Cara Menyikapi Media

Di era globalisasi seperti saat ini, media sosial laksana sebilah pedang yang dapat

mendatangkan manfaat dan dapat pula mendatangkan malapetaka (mudharat). Sebilah pedang dapat bermanfaat jika jatuh pada tangan orang yang baik. Sebaliknya, sebilah pedang akan mendatangkan mudharat ketika jatuh pada tangan penjahat. Saat ini, segala sesuatu dalam kehidupan tak luput dari pengaruh teknologi. Sekitar 20 tahun yang lalu sebuah karya manusia tercipta yaitu Internet. Di dalam internet terdapat banyak informasi positif, tapi tidak sedikit pula informasi negatif.

Media sosial laksana sebuah bejana yang bisa menampung apa saja. Bisa berisikan air segar yang mendatangkan kesejukan, bisa juga berisikan api yang mendatangkan malapetaka. Baik buruknya konten media sosial bergantung yang mengisinya. Jika yang mengisinya orang baik, maka baiklah media sosial. Sebaliknya jika yang mengisinya orang yang buruk, buruk pulalah media sosial.

Menyikapi media sosial bagaikan karakter ikan di laut. Dia tetap tidak asin, walaupun air laut rasanya asin. Ternyata ini bisa terjadi, yakni ikan tidak asin, karena ikan yang ada di laut dalam kondisi hidup. Hal ini berbeda dengan ikan mati yang ada di laut, pasti dia akan asin, karena terkontaminasi air laut. Dalam konteks ini, media sosial tidak akan memberi dampak buruk bagi seseorang jika orang itu hidup (berilmu). Sebaliknya, media sosial akan berpengaruh buruk jika jatuh pada orang ‘mati’ (tidak berilmu).

Beberapa cara yang dapat dilakukan agar kita dapat menyikapi media sosial saat ini:

  1. Berilmu

Seorang yang berilmu, ketika mendapatkan informasi, tidak akan ditelan mentah-mentah, melainkan dikritisi terlebih dahulu. Ilmu adalah pengetahuan yang tersusun secara rasional dan sistematis. Hal ini akan berdampak pada orang yang memiliki ilmu, yaitu bertindak secara rasional dan sistimatis.

  1. Beriman

Orang yang beriman dalam tindakannya akan mengedepankan moral dan akhlak. Orang yang beriman akan berfikir “tidak semua yang benar itu baik disampaikan”. Hal ini menggiring orang beriman untuk berhati-hati dalam menyampaikan dan menerima sebuah informasi. Orang beriman dalam menerima dan menyampaikan sebuah gagasan atau ide di media sosial akan mengedepankan kemaslahatan umum (maslahatul musrsalah). Hal-hal yang sifatnya menyudutkan golongan, atau membela golongan akan dikesampingkan. Orang beriman ketika mendapatkan informasi tidak langsung ditelan mentah, melainkan crosscheck (tabayyun) terlebih dahulu.

  1. Dapat membedakan Informasi

Sebenarnya ini dapat dikategorikan dalam sikap berilmu. Dalam konteks ini, lebih ditekankan pada cara membedakan komentar-komentar negatif pada suatu postingan.

 

Pendidikan yang memadai perlu diberikan bagi pekerja media sebelum ia dipekerjakan, agar menghasilkan karya yang kontennya berbobot, tidak sekedar mengejar rating dan uang iklan. Media massa yang profesional berarti menampilkan berita secara objektif dan tidak provokatif, sehingga tidak memancing konflik, taat pada kode etik yang berlaku, maupun pada peraturan perundang-undangan.

 

REFERENSI

Apipudin. 2012. Ketahanan Dalam Menyikapi Konten Media Sosial Di Era Globalisasi Di Smp Negeri 15 Jakarta.

Tampubolon, J. 2013. Dampak Negatif Media Massa Terhadap Kekerasan Sosial di Indonesia. Makalah non seminar FISIP UI.

 

Like
Like Love Haha Wow Sad Angry

Tinggalkan Balasan