Beauty Inside

Karya: Monica Adelia Puspitasari


Alhamdulillah,
Pujiku kepada Allah SWT. Telah dekat kepadaku bulan yang penuh berkah
itu.Suka cita menyambut datangnya dirimu. Banyak rencana yang telah kubuat
untuk menyambut dirimu. Oh ramadhanku.
Sayup-sayup kudengar teman-temanku mulai mempersiapkan diri datangnya
dirimu.
“Nanti sahur pertama mau lauk apa, mo?”
“Mending langganan aja menu saur dan buka di warung tendblue.”
“Masak aja lak wes.”
Begitulah ramadhan ku ditanah rantau kali ini, tidak kudengar lagi gedoran
pintu yang dilakukan oleh ibuku tercinta ketika membangunkan saur. Tidak
kurasa lagi tarawih berjamaah yang dilakukan bersama tetangga rumah. Tidak
ada lagi teriakan,kala menjelang buka puasa.
“Mo,udah buat teh belum?”
Ya begitulah kini ku bersiap melakukan rutinitas ramadhan kali ini seorang diri.
Namun aku tau sudah seharusnya diri ini mulai bersikap dewasa. Sudah
sepantasnya, diriku membuktikan bahwa aku mampu bertahan ditanah rantau
dengan segala fluktuasi kondisi yang ada.

Itu sepenggal cerita ramadhan pertamaku ditanah rantau, sahabat.
Oh iya, kenalin namaku Momo Intan yuwana. Anak pertama dari 1 bersaudara,
yang berambisi untuk bisa tinggal di Madinah Al-Munawarroh suatu saat nanti.
Aamiin. Panggil saja aku, Mo.
“Ci, udah siap sambut Ramadhan tahun ini?”
“Harus siap atuh, Mo.”
“Kalo didaerah sini teh sholat tarawihnya dimana,Ci?”
“Di pertigaan deket Indomarit, aku dulu disitu.”
“Serius,Ci? Jauh banget.”
Baiklah setiap yang kita lakukan pasti ada konsekuensinya. Kepindahan kostku
demi mencari suasana yang lebih nyaman memunculkan konsekuensi. Ya
betul, kini lingkungan kost baruku tidak dekat dengan musholla. Bahkan tak
jarang gema kumadang adzan terasa jauh.
Hal tersebut tentu membuatku bingung,galau dan gelisah.
“Kemana aku akan melaksanakan sholat tarawih berjamaah ramadhan kali
ini?”

Sudahlah kau ini, hal seperti itu saya kau pusingkan. Allah itu selalu punya
rencana terbaik untuk hambaNya. Jadi bertawakal diri saja akan segala
ketetapannya.
Seperti dalam firman Allah SWT, dalam QS. Aṭ-Ṭalāq : 2
Arab-Latin: wa may yattaqillāha yaj’al lahụ makhrajā
“Barang siapa bertakwa kepada Allah niscaya Dia akan membukakan jalan
keluar baginya”
Sudah tentu Allah itu maha baik bagi hamba-hambaNya. maka sudah
sepatutnya bagiku ini untuk tetap bertawakal.
“Rumah Sakit dr.Kariadi Semarang mengkonfirmasi adanya kasus positif pada
1 pasien setelah melakukan perjalanan ke luar negeri”
“Inaillahi, bener ini berita yang muncul ditimeline youtube?” Tanyaku pada
dirisendiri setelah melihat breaking news pada video YouTube.
Astaghfirullah, seketika perasaan was-was,takut dan tidak percaya muncul
dibenakku. Ditanah rantau kini sudah ada yang positif, menurut riset
sederhanaku dan banyak berita diinternet telah memberitakan bahwa
penyebaran virus tersebut tergolong cepat. Inaillahi.

“Oke ga boleh panik!”
Seketika grup kelas dan angkatan ramai seketika, teman-teman mulai merasa
risau dan terusik ketenangannya. Kemudian disusul berita berbagai kampus
ternama sudah mulai mengeluarkan pernyataan melalui surat edaran yang
dikeluarkan oleh masing-masing rektor. Pembelajaran tatap muka akan
dialihkan ke pembelajaran jarak jauh hingga batas waktu yang tidak ditentukan.
“Ini kampus kita belum keluarin edaran apa?”
“Aku habis pulang kampung dianter orangtua langsung disuruh balik lagi.
Bapakku ga bolehin aku stay dikost. Kata beliau percuma kamu kuliah di
jurusan kesehatan tapi kamu sendiri malah ga aware sama kesehatanmu.
Udah ayo pulang!”
“Bapakmu keren, Wid.”
“Aku mau balik kampung masih ngerasa ga enak temen-temen. Kampus kita
kan belum ngeluarin pernyataan resmi.”
Seperti itulah yang kami rasakan diawal bulan maret kemarin. Hingga akhirnya.
“Surat edaran rektor mengenai pembelajaran tatap muka semua dialihkan via
daring sudah muncul teman”
“Alhamdulillah, tapi dekan kita belum keluarin pernyataan mengenai surat
edaran rektor. Sebagai fakultas diranah kesehatan tentu banyak sekali
pertimbangannya. Jadi kita kudu sabar lagi teman. Tunggu info lebih lanjut.”
“Baiklah.”

Saat itu juga perasaanku mulai tidak nyaman, ingin sekali aku pulang agar bisa
berkumpul dengan orang tua dan tidak membuat mereka khawatir. Namun
apalah daya kewajiban sebagai pelajar tentu tetap diutamakan. Maka
menahan sedikit lebih lama dan bersabar merupakan kuncinya.
“Mba Dwi, gimana mau balik nggak?”
“Belum tau, Mo. Belum ada surat edaran lebih lanjut.”
“Yaudah kalo mau pulang, kabarin aja ya nanti kita pulang bareng.”
“Iya, Mo. Banyakin makan vit.C sama pake maskernya.”
Setelah aku telfon kakak sepupu yang memang sedang belajar di tanah rantau
yang sama denganku. Beban pikiranku sedikit lebih tenang. Namun aku belum
bisa memberi kabar pasti kepada orang tuaku. Hingga akhirnya
“Mo, mama dapet kiriman surat edaran kampusmu dari tante tata. Bener itu?”
“Iya bener, ma. Cuma mo masih tunggu surat edaran dari dekan fakultas
Momo,mah.”
“Yaudah hati-hati.”
Entah karena ada ikatan batin antara orangtua dan anak atau hari itu
perasaanku memang sedang peka sekali. Aku menangkap kekhawatiran yang
menguar dari pesan chat yang dikirimkan mama untukku yang meminta agar

anaknya segera pulang saja. Maka dari itu keesokan harinya ku beritahukan
informasi kepulanganku pada orangtua dan kakak sepupuku.
“Mo, mau balik besok.”
“Seriusan, Mo?”
“Iya mba, mama semalem chat Momo kirim surat edaran kampus. Mo, nggak
kirim padahal.”
“Oh ya udah, balik besok tapi tunggu ya. Mba, selesai magang siang habis itu
kita pulang bareng.”
“Oke mba. Ku tunggu.”
Malem harinya ku persiapkan segala keperluan kepulanganku. Di pagi harinya,
Keluarlah surat edaran dari dekan bahwa fakultasku mendukung surat edaran
rektor. Maka kepulanganku hari itu lebih terasa tanpa beban.
Maka disinilah aku sekarang, tempat aku tumbuh berkembang dari masa
kanak-anak hingga sebesar sekarang. Memang benar butuh effort untuk
menyesuaikan lingkungan dan situasi dengan perkuliahanku. Namun aku
mencoba menjalaninya dengan ikhlas dan semangat. Hingga kini bulan
ramadhan sudah didepan mataku.
Kini aku menyadari bahwa kejadian ini merupakan bagian dari jalan keluar
yang dijanjikan olehNya. Agar aku tidak lagi galau untuk tarawih ditanah rantau
maka Allah memberikan situasi yang tidak disangka-sangka oleh hambaNya.

Anjuran physical distancing dan social distancing menjadikan ramadhanku kali
ini menjadi lebih dekat denganMu. Tarawih dirumah bersama orangtua pun
menjadi agenda rutin. Selain itu kegiatan tadarus Al-quran pun menjadi lebih
masif. Serta ladang pahalaku semakin terbuka dengan dekatnya aku bersama
orangtua maka kesempatan menyempurnakan birrul walidain semakin terbuka
lebar .
Lalu, kuingat juga firman Allah dalam surat Al-Insyirah ayat 6:
Arab-Latin: Inna ma’al-‘usri yusrā
artinya “sesungguhnya sesudah kesulitan itu ada kemudahan”
Masyaallah. Sungguh nikmat yang tidak disangka bahwa ramadhan tahun ini
dengan situasi yang amat berbeda namun tidak mengurangi keberkahan dan
keindahan di dalamnya.
Semoga kita bisa menjadi hamba yang tidak kufur terhadap nikmatNya dan
selalu dalam lindunganNya. Aamiin.

Like
Like Love Haha Wow Sad Angry
201

Leave a Reply