Hijrah Cinta Part 2

20170317210909

“Tapi ratna kamu gak bisa ngelakuin ini, ini gak adil. Gak bisa kamu memutuskan secara sepihak” tegasnya

“Bukan begitu galih, sekarang aku mau tanya sama kamu . apa kah kamu mencintai ku?

“Tentu sja” jawabnya secara cepat

“Apakah kamu sayang padaku? “

“Pertanyaan macam apa ini sudah pasti aku sayang padamu!”

Aku menatap wajahnya  dan seketika membuang wajahku untuk menjauhi tatapannya

“Kalau begitu jauhi aku” air mataku sudah tidak bisa tebendung lagi dan suara tangisku memecah keheningan saat itu

“Ratna…..” seolah-olah galih mencoba meminta kejelasan atas keputusan yang ambil.

“Jika kamu mencintaiku, jika kamu menyayangiku pastilah kamu tidak akan rela  api neraka menyentuh kulit ku…”

“Maksudmu?” dengan raut wajah penuh kebingunan

“Allah memerintahkan kita untuk tidak mendekati zina, Apakah kamu tidak menyadari apa yang kita laukan selama ini telah mendekati zina?”
“tapi kan kita gak ngapa-ngapain ratna…” imbuhnya

“Sudah cukup galih… … Aku ini wanita, aku butuh kepastian dan kejelasan. Jika kamu memang serius padaku, temui orang tua ku sekrang!!”

“Gila kamu ya, kamu pikir segampang itu?” tegas nya

“Iya itu,,,, sudah terlihat bukan, tidak ada komitmen di dalam dirimu. Ahhh sudahlah, Assalamualaikum” aku mencoba mengakhiri percakapan di siang itu

“Wa..alai…kumussalam “

Jawaban salam darinya yang diliputi kebingungan lambat laun mulai tak terdengar oleh ku. Kemudian segera aku pergi ke kos shinta yang tak jauh dari kampus sambil mengusap pipi ku dengan tangan agar air mata tidak terus menyelimuti pipiku.

Setelah sampai di kos shinta, salam yang tergesa-gesa mewakili perasaanku yang kacau saat itu ” Asslamu’alaikum shinta, shintaaa “rasa tidak sabar ingin memeluk shinta pun begitu memeluap. Saat salam pertama aku tidak mendengar jawaban dari nya, aku susul dengan salam kedua dengan begitu paniknya.

 “wa’alaikumusslam iya sebentarrrr”  jawabnya begitu keras dari dalam kamarnya.

Seketika Shinta membuka pintu langsung saja aku memeluk dirinya dan mulai menangis sejadi-jadinya, spontan shinta menanyakan apa yang sebenarnya terjadi pada diriku. Aku tak menghiraukan pertanyaan yang shinta lontarkan dan aku pun tak bisa menahan air mataku yang terus mengalir deras.

 “sudah hentikan tangisan mu, ayo duduk dulu” ujar nya sambil merangkulku duduk diatas kasurnya. Shita menyuruhku istigfar sebanyak mungkin dan terus mengingat Allah, lalu ia menyodorkan segelas air putih sambil terus melafadzkan istigfar yang terus aku ulang di bibirku. Akhirnya, cukup membuat  pikiran dan hatiku menjadi lebih tenang. Aku pun mulai mencoba menceritakan kejadian yang aku alami pada shinta meski sambil menghapus  air mata yang terus menetes.

Setelah menceritkan semua yang aku alami tadi, entah mengapa senyum shinta  begitu lebar dan menatap mata ku sangat dalam. Dia mengatakan padaku begitu bangganya padaku.  Bangga terhadap apa yang telah aku lakukan dan dia juga mengatakan bahwa semua ini adalah proses dan ini lah dunia anak muda, dunia dimana kisah cinta menjadi bagian yang tidak bisa di pisahkan tapi tidak melulu menceritakan soal cinta di dalamnya, yang seketika membuat otot volunter kita tak bisa kita kendalikan lagi, sakit hati dan pengorbanan juga sebagai bumbunya . Memang shinta selalu bisa menenangkan sahabatnya yang sedang dirundung susah dan gundah. Wejangan yang begitu merasuk melupakam rasa sedihku ketika dia mengatkan bahwa diriku tidak sendiri, ada Allah yang selalu bersama kita dan tidak akan pernah meninggalkan kita.

Senyum  dan perasaan bahagia begitu cepat merubah perasaan khawatirku, tak bisa berbicara. Kini air mata menceritakan kebahagian yang aku rasakan. Rasa syukurku kini semakin bertambah akan kehadiran shinta dan hikmah atas kesedihanku kali ini.

***

Hari ini aku kuliah seperti biasa dan aku bertemu dengan galih. Saat itu, ketika melewati laboratorium histologi, dia dan beberapa temannya sedang berdiskusi tentang suatu hal. Saat langkahku mulai mendekat, aku tundukkan pandanganku.  seolah-olah tidak melihatnya dan bertingkah laku layaknya tidak terjadi apa-apa di antara kita meski jantung ini mulai tachikardi  tak beraturan

Sesampainya di kelas, langung saja akan aku duduk di sebelah shinta.

 “Shinta shinta.. “  diikuti denyut nadi  yang mulai meningkat. Cerita soal galau dan bingung, kini mulai membuka pintu untuk ikut andil di perasaanku. Seandainya saat itu ada stetoskop d hadapanku, aku memintanya untuk mengevaluasi jantung ku, mungkin saja terjadi dislokasi setelahnya. Dan seperti biasa ratna menyuruhku istigfar dan selalu melibatkan Allah dalam urusan apapun.

“oiya ratna nanti di musholla ada kajian lo. Temanya juga bagus kok, kalau tidak salah temanya itu kala cinta menyapa, apasih yang harus kita lakukan?” mencoba mengalihkan perhatianku. Dan benar, dari temanya pun mengalihkan pusat perhatianku. Tiba-tiba saja aku mulai memikirkan diriku senidiri yang hampir tidak pernah menginjakkan kaki di majelis ilmu untuk lebih mendekatkan diri pada sang pencipta. Belum sempat lamunanku selesai, shinta menyodorkan kerudung padaku,

“nih pake, kamu akan lebih cantik nan anggun menggunakan kerudung ini !!”  tegasnya

Untuk yang ke sekian kalinya. Syukurku kepada Allah memiliki sahabat sperti dia yang selalu mengingtakan diriku pada hal-hal yang baik meskipun sering kali aku mengatakan “aku kerudungin hati dulu ya sobat” tapi tetap saja ia sering  mengatakan kan  bahwa kerudung  itu kewajiban setiap muslimah dan merupakan salah satu cara Allah memuliakan kita sebagai waita.

“Waahh,,Alhamdulillah kajianku double nih, sekarang dan nanti hahaha terimakasih cinta” menggodanya sambil mengambil hijab di tangan shinta.

Percakapan di kelas waktu itu terhenti ketika dosen mulai memasuki kelas.

***

Sore itu,

Entah mengapa aku sangat antusias mengikitu kajian waktu itu. Dengan kerudung yang sudah menutupi rambut k. Aku tarik tangan shinta agar segera bergegas menuju musholla kampus, kita sedikit terlambat saat itu karena masih ada tambahan kuliah di kelas kita dan tentunya masih melaksankan sholat ashar. Ketika sudah memasuki barisan untuk kajian sore itu, kita mulai mendengarkan dan menyiapkan alat tulis.

“Kenapa membingungkan seseorang yang namanya sudah tertulis d lauhmahfudz. Sudaaaaah… jangan terlalu bingung ya anak muda, sudah ada kok namanya. Yuk kita Pantas kan diri dulu, fokus dulu sama pendidikan dan membahagiankan orang tua. Gak bakal ketuker kok.  Jadi harap sabar ya ikhwan dan akhwat disni. Jodoh gak datang tepang waktu, tapi jodoh datang di waktu yang tepat. Eittssss tpi jangan mikirin jodoh terus ya ikhwah. Karena kita belum tau siapa yang akan melamar kita terlebih dahulu, jodoh atau ajal. Ajal gak iku punya lo… “

Itu salah satu cuplikan ilmu yang aku dapat kan sore ini. Ya Allah… aku tak tau tau lagi apa yang sedang aku rasakan saat ini seakan-akan tausiah tadi mencabik-cabik hati ku. Allah ya tuhan ku setalah apa yang aku lakukan padaMu atas larangan yang telah aku kerjakan, apakah Engkau masih memaafkan hamba Mu ini yang berlumur dosa??

“Heh!!! Ratna kamu ngelamunin apa ? itu dengerin ustadnya, ustadnya bilang kita harus segera bertobat karena ajal bisa datang kapan aja” shinta membangunkan lamunan ku.

Secara sepontan aku melihat shinta dan tersenyum akan nasehat yang dia lontarkan padaku, seketika aku memegang tangan nya dan aku berkata “ Bantu aku bertaubat ya sahabat, bantu aku berhijarah”

Kita tersenyum dan saling berpandangan saat itu.

***

Keesokan harinya…..

“masyaAllah ratih,,, cantik bgt kamu hari ini,..” sapa shinta d pagi ini

“iya donk temen siapa dulu.”  Jawabku.

Ntah mengapa pagi ini terasa begitu bahagia dari sebelumnya, lebih percaya diri dan lebih siap menjalani hari-hari dengan style ku yang seperti ini dengan kain yang menutupi rambutku. ya hijab, kini aku telah berhijab dan aku selalu berdo’a semoga keputusan yang aku ambil ini bisa istiqomah, aamiin. Pagi itu kuliah seperti biasa.

***

kelas pun usai,

seperti biasa usai kuliah di pagi ini, aku dan shinta langsung ke kantin untuk makan breaklunch, hehe karena sekrang sudah jam 11 pagi, meskipun kita mahasiswa kedokteran yang  tau betapa penting nya makan tepat waktu dan teratur apalah daya kita hanya anak rantau dan anak kosan biasa.hehe

***

1 minggu berlalu dan sangat bnyak peristiwa yang sudah aku lalui dengan begitu banyak hikmah yang dapat aku pelajri setelahnya.

“Assalamualaikum ratna” galih mengirimkan ku sebuah pesan melalui line. Sontak aku kaget saat itu, tidak bisa aku pungkiri pula seketika nadiku berdenyut lebih cepat. Astaufirullah dia mulai mengacaukan pikiranku lagi. Perasaan senang, takut, kaget, galau semuanya bercampur. Ya Allah apa yang harus aku lakukan?

Bismillahiraahmanirrahim, aku letakkan hp ku d di atas meja dan aku tinggal kan untuk membaca materi yang baru aku dapatkan tadi pagi d kampus. Tapi pikiraku sulit fokus tiba-tiba teringat  lagi, seketika aku tepis,, ya Allah kuat kan aku…kemudian aku mulai melanjutkan belajar ku… bebepa menit kemudian aku teringat lagi.. Ya Allah sungguh Engkau lah yang maha membolak balikan hati manusia maka kuat kanlah aku di atas agamamu. Bismillah… dengan hati yang ikhlas dan pasrah hanya kepada Nya, pikiran dan hati ku mulai menjadi tenang dan terkendali. Kemudian aku lanjutkan membaca dengan penuh konsentrasi.

***

Di kampus..

Galih. Ya.. 1 minggu terakhir  ini aku tak melihat batang hidung nya, entah kemana dia.

Saat lewat di depan kelas nya mataku mulai nakal  melirik ke kelasnya dannnnn aku memcoba menyadarkan diriku sendir atas tindakan yang aku lakukan bahwasanya  ini adalah dosa, “astaufirullaah aduuhh tolong kondisikan matamu ratna” aku yang sedang beperang dengan batin ku sendiri. Aku mulai mempercepat langkah kaki ku, eiitss hampir saja aku menabrak sesorang d depan ku. “Eh maaf”

Eh iya gpp, eh ratih. Apa kabr? “ galih meyapaku.

masyaAllah… jantungku jantungku, memompanya semakin keras.

“ee.ee.ee. ini mau k kelas. Owh iya  tanya kabr ya tadi, alhamdulillah kabr baik, kamu gmn?” dengan segala kepanikan yang ada di otakku. eh ratna ngapain kamu nnya balik ayo cepat k kelas.. ini gak boleh,, perang batin ku mulai berbsik

“Owh alhamdulillah aku baikk kok” balasnya lagi

Ratna ayo cepat angkat kaki mu, bisikan itu mulai kudengar kembli

“ee.. owh iya, besok sore  ada kajian di masjid  deket kos mu itu ya?di masjid Al- Falah.  Astaugfirullah ratna, ngapain masih nnya itu kan sudah kamu liat sendiri informasinya.. lagi-lagi bisikan itu.

“owh iya ta? aku belum dapat informasi nya”

“owh gitu,, tema nya bagus kok..hmmmm… kalau begitu aku kelas dulu ya” tampak galih ingin mengatkan sesuatu seketita aku potong dengan berpamitan kembali k kelas.

insyaAllah aku datang bsok sore ratih” sautnya dgn sedikit berteriak karena aku yang sudah mulai meninggalkannya menuju kelas

                                                                        ***

Bsok sore, kerumunan di masjid Al falah sudah tampak di padati manusia yang haus akan ilmu agama. Sempat terbesit di pikiranku agar bisa bertemu dengan galih. Ya Allah apa ini namanya? Aku tidak ingin mencintai hambaMe melebihi dari cintaku padaMu. Oke back to niat ratna, hmm mencoba meluruskan niat itu memang tidak semudah beli tahu tahu goreng ya.

            Ya Allah ceramah ustad salim begitu menyentuh, dalam ceramahnya beliau bekata, tidak ada solusi lain bagi seseorang yang sedang jatuh cinta kecuali menikah, jika belum sanggup menikah maka berpuasalah. Jangan malah mendekati zina dan berperilaku maksiat dengan jalan pacaran, karena diantara hukuman bagi perilaku maksiat adalah hilangnya keberkahan pada umur, rizki, ilmu, amal dan ketaan. Jodoh itu adalah gambaran diri kita, semisal kita sedang memperbaiki diri kita, mungkin saja jodoh kita sedang memperbaiki dirinya juga, kan so sweet. Jodoh itu bukan d dunia aja tapi sampai di akhirat juga. Begitu menyentuh kajian sore itu. Langsung saja aku pulang setelah kajian. Saat langkahku mulai menjauh dari masjid, aku melihat galih sangat terburu-buru pulang sambil menundukkan kepalanya. Aku biarkan waktu itu berlalu.

            Setelah sholat isya’ malam itu ada pesan masuk d hp ku, ternyata galih, isi pesannya  “Assalamualaikum ratna, sebelumnya aku minta maaf atas apa yang sudah aku lakukan padamu baik dari tindakan dan ucapan yang disengaja atau tidak. Aku harap kamu memaafkan itu semua. Memang sebaiknya kita saling memperbaiki diri bukan saling menumpuk dosa. Sekali lagi mohon maaf”

Bersambung……………..

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *


*

− 9 = one