Izinkanku Menemuimu, Ramadhanku

oleh: Dewi Fortuna A.

Suatu hari, di antara dentang waktu paling sempurna, akan kuceritakan kisah serta jiwaku yang menggebu untuk bertemu indahnya suatu kurun waktu yang membuat hatiku terpasung. Suatu kurun waktu yang mempersilakanku menyelami indahnya cinta Allah swt.

Bandung, 2018

Tepat pukul 16.00 WIB, aku dan ibu tiba di kota Bandung. Kami segera menuju ke rumah sakit Hasan Sadikin untuk segera mengurus persiapan terapi nuklir untuk penyakit Hyperthyroid-ku esok hari. Setelah selesai mengurus persiapan untuk terapi besok, aku dan ibu segera menuju ke penginapan yang sudah kupesan.

“Ibu, mbak ndak sabar pulang.”

“Kenapa atuh ?”

“Setelah 4 tahun dipondok, tahun ini kan tahun pertama mbak bisa puasa di rumah, bu.”

“Masya Allah, tapi kan di pesantren juga ndak kalah seru, nduk? Banyak teman, banyak kegiatan, jadi bisa produktif ibadahnya.”

“Betul, bu. Maka dari itu, mbak punya rencana, untuk buat list ibadah yang rutin dikerjakan di pesantren supaya bisa rutin dan istiqomah juga dilakukan di rumah, tapi bareng ayah, ibu sama adik-adik.”

Ibu tersenyum sembari menganggukkan kepalanya.

Selepas membersihkan kamar, aku bersiap untuk sholat isya. Kulirik ibu sejenak, ibu sudah tertidur. Pasti ibu sangat lelah.

Namun, tiba-tiba, pada saat sujud terakhirku, aku merasakan nyeri yang menyengat di perutku.

Kuputuskan untuk tetap melanjutkan sholatku. Selepas salam, ku tekuk kedua kakiku.

Astaghfirullah

Sakit sekali. Ibu. Ingin rasanya kusebut nama ibu. Tapi saat mataku mendapati ibu sedang tertidur, aku tak tega membangunkannya.

“Allahumma Antasyafi Laa Syifaa A Illa Syifaa uka Syifa Allayyughodhiru Saqoman Wa laa Alaman,” Ucapku sembari terus menekan perutku yang sakit.

Waktu menunjukkan sudah pukul 00.30 WIB.

Ya Allah sakit sekali.

Aku sudah tidak kuat menahannya, alhasil rintihanku tanpa sengaja membangunkan ibu. Ibu terkejut melihatku menangis menahan sakit.

“Kenapa, nduk? Apa yang sakit, nak?”

“Perut mbak sakit, bu.”

“Ya Allah, Kita ke rumah sakit, ya.”

Kuanggukkan kepalaku lemah.

Sesampainya kami di rumah sakit, beberapa dokter tampak datang dan memeriksaku. Saat seorang dokter menekan perut kanan bagian bawahku, rasa sakitnya semakin menjadi-jadi. Ditambah lagi, pada saat dokter menekuk kaki sebelah kananku.

“Jadi begini, bu. Berdasarkan pemeriksaan yang sudah dilakukan, disini saya mendiagnosis putri ibu mengalami Appendisitis, bu. Dan  harus segera di lakukan tindakan operasi. Jika tidak, ditakutkan dapat menyebabkan komplikasi yang lebih buruk, ibu.”

Ibu tercengang dengan penuturan dokter.

“Dok, sedari kemarin anak saya baik-baik saja. Bahkan kami besok akan melakukan terapi nuklir untuk Hyperthyroid anak saya.”

Setelah beberapa pertimbangan, akhirnya ibu menandatangani lembar persetujuan tindakan operasi. Operasi dilakukan besok malam pukul 21.00 WIB.

Pukul 19.00 WIB, seorang dokter menghampiri kami dan menjelaskan tindakan yang akan dilakukan pada saat operasi.

“Jadi begini, ibu. Nanti kami akan lakukan pembiusan setengah badan. Dikarenakan putri ibu memiliki riwayat Hypertyroid. Kemungkinan terburuk adalah bisa terjadi gagal jantung seketika di meja operasi. Jadi, persentase selamat hanya sekitar 20%, bu. Namun kami akan tetap usahakan yang terbaik, bu.”

Ibu terduduk lemas mendengarkan penjelasan dokter.

Pukul 20.50, aku sudah siap dengan jubah operasiku. Ibu masih tampak sembab dengan tangisnya. Ibu menciumi wajahku sembari menggenggam erat tanganku.

“Sholawat ya, nak. Hatinya terus dibawa muroja’ah ya, nak”

Kusunggingkan senyumku pada ibu. Hatiku ingin berteriak bahwa aku takut, tapi tidak. Allah bahkan jauh lebih dekat daripada urat nadiku.

Ya allah, aku ingin bertemu Ramadhan-Mu walau hanya sebentar. Namun, apabila Engkau berkehendak merenggut nyawaku sebelum aku bertemu dengannya, aku ridho, ya Allah.

Kuyakini dalam hatiku, jika ini terakhir kalinya aku bisa membaca Al-Qur’an, maka ini adalah ibadah terindah selama hidupku. Kulantunkan ayat demi ayat surat Al-Fath, hingga seorang dokter menyuntikkan suatu cairan di punggungku. Pandanganku mulai kabur dan akhirnya terpejam.

Allah Allah Allah

Kubuka mataku perlahan. Kurasakan tubuhku masih terasa kaku untuk bergerak. Tak kusangka, Allah mendengar do’aku. Allah izinkan aku bertemu ramadhan kembali.

Terima kasih atas rahmat-Mu, ya Allah, Engkau izinkan aku bertemu Ramadhan-Mu. Akan kujadikan setiap ibadahku menjadi ibadah-ibadah indah layaknya surat Al-Fath yang kulantunkan di meja operasi, ya Allah.

“Aku sangat mencintai-Mu, Ya Allah.”

Hampir saja aku mengeluh atas kuasa Allah yang memberikanku sakit, namun, Allah mengingatkan “Boleh jadi, kamu tidak menyenangi sesuatu padahal itu baik bagimu, dan boleh jadi, kamu menyukai sesuatu, padahal itu tidak baik bagimu.” Janganlah kita mudah berburuk sangka terhadap Allah. Karena Allah mengetahui apa-apa yang tidak kita ketahui.

Like
Like Love Haha Wow Sad Angry
22

Leave a Reply