JATAH TAKJIL DARI ALLAH

oleh: Alfian Nurfaizi

Matahari mulai turun, memancarkan mahkota emasnya menyusuri lautan langit biru. Begitulah suasana sore itu, tampak indah ketaatan makhluk yang memenuhi takdirnya untuk kembali setelah menemani dua pertiga siang. Kisah ini merupakan awal pertemuanku dengan sahabat selama menjadi mahasiswa tahun pertama Fakultas Kedokteran. Bulan ini adalah ramadhan pertamaku disini, setelah berbulan-bulan menjalani suka duka masa orientasi. Ramadhan ini terasa berbeda dari sebelumnya, ini pertama kalinya aku datang ke Masjid untuk mendengarkan ceramah secara sukarela. Masih teringat jelas di pikiranku pengalaman masa itu, perasaan hampa setelah tujuh belas tahun disibukkan urusan dunia. Begitulah sejatinya sifat manusia, selalu merasa kurang dan tak pernah puas atas segala pencapaian. Seperti sabda Rasulullah dalam hadis yang diriwayatkan Baihaqi dan Ibnu Hibban, “Barangsiapa menjadikan dunia sebagai tujuan utamanya, maka Allah akan cerai beraikan urusannya,  lalu Allah akan jadikan kefakiran selalu menghantuinya, dan rezeki duniawi tak akan datang kepadanya kecuali hanya sesuai yang telah ditakdirkan saja. Sedangkan, barangsiapa yang menjadikan akhirat sebagai puncak cita-citanya, maka Allah akan ringankan urusannya, lalu Allah isi hatinya dengan kecukupan, dan rezeki duniawi mendatanginya padahal ia tak minta”.

Suasana masjid fakultas cukup ramai dengan berbagai tipe mahasiswa yang menjalani aktivitas, ada yang tilawah menyelesaikan target harian, berkemas diri seusai kajian, hingga bersantai rebahan menunggu lantunan adzan. Waktu itu aku dan beberapa teman mahasiswa baru sempat merasa takut dan cemas ketika seorang kakak tingkat mendatangi kami, “Semoga tidak ada kesalahan yang kami lakukan hari ini” ucapku dalam hati. Segala puji bagi Allah, ternyata kakak tingkat tersebut memiliki maksud baik untuk mengajak kami berbagi takjil kepada masyarakat di sekitar kampus. Kami pun bersedia menerimanya, meskipun dengan sedikit berharap mendapat jatah untuk meringankan jatah kos bulanan.

Jam telah menunjukkan pukul empat, langit yang cerah perlahan mulai meredup. Beberapa kresek besar berisi nasi kotak telah menunggu kami bagikan. Kami pun berangkat berjalan bersama menyusuri jalan sekitar kampus, bergegas menjemput pahala atas amalan berbagi makanan berbuka. Pos pertama sampai, kami mulai membagikan takjil kepada orang-orang membutuhkan yang berada di sekitar. Perasaan bahagia kami rasakan ketika melihat wajah berseri penerima takjil, tak sedikit diantara mereka mendoakan keberkahan untuk kami. Sungguh sebuah rasa syukur yang tak dapat diungkapkan dalam kata-kata, suasana haru bercampur senang seakan menyatu menemani kami sepanjang perjalanan.

Satu jam telah berlalu, pos terakhir sudah berada di depan. Persediaan takjil kian menipis seiring tenaga kami yang semakin terkuras menjelang berbuka. “Eh, kita ambil jatah takjil dulu yuk sebelum kehabisan, sudah mau maghrib nih.” ucap temanku secara spontan. Memang saat itu setiap dari kami diperbolehkan untuk mengambil jatah takjil, sebagai bentuk balas jasa atas sedikit tenaga dan waktu yang kami luangkan. “Tapi jangan dulu deh, lihat di depan orangnya masih banyak. Kasihan nanti ada yang tidak kebagian, lagipula mereka lebih berhak dari kita yang sebenarnya masih berkecukupan, mending kita nunggu jatah takjil di Masjid fakultas aja.” Pendapat bijak dari temanku yang lain. Setelah berbagai pertimbangan, kami pun setuju dengan pendapat kedua. Tidak ada ruginya, sama-sama mendapat takjil hanya saja dari tempat dan waktu yang berbeda. Takjil pun habis dibagikan di pos terakhir, beberapa relawan telah mengambil jatahnya, beberapa relawan lain termasuk aku merelakan jatah untuk dibagikan kepada mereka yang lebih membutuhkan.

Suara adzan telah berkumandang, kami bergegas menuju masjid fakultas. Suasana masjid saat itu lebih ramai dari biasanya, banyak mahasiswa luar fakultas yang datang. Sempat terbisik dalam hati, “Apakah nanti kami kebagian dengan jumlah jamaah sebanyak ini?”. Perasaan was-was itupun segera ku lupakan tatkala melihat hidangan, bergegas kami meneguk segelas air dan memakan tiga butir kurma untuk membatalkan puasa. Tak sempat mengambil gorengan, lantunan iqomah memanggil kami untuk segera memenuhi shaf terdepan, mengejar pahala terbaik sholat berjamaah di bulan ramadhan.

Setelah imam mengucap salam, mahasiswa bergegas pergi berhamburan ke belakang mengambil jatah takjil. “Tenang, pasti kebagian kok. Serahkan segala urusan kepada Allah, maka Allah pasti memberikan yang terbaik.” kata temanku yang ikut membagikan takjil keliling. Seusai berdzikir dan sholat sunnah, kami pun menuju belakang untuk mengambil nasi. Sialnya ternyata kami kehabisan, rasa marah bercampur kecewa memenuhi sesak dada ini, kenapa kejadian tidak adil ini harus terjadi kepada kami ketika sudah melakukan cukup banyak kebaikan hari ini.

Akhirnya temanku mengajak untuk segera membeli makanan, “Perasaan menyesal tidak akan menyelesaikan masalah, mengikhlaskan akan membuat hati kita lebih baik, dan meningkatkan derajat kita di hadapan Allah. Yuk mending segera cari makan sebelum masuk waktu isya!”. Perkataan tadi sedikit menenangkan kami, perut yang kosong dan bunyi sudah tidak bisa lagi diajak kompromi. Kami bergegas berangkat ke jalan sekitar kampus untuk berburu makanan. Suasana jalan penuh ramai, semua orang sibuk menyelesaikan santap bukanya. “Hmm, harus menunggu sampai kapan ini sepinya? Masa penuh semua sih, sial banget hari ini.”, pikirku waktu itu. Setelah mencari tempat, kami pun tiba pada salah warung untuk segera duduk dan memesan makanan berbuka.

Warung itu satu-satunya tempat yang masih menyisakan tempat duduk, waktu berbuka hampir pasti membuat seluruh tempat penuh. Alhamdulillah sungguh beruntung kami bisa mendapatkan tempat tersebut, sedikit pelipur lara atas cobaan berlapis yang baru saja kami alami. Tak lama merasa senang, beberapa pengunjung disamping sedikit mengganggu kami dengan bertanya seputar kuliah dan menceritakan panjang lebar pengalamannya. Karena perut yang sangat lapar ditambah mood yang sedang buruk, kami menjawab seadanya tanpa sempat memandang wajahnya. “Apaan sih orang ini, mengganggu saja. Tidak tahu ya kalau orang sedang lapar?” menurut pemikiranku. Tak lama berselang hidangan kami pun datang, tanpa berfikir panjang kami pun bergegas menyantapnya dengan lahap. Melihat kami yang sangat rakus waktu itu membuat orang tersebut tertawa, kami berusaha tetap sabar meskipun kesal dengan kejadian itu. Sungguh diluar dugaan, ternyata orang tersebut sangat baik, beliau menawarkan lauk tambahan berupa pepes udang yang dibelinya yang akhirnya kami terima. Selain itu beliau juga menawarkan membelikkan jus, namun karena kami merasa itu terlalu memberatkan akhirnya kami menolak dengan alasan sudah memesan. “Astagfirullah, sungguh menyesal hati ini mengumpatnya tadi. Tidak ada yang tahu apa yang telah Allah rencanakan untuk hamba-Nya.” ucapku dalam hati dengan sedikit rasa haru.

Kamipun mengobrol dengan asyik setelah makan, sekedar berbagi rasa dan pengalaman sebagai mahasiswa tahun pertama di tanah perantauan. Tanpa kami sadari, beberapa orang disamping kami telah pergi tanpa sempat kami berpamit diri, rasanya agak sungkan ketika tak sengaja mengabaikan setelah diberi lauk makanan. Perlahan kami mulai tersadar, tanpa kejadian kurang beruntung yang dialami hari ini, kami tak akan dapat dipersatukan melalui indahnya ukhuwah persahabatan antar saudara seiman. Kami pun berjanji bersama, tidak akan mengulangi kesalahan lagi mulai hari ini, berjanji akan selalu berbuat baik, dan berjanji akan akan selalu husnudzon terhadap segala sesuatu yang telah Allah tetapkan. Seperti firman Allah dalam QS. Al-Baqarah ayat 216, “Boleh jadi kamu membenci sesuatu, padahal ia amat baik bagimu, dan boleh jadi (pula) kamu menyukai sesuatu, padahal ia amat buruk bagimu; Allah mengetahui, sedang kamu tidak mengetahui”.

Tak lama kemudian adzan isya berkumandang, kami segera menemui ibu penjual untuk membayar makanan. Subhanallah, pelajaran berharga bagi kami belum selesai di kejadian itu. Sungguh kebesaran dan kenikmatan Allah selalu hadir melalui jalan yang tanpa pernah disangka hamba-Nya, kami semakin terisak sedu ketika mengetahui bahwa makanan telah dibayar oleh orang baik disamping kami yang bahkan belum kami ketahui namanya. Tak terbendung lagi air mata bahagia kala itu, suatu rentetan pelajaran berharga yang akan kami ingat untuk selamanya. Jatah takjil dari Allah telah memberikan solusi atas apa yang dicari selama ini, rasa bahagia tatkala berbagi, indahnya beribadah berjamaah, nikmatnya rezeki, jalinan tali ukhuwah, hingga rasa syukur atas segala ketetapan Allah dengan sepenuh hati. Suara iqomah mulai terdengar, bergegas kami menghapus air mata dan segera pergi untuk memenuhi panggilan-Nya. Pelajaran hari itu pun akhirnya menjadi awal perjalanan kami untuk terus bersama berbagi dalam berbagi kebaikan

Surabaya,

Ramadhan 1438 H

Like
Like Love Haha Wow Sad Angry
3

Leave a Reply