“Islam Mengekang Wanita!”, katanya…

Di dunia barat sekitar 2 abad yg lalu muncul pemahaman bahwa,

Islam doesn’t give freedom for woman

Dulu di Abad 18, para wanita tidak sebebas saat ini. Mereka tidak diberikan hak untuk bersekolah, mengemukakan pendapat ataupun mengekspresikan diri di depan umum. Nah,  karena keterbatasan tersebut terbentuklah paham feminisme.

 

Pada mulanya para feminis menggunakan isu “hak“ dan “kesetaraan“ perempuan sebagai landasan perjuangannya, tetapi feminisme pada akhir 1960-an mengunakan istilah “penindasan” dan “kebebasan” yang kemudian menyatakan dirinya sebagai ”gerakan pembebasan perempuan”.  Secara umum kelahiran Feminisme dibagi menjadi tiga gelombang (wave) yang mengangkat isu yang berbeda-beda dan dipromotori oleh tokoh-tokoh tertentu di setiap masanya dengan masing-masing permintaan yang berbeda.

 

Gelombang 1, wanita pada masa itu meminta diberikan hak untuk memilih dalam pemilu. Di masa yang bersamaan juga, Marry Wollstonecraft meminta perempuan untuk diberikan hak untuk bersekolah. Kejadian ini terjadi di Eropa pada  abad pertengahan.

 

Gelombang 2  dipromotori oleh Betty Frieden dengan permintaan Hak atas tubuh. Kalimat : “This body is mine, I can open it, I can cover it.” sempat menjadi viral pada masa itu. Dengan pemahaman seperti ini, mereka memperbolehkan aborsi, mengubah bagian tubuh tertentu, dan hal-hal lain yg mereka lakukan pada tubuh mereka karena menganggap tubuh mereka adalah hak mereka sendiri.

 

Gelombang 3 merupakan koreksi dari bablasnya gelombang  sebelumnya. Pernah dengar Slutwalk? Jadi di Inggris pernah ada slutwalk (Baca: slut: kuker/prostitusi).
Mereka berpemahaman ketika banyak terjadi pelecehan seksual, kamu ngga bisa menyalahkan perempuan karena cara berpakaiannya, tapi itu salah laki-laki karena pikiran kotornya. Lalu bagaimana cara kita menanggapi pemahaman seperti ini? jawabannya coba buka surat An-Nur ayat 21 tentang perintah menutup aurat untuk laki-laki maupun perempuan .

 

Di ayat tersebut, salah satu hal yang bisa disimpulkan adalah bahwa Islam melihat kelak akan ada laki-laki dan perempuan  yg tidak bisa menjaga pandangan. Noted it!
Perempuan yg tidak bisa menjaga pandangan nih misalnya,  akan histeris melihat oppa-oppa.
Sedangkan laki-laki yang tidak bisa menjaga pandangan akan timbul nafsunya saat melihat perempuan yang tidak menutup aurat. Jadi logikanya: Jika mereka sama-sama tidak menjaga pandangan, maka akan terjadi hal-hal yg tidak seharusnya. That’s why, Allah memerintahkan kita untuk sama-sama menutup aurat dan menjaga pandangan.

 

Lalu, bagaimana sebenarnya Islam memandang perempuan?

Islam adalah agama yang ada sejak  14 abad yang lalu. Islam ada jauh sebelum wanita abad 18 memperdebatkan hak-hak apa yang harus mereka miliki dalam hidup mereka. Di dalam Islam, perempuan dan lelaki sama posisinya.  Sama-sama harus ta’awun dalam amar ma’ruf nahi mungkar (An-Nisa : 11-13)  dan sama-sama bisa masuk syurga (At-Taubah : 71-72). Posisi lelaki dan perempuan sama , kecuali pada beberapa hal seperti akad dalam rumah tangga, suami yg cari nafkah atau untuk menjadi jadi khalifah/imam, dan yang lainnya.

 

Di dunia barat pada abad 18, perempuan tidak diberikan hak properti.
Hak properti wanita adalah hak hukum bagi wanita untuk mendapatkan, memiliki, menjual, dan mentransfer properti, mengumpulkan dan menyimpan sewa, memiliki pendapatan, membuat kontrak, serta membawa perangkat hukum, yang berdasarkan hukum umum Inggris (English common law). Pada Victorian Era (masa pemerintahan Ratu Victoria) terdapat banyak kekurangan dalam pelaksanaan hak-hak bagi kaum wanita. Wanita dilihat (oleh pria) sebagai makhluk yang emosional dan tidak stabil karena sistem reproduksi mereka, sehingga tidak mampu membuat keputusan yang rasional.

 

Ketika seorang wanita melakukan pernikahan, kekayaan yang mereka miliki sebelum pernikahan akan diserahkan kepada suami mereka. Jika seorang wanita bekerja setelah ia menikah, maka pendapatan mereka juga akan menjadi milik suami mereka. Hal ini tentu sangat berbeda di dalam khasanah Islam. Di dalam kaidah, warisan anak laki-laki mendapat hak waris 2 kali lebih besar dari anak perempuan. Kenapa? Karena laki-laki bertanggung jawab untuk  membiayai istrinya, membiayai anaknya, membiayai saudara perempuannya, serta membiayai ibu kandungnya. Sebuah hal yang terdengar tidak adil, tapi sebenarnya sangatlah adil.

 

Para feminis barat bermunculan  untuk mengangkat nilai perempuan. Sementara dalam Islam, posisi wanita sangat ditinggikan. Dalam sebuah hadis yang diriwayatkan  Dari Abu Hurairah radhiyallaahu ‘anhu, beliau berkata,

“Seseorang datang kepada Rasulullah shalallahu ‘alaihi wasallam dan bertanya, ‘Wahai Rasulullah, kepada siapakah aku harus berbakti pertama kali?’ Nabi shalallaahu ‘alaihi wasallam menjawab, ‘Ibumu!’ Dan orang tersebut kembali bertanya, ‘Kemudian siapa lagi?’ Nabi shalallaahu ‘alaihi wasallam menjawab, ‘Ibumu!’ Orang tersebut bertanya kembali, ‘Kemudian siapa lagi?’ Beliau menjawab, ‘Ibumu.’ Orang tersebut bertanya kembali, ‘Kemudian siapa lagi,’ Nabi shalallahu ‘alaihi wasallam menjawab,‘Kemudian ayahmu.’” (HR. Bukhari no. 5971 dan Muslim no. 2548)

 

Nampak kan? Betapa mulianya wanita di dalam Islam.

 

Referensi:

  1. https://kacakuci.wordpress.com/
  2. https://thisisgender.com/
Like
Like Love Haha Wow Sad Angry

Tinggalkan Balasan