Aku dan Masa Laluku

 

“Every saint has a past, and every sinner has a future.”-Oscar Wilde

Sebuah kutipan sederhana yang tidak sengaja ku lihat saat asik scrolling di media sosial. Aku pun terdiam beberapa saat memandangi layar hp. Pikiran ku melayang. Apa benar aku yang seperti ini memiliki masa depan?

Read More

Penyatu Keputusan

Suatu waktu di hari yang cerah, tepatnya pukul 14.00 diadakan rapat penentuan tema Dies Natalis di aula kampus. Aula ini memang ber-AC, tapi rasanya suasana disini tidak kalah dengan terik matahari diluar. Panas.

Mengapa panas? Bagaimana tidak, semua panitia telah terbagi menjadi beberapa kubu. Rapat yang seharusnya menyatukan pemikiran malah menjadi ajang mementingkan ego dan mempertahankan pendapatnya masing-masing. Ada yang mau bertemakan budaya Indonesia, ada yang mau temanya tentang profesi, sampai ada yang menyampaikan tema super hero karena katanya lagi tren banget saat ini.

Semua menjadi semakin semrawut karena sepertinya sang ketua pelaksana pun juga tidak mau kalah dengan idenya. Sedangkan aku? Ah aku mau rapat ini cepat berakhir. Cukup lama rapat ini berlangsung hingga tidak terasa adzan Ashar berkumandang. Kata mufakat belum juga didapat.

Semua yang ada di Aula terdiam.

Ketua Pelaksana yang juga menjadi pemimpin rapat hari ini, mengatakan rapat ditunda sampai selesai shalat Ashar. Aku hanya bisa berucap syukur, Alhamdulillah, akhirnya aku bisa keluar dari aula ‘pengap’ ini. Kami pun berjalan menuju masjid kampus yang tidak terlalu jauh dari gedung aula tempat kami rapat.

Seusai sholat, ada sedikit ceramah dari ustadz yang menjadi Imam sholat Ashar tadi. Entah kenapa, isinya agak sedikit menyinggung.  Iya, menyinggung.  Khususnya para peserta rapat tadi. Ustadz tersebut memaparkan isi salah satu surah Ali Imran ayat 103 yang artinya:

“Dan berpeganglah kamu semuanya kepada tali (agama) Allah, dan janganlah kamu bercerai-berai”. QS. Ali Imran: 103

Aku termenung. Rasanya ayat Al-Qur’an itu salah satu teguran Allah untukku, kuharap teman-temanku yang lain juga menyadarinya, menyadari bahwa Allah sedang menyinggung kami. Sepulang dari masjid, rapat pun dilanjutkan. Namun, suasananya terasa berbeda. Tidak terasa lagi aura ‘panas’ seperti sebelumnya. Kami-para panitia lebih mau mendengarkan pendapat yang lain, tidak melulu menyela secara sembrono ketika yang lain tengah bersuara.

Pemimpin rapat pun sudah mengerti bagaimana cara mendapatkan keputusan terbaik. Dia tidak lagi ikut memaksakan kehendaknya dan dia mengarahkan rapat dengan sangat baik. Musyawarah lebih dikedepankan dengan pertimbangan yang matang, bukan hanya menguntungkan satu pihak melainkan dengan menyelaraskan kebaikan untuk khalayak. Akhirnya didapatkanlah keputusan tema Dies Natalis yang disetujui oleh semua peserta rapat.

Pada hakikatnya ketika sebuah perkumpulan hendak memutuskan suatu perkara, maka dengan musyawarahlah jalan terbaiknya. Musyawarah ada untuk menyatukan, bukan untuk mencerai berai.

Dan semua keputusan, kepada Allah-lah harus dikembalikan.

Begitupula dengan umat Islam, jika umat saling bercerai berai maka runtuhlah rasa persatuan dan kesatuan yang merupakan ciri kemunduran keimanan pada seseorang. Bandingkan jika umat Islam bersatu, mampu meredam ego pribadi, dan mementingkan kepentingan umat Islam, maka bukan tidak mungkin jika Islam kembali memasuki era kejayaannya, menghapuskan kemungkaran dari muka bumi. Bersatunya umat Islam merupakan cita-cita seluruh muslim yang dapat dimulai dari hal kecil seperti dalam kisah di atas. Membiasakan diri mengedepankan kebaikan demi khalayak meskipun meredam kehendak pribadi, tidak salah bukan?

Islam itu Indah!

            Islam itu Indah….

Ya benar sekali, Islam itu adalah agama yang sangat indah, menjunjung keadilan, kedamaian, dan ketenteraman. Islam itu adalah agama Rahmatan Lil’alamin yang berarti rahmat seluruh alam, juga merupakan agama yang diakui oleh Allah subhanahu wa ta’ala sebagai agama yang paling sempurna sampai hari kiamat kelak.

Sudah tau sendiri kan kalau Islam itu adalah agama yang damai, tidak saling menyakiti antar sesama umat muslim maupun umat beragama lain. Penyebaran agamanya pun tidak melalui kekerasan ataupun paksaan. Dalam perjalanannya, Nabi Muhammad ﷺ menyebarkan agama Islam selama berpuluh-puluh tahun, ada yang secara sembunyi-sembunyi maupun terang-terangan pada masyarakat luas. Nabi Muhammad ﷺ tidak pernah sekalipun memaksakan orang-orang yang telah ia sampaikan ajaran tentang Islam untuk bersegera mungkin masuk Islam. Namun, beliau berserah diri pada Allah ﷻ agar membukakan pintu hati mereka agar senantiasa diberikan hidayah dalam memilih agama yang benar.

Pada zaman sekarang, dimana kejahatan sudah merajalela, miris ketika kita melihat saudara kita sesama muslim harus berjuang mempertaruhkan nyawanya untuk mempertahankan keimanan yang ia yakini sepenuh hati. Mereka bersatu atas nama Allah ﷻ, membela diri mereka dan terus mempertahankan apa yang mereka anut. Persatuan umat sangat dibutuhkan, saling bahu-membahu dan menguatkan keyakinan karena tanpa itu mungkin saja Islam telah habis terkikis zaman.

Lalu bagaimana dengan kita muslim di Indonesia-negara dengan mayoritas muslim terbanyak di dunia? Tidakkah seharusnya kita malu pada muslim di negara yang tengah berperang? Mereka bersatu melawan kedzaliman musuh-musuh Islam yang siap kapan saja menghancurkan Islam. Kita bagaimana? Bukankah seharusnya kita bersatu agar menegakkan Islam kembali menuju puncak kejayaannya seperti berabad-abad lalu?

Sebagai muslim yang mengaku muslim zaman now, seharusnya kita bisa lebih cerdas dalam menanggapi segala tipu muslihat yang disebarkan oleh musuh Islam, berikut beberapa langkahnya:

Pertama, seorang muslim yang cerdas harus bisa menyaring berita-berita yang mengatasnamakan Islam. Pilah dan pilih mana berita yang benar, selain itu kita juga harus mengecek kebenaran berita itu pada situs-situs yang terpercaya sebelum kita menyebarluaskannya. Ingat, kita sekarang berada di zaman milenial dimana informasi sekecil apapun dapat dengan mudah menyebar hanya dengan menekan layar handphone. Jangan sampai kita menjadi pelaku penyebar HOAKS.

Kedua, jangan terhasut dengan omongan-omongan orang untuk mencelakakan umat agama lain. Ingat Islam itu damai, tidak ada satu pun ayat Allah yang menyatakan bahwa muslim itu boleh mencelakakan orang-orang yang tidak bersalah. Pada zaman Rasulullah saja, beliau tidak pernah membalas perilaku seorang pengemis non-muslim yang setiap harinya mencaci maki beliau bahkan sampai melemparkan kotoran pada beliau. Rasulullah malah menjenguk pengemis itu ketika sedang sakit, tidak ada perasaan dendam sedikitpun padanya.

Ketiga, mempercayai bahwa ajaran Islam adalah satu-satunya. Tidak ada ajaran lain yang menyamai Islam. Tolak dengan tegas jika ada orang yang mengajarkan ajaran Islam tidak sesuai dengan Al-Qur’an dan As-Sunnah, karena semua pengajaran tentang berkehidupan tertuang dalam dua sumber tersebut, seperti yang tertuang dalam QS. An-Nisa : 59

يَاأَيُّهَا الَّذِينَ أمَنُوا أَطِيعُوا اللهَ وَأَطِيعُوا الرَّسُولَ وَأُوْلِى اْلأَمْرِ مِنكُمْ فَإِن تَنَازَعْتُمْ فِي شَىْءٍ فَرُدُّوهُ إِلَى اللهِ وَالرَّسُولِ إِن كُنتُمْ تُؤْمِنُونَ بِاللهِ وَالْيَوْمِ اْلأَخِرِ ذَلِكَ خَيْرُُ وَأَحْسَنُ تَأْوِيلاً

Artinya: “Hai orang-orang yang beriman, taatilah Allah dan taatilah Rasul(Nya), dan ulil amri diantara kamu. Kemudian jika kamu berlainan pendapat tentang sesuatu, maka kembalikanlah ia kepada Allah (Al-Qur’an) dan Rasul (sunnahnya), jika kamu benar-benar beriman kepada Allah dan hari kemudian. Yang demikian itu lebih utama (bagimu) dan lebih baik akibatnya.”

Keempat, menuntut ilmu syar’i dan mendalami agama dari ahlinya. Hal ini dapat dilakukan dengan mengikuti sunnah Rasulullah ﷺ dan para sahabatnya yang dapat dijalankan dengan bimbingan para ulama yang lurus aqidahnya, terpercaya amanahnya, dan agamanya. Bergaul dengan ahli ilmu, meneladani akhlak, mengambil ilmu mereka dengan manhaj yang lurus merupakan langkah untuk menjaga persatuan umat dan menjauhi perpecahan.1

Dari sekarang kita harus menjadi muslim yang cerdas dan tidak terhasut oleh musuh-musuh Islam yang ingin memecah belah persatuan umat. Kita sebagai muslim zaman now seharusnya tidak hanya melek teknologi tetapi juga peduli dengan Islam dan bisa menjadi salah satu bagian dari umat yang mengembalikan keberjayaan Islam di masa depan, mewujudkan ungkapan bahwa Islam itu memang agama yang indah dan damai. Aamiin ya Rabbal ‘alamin.

Semoga bermanfaat, Wallahu A’lam Bishshowab

 

Sumber:

  1. Al-Atsari, Muslim. Bersatulah dan jangan berpecah belah. Muslim.or.id. 2011, 21 Sept. Available from: https://muslim.or.id/6884-bersatu-dan-jangan-berpecah-belah.html

Persatuan Umat Islam

Bismillahirrahmanirrahim

Islam memerintahkan kita untuk bersatu dan melarang kita untuk berpecah belah sesama umat islam. Allah melarang kita berpecah belah dan berselisih seperti orang-orang sebelum kita yang akibatnya mereka celaka dan binasa. Perbedaan masalah prinsip agama/akidah terlarang bagi umat islam, perbedaan yang bersifat substansional yang memiliki dasar agama atau mengikuti imam mahdzab ini ranahnya untuk saling menghormati. Ketika sebagian manusia mengedepankan perbedaan substansional tanpa ingin belajar maka akan mengakibatkan saling bermusuhan dan menciptakan keretakan dalam umat.

Allah ta’ala berfirman, “Dan berpeganglah kamu semuanya kepada tali (agama) Allah, dan janganlah kamu bercerai-berai, dan ingatlah akan nikmat Allah kepadamu ketika dahulu (masa Jahiliyah) bermusuh-musuhan, maka Allah mempersatukan hatimu, lalu menjadilah kamu karena nikmat Allah orang-orang  yang bersaudara.” (QS. Ali Imran:103)

Dalam menafsirkan ayat ini, perkataan Al-Qurhubi rahimahullah menjadi jelas bagi kita, bahwa langkah menuju persatuan yaitu dengan berpegang kepada kitab Allah dan Sunnah Nabi-Nya, baik dalam keyakinan maupun perbuatan. Dan jika terjadi perselisihan, maka dikembalikan kepada keduanya.

Allah ta’ala juga berfirman, “dan bahwa (yang Kami perintahkan) ini adalah jalanKu yang lurus, maka ikutilah dia; dan janganlah kamu mengikuti jalan-jalan (yang lain), karena jalan-jalan itu mencerai-beraikan kamu dari jalanNya. Yang demikian itu diperintahkan Allah kepadamu agar kamu bertaqwa.(QS. Al An’am:153)

Menjelaskan firman Allah: “dan janganlah kamu mengikuti jalan-jalan (yang lain); Syaikh Abdurrahman bin Nashir As Sa’di berkata,”Yaitu jalan-jalan yang menyelisihi jalan ini.” (Firman Allah: karena jalan-jalan itu mencerai-beraikan kamu dari jalanNya), yaitu akan menyesatkan dan mencerai-beraikan kamu dari-Nya. Maka jika kamu telah sesat dari jalan yang lurus, maka di sana tidak ada lagi, kecuali jalan-jalan yang akan menghantarkan menuju neraka jahim.” (Taisir Karimir Rahman).

Dari firman Allah diatas dapat ditarik kesimpulan bahwa untuk menjaga persatuan umat Islam ialah dengan berpegang teguh dalam agama Islam sampai mati, dan berlepas diri dari selainnya dan peganglah pedoman yang utama yaitu Al-Quran dan As Sunnah berdasarkan pemahaman para sahabat.

Dengan melihat kenyataan sekarang bahwa perpecahan umat Islam sedikit demi sedikit nampak di permukaan, kita yang merupakan bagian kecil dari umat ini calon generasi penerus bisa sedikit demi sedikit bergerak dengan hal berikut ini :

  1. Memutuskan sesuatu dengan sumber utama yaitu Al-Quran dan As Sunnah dan melibatkan Allah dalam pengambilan keputusan:

 

Allah berfirman :

Hai orang-orang yang beriman, ta’atilah Allah dan ta’atilah Rasul(Nya), dan ulil amri diantara kamu. Kemudian jika kamu berlainan pendapat tentang sesuatu, maka kembalikanlah ia kepada Allah (Al Qur’an) dan Rasul (sunnahnya), jika kamu benar-benar beriman kepada Allah dan hari kemudian. Yang demikian itu lebih utama (bagimu) dan lebih baik akibatnya. (QS. An Nisa : 59).

 

  1. Menuntul ilmu agama dari ahlinya :

Dalam menuntut ilmu apapun kita harus belajar dan berguru kepada orang yang ahli dalam ilmu tersebut, termasuk juga ketika kita ingin menuntut ilmu agama agar tidak tersesat dan salah menafsirkan ayat atau hadist kita harus berguru kepada orang yang ahli dan keilmuannya terjaga sampai kepada Rasulullah ﷺ

 

Allah berfirman :

Maka bertanyalah kepada orang yang mempunyai pengetahuan jika kamu tidak mengetahui,(QS. An-Nahl:43)

 

Bagi yang masih belum mengerti mengenai suatu urusan maka belajarlah dan bertanyalah kepada orang yang tepat dan tidak membuat atau mengadakan suatu perkara baru dalam agama.

Dari Aisyah R.A, bahwa Rasulullah ﷺ bersabda,“Barangsiapa membuat perkara baru di dalam urusan kami ini apa-apa yang bukan darinya, maka perkara itu tertolak.” (HR Bukhari dan Muslim)

Persatuan umat Islam adalah cita-cita bersama yang ingin kita wujudkan. Dengan persatuan umat islam maka umat ini akan kokoh dan akan mempermudah bagi umat ini untuk mendapatkan ridho Allah.

Juga dalam Shahih Bukhari dan Muslim, dari Abu Musa Al Asy’ari, dari Nabi, beliau bersabda,

Seorang mukmin terhadap orang mukmin yang lain seperti satu bangunan, sebagian mereka menguatkan sebagian yang lain, dan beliau menjalin antara jari-jarinya.

Semoga Allah memperbaiki keadaan kaum muslimin di Indonesia dan semoga Indahnya Islam dapat tersebar ke bumi nusantara ini. Sesungguhnya Dia Maha Mendengar doa dan Maha Kuasa terhadap segala sesuatu. Alhamdulillahi Rabbil ‘alamiin.