Guruku bernama Ramadhan

oleh: Mukti Mukhtar

14.41. Angka itu tertera pada layar smartphoneku ketika aku membuka mata.  “Sudah hampir waktu Ashar sepertinya” pikirku.

Aku mencoba mengubah posisiku yang tadinya berbaring untuk duduk di pinggiran tempat tidur. Dengan wajah yang masih lusuh, aku memandang keluar jendela kamarku. Tak lama, mataku kembali tertuju pada layar smartphone. Di bawah angka tadi, tertulis “Kamis, 23 April 2020”.

“Jadi sebentar lagi dia akan datang. Seingatku mungkin besok atau lusa dia akan sampai. Apakah tak apa ia datang ditengah kondisi wabah ini?”Tanyaku dalam hati.

 “Allahu Akbar…Allahu Akbar…” Suara adzan dari gawaiku menggema memutus lamunanku. Dengan langkah yang masih sedikit sempoyongan aku beranjak untuk mengambil air wudhu lalu menunaikan kewajibanku.

Tidak seperti dulu, saat ini hampir semua aktifitas harus dilakukan dari rumah. Bahkan shalat berjamaah yang merupakan kewajiban laki-laki muslim sepertiku, juga harus dilakukan di rumah bersama dengan Ayah dan Ibu, beserta satu orang adik perempuanku. Penyakit yang mewabah kehampir seluruh belahan bumi menjadi sebab dari semua perubahan yang terjadi akhir-akhir ini.

Kondisi ini membuatku khawatir dengan kedatangan guruku. Aku takut, guruku tidak bisa membawa pelajaran bagi kami sebagaimana biasanya. Aku takut, pelajaran yang dapat kuambil dari guruku tahun ini berkurang.

 “Kalau saja aku tahu tahun ini akan begini, aku akan mencoba memanfaatkan perjumpaanku tahun lalu dengan guruku lebih serius, terlapas dari pendidikan koas yang kujalani saat itu.” ketusku dalam hati.

Aku masih ingat betul perjumpaanku tahun lalu. Bisa dikatakan perjumpaanku dengan guruku tahun lalu merupakan pengalaman yang baru, karena kebanyakan perjumpaanku harus kuhabiskan di Rumah Sakit akibat kesibukanku sebagai koas kala itu. Walhasil, memang banyak pelajaran baru yang dapat ku petik, tapi aku merasa kalau seharusnya masih banyak yang bisa ku terima waktu itu.

Tiba-tiba lamunanku terputus oleh suara Utami, adikku yang masih duduk dikelas 5 SD.

“Ayah, nanti malam kita mulai shalat tarawihkan?” tanya Utami kepada ayahku yang duduk dihadapannya.

“Insyaa Allah, nak. Tapi tidak seperti tahun-tahun sebelumnya, kita tarawihnya dirumah saja” Jawab ayahku sambil melipat sajadah yang telah ia gunakan lalu beranjak menuju kamar.

“Oh, begitu, yah. Tapi kalau kita shalatnya dirumah saja nanti yang ceramah dan imam tarawihnya siapa, yah?” tanya adikku lagi.

“Tarawih tidak harus ada ceramahnya, nak. Kalau soal imam, biar nanti kakakmu yang jadi imamnya” jawab Ayahku dengan santai.

Deeggg. Mendengar percakapan itu, aku yang tadinya sedikit merasakan kantuk, seketika hilang. Pikiranku tertuju pada kata-kata ayahku tadi.

Saya yang jadi imam tarawih, yah? Kenapa bukan ayah saja?” tanyaku sambil beranjak menghampiri ayahku di kamar.

“Hafalan ayat-ayatmu lebih banyak dari ayah, nak. Nanti ayah yang imam shalat witirnya” jawabnya sambil berlalu meninggalkanku menuju teras rumah.

Aku termenung mendengar jawaban itu. Aku lalu beranjak ke dalam kamarku, menutup pintu dan kembali duduk di pinggiran kasur sembari memandang keluar jendela. Spot yang memang menjadi favoritku sejak dulu untuk merenung dikamarku.

Jawaban ayahku tadi memang ada benarnya. Hafalanku memang sedikit lebih banyak dari Ayahku. Tapi tetap saja, diminta menjadi imam shalat tarawih merupakan permintaan yang cukup berat bagiku. Apalagi ini harus mengimami ayah dan ibuku sendiri. Perasaan untuk takut berbuat salah, takut lupa dan macam-macam ketakutan lainnya mulai berkecamuk dalam pikiranku.

Astagfirullah….” Lirihku mengakhiri lamunan. Aku tersadar.

“Kenapa aku sangat merisaukan perihal ibadah dihadapan orang tuaku, sementara untuk menunaikan shalat sendiri saja aku tak pernah sekhawatir ini. Apakah selama ini aku lebih takut kepada orang tuaku dibandingkan Allah?” pikirku dalam hati.

Astagfirullah…astagfirullah” aku hanya bisa terus beristighfar. Kuakui, aku sedikit tertampar dengan pikiranku tadi.

Aku lalu beranjak ke meja belajar yang berada di samping tempat tidurku, kuambilnya mushafyang tersimpan diatas meja. Aku kembali ke tempat tidur, ku buka lembaran-lembaran mushaf itu satu demi satu, ku perhatikan ayat demi ayat sambil mencoba sedikit mengingatnya di kepalaku. Aku mulai mengulang-ulang kembali hafalanku. Memang benar hafalanku sedikit lebih banyak dibanding ayahku, tapi bukan berarti aku memiliki banyak hafalan. Belum lagi ditambah ayat-ayat yang dulunya sempat terhafalkan, namun mulai hilang akibat aku malas murojaah.

Aku mulai kecewa. Ku hitung ayat-ayat yang masih segar dalam ingatanku.

“Jumlahnya tidak akan cukup untuk tarawih sebulan penuh.” batinku. Aku mulai menyesal, mengapa dulu aku masih sering lalai dalam menambah dan mengulang-ulang hafalanku. Boro-boro untuk mengerti ayat-Nya, hafal tanpa tahu artinya saja sudah cukup buatku kala itu.

Ku tutup Al-Qur’an yang aku pegang, sembari kembali menengok kejauhan melalui jendela kaca. Posisi rumahku yang berada di dataran tinggi membuatku leluasa untuk memandang langit tanpa takut terganggu dengan bangunan-bangunan yang cukup padat di sekitar rumahku. Ku pandangi matahari yang kala itu sudah mulai siap untuk meninggalkan langit. Sambil kembali sedikit meringis dalam hati.

“Ya Allah, apa yang sudah kuperbuat selama ini dengan waktuku”.

Waktu sudah menunjukkan pukul 8 malam, saat pemerintah akhirnya mengumumkan melalui media TV Nasional bahwa malam ini kita sudah diperbolehkan untuk melaksanakan tarawih. Seperti yang sudah direncanakan sebelumnya, akupun menjadi imam untuk tarawih.

Allahu Akbar” ucapku sembari memulai tarawih kami.

Pada tarawih malam ini, aku putuskan untuk membaca satu-dua ayat saja pada rakaat pertama, dan membaca salah satu surah pendek pada rakaat kedua. Begitu seterusnya sampai kami selesai. Hal ini kulakukan karena terbatasnya hafalan ayat yang aku miliki.

Setelah selesai shalat, aku kembali masuk ke dalam kamarku. Ku hempaskan tubuhku ke atas tempat tidur. Sembari berbaring, ku tatap langit-langit dikamarku.

“Ya Allah…memang penyesalan selalu muncul dikemudian hari. Alangkah nikmatnya apabila dengan keadaan seperti ini, aku adalah seorang hafidz Qur’an. Tentu tak perlu lagi mencicil ayat-ayat yang akan ku bacakan dalam shalatku” ucapku lirih.

“ting-tong” ringtone handphoneku terdengar dari seberang kasurku. Kuraihnya gawai itu lalu ku buka pesan yang masuk.

Pesan itu dari Kiki, salah seorang temanku yang sekedar menanyakan kabar. Berhubung akibat pandemi ini sudah sebulan lebih kami tidak bertemu.

Aku membalas pesannya lalu menutup handphoneku. Tapi, salah satu teks pesannya masih menempel di pikiranku.

“Tapi berbagai pelajaran diberikan oleh pandemi ini. Bagi yang mau belajar, banyak sekali pelajaran yang bisa diambil. Tapi bagi yang suka mendumel cuman dapat sia-sia saja” katanya saat kami sedikit membahas tentang dampak wabah ini.

“Eh, iya ! Benar juga yang Kiki katakan.” Ucapku spontan, ketika terus memikirkan kata-kata kiki di DM Instagram tadi. Lamunanku pecah. Aku menyadari sesuatu yang sangat penting.

Sejak sore tadi, aku terus meresahkan apakah guruku tahun ini datang dengan pelajaran yang banyak. Aku takut, kalau pelajarannya tahun ini akan terganggu karena adanya pandemi.

Nyatanya aku salah. Aku memandang pandemi ini dari sudut yang keliru. Justru, pandemi ini membuat pelajaran yang diberikan guruku menjadi semakin banyak. Buktinya adalah hari ini. Aku sudah diberikan pelajaran yang sangat berharga tentang waktu.

Pelajaran tentang bagaimana memaksimalkan waktu yang sudah Allah percayakan untuk hal-hal yang positif. Pelajaran tentang bagaimana Maha Kuasa-Nya Allah, yang dengan ciptaan-Nya mampu merubah keadaan menjadi benar-benar berbeda dari biasanya. Semua pelajaran ini, seperti kata temanku tadi hanya bisa didapatkan “…bagi orang yang mau belajar…”.

Aku bangkit dari tempat tidurku. Ku ambil mushaf, yang ada diatas meja belajar. Ku buka lagi lembarannya satu-persatu. Tapi kali ini niatnya beda. Aku tak mau lagi menyia-nyiakan waktu yang ada.

“Aku pasti bisa, aku harus menjadi lebih baik. Aku tidak mau ketinggalan pelajaran sedikitpun tahun ini” kataku membulatkan tekad dalam hati. Aku tak mau lagi membuang peluang untuk bertemu dengan guruku. Akupun makin semangat untuk menanti tiga puluh hari kedepan yang akan kujalani dengan guruku.

Guruku sudah tiba. Tarawih malam hari ini adalah penanda bahwa ia telah sampai. Guruku bernama Ramadhan.

Like
Like Love Haha Wow Sad Angry
3

Leave a Reply