Kumpulan Soal Latihan UKMPPD

Assalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh, rekan sejawat!

Sudah siap UKMPPD?😲
Siapa nih yang rajin jawab soal-soal di OA kita? Atau malah sering kelewatan?😯

Jangan khawatir! Buat rekan-rekan yang sering ketinggalan dan penasaran dengan jawabannya, soal-soalnya + pembahasannya sudah tersedia dalam rangkuman lengkap!

Mau? Pasti mau dong!😆
Yuk langsung klik aja link berikut!

LATIHAN SOAL UKMPPD

Semangat belajar UKMPPD! Jangan lupa untuk senantiasa berdoa ya, rekan sejawat!😊

Makna dari Menegakan Tulang Punggung

Sebuah tulang punggung, suatu tulang yang terkadang kita lupakan, terkadang tidak kita hiraukan. Dan terkadang kita acuh padanya. Menopang banyak beban dan berat yang dirasakan. Tapi tahukah engkau, bagaimana itu bisa kuat? Karena, si tulang punggung selalu menegakkan dirinya di kala bengkok. Dan karena dia tau, ketika dia tidak tegak, kepala tidak bisa lurus dan tinggi memandang. Memandang dari atas dan jauh untuk mencapai arah tujuan masa depan.
.
Sebuah organisasi yang mempuni yang memiliki ikatan yang bagus, kesatuan dan struktur yang terorganisir, tentulah membutuhkan penopang dalam mencapai tujuan. Membutuhkan sebuah kendaraan yang dapat mengefektifkan dan mengefisiensi waktu. Dan penopang itu ialah kerja keras, materi dan finansial. Bukan hal yang wajib ada ataupun sangat penting. Dapat dipastikan tanpa itu, kamu akan sampai tepat tujuan . Tetapi dengan itu, dipastikan kamu akan sampai dengan tepat waktu sesuai tujuan.

Dari Ashim bin Ubaidillah, dari Salim, dari bapaknya, dia berkata, Rasulullah Shallallahu Alaihi Wa Sallam telah bersabda “Sesungguhnya Allah mencintai seorang mukmin yang berkarya/ bekerja keras.” Dan di dalam riwayat Ibnu Abdan, “Pemuda yang berkarya/ bekerja keras.” (H.R. Baihaqy)
.
Berada di puncak tertinggi bukanlah hal yang mudah. Kolektivitas kerja sama antar individu memang dibutuhkan. Penguatan kader pun memang selalu diutamakan. Tapi percaya lah, hal itu pasti akan terbentuk. Mengapa pasti? Karena organisasi menginginkan yang terbaik. Dan setelah itu perlu yang dinamakan bagaimana potensi mereka bisa keluar secara menyeluruh. Maka dibutuhkan penopang itu. Penopang yang selalu menguatkan sebuah organisasi dan yang selalu ada walaupun tak pernah tampak. Para pekerja keras yang tak perlu mereka ada disana, tapi tanpa disadari, ketika mereka ada di atas , itulah keindahan yang kami inginkan dari sebuah kerja keras kami. Yaitu Menegakkan sebuah tulang punggung sebuah dakwah dan organisasi.

#FULDFKIndonesia
#SolidMengakarMenyejarah

📬Email: fuldfk.indonesia@gmail.com
💻FB : FULDFK
👥FP: Medicalzone – Website Resmi FULDFK
📱Line: @fuldfk_ind
🔔Twitter: @fuldfk_ind
🗼Instagram : @fuldfk_ind
🔊Telegram : @fuldfkindonesia
📺YouTube: FULDFK TV
🌍Website: medicalzone.org

Sahabat Sehidup Sesurga

Hari jum’at kala itu masih sama seperti jum’at pada biasanya, teman – teman mulai memadati barisan depan untuk saling berlomba dalam kebaikan. Ada yang sedang mengerjakan sholat, sedang muroja’ah hafalan, maupun juga membelai lembut lembaran-lembaran mushaf dan Al Qur’an digital di ponsel mereka untuk menyelesaikan target Al-Kahfi nya.

Ah ya, rasanya sedikit aneh jika duduk bersama mereka. Ada aura tersendiri yang membuatku berpikir, “Ayo jangan kalah dalam kebaikan. Ini kesempatanmu!” Bisa jadi, ini adalah amalan terakhirmu selain dengan harta dan ilmu.

Tak lama kemudian, adzan mulai dikumandangkan. Mode silent pun dimulai, karena sayang jika pahala jum’at kala itu tergadai karena masih ramai ketika ada khutbah. Dan tibalah saat itu..

Khotib pun memulai khutbahnya, “Izinkan saya menceritakan sebuah kisah..”

“Rasulullah SAW tengah duduk-duduk santai dengan para sahabatnya. Di tengah-tengah perbincangan santai itu, tiba-tiba Rasulullah tertawa hingga terlihat gigi-gigi putihnya yang rapi.

Melihat kejadian itu, Umar ra bertanya, “Demi Engkau, Ayah dan Ibuku sebagai tebusannya, apa yang membuatmu tertawa, wahai Rasulullah?”

“Aku diberi tahu bahwa pada hari kiamat nanti, ada dua orang yang bersimpuh di hadapan Allah sambil menundukkan kepala. Salah satunya mengadukan ihwalnya kepada Allah, ‘Ya Rabb, ambilkan kebaikan orang ini untukku, karena dulu di dunia ia pernah berbuat zalim padaku’.”

Mendengar aduannya itu, Allah SWT berfirman, “Mana mungkin saudaramu bisa melakukan ini, karena tidak ada sedikit pun kebaikan di dalam dirinya?”

“Kalau begitu ya Rabb, biarlah dosa-dosaku dipikul olehnya,” kata si pengadu.

Sampai di sini, mata Rasulullah terlihat berkaca-kaca. Beliau tidak mampu menahan tangis, dan lalu air matanya tumpah.

Beliau, Rasulullah, berkata, “Hari itu hari yang begitu mencekam, dimana setiap manusia ingin agar dosa-dosanya dipikul orang lain.”

Kemudian, Rasulullah SAW melanjutkan kisahnya, Allah meminta kepada orang yang mengadu itu, “Angkat kepalamu…!”

Orang itu mengangkat kepalanya, dan mengatakan, “Ya Rabb, aku melihat di depanku ada istana-istana megah terbuat dari emas, dan di dalam istana itu singgasananya terbuat dari emas bertatahkan berlian…

Istana-istana untuk para Nabi yang mana, ya Rabb? Untuk orang jujur yang mana, ya Rabb? Sedang untuk para syuhada yang mana, ya Rabb?”

Allah berfirman, “Istana-istana itu disediakan bagi siapa saja yang mampu membayar harganya.”

Orang itu lalu bertanya, “Siapakah orang yang mampu membayar harganya itu, ya Rabb?”

Allah berfirman, “Engkau pun mampu membayar harganya.”

Orang itu terheran-heran, sambil berkata, “Dengan cara apa aku bisa membayarnya, ya Rabb?”

Allah berfirman, “Caranya dengan engkau memaafkan kesalahan saudaramu yang duduk di sebelahmu itu, yang telah engkau adukan kezalimannya kepada-Ku.”

Orang itu berkata, “Ya Rabb, baiklah aku maafkan kesalahannya.”

Allah berfirman, “Kalau begitu, pegang tangan saudaramu itu, dan ajak dia masuk surga bersamamu.”

Setelah menceritakan kisah itu, Rasulullah bersabda,

“Bertakwalah kalian kepada Allah, dan hendaknya kalian saling berdamai, sesungguhnya Allah mendamaikan persoalan yang terjadi di antara kaum muslimin.”

(Kisah tersebut terdapat dalam hadits yang diriwayatkan al-Hakim, dalam Al Mustdrak nya, Ibn Asakir dalam Mu’jamnya.)

Ah, sial. Kutengok kiriku mulai terisak – isak mendengar khutbah beliau. Terlebih lagi disaat doa yang beliau utarakan.

Sedangkan aku? Ah, kenapa aku hanya berkaca – kaca sedangkan ada muslim lain yang menangis.

Timbul pertanyaan dalam diriku yang sering kurenungkan.

Apakah aku bisa menjadi sosok yang memegang tangan saudaraku itu dan mengajaknya masuk surga bersama sama? Ataukah justru malah aku adalah alasan saudara ku masuk neraka?

Apakah aku bisa menjadi sosok pemaaf yang berani meminta maaf seperti kisah tersebut? Ataukah justru aku menundanya di dunia hingga akhirnya sama sekali bukan sosok pemaaf yang berani meminta maaf sampai akhir hayat?

Apakah kelak aku bisa menjadi sosok yang menyelamatkan sahabatku yang juga sekaligus saudaraku dan merelakannya? Ataukah justru malah aku menjadi sosok yang memperberat hisabnya?

Kuteringat dosaku atas teman-temanku. Bagaimana mungkin akan tega kami yang dulunya di dunia saling berbahagia tapi kini di hadapanNya justru menjadi musuh utama yang saling menyerang?

Apakah solusinya adalah bersahabat karena Allah seperti yang Ustadz sampaikan? Ah, ketakutanku dengan ketakutannya berbeda.

Dan akhirnya khutbah pun selesai. Mengingatkan sejauh mana hubungan dengan temanmu, sahabatmu, atau orang lain yang berinteraksi denganmu. Sehingga hanya akan ada dua pilihan, saling bersahabat yang terbatas di dunia saja, ataukah persahabatan karena Allah untuk selalu bersama hingga akhirat kelak.

(Dikutip dari tulisan Achmad Fajar dengan sedikit perubahan)

Muslim Milenial

Kita? Muslim Milenial?

Millennial.

Telinga kita pasti sudah tak asing dengan istilah itu. Tetapi mungkin hanya segelintir yang paham betul apa makna dari kata tersebut.

Istilah tersebut berasal dari ‘millennials’ yang diciptakan oleh salah dua pakar sejarah dan penulis Amerika yang bernama, William Strauss dan Neil Howe dalam beberapa bukunya.

Generasi milenial atau Generasi Y, yang juga kerap disapa Generation Me dan akrab dipanggil Echo Boomers-apapun istilahnya itu, merujuk kepada mereka yang lahir pada 1980-1990, atau pada awal 2000, dan seterusnya. Mereka disebut milenial karena merekalah satu-satunya generasi yang pernah melewati milenium kedua sejak teori generasi ini diembuskan pertama kali oleh Karl Mannheim pada 1923 dalam esainya yang berjudul “The Problem of Generation”.

Generasi milenial bisa dibilang adalah generasinya pemuda, pada generasi inilah jiwa-jiwa membara generasi yang seharusnya menjadi penggerak islam dimasa yang akan datang. Merekalah… bukan. Kitalah kompenen-komponen itu! Kita yang seharusnya menjadi penggerak Islam dengan kekuatan yang produktif dan kontribusi yang tak henti-henti nantinya! Maka dari itu penting untuk menjaga generasi ini agar tidak jauh dari nilai-nilai Islam.

Setelah memahami posisi generasi milenial sebagai generasi penggerak islam dimasa yang akan datang, kita sebagai generasi milenial perlu untuk tetap menjaga nilai-nilai islam dan menjalankan peran sebagai seorang muslim agar bisa terus bersama-sama menjadi benteng dan prajurit garis depan bagi agama islam, menghalau segala fitnah yang ditujukan. Bagaimana caranya? Baca ini!

  1. Mempelajari ilmu agama

Wajib hukumnya seorang muslim untuk mempelajari ilmu agama. Bagaimana mau berdiri di baris depan jika kita tidak puya persenjataan? Bagaimana mau membela islam jika ilmunya saja tidak tau? Oleh karena itu, kawanku, amat penting untuk bersegera mendatangi majelis-majelis ilmu agama. Dimanapun! Kita bebas memilih sesuai selera. Yang pasti tujuannya sama. Yaitu memperdalam ilmu kita untuk perbekalan di garis depan.

  1. Berdakwah dan memberikan edukasi kepada masyarakat.

Berdakwah dan mengajar adalah zakat ilmu. Wajib bagi seseorang yang telah mempelajari ilmu syar’i untuk menyampaikan ilmu tersebut kepada yang lainnya, sehingga dapat memberikan hidayah orang kafir agar masuk Islam dan memberikan hidayah orang yang berbuat maksiat agar menjadi istiqomah kembali ke jalan Allah subhanahu wa Ta’ala. Sungguh mubazir ilmu kita jika hanya disimpan untuk diri sendiri.  

 

  1. Bersabar terhadap perkataan masyarakat.

Menjadi pendakwah tidak sebercanda itu. Merupakan suatu keniscayaan atau seringkali terjadi, bahwa seorang da’i akan mengalami gangguan, baik berupa perkataan ataupun perbuatan. Tapi ingat! Da’i bukan artis. Mereka tak butuh sensasi dan kontroversi. Takkan seujung jari pun hal seperti itu menggoyahkan mereka dari konsisten berdakwah untuk tegaknya agama Allah Ta’ala. Yang perlu dipertanyakan, siapkah kita menjadi bagian dari mereka?

 

  1. Menaati perintah Allah dan menjauhi larangannya.

Pemuda muslim generasi milenial seharusnya menjadi orang yang taat kepada Allah Ta’ala. Tidaklah mereka mendengar perintah, kecuali menjadi yang terdepan dalam melaksanakannya. Tidaklah mereka mendengar suatu larangan, kecuali menjadi yang terdepan dalam menjauhinya. Pemuda semacam ini berhak untuk mendapatkan pahala yang banyak pada hari kiamat, di bawah naungan ‘arsy milik Allah Ta’ala, ketika panas matahari didekatkan di atas kepala manusia. Berminat menjadi salah satunya?

 

  1. Mendekat kepada para ulama

Penting untuk mendengarkan nasihat dari ulama karena mereka memiliki pengalaman yang dapat memberikan manfaat kepada orang lain dan terhindar dari propaganda yang menjauhkan diri dari nilai-nilai islam. Jangan hanya fasih dalam memberi nasihat, tapi pandai-pandailah juga untuk menerima nasihat.

 

  1. Menjadi tauladan bagi orang sekitarnya.

Tidak cukup hanya dengan memiliki ilmu dan menyampaikannya, jika kita sendiri tidak menaatinya. Jika berdakwah kepada orang lain alangkah baiknya juga menunjukkan akhlak yang mulia sehingga bisa menjadi tauladan bagi orang-orang sekitar. You are what you do, not what you say you’ll do.

 

  1. Bangga sebagai muslim.

Yang banyak kita saksikan di penghujung zaman di penjuru dunia saat ini, yang banyak mengikuti (taqlid) gaya orang kafir dalam segi pakaian, penampilan, dan perilaku mereka adalah kelompok pemuda. Iya, generasi milenial! Sebab itulah, langkah selanjutnya yang harus kita tempuh sebagai prajurit garis depan adalah berbangga dengan agama yang kita miliki. Buat apa malu menampakkan syi’ar-syi’ar agama yang benar adanya? Buat apa berpura-pura di hadapan manusia ketika hendak beribadah kepada Pencipta-mu? Pencipta kita semua? Maka dari itu, kawanku, sudahlah, jangan ikut-ikutan pakaian dan perilaku mereka hanya demi gengsi! Karena muslim milenial jauh lebih keren dari itu!

 

Pengaruh Teknologi

Teknologi yang kita tahu saat ini merupakan satu media dengan banyak kegunaan. Kita bisa ambil dua contoh saja seperti mobile phone dan Personal Computer (PC). Seiring berjalannya waktu, berbagai platform teknologi tersebut selalu berlomba-lomba untuk menciptakan fitur terbaru yang lebih canggih. Hal tersebut membuat konsumen dari generasi milenial tertarik untuk menjelajahi kemajuan teknologi. Eh, bukan. Tertarik untuk terlihat up to date dengan memiliki gawai keluaran terbaru.

Ericsson, di awal tahun 2016, mengeluarkan 10 Trend Consumer Lab untuk memprediksi beragam keinginan konsumen. Laporan penelitiannya lahir berdasarkan wawancara kepada 4.000 responden yang tersebar di 24 negara dunia. Dari 10 tren tersebut beberapa di antaranya, membuat dia harus memberi perhatian khusus terhadap perilaku generasi milenial. Dalam laporan tersebut Ericsson mencatat, produk teknologi akan mengikuti gaya hidup masyarakat milenial. Simpelnya, perilaku juga ikut berubah beriringan dengan teknologi yang semakin maju. Dan itu terbukti! Sepanjang tahun ini beberapa prediksi yang disampaikan Ericsson menunjukkan kebenarannya. Salah satunya, perilaku Streaming Native yang kini kian populer dimana remaja yang mengonsumsi layanan streaming video kian tak terbendung. Hingga akhir 2011 silam, rata-rata waktu yang dihabiskan di depan layar gawai hanya sekitar tiga jam sehari. Kemudian angka tersebut melambung empat tahun kemudian menjadi 20 persen. Terbukti, bukan?

Dengan adanya perkembangan teknologi yang semakin pesat, gadget dan internet seakan menjadi kebutuhan primer bagi generasi milenial. Akses internet dan media sosial yang mudah seharusnya dapat memudahkan akses untuk memperoleh informasi, dakwah, menjalin silaturahmi, dan belajar.

Akan tetapi mari kita tengok efek sampingnya. Kemudahan dalam mengakses media sosial juga dapat menyebabkan banyaknya peredaran berita bohong (hoax) di masyarakat. Ujaran kebencian kemudian mengiringi perkembangan hoax yang berakibat pada pecahnya persatuan. Terbentuklah kubu-kubu pro dan kontra dari suatu isu yang bahkan tak pasti kebenarannya. Sebab itulah, pengkajian ulang serta penerapan berpikir kritis yang didasarkan pada Al-Quran dan Hadits menjadi salah satu solusi bagi generasi milenial untuk melindungi dari efek samping globalisasi ini, khususnya hoax. Dengan pengkajian itu, diharapkan generasi milenial dapat berhenti bersikap barbar dan dapat menjadi kunci dalam perwujudan kedamaian dunia. Atau dalam lingkup lebih kecil, kedamaian Indonesia.

“Maka jika datang kepadamu petunjuk dari-Ku, lalu barangsiapa yang mengikuti petunjukKu, ia tidak akan sesat dan ia tidak akan celaka. Dan barangsiapa yang berpaling dari peringatan-Ku, maka sesungguhnya baginya penghidupan yang sempit, dan Kami akan menghimpunkannya pada hari Kiamat dalam keadaan buta” (Q.S Thaha: 123, 124).

Inilah yang menimbulkan keprihatinan, realita yang ada menunjukkan bahwa umat Islam telah berpecah-belah menjadi banyak golongan. Antara satu dengan lainnya memiliki prinsip-prinsip yang berbeda, dan tak jarangsaling bertentangan. Kenyataan seperti ini menjadi bukti kebenaran nubuwwah (kenabian) Rasulullah Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam. Beliau sendiri yang telah memberitakan iftiraqul ummah (perpecahan umat Islam) ini semenjak hidup beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam.

Oalah, sudah memang gitu ya takdirnya. Sebentar! Lantas apakah kita cukup hanya diam saja pasrah dengan keadaan umat yang seperti ini? Syariat telah memerintahkan agar kita bersatu di atas Al-Haq, di atas Sunnah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dan sahabatnya radhiallahu ‘anhum. Kita tak boleh diam saja melihat kekacauan ini. Justru disinilah seharusnya peran kita-generasi milenial untuk menyatukan umat. Bagaimana caranya? Cukup dengan mengikuti kaidah yang benar dalam memahami al-Qur’an dan As-Sunnah.

Tapi apakah benar sesimpel itu?

 

 

 

Referensi:

Kominfo. 2016. Available at kominfo.go.id/mengenal-generasi-millennial

 

Muhammad Saifudin Hakim. 2016. Available at muslim.or.id/27701-nasihat-dan-bimbingan-untuk-pemuda-muslim-terhadap-diri-agama-dan-masyarakatnya.html

 

Mufatihatul Islam. 2017. Available at suaramuslim.net/generas-milenial-melek-teknologi/

 

Iffah Al Walidah. 2018. Available at

www.researchgate.net/publication/327628779_Tabayyun_di_Era_Generasi_Millenial

 

Muslim Atsary. 2011. Available at muslim.or.id/6966-kaedah-penting-dalam-memahami-al-quran-dan-hadits.html

                                                                                         

Lomba Ramadhan 1440 H Bersama FULDFK

[RAMADHAN CERIA]

Tidak terasa sebentar lagi ramadhan? Sudah ada rencana kebaikan apa yang ingin kamu lakukan? Atau masih bingung nih ramadhan kali ini mau ngapain?

Etsss, jangan takut!!! InsyaAllah ramadhan tahun ini akan seru bersama FULDFK Indonesia. Mari persiapkan rencana-rencana ramadhan tahun ini bersama FULDFK Indonesia.

Lewat “Ramadhan Ceria” bersama FULDFK Indonesia, semoga ramadhan tahun ini bisa lebih seru dan bermanfaat. Mari berlomba-lomba dalam kebaikan.

Kuyyy langsung aja download guideline dan berkas-berkas lainnyaa dii 👉 bit.ly/FileLombaRamadhan

Buruaaaaan submit karya terbaik muu 🙂

“Dan bagi tiap-tiap umat ada kiblatnya (sendiri) yang ia menghadap kepadanya. Maka berlomba-lombalah (dalam membuat) kebaikan. Di mana saja kamu berada pasti Allah akan mengumpulkan kamu sekalian (pada hari kiamat). Sesungguhnya Allah Maha Kuasa atas segala sesuatu.” QS Al-Baqarah : 148

#FULDFKIndonesia
#SolidMengakarMenyejarah

📬Email: fuldfk.indonesia@gmail.com
💻FB : FULDFK
👥FP: Medicalzone – Website Resmi FULDFK
📱Line: @fuldfk_ind
🔔Twitter: @fuldfk_ind
🗼Instagram : @fuldfk_ind
🔊Telegram : @fuldfkindonesia
📺YouTube: FULDFK TV
🌍Website: medicalzone.org