Etika Bermedia Sosial

Teknologi informasi dan komunikasi saat ini berkembang pesat. Lahirnya media digital berbasis media sosial seperti

whatsappline, facebookinstagram, skype, dan lainnya turut mempengaruhi perilaku masyarakat dalam berinteraksi dan berkomunikasi.

Dalam menggunakan media sosial ada sisi baik dan buruknya. Sisi baiknya yaitu memudahkan dalam berkomunikasi tanpa mengenal jarak dan waktu. Sisi buruknya banyak sekali informasi palsu alias hoax yang bertebaran. Hal ini tentu akan menjerumuskan kita ke dalam dosa jika ikut serta menyebar luaskan atau sekadar mengobrolkan dengan orang lain (gosip). Untuk itu kita harus mengetahui bagaimana  agar tidak terjerumus dalam perbuatan dosa dalam menggunakan media sosial.

Rasulullah SHallallahu ‘alaihi Wassalam bersabda:

“Apakah kalian mengetahui apa itu ghibah? Mereka (para shahabah) menjawab: Allah dan Rasul-Nya lebih mengetahui. Rasulullah saw melanjutkan: Engkau menyebut (membicarakan) saudaramu tentang sesuatu yang ia benci. Shahabah bertanya: Bagaimana jika yang ku bicarakan itu memang benar adanya? Rasulullah menjawab: Jika yang kamu ceritakan itu memang benar, maka kamu telah melakukan ghibah. Akan tetapi jika yang kamu ceritakan itu tidak benar, maka kamu telah berbohong.” (H.R. Muslim)

Mirisnya penggunaan media sosial sekarang ini banyak yang menyimpang dan digunakan untuk menebar fitnah justru tidak akan membawa manfaat. Dalam islam hal tersebut sangat dilarang dan sudah tercantum dalam Al-qur’an :

“Hai orang-orang yang beriman, jauhilah kebanyakan prasangka (kecurigaan), karena sebagian dari prasangka itu dosa. Dan janganlah mencari-cari keburukan orang dan janganlah menggunjingkan satu sama lain. Adakah seorang diantara kamu yang suka memakan daging saudaranya yang sudah mati? Maka tentulah kamu merasa jijik kepadanya. Dan bertakwalah kepada Allah. Sesungguhnya Allah Maha Penerima Taubat lagi Maha Penyayang.” (Q. S. Al-Hujurat ayat 12)

Atas permasalahan di atas, Komisi Fatwa Majelis Ulama Indonesia (MUI) mengeluarkan Fatwa No. 24 Tahun 2017 tentang Hukum dan Pedoman Bermuamalah Melalui Media Sosial. Fatwa ini mengatur dan memberikan pedoman kepada masyarakat, khususnya umat Islam, tentang bagaimana tata cara penggunanan media digital berbasis media sosial secara benar berlandaskan kepada kepada Al-Quran, Sunnah dan pendapat para sabahat Rasulullah, serta pakar teknologi informasi dan komunikasi. Menurut Fatwa tersebut, dalam berinteraksi dengan sesama, baik secara riil maupun media sosial, setiap muslim wajib mendasarkan pada keimanan dan ketakwaan, kebajikan (mu’asyarah bil ma’ruf), persaudaraan (ukhuwwah), saling wasiat akan kebenaran (al-haqq) serta mengajak pada kebaikan (al-amr bi al-ma’ruf) dan mencegah kemunkaran (al-nahyu ‘an al-munkar).

Interaksi melalui media sosial hendaklah digunakan untuk mempererat ukhuwwah  (persaudaraan), baik  ukhuwwah Islamiyyah  (persaudaraan ke-Islaman), ukhuwwah wathaniyyah  (persaudaraan kebangsaan), maupun ukhuwwah insaniyyah  (persaudaraan kemanusiaan) serta juga guna memperkokoh kerukunan, baik antar umat beragama, maupun antara umat beragama dengan Pemerintah.

Fatwa tersebut atas sangat layak untuk diapresiasi seiring dengan begitu maraknya peredaran berita dan informasi yang mengandung kebohongan, hoax, fitnah, ghibahnamimah, gosip, memutarbalikan fakta, ujaran kebencian, permusuhan, dan fitnah kebencian tersebar dimedia sosial. Hendaknya kita sebagai umat islam harus mengetahui interaksi dalam media sosial yang berpedoman pada Al-Quran dan Hadits.

 

REFERENSI

Media Sosial Menurut Islam dan Dalilnya. Diakses pada : 28 Maret 2018 [https://dalamislam.com/info-islami/media-sosial-menurut-islam/amp]

INTERAKSI MELALUI MEDIA SOSIAL DALAM PANDANGAN ISLAM. Diakses pada : 28 Maret 2018 [http://business-law.binus.ac.id/2017/06/30/interaksi-melalui-media-sosial-dalam-pandangan-islam/]

 

 

Like
Like Love Haha Wow Sad Angry
1

Tinggalkan Balasan