HR. Bukhari

Dari Abu Hurairah r.a. Nabi SAW bersabda, “Iman mempunyai lebih dari enam puluh cabang. Dan malu adalah salah satu cabang dari iman.”

HR. Muslim

“Barang siapa berjalan untuk menuntut ilmu maka Allah akan memudahkan baginya jalan ke surga”

Kebebasan Wanita

Emansipasi wanita seolah-olah mengisyaratkan bahwa wanita perlu kebebasan. Ia menuntut persamaan antara hak kaum wanita dengan hak kaum pria. Ia merasa berada pada kedudukan sosial ekonomi yang rendah dan dalam kekangan hukum yang membatasi kemungkinan untuk berkembang dan maju.

Pada masa jahiliyah dahulu, kelahiran anak perempuan tidaklah diharapkan. Membesarkannya berarti menanggung kehinaan seumur hidup. Karena itu banyak orangtua yang memilih menguburkannya hidup-hidup di dalam tanah.

“Dan apabila salah seorang dari mereka diberi kabar dengan kelahiran anak perempuannya, hitam padamlah mukanya, dan dia sangat marah. Ia menyembunyikan dirinya dari orang banyak karena (terasa) buruknya berita yang disampaikan kepadanya. Apakah ia akan memeliharanya dengan menanggung kehinaan, ataukah ia harus menguburkannya di dalam tanah hidup-hidup? Ketahuilah..! Alangkah buruknya apa yang mereka tetapkan itu!” (QS An-Nahl [16]: 58-59)

Dengan turunnya ayat tersebut, Allah membebaskan kezaliman terhadap hak hidup wanita, tiada lagi yang menanggung kehinaan karena memiliki anak perempuan. Lihatlah sekarang, betapa banyaknya wanita di muka bumi.

Mengenai kesetaraan antara hak wanita dan pria, sebenarnya apa ya yang diinginkan para penggiat emansipasi wanita? Apakah buang air kecil dengan berdiri termasuk dari keinginan mereka?Bukankah Allah sudah membagi peran wanita dan pria dengan adil sesuai dengan kodratnya? Lagipula adil bukan berarti sama rata, tetapi sesuai dengan proporsi.

@Muslimah DEW 4

Jika dalam beberapa hal pria terlihat lebih beruntung dibandingkan dengan wanita, contohnya dalam aturan waris, sungguh sama sekali tidak demikian.

“Allah mensyariatkan bagi kalian untuk anak-anak kalian. Yaitu bahagian anak laki-laki sama dengan bahagian dua orang anak perempuan.” (QS An-Nisa [4]: 11)

Pria memiliki kewajiban-kewajiban yang harus dipenuhinya. Kewajiban membayar mahar, kewajiban menafkahi istri dan anak, kewajiban membayar tebusan dan denda untuk menjamin keselamatan keluarganya, dan kewajiban memberikan nafkah kepada orang-orang yang kesulitan hidup, lemah, dan tidak berdaya mencari nafkah dalam keluarga besarnya, dimulai dengan kerabat yang paling dekat. Sedangkan wanita tidak memiliki kewajiban-kewajiban itu.

Mengenai pembatasan untuk berkembang dan maju, saya sama sekali tidak setuju. Ingatlah bahwa ‘Umar ibn Al Khaththab mengangkat Syifa’ binti ‘Abdullah Al ‘Adawiyah sebagai kepala jawatan pengawas pasar di khilafahnya. Banyak pula wanita-wanita generasi salaf yang mencontohkan kiprahnya di berbagai lapangan kehidupan. Baik itu di rumah, dalam syiar-syiar ibadah, dalam haji, di tengah masyarakat, di ranah profesi, di majelis ilmu, di medan dakwah, bahkan di ranah politik. Penjelasan atas kesemuanya bisa ukhti lihat di buku Agar Bidadari Cemburu Padamu karya Salim A. Fillah.

“Apakah di dalam hati mereka ada penyakit, ataukah karena mereka ragu-ragu? Ataukah mereka takut kalau-kalau Allah dan RasulNya akan berlaku zalim kepada mereka? Sebenarnya mereka itulah orang-orang yang zalim.” (QS An-Nur [24]: 50)

Buka hatimu ya shalihah..

Kartini, Dulu dan Kini

Surat kartini kepada prof. Anton dan nyonya, 4 okt 1902: “kami disini memohon diusahakan pengajaran dan pendidikan untuk anak perempuan. Bukan sekali kali karena kami menginginkan anak perempuan menjadi saingan laki laki,  tapi karena kami yakin pengaruhnya yang sangat besar sekali terhadap kaum wanita. Agar wanita lebih cakap melakukan kewajibannya. Kewajiban yang diserahkan alam sendiri kedalam tangannya. Menjadi ibu, pendidik manusia yang pertama-tama.”

Perayaan kartini, seharusnya, tidak semata seremoni mengenakan kebaya dan bersanggul sambil menghamburkan uang. Tetapi kembali menghayati keinginan kartini untuk perempuan indonesia yang lebih cerdas dan mandiri dalam kehidupannya, namun tetap tanpa melupakan kodratnya. Menjadi kartini berarti menjadi wanita yang peka terhadap keluarga dan lingkungannya. Tidak hanya mengeluh namun menjadi bagian dari solusi. Menjadi kartini berarti menjadi wanita indonesia yang berdaya juang tinggi dan selalu berkeinginan menjadi pribadi yang lebih baik. Karena kemajuan suatu bangsa ditentukan oleh perempuan-perempuannya. Jika cerdas perempuannya, maka majulah bangsa itu. Jika bobrok perempuannya, maka hancurlah negara itu.

Kartini, Dewi sartika, Cut nyak dien dan pahlawan pahlawan wanita Indonesia saat ini pun tetap harus berjuang memerdekakan dirinya dengan caranya sendiri. Karena hanya diri sendiri (dan dengan seizin Allah) yang dapat membantu, tanpa perlu bergantung pada manusia lain.

Surat kartini kepada Ny. Abandon, 1 Aug 1903, ”Ingin benar saya menggunakan gelar tertinggi, yaitu hamba Allah (abdullah)”

Surat kartini kepada Ny. Ovink, okt 1900, “Siapa yang sesungguhnya mengabdi kepada Allah, tidak terikat kepada seorang manusia pun, ia sebenar benarnya bebas”

 

Minadzhdzhulumati ilaan nuur-Door Duiternis tot Licht-Dari Gelap Menuju Terang

 

Irma Kamelia, dr.
P&K DEP 2008/2009
Dosen FK Unpad