Bukan Sinema, Bukan Lagu, Ini Waktu Ramadanku

oleh: Ariva Syiva’a

“Satu, Dua, Tiga..”

Adikku—Ima—tengah sibuk menghitung jumlah pohon yang kami lewati selama perjalanan mudik ke rumah Simbah kamidi Ngawi. Setibanya di sana, kami dijamudengan pemandangan rumah bergaya Belanda yang usianya sudah hampir dua abad lamanya. Rumah Simbah kami ini memiliki sejarah tersendiri. Di situlah dahulu Almarhum kakek kami, Mbah Abdurrahim mengajarkan kelima belas anaknya untuk salat dan mengaji. Dahulu, tiap pagi-pagi buta beliau kerap berdzikir sembari mengelilingi rumah. Lalu membangunkan anak-anaknya untuk mendirikan qiyamul lail. Ayahku sendiri tergolong anak yang bandel. Semasa kecil, Ayah sering sengaja bersembunyi di dalam lemari agar tidak dibangunkan salat. Seringnya taktik itu berhasil, namun sialnya pernah suatu pagi Simbah Putri (terjemahan: nenek) lupa menyiapkan peci. Saat hendak mengambil peci, Mbah Kakung akhirnya memergoki tubuh mungil Ayah tengah meringkuk tertidur pulas di antara gantungan baju.

Astaghfirullahaladzim..!” teriak Mbah kaget

“Innalillahi!” teriak Ayah yang tak kalah kaget

“Ngapain kau?” Mbah tampak geram

“Ngg.. AMPUN PAKK” Ayah menerobos tubuh Mbah yang jangkung

Mbah Kakung sontak menyabetkan sarungnya sembari mengomel tiada henti. Berlarian lah Ayah terbirit-birit keluar lemari menghindari sabetan sarung Mbah Kakung yang bertubi-tubi. Anak-anak Mbah yang lain tertawa cekikikan dibuatnya.

Usai membereskan barang-barang, kami segera berkumpul di ruang tengah untuk berbuka. Mbah Putri sudah menyiapkan sayur bayam, sambel lethok — saus gurih pedas khas Jawa Tengah yang berbahan dasar tempe sangit — dan ayam goreng yang masih hangat. “Wah uenak e rek!”, ucap salah seorang Pakdhe ku (terjemahan: Paman ku). “Ndang kalian selagi masih muda segera dimakan ayamnya! Jangan sampai nyesel kayak Pakdhe lho. Dulu pakdhe ndak bisa makan daging karena ndak ada uang, sekarang sudah banyak uang tetep ndak bisa makan karena kolesterol, HAHAHA ampun deh!” Kami semua tertawa miris dibuatnya. Kalau mengingat cerita Ayahku, memang berat dahulu sejarah perjuangan Mbah untuk menghidupi kelima belas anaknya. Pernah suatu saat, sangking banyaknya jumlah anggota keluarga dan hanya sedikit telur yang bisa dibeli, satu butir telur rebus diiris tipis-tipis untuk tujuh orang lalu disantap bersama nasi dan garam. Sebetulnya Mbah tergolong berkecukupan dan sudah menyiapkan tabungan untuk masa depan, namun semuanya habis terjual untuk memenuhi biaya pendidikan. “Harta terbaik yang bisa diturunkan adalah ilmu dan iman.”  Begitu bunyi pesan Almarhum Mbah yang sering Ayah sampaikan pada kami.

Keesokan paginya seusai sahur, azan subuh bersahutan mengiringi langkah kaki kami ke Masjid Kampung. Jalanan sudah cukup ramai dipenuhi jemaah lain. Kedua adikku tampak asyik mengobrol tentang cilok kuah saus pedas yang rencananya akan kami beli usai solat tarawih nanti malam. Aku tak henti-hentinya meminta mereka agar berhenti berlarian, khawatir mereka terpeleset genangan air sisa hujan lebat kemarin malam, tapi tentu saja tak mereka patuhi. Tibalah kami di bibir plataran Masjid yang sudah dipenuhi tumpukan sendal sendal jepit yang tersusun tak beraturan bak srundeng di dalam stoples makanan. Kami bergegas mencari shaff yang kosong di sela-sela kerumunan. Debu tipis di muka lantai masjid yang dingin menyapu lembut kaki-kaki mungil kami. Beruntung sekali tadi Simbah mengingatkan kami agar membawa sajadah masing-masing satu agar tidak bergidik kedinginan saat sujud. Salah satu adikku nampak celingukan, tertinggal di belakang. Mungkin mencari lemper ayam atau es dawet sisa takjil tadi sore, pikir ku. Dasar anak nakal.

“Ra, ngapain? Cepat sini!”

Engg.. anu mbak..” Ara berbisik dari kejauhan

“Anu anu.. apa?” Balasku sangsi

“Tadi ada..” Ara masih celingukan

“Lemper ayam? atau-” Aku berbisik kesal

“NAH ITU DIA!” Matanya berbinar-binar

Ara berjalan lurus mengikuti arah pandangannya, menyingkap kerumunan ibu-ibu yang tengah bertasbih menunggu ikamah. Aku bergegas mengikutinya sembari menggandeng adik bungsu ku agar tak menghilang. Kulihat Ara tengah mengulurkan sajadahnya pada seorang ibu yang tampak kedinginan di sudut Masjid. Ibu itu dengan susah payah berusaha duduk dan mengelus kepala adikku dengan tangannya yang sudah mulai menua sembari berterimakasih. Ara tampak menikmati momen itu dan dengan wajah polos nya ia tersenyum ke arah ku. Aku tercekat menyaksikan nya. Adikku dewasa juga ternyata.

Ikamah berkumandang dan kami bergegas merapatkan barisan. Bahu bertemu bahu, kaki bertemu kaki, hati kami tawaduk dan fisik kami mengikuti. “Allaaahuakbar!” Imam memimpin kami memulai salat subuh. Lantunan ayat suci terdengar jernih nan merdu, menggema pada dinding-dinding Masjid Kampung. Imam membacakan surah yang sesungguhnya belum aku hafal, namun terasa akrab di telinga — begitu indah. Ahh seakan semua deadline duniawi menguap seketika.

Tibalah kami di rakaat kedua dan sesuatu yang tak terduga terjadi. Sesuatu yang takkan pernah kami lupakan. Usai bangun dari rukuk dan imam mengucapkan “Sami’allahu Liman Hamidah” (Allah mendengar pujian orang yang memuji nya), aku dan Ima spontan sujud seperti yang biasa kami lakukan sehari-hari ketika salat dengan Bunda dan Ayah di rumah. Sunyi beberapa saat. Lalu tiba-tiba sang Imam merapalkan doa yang belum pernah kudengar. Doa apa ini? Apa ini tuntunan khas Jawa Timur? Aku bertanya-tanya dalam hati. Wajah ku yang sudah terlanjur melekat erat dengan sajadah kuangkat perlahan. Aku berusaha mengintip ke sebelah kanan dan kiri. Kulihat, Ima sontak berdiri lagi mengikuti jemaah lain dan Ara—yang memang berasal dari daerah ini—tampak sudah terbiasa, ia berdiri tegap dan khidmat mengikuti doa imam. Aku masih memikirkan matang-matang apakah aku harus berdiri atau tetap sujud. Waktu terasa berjalan amat lambat dan akhirnya aku memberanikan diri untuk bangkit, namun seketika rasa malu menyergap ku saat kulihat barisan jemaah lain berdiri tegap dan tak seorang pun yang keheranan perihal doa yang asing ini kecuali diriku. Jadilah aku seperti katak malang yang sujud-bangkit-sujud-bangkit di tengah kerumunan. Duhh parah.

Barulah aku tahu di kemudian hari bahwa doa asing itu adalah qunut yang artinya berdiri lama, diam, selalu taat, tunduk, doa, dan khusyuk. Doa itu menurut mazhab Syafi’i memang merupakan sunahuntuk dibaca dalam salat subuh. Selain itu, aku juga jadi mengerti bahwa ada pula qunut nadzilah yaitu doa yang diucapkan saat salat karena musibah yang menimpa kaum muslimin. Dahulu, Rasulullah SAW pertama kali melaksanakan qunut nadzilah paska tragedi Bir Ma’unah pada Bulan Safar ke-4 Hijriah (625 H) di mana 70 sahabat yang diutus beliau SAW untuk berdakwah ke wilayah Najd dibantai di Bir Ma’unah. Kemudian, di tengah kondisi yang memilukan ini, Nabi Muhammad SAW berdoa agar Allah memberikan balasan kepada para pelaku pembantaian yang keji itu.

Sepulang dari Masjid, kedua adikku tak henti-hentinya mengejek ku dengan sebutan katak malang karena ketidaktahuan ku terhadap tuntunan qunut saat salat subuh tadi. Arghh. Tentunya mereka juga bercerita pada Bunda dan membuat huru-hara.Beruntungnya saat itu Bunda tengah sibuk membantu Simbah membuat srundeng ayam jadi tidak terlalu fokus menanggapi ocehan mereka. Bau harum serai, lengkuas, dan daun salam yang tengah di tumis menyeruak memenuhi ruangan. Aroma abon sapi yang baru masak juga amat menggoda, ahh membuat lapar saja.

Mbah Putri memang paling jago memasak dan membuat aneka camilan. Dahulu semasa Ayah masih SMP, Mbah kerap membuat roti, lemper, dan aneka penganan lain lalu dititipkan ke Ayah dan anak-anak Simbah yang lain untuk dijual ke teman-teman di sekolah. Hasil penjualannya akan menjadi uang saku mereka hari itu dan ongkos untuk naik mikrolet pulang ke rumah. Apabila sedang bukan rezeki nya, terkadang penganan yang tersisa banyak harus dimakan sendiri dan terpaksa pulang berjalan kaki hingga 8 kilometer jauhnya. Beruntung sekali, penerapan sistem pendidikan karakter yang keras oleh Simbah ku itu dapat membentuk kepribadian yang mandiri dan tidak mudah loyo ketika Allah menguji. Tidak terbayang bila aku yang ada di posisi Simbah saat itu, tentunya tidak mudah menanggung amanah untuk membina ke-15 anaknya menjadi pribadi yang kuat dan taat terhadap syarikat.

Srundeng yang berwarna coklat keemasan dan abon gurih yang bau harum nya memenuhi ruangan membuat kami ngiler. Sebentar lagi adzan zuhur berkumandang dan Ima akan mendapat freepass untuk menyantap makanan lezat itu. Aku dan Ara menatap masam wajah Ima kecil yang kegirangan karena sebentar lagi bisa berbuka puasa setengah hari atau kami kerap menyebutnya mbedug. Mbedug sendiri berasal dari kata Bedug yaitu instrumen musik tabuh tradisional yang telah digunakan sejak ribuan tahun lalu dan biasa dibunyikan sebelum adzan. Selain itu, Bedug juga menjadi alat komunikasi untuk menandai dan merayakan momen-momen keagamaan. Zaman sekarang bedug sudah sangat jarang digunakan. Barangkali dahulu dipakai saat pengeras suara masih belum populer. Sebetulnya puasa Mbedug sendiri tidak diajarkan pada syarikat Islam, namun bisa menjadi sarana bagi adik kami yang masih kecil untuk berlatih menjalankan ibadah puasa. Ketika sudah akil balig nanti tentu saja Ima diharuskan menjalani puasa dari terbit fajar hingga matahari terbenam.

Usai menjalani hari yang panjang dan menyelesaikan ibadah tarawih, Aku, Ara, Ima, kakak kandung ku—Hana, dan kakak sepupu ku—Mai akhirnya diizinkan menikmati hiburan alun-alun terbesar di Jawa Timur. Sesampainya di kawasan alun-alun Ngawi kami terpesona dengan gemerlap lampu hias yang berpendar dengan indahnya di sepanjang jalan.

“Ayo coba semuanya!” seru kak Mai

“Iya.. kapan lagi?” celetuk Kak Hana

“Lohh.. kan besok besok bisa lagi kan?” tanyaku was was

“Hahaha.. bisa bisa..”

Mendengar jawaban itu aku yang masih berusia dua belas tahun tak ambil pusing dan merasa amat lega. Kami lalu sibuk memanjakan lidah kami dengan aneka kuliner dan menaiki berbagai wahana hiburan yang disediakan secara cuma-cuma.

Bertahun-tahun berlalu usai hari itu dan takdir membawa kami menapaki petualangan kami masing-masing. Sekarang Kak Hana dan Kak Mai tengah merantau di Pulau seberang, Ara tengah menempuh pendidikan di Pondok Pesantren dan aku juga tengah merantau di Kota yang terpisah dengan Ima. Barulah saat ini aku memikirkan kembali betapa bahagia dan berharganya Ramadan kala itu. Mengingatnya membuat ku lebih menghargai detik demi detik yang kulalui. “Iya…kapan lagi?”

Like
Like Love Haha Wow Sad Angry
10001161

Leave a Reply