seragam penyamaran, berhenti sebentar, membuang di tempat sampah, lalu membakarnya. Tanpa ada niatan sepintas melihat wajah perempuan ini.

Aku menilik jam tanganku sekilas, sebelas detik lagi menuju pukul dua belas siang. Memang lagi teriknya. Itu tandanya toko petasan akan segera meledak. Aku menghitung jarak dengan tempat berpijak sekarang, menengok cepat ke belakang. Tambah sedikit lagi, kalau berhenti di sini, akan terkena dampaknya.

“Apa aku salah liat?” Gumamku dalam hati. Aku pernah mengetahui rautan wajah perempuan ini.

Aku berlari kencang, menambah kecepatan. Menarik lebih keras lagi. Tanpa tahu keadaan perempuan ini, mungkin kerudung yang dipakainya agak berantakan. Hitungan, 3. 2. 1… semua mata teralihkan.

********

“Sheila, apa kabar harimu? Ehhh hatimu? Bukannya kamu sudah melupakan segala sakit hati dan trauma minggu lalu. Jelas sangat sakit itu. Aku sedikit paham, meskipun belum tahu betul kejadian pastinya. Kalau kamu butuh sesuatu, bilang saja. Aku pasti langsung meluncur ke rumahmu. Dan akan mengajakmu berkeliling kota. Semoga motor bututku cukup bensin, hehehe.” Sapaku dalam tulisan piranti genggam modern. Memang susah mengajak dia berdamai dengan masa lalunya. Berat.

“Iya.” Jawabnya, setelah ku terima dan terbaca. Singkat sekali. Mungkin benar, hatinya belum baik-baik saja.

Kali ini aku benar-benar tertegun. Berani sekali dia menjawab pesan singkatku. Ada sebuah kejadian yang belum bisa ia lupakan. Mengenai keluarga dan sanak familinya. Seringkali ia berdiri mematung di bawah lampu jalanan, menatap kosong. Mungkin sekarang dia sudah perlahan untuk menerima kenyataan atau dia memaksakan sesuatu keadaan agar baik-baik saja. Aku berusaha menebaknya.

********

Kakek Sheila duduk di sebelah ku, mengambil posisi ternyaman. Sheila pergi ke dapur, menyiapkan teh hangat dengan racikan istimewa keluarga sebagai hidangan berbuka puasa.

“Kau tahu, nak. Manusia diciptakan di bumi untuk apa?” Tanya beliau menodongku. Aku menggeleng perlahan. Kemudian beliau melanjutkan.

“Allah Ta’ala berfirman : (وَمَا خَلَقْتُ الْجِنَّ وَالإنْسَ إِلا لِيَعْبُدُونِ)

Yang artinya : Dan tidaklah Aku menciptakan jin dan manusia, melainkan supaya mereka menyembah-Ku”

Lantunan suara kakek Sheila begitu merdu, penjelasannya begitu mengena. Wajahnya yang syahdu menghipnotis tatapanku. Tiba-tiba aku mengangguk pelan. Menerima seluruh isi kalimat barusan. “Ada benarnya orang ini,” batinku.

“Nak, kamu masih bujang. Banyak pengalaman yang akan dibuat oleh dirimu. Percuma jikalau kita memenuhi nafsu dunia. Memikirkan dunia, yang sekiranya tidak akan kita bawa mati. Percuma.” Ucap kakek Sheila penuh makna. Aku tertegun, menelan ludah. Mencermati kalimat yang diucapkan.

“Layaknya operasi toko emas kemarin. Aku sudah mengetahui hal itu setelah kau rapat bersama pasukan. Ketua pasukanmu yang melaporkannya. Memohon perlindungan dan pengalihan isu padaku.” Imbuh kakek Sheila. Sudah kuduga, beliau memiliki pangkat tertinggi dalam tim underground kota.

“Sekarang, kembalilah pada kodratmu sebagai manusia. Beribadah pada Tuhan, Allah swt. Memohon ampun padaNya, selalu berbuat baik kepada sesama dan bermanfaat bagi bangsa dan negara.” Kalimat sederhana namun penuh makna. Aku terdiam, melamun, mencerna setiap kalimat. Kakek Sheila menepuk bahu ku, dan berbisik pelan.

“Kamu pasti bisa nak. Tuhan memberikan yang terbaik buat kamu. Aku juga yakin Sheila juga akan membantu mu,” ucap kakek Sheila.

“Ada apa ini?” Aku bertanya. Bingung. Menatap mata kakek Sheila.

Sheila kembali hadir, membawa dua gelas teh hangat dengan racikan istimewa keluarga. Berjalan anggun, mengenakan kerudung syar’i dan baju gamis memanjang se mata kaki, serta menundukkan pandangannya. Suara adzan maghrib berkumandang, mengisi relung langit senja kota.

Baru kali ini suasana ramadhanku penuh dengan tanda tanya. Dibumbui kebahagiaan murni, penuh makna, penuh dengan keaadan empati, penuh rasa kekeluargaan yang akrab. Bahkan bisa dibilang menjadi rumah kedua setelah gudang di dataran tinggi sana.

“Silahkan dinikmati tehnya karena sudah waktunya berbuka puasa. Maaf jika rasanya kurang enak.” Sheila mempersilahkan.

“Baik, Sheila.” Aku mengambil secangkir teh, menyeruput sedikit. Sambil mendalami maksud dari ucapan kakek Sheila.


Like
Like Love Haha Wow Sad Angry
12

Leave a Reply