Kapan ke Majelis Ilmu lagi?

Pagi siap-siap kuliah, kerjakan tugas yang belum selesai.

Kemudian berangkat kuliah, selesai siang atau sore, belum lagi kalua ada praktikum.

Setelah itu mengerjakan tugas, laporan, kunjungan lapangan.

Belum lagi kalau kamu  anak organisasi, rapat, rapat, dan rapat.

Malam, review mata kuliah sampai ketiduran.

3,5 tahun atau lebih kita akan disibukkan dengan aktivitas Mahasiswa yang suuper sibuk.

Namun ingat kembali, setelah kuliah selesai, wisuda, lulus, sibuk cari kerja, dan mengejar jenjang karir.

Lalu menikah karena sudah berpenghasilan dan merasa “mampu”.

Tunggu dulu, memangnya sudah siap ilmu agama kita untuk mendidik istri kita? (bagi suami) atau menjaga hak suami dan menjadi madrasah pertama anak-anak kita? (bagi istri)

Saat menikah sih berdoa, “Semoga keluarganya sakinah, mawaddah, warahmah”…

Tapi apakah doa itu hanya sebatas doa (harapan) saja tanpa usaha? Apa usaha yang harusnya kita lakukan agar punya ilmu membangun rumah tangga? Boro-boro ilmu dalam rumah tangga, dasar ilmu agama kita apakah sudah diperbaiki?

Astaghfirullah, kita seringkali lalai akan kewajiban kita sebagai muslim dan sibuk mengejar “prestasi” “perhiasan” dunia… Kemudian merasa “terlalu sibuk” untuk Belajar ilmu agama..

 

”Menuntut ilmu itu wajib atas setiap muslim”.

(HR. Ibnu Majah. Dinilai shahih oleh Syaikh Albani dalam Shahih wa Dha’if Sunan Ibnu Majah no. 224)

 

Berdasarkan hadits tersebut, ilmu itu wajib dipelajari. Ilmu seperti apa? Yakni ilmu syar’I atau ilmu agama.

 

“Dan katakanlah,‘Wahai Rabb-ku, tambahkanlah kepadaku ilmu’“.

(QS. Thaaha [20] : 114)

 

Ibnu Hajar Al-Asqalani rahimahullah dalam kitabnya menjelaskan pada ayat tersebut ilmu yang dimaksud adalah ilmu syar’i. Ibnu Qoyyim rahimahullah menjelaskan ilmu yang wajib dipelajari seorang muslim yakni :

Pertama, pokok-pokok keimanan.

Kedua, ilmu tentang syariat-syariat Islam.

Ketiga, lima hal yang diharamkan  yang disepakati oleh para Rasul dan syariat sebelumnya.

Keempat, ilmu yang berkaitan dengan interaksi antar perseorangan secara khusus seperti istri, anak, keluarga, dan lain sebagainya.

Satu ilmu saja sungguh perlu kajian khusus, bagaimana keempat hal wajib tersebut bisa kita pelajari dalam waktu singkat? Maka perlu kita biasakan mengikuti kajian agama Islam secara rutin dan Meluangkan waktu untuk Belajar agama sesibuk apapun aktivitas kita.

Selain karena memang kita membutuhkan ilmu tersebut, merupakan tanggung jawab kita yang akan dipertanyakan diakhirat, digunakan untuk apa waktu kita masih hidup? Saya kira akan terlihat siapa yang benar-benar ingin meraih akhirat atau justru lebih cinta dunia di akhirat kelak. Tapi, benarkah kita cinta akhirat dan ingin mendapat ridha Allah semata? Jika iya, pastinya kita sudah sibuk dengan belajar agama saat ini.

Bagaimana dengan Belajar agama di Internet?

Saudaraku, sebaiknya kita mulai kurangi aktivitas “tidak penting” kita di media sosial. Mulailah kita sibukkan diri dengan mengikuti kajian di dunia nyata, karena akan terasa bedanya.

Di Internet, ada banyak sekali fitnah atau Ujian yang bisa menyebabkan kita lalai atau bahkan lupa hakikat belajar agama. Sebut saja fitnah lawan jenis, gambar, hoax, fenomena mendadak ustadz, debat kusir soal agama, ketinggalan shalat berjamaah di masjid bagi ikhwan, dan akhirnya malas untuk datang ke kajian atau majelis ilmu di dunia nyata.

 

Dan tidaklah sekelompok orang berkumpul di dalam satu rumah di antara rumah-rumah Allah; mereka membaca Kitab Allah dan saling belajar diantara mereka, kecuali ketenangan turun kepada mereka, rahmat meliputi mereka, malaikat mengelilingi mereka, dan Allah menyebut-nyebut mereka di kalangan (para malaikat) di hadapanNya.”

[HR Muslim, no. 2699; Abu Dawud, no. 3643; Tirmidzi, no. 2646; Ibnu Majah, no. 225; dan lainnya].

 

Dalam majelis ilmu, kita akan mendapatkan ketenangan, bisa menghilangkan stress, dan lelah kehidupan dunia yang semu.

 

“Ada seseorang yang sedang membaca (surat Al-Kahfi). Di sisinya terdapat seekor kuda yang diikat di rumah. Lantas kuda tersebut lari. Pria tersebut lantas keluar dan melihat-lihat ternyata ia tidak melihat apa pun. Kuda tadi ternyata memang pergi lari. Ketika datang pagi hari, peristiwa tadi diceritakan pada Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, lantas beliau bersabda, “Ketenangan itu datang karena Al-Qur’an.”

(HR. Bukhari, no. 4839 dan Muslim, no. 795)

 

Imam Nawawi rahimahullah menyatakan, “Itulah yang menunjukkan keutamaan membaca Al-Qur’an. Al-Qur’an itulah sebab turunnya rahmat dan hadirnya malaikat. Hadits itu juga mengandung pelajaran tentang keutamaan mendengar Al-Qur’an.” (Syarh Shahih Muslim, 6: 74)

Serta akan dinaungi rahmat oleh Allah Subhanahu wa ta’ala.

 

“Apa yang kalian ucapkan? Sungguh aku melihat rahmat turun di tengah-tengah kalian. Aku sangat suka sekali bergabung dalam majelis semacam itu.”

(HR. Al-Hakim dalam Al-Mustadrak, 1: 122. Al-Hakim menshahihkannya dan disepakati oleh Imam Adz-Dzahabi).

 

Dalam majelis ilmu di dunia nyata, kita juga dapat belajar atau mendapat contoh langsung akhlak dan taqwa dari ustadz atai syaikh. Sebagian kita beranggapan ilmu itu hanya materi ilmu saja yang perlu diingat. Padahal yang terpenting adalah contoh langsung akhlak, taqwa, kesabaran, tawaddu’, dan wara’ dari para ustadz atau syaikh. Karena jika hanya sekedar ilmu, semua orang bisa berbicara. Namun untuk menerapkan dan mencontohkannya hanya beberapa orang yang Allah beri taufik yang bisa melakukannya. Sehingga perlu kita ketahui juga, jika menuntut ilmu dari seseorang yang pertama kali kita ambil adalah akhlak dan adabnya terlebih dahulu, baru ilmunya.

Kemudian, dalam majelis ilmu, kita bisa bertemu dengan orang-orang shalih yang sama berorientasi pada akhirat. Hal ini bisa memperkuat iman kita, serta memunculkan persaingan sehat mengejar akhirat.

Dan yang utama juga adalah mudahnya mendapat penjelasan, dan dapat dikoreksi kekeliruan pemahaman kita. Karena jika hanya belajar lewat internet saja, hal ini akan meningkatkan risiko error pemahaman dan salah paham yang bisa berakibat pada amalan kita yang sia-sia atau justru salah.

Bagi mereka yang sudah merasakan indahnya majelis ilmu, hal ini akan terasa mudah dan justru menjadi kebutuhan bagi mereka. Karena “rekreasi” mereka adalah majelis ilmu yang mengingatkan tentang Allah dan akhirat, kampung kembali yang kekal. Kepenatan dan kejenuhan duniawi akan sirna dengan mengingat akhirat. Dalam seminggu saja jika tidak hadir, akan terasa ada yang kurang.

Berbeda dengan mereka yang belum merasakan indahnya majelis ilmu, yakni nikmat ilmu dan pemahaman agama yang baik, rekreasi yang mereka pilih diantaranya adalah konser musik.  Padahal, dahulu di zaman keemasan Islam, majelis ilmu jauh lebih ramai bahkan mengalahkan konser musik yang ada saat ini.

“Umar bin Hafs menceritakan bahwa Al-Mu’tashim memperkirakan orang yang hadir di majelis ‘Ashim bin Ali bin ‘Ashim di lapangan pohon kurma yang berada di kawasan masjid jami’ Ar-Rushafah. Mu’tashim mengatakan bahwa ‘Ashim bin Ali duduk di bagian atas atau atap rumah dan manusia menyebar di sekitar lapangan. Orang-orang yang hadir terus bertambah sehingga terkumpul jumlah yang sangat besar. Sampai suatu hari, aku mendengar ‘Ashim berkata, ‘Al-Laits bin Sa’ad menyampaikan hadits kepada kami’. Ia mengulangnya sebanyak 14 kali karena orang-orang tidak bisa mendengarnya. Ia berkata: Harun harus menaiki pohon yang bengkok untuk mendengarnya [mencatat]. Maka berita ini sampai ke Al-Mu’tashim mengenai banyaknya jumlah yang hadir. Maka ia memerintahkan orang agar memperkirakan jumlah mereka. Maka ia memperkirakan -dengan patokan sebagaimana kelompok-kelompok kambing- maka diperkirakan yang menghadiri majelis sekitar 120 ribu.” [Taarikh Bagdad 14/170,  Darul Gharb Al-Islami, Beirut, 1422 H, Syamilah]

“Aku telah menghadiri majelis Sulaiman bin Harb di Baghdad dan mereka [para Imam hadits] memperkirakan jumlah yang hadir sekitar 40 ribu orang. “ [Al-Jarh wat ta’dil 4/108, Dar Ihya’i At-Turats, Beirut, 1271 H, Syamilah]

Bahkan ada yang harus “booking tempat“ untuk bisa menghadiri kajian tersebut karena ramainya yang ingin menghadiri.

“Saya melihat majelis Al-Firyabi yang diperkirakan terdapat 15 ribu tempat tinta. Kami harus menginap di tempat yang akan di dudukinya besoknya untuk dapat menghadiri majelis.” [Al-Kamil fi dhu’afa At-Rijal 6/407, Dar Kutub Al-Ilmiyah, Beirut, 1418 H, Syamilah]

Artinya, terjadi perbedaan orientasi hidup muslim saat ini dengan zaman keemasan Islam. Masih inginkah kita mengejar duniawi dan mencari rekreasi yang kurang bermanfaat untuk kehidupan dunia, apalagi bermanfaaat untuk kehidupan akhirat? Atau masih peduli kah kita dengan akhirat kita nanti?

Jika masih peduli, yuk kita datang ke majelis ilmu, ke kajian yang benar-benar berisi ilmu, bukan untuk mencari canda / tawa / hiburan sementara. Tapi hiburan dengan siraman ilmu yang menyejukkan hati dan mengingatkan kita pada akhirat, yakni majelis ilmu yang menjadikan kita tidak “nafsu” untuk mengejar dunia secara berlebihan, hanya untuk dunia saja. Sehingga, prioritas akhirat kita terjaga, menguatkan iman, dan bisa mendapatkan ketenangan hati di tengah kehidupan kita “yang sibuk” ini.

Allahua’lam.

 

Oleh Azhar Rafiq dari SKI Asy-Syifa FK Unram @Mataram, NTB, Senin, 14 Agustus 2017

 

Daftar Pustaka :

Bahraen, R. (2012). Jangan Terlalu Banyak Menuntut Ilmu Agama Di Dunia Maya | MuslimAfiyah. Retrieved August 14, 2017, from https://muslimafiyah.com/jangan-terlalu-banyak-menuntut-ilmu-agama-di-dunia-maya.html

Bahraen, R. (2012). Majelis Ilmu Mengalahkan Konser Musik | MuslimAfiyah. Retrieved August 14, 2017, from https://muslimafiyah.com/majelis-ilmu-mengalahkan-konser-musik.html

Bahraen, R. (2013). 10 Fitnah (Ujian) Agama Di Facebook Dan Dunia Maya | MuslimAfiyah. Retrieved August 14, 2017, from https://muslimafiyah.com/10-fitnah-ujian-agama-di-facebook-dan-dunia-maya.html

Hakim, M. S. (2013). Setiap Muslim Wajib Mempelajari Agama | | Muslim.Or.Id. Retrieved August 14, 2017, from https://muslim.or.id/18810-setiap-muslim-wajib-mempelajari-agama.html

Tuasikal, M. A. (2016). Ketenangan Jiwa dalam Majelis Ilmu – Rumaysho.Com. Retrieved August 14, 2017, from https://rumaysho.com/12717-ketenangan-jiwa-dalam-majelis-ilmu.html

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *


*

1 + nine =