Cerdas Menyikapi Media

Media, dalam arti harfiahnya berarti sebuah perantara untuk menyampaikan informasi atau pesan.

Informasi yang disalurkan media pun bisa bermacam-macam. “Pisau bermata dua” begitulah kira-kira ungkapan yang cocok untuk menggambarkan media, yang bisa mendatangkan kebaikan maupun keburukan dalam satu waktu sekaligus.

 

Teringat masa lalu, dimana media–terutama media elektronik–belum berkembang seperti saat ini. Anak-anak begitu aktifnya bermain bersama, bergerak lincah main kejar-kejaran, masif berkumpul main kelereng *eh. Sungguh semua itu adalah hal yang bagus untuk perkembangan sosialisasi mereka. Berbeda dengan saat ini, media dengan perkembangannya menjadikan anak-anak lebih pasif berinteraksi, selain itu dengan media elektronik, anak-anak  dapat menerima informasi apapun,  tanpa terkecuali informasi yang seharusnya belum pantas “dilahap” oleh mereka. Yang mana hal itu bisa mengakibatkan rusaknya moral anak tersebut, “na’udzubillah”.

 

Namun, peran media dalam menebarkan kebaikan juga tidak bisa dipungkiri. Dimana pada zaman ini, kemudahan untuk menuntut ilmu agama baik melalui media cetak maupun elektronik amat terasa. Kajian-kajian Islam bisa merambah seantero penjuru dunia dan bisa dinikmati oleh siapa saja, tanpa dibatasi jarak maupun waktu.

 

Itulah gambaran dari “pisau bermata dua” media. Jika demikian adanya, bagaimanakah seharusnya kita sebagai muslim bersikap? Apakah harus menutup mata dari berbagai media tersebut? ataukah sebaliknya, menerima mentah-mentah segala apa yang diberikan tanpa menyeleksinya?

 

Bertindak Cerdas

 

            Tentu saja, seorang muslim harus bertindak cerdas dalam menyikapi media. Cerdas dalam arti pintar melandaskan sikapnya sesuai ajaran Islam, yakni Al-Qur’an & sunnah.  Rasululllah Shallahu ‘Alaihi Wasallam pernah ditanya oleh sahabat tentang orang cerdas, yakni :

Artinya

Ya Rasulullah, orang mukmin manakah yang paling utama?” Beliau menjawab, “Orang yang paling baik akhlaknya”. Kemudian ia bertanya lagi, “Mukmin manakah yang paling cerdas?” Beliau menjawab, “Orang yang paling banyak mengingat mati dan paling baik persiapannya untuk menghadapi kehidupan setelah mati. Mereka itulah orang-orang yang paling cerdas“. (HR. Thabrani & Ibnu Majah)

 

 

            Dalam konteks hadis tersebut, orang yang cerdas adalah orang yang banyak mengingat mati dan paling baik mempersiapkan kehidupan akhiratnya. Salah satu cara mempersiapkan kehidupan di akhirat adalah menyikapi media dengan baik dan teliti. Karena berita dapat mempengaruhi tingkah laku dan pola pikir seseorang yang membacanya, serta dampak lainnya bisa jadi akan mempengaruhi kualitas ibadah orang tersebut.

 

Oleh karena itu, penting sekali untuk dapat memilah-milah berita yang baik dengan cerdas agar dapat termasuk orang yang cerdas sesuai kriteria hadis tersebut.

 

Bijak dengan Tabayyun

 

Tabayyun dalam bahasa berarti mencari kebenaran tentang sesuatu hingga jelas dan benar keadaannya. Allah berfirman dalam Al-Qur’an:

Artinya

Hai orang-orang yang beriman, jika datang kepadamu orang fasik membawa suatu berita, maka periksalah dengan teliti agar kamu tidak menimpakan suatu musibah kepada suatu kaum tanpa mengetahui keadaannya yang menyebabkan kamu menyesal atas perbuatanmu itu”.

 

Dalam ayat di atas, Allah Subhanahu Wa Ta’ala memerintahkan agar selalu bertabayyun dalam mencari kebenaran dari apa yang telah kita dengar, karena memang disitulah setan dengan liciknya menggoda iman kita untuk langsung menghakimi sesuatu yang belum tentu benar kabarnya.

 

Sudah diketahui bahwa prinsip tabayyun adalah sikap berhati-hati untuk mengecek ulang kembali berita yang telah  diterima. Apalagi masa sekarang merupakan sebuah masa dimana informasi begitu terbuka, diibaratkan kita tinggal mengklik suatu tautan di internet dan dengan mudahnya kita akan mendapatkan informasi yang kita inginkan. Sehingga, masyarakat dengan mudahnya sharing suatu tautan tanpa melihat dan menelusuri sumbernya, tanpa hendak mencari tahu apakah itu benar atau hanya berita bohong semata, na’udzubillah.

 

Dengan demikian, sudah seharusnya kita untuk bertabayyun terlebih dahulu sebelum meyakini sebuah informasi. Sehingga, kita bisa memilah dan memilih mana yang bermanfaat dan mana yang yang berbahaya. Lalu mengambil yang bermanfaat serta meninggalkan yang berbahaya.

 

Semoga Bermanfaat

Wallahu A’lam Bishshowab

 

 

Referensi

 

 

 

 

 

Like
Like Love Haha Wow Sad Angry

Tinggalkan Balasan