Karena Buah Jatuh tak Jauh dari Pohonnya

5_6217524640579846147

Akhi wa ukhti pasti familiar lah dengan pepatah “buah jatuh tak jauh dari pohonnya.” Masih inget kan kalau buah jatuh dari pohonnya itu merupakan salah satu contoh GLBB (Gerak Lurus Berubah Beraturan) dimana yang berpengaruh adalah kecepatan (V) dan waktu (t) dan bla bla bla.. ah sudahlah, kurasa pembelajaran kita tentang fisika cukup sampai disitu dulu, kita sambung lain kali saja. Eyaaaaaak, flashback masa ES EM A ni yee ceritanya.

Kembali ke laptop, *eh maksudnya kembali ke pokok bahasan mengenai buah jatuh tak jauh dari pohonnya. Aku yakin kalo kalian yang membaca artikel ini dulu sejak jaman unyu-unyu nya kalian (re : SD) kalo pas waktu ujian dan ada pertanyaan makna dari peribahasa berikut ini adalah… pasti dengan merem saja kalian sudah bisa menjawab “Sifat Anak tidak jauh dari orangtuanya” ya kan? Ya kan? Ngaku lo.. terlihat sedikit sombong sih tapi itulah kenyataannya. Hal ini sudah bukan rahasia lagi gengs, semua orang tahu kalo sifat orangtua pasti akan diturunkan ke anaknya. Tapi, kalian para calon orangtua tahukah kalo hal ini sebenernya sudah disebutkan dalam Al-Qur’an? Lalu bagaimana dengan orangtua non muslim tapi anaknya taat kepada ajaran Allah dan senantiasa mengikuti sunnah Rasul? Bagaimana dengan orangtua yang berprofesi sebagai ustadz tapi anaknya malah mabuk-mabukan di jalan? How? how? Apa peribahasa ini perlu dihapuskan? Wkwk apaan sih. Tenang, kali ini kita akan mengupas pertanyaan-pertanyaan diatas setajam SILET. Hmmm-_-

Pertama-tama kita bahas dulu nih mengenai pribahasa diatas. Memang sih, peribahasa tersebut berlaku untuk umum (re: muslim dan nonmuslim), tapi kalau kita buka Al-Qur’an dalam surah Ath-Thuur ayat 21, Allah berfirman :

at thur

“Dan orang-orang yang beriman, dan yang anak cucu mereka mengikuti mereka dalam keimanan, Kami hubungkan anak cucu mereka dengan mereka, dan Kami tiada mengurangi sedikitpun dari pahala amal mereka. Tiap-tiap manusia terikat dengan apa yang dikerjakannya.”

Syaikh Abdurrahman bin Nashir As-Sa’diy menafsirkan

“Keturunan yang mengikuti mereka dalam keimanan maksudnya adalah mereka mengikuti keimanan yang muncul dari orang tua/kakek-buyut mereka. maka keturunan mereka mengikuti mereka dalam keimanan. Maka lebih utama lagi jika keimanan muncul dari diri anak-keturunan itu sendiri. Mereka yang disebut ini, maka Allah akan mengikutsertakan mereka dalam kedudukan orang tua/kakek-buyut mereka di surga walaupun mereka sebenarnya tidak mencapainya [kedudukan anak lebih rendah dari orang tua –pent], sebagai balasan bagi orang tua mereka dan tambahan bagi pahala mereka. akan tetapi dengan hal ini, Allah tidak mengurangi pahala orang tua mereka sedikitpun.”

Lalu muncul pertanyaan seperti ini, “Kalau memang benar keimanan seorang anak akan mengikuti keimanan orangtua, tapi mengapa sering kita dengar celotehan begini, si A itu lho bapaknya ustadz, ibunya bergelar Hj. tapi kok dia gak pake kerudung sih? Kok dia malah boncengan sama cowok kesana kemari? Nongkrong di tempat clubbing? Tiap malam nyetel musik sampai sering disamperin tetangga gara-gara saking kerasnya. Naudzubillah min dzalik.” Why hal seperti itu bisa terjadi? Why?

Kalau kita kembali mengingat hadits yang mengatakan bahwa, “Setiap manusia yang lahir, mereka lahir dalam keadaan fitrah. Orang tuanya lah yang menjadikannya Yahudi atau Nasrani” (HR. Bukhari-Muslim).

Kalau dikasus ini kan sudah jelas-jelas orangtuanya muslim, jadi pasti ada faktor lain yang lebih kuat, guys. Bukankah syaitan selalu mencari kesempatan walaupun itu hanya selebar lubang akibat tusukan peniti. Cobalah perhatikan bagaimana lingkungan dia tinggal, dengan siapa dia bergaul, bagaimana sikap orang tua terhadap anak tersebut. So, kalo kita ngomongin tentang sifat orang bakal sampai berlembar-lembar ini artikel haha. Kesimpulannya kalo ada orang tua yang mempunyai anak seperti itu, introspeksi dirilah apa yang salah lalu perbaikilah kesalahan tersebut dan mintalah kepada Allah agar diberikan yang terbaik bagi keluargamu. Terus kalo ternyata kamu merasa bahwa ada salah satu sifatmu yang seperti telah disebutkan diatas, bertobatlah, nak. Ingatlah bahwa hidup di dunia hanya bagaikan orang yang sedang dalam perjalanan. Bukankah seharusnya kita berbuat baik kepada setiap orang yang kamu temui di jalan dan mintalah kepada Allah agar selamat sampai tujuan, yaitu Syurga, bukan?

Pertanyaan selanjutnya, sebagai anak, bukankah kita tidak bisa memilih siapa orang tua kita? Tidak bisa memilih orang tua yang ganteng dan cantik? Shalih dan sholihah? Lalu bagaimana dengan mereka yang dilahirkan dari rahim seorang ibu non muslim? Kasihan bukan?

Sebenarnya, sebelum ruh ditiupkan ke dalam jasadnya, semua manusia sudah menyatakan keislamannya dan mengakui bahwa Allah adalah Rabb kita.  Sebagaimana disebutkan dalam surah Al-A’raf ayat 172 :

al araf

“Dan (ingatlah), ketika Tuhanmu mengeluarkan keturunan anak-anak Adam dari sulbi mereka dan Allah mengambil kesaksian terhadap jiwa mereka (seraya berfirman): “Bukankah Aku ini Tuhanmu?” Mereka menjawab: “Betul (Engkau Tuhan kami), kami menjadi saksi”. (Kami lakukan yang demikian itu) agar di hari kiamat kamu tidak mengatakan: “Sesungguhnya kami (bani Adam) adalah orang-orang yang lengah terhadap ini (keesaan Tuhan).”

Jadi, setiap anak yang terlahir itu dalam keadaan muslim, walaupun lahir di tengah keluarga yang musyrik, walaupun dia diberi nama yang merupakan nama bukan umat muslim, toh sakalipun dia diberi pernak-pernik non mulim dan diberi makanan haram, tetaplah dia seorang anak muslim. Namun, perlu diingat bahwa keislaman mereka hanya berlaku ketika masa anak-anak. Jika sudah memasuki waktu baligh, maka mereka wajib bersikap tegas mana yang harus ia pegang. Disinilah tugas mereka untuk mencari tahu dan menimba ilmu tentang islam. Dan bagi kita yang insyaAllah sudah paham mengenai islam lebih dahulu dari mereka, maka sampaikanlah. Bukankah kita ingin ilmu kita bermanfaat, so tunggu apalagi? Dan bagi kalian yang masih berpikir, ‘Kasihan ya mereka yang lahir dari orangtua non muslim’. Perbanyaklah membaca istighfar karena bukankah Allah Maha Mengetahui? Dan Ia selalu memberikan apa yang terbaik untuk hambaNya. Untuk itu, jikalau kalian sekarang berada dilingkungan orang muslim, perbanyaklah bersyukur, karena kalian telah mendapatkan nikmat yang luar biasa. Tapi bagi kalian yang sekarang sedang diuji oleh Allah dengan ditempatkan disekitar orang-orang kafir, janganlah sekalipun kalian mengeluh dan bertanya apalagi berandai-andai. Andai.. Orang tua ku seorang hafidz, pasti aku sekarang juga sudah hafal 30 juz’. Ini NOL besar guys. bukankah amanah tidak akan jatuh pada pundak yang salah? Lagi lagi ingatlah bahwa “Boleh jadi kamu membenci sesuatu, padahal ia amat baik bagimu, dan boleh jadi (pula) kamu menyukai sesuatu, padahal ia amat buruk bagimu, Allah maha mengetahui sedang kamu tidak mengetahui.” [Al-Baqarah: 216]

Sumber:

http://muslim.or.id/23314-pengaruh-keshalihan-orang-tua-pada-anak-cucu.html

http://www.rumahfiqih.com/x.php?id=1188511307&=isteri-saya-nasrani-islamkah-anak-saya.htm

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *


*

+ twenty = twenty five