Bahasa

20170323153844

Zaid bin Tsabit merupakan salah seorang sahabat baginda Nabi Muhammad Shallallahu ‘Alaihi Wa sallam. Beliau dilahirkan pada sekitar tahun 10 sebelum hijrah, kurang lebih 10 tahun lebih muda dari Ali bin Abi Thalib dan sudah menjadi seorang anak yatim sejak berusia 11 tahun. Ayahnya meninggal dunia di medan perang Bu’ats beberapa tahun sebelum hijrahnya Rasulullah. Walaupun ibunya hanya mengasuh Zaid seorang diri, hal itu tidak membuat Zaid kekurangan kasih sayang dari orang tua. Sang ibu sukses dalam mendidik Zaid karena Zaid kecil tumbuh menjadi pemuda cerdas, sopan, bersungguh-sungguh, dan berwawasan luas.

Ketika Nabi Muhammad Shallallahu ‘Alaihi Wa sallam hijrah ke Madinah, Zaid berusia 11 tahun. Saat itu, keluarganya membawa Zaid untuk menemui Nabi Muhammad.  Mereka berkata, “Wahai Rasulullah, ia adalah anak dari Bani Najjar yang telah hafal 17 surat dalam Al-Qur’an.”. Padahal, saat itu jarang sekali orang dewasa yang sudah hafal ayat suci Al-Qur’an dan juga saat itu ayat Al-Qur’an belum turun semuanya, masih sebagian saja. Rasulullah pun takjub, Al-Qur’an belum turun semua, tapi sudah ada anak kecil yang menghapalnya. Kemudian hafalan Zaid diperiksa oleh Nabi Muhammad. Masyaa Allah. Rasulullah SAW pun kagum akan kecerdasan Zaid. Rasulullah menginginkan Zaid untuk mempelajari bahasa yang digunakan oleh orang Yahudi untuk menghindari tipu daya dari musuh-musuh Islam. Hanya dalam waktu setengah bulan, Zaid kecil mampu menguasai bahasa Yahudi. Ketika Nabi Muhammad SAW hendak menulis surat untuk orang Yahudi dalam tujuan dakwah, Zaid lah yang bertugas menerjemahkannya sekaligus menuliskannya. Selain itu, ketika Nabi Muhammad menerima surat dari orang Yahudi, Zaid pula yang membacakannya sekaligus menerjemahkannya untuk Nabi Muhammad.

Nabi Muhammad Shallallahu ‘Alaihi Wa sallam bersabda,

عَنْ خَارِجَةَ بْنِ زَيْدِ بْنِ ثَابِتٍ عَنْ أَبِيهِ زَيْدِ بْنِ ثَابِتٍ قَالَ أَمَرَنِى رَسُولُ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- أَنْ أَتَعَلَّمَ لَهُ كَلِمَاتِ كِتَابِ يَهُودَ. قَالَ « إِنِّى وَاللَّهِ مَا آمَنُ يَهُودَ عَلَى كِتَابٍ ». قَالَ فَمَا مَرَّ بِى نِصْفُ شَهْرٍ حَتَّى تَعَلَّمْتُهُ لَهُ قَالَ فَلَمَّا تَعَلَّمْتُهُ كَانَ إِذَا كَتَبَ إِلَى يَهُودَ كَتَبْتُ إِلَيْهِمْ وَإِذَا كَتَبُوا إِلَيْهِ قَرَأْتُ لَهُ كِتَابَهُمْ. قَالَ أَبُو عِيسَى هَذَا حَدِيثٌ حَسَنٌ صَحِيحٌ

Dari Kharijah bin Zaid bin Tsabit, dari ayahnya; Zaid bin Tsabit, ia berkata: “Rasulullah ShalAllahu alaihi wa sallam menyuruhku untuk mempelajari -untuk nya- kalimat-kalimat [bahasa) dari buku [suratnya) orang Yahudi, nya berkata: “Demi Allah, aku tidak merasa aman dari [pengkhianatan) yahudi atas suratku.” Maka tidak sampai setengah bulan aku sudah mampu menguasai bahasa mereka. Ketika aku sudah menguasainya, maka jika nya menulis surat untuk yahudi maka aku yang menuliskan untuk nya. Dan ketika mereka menulis surat untuk nya maka aku yang membacakannya kepada nya.” Abu Isa mengatakan hadits ini hasan shahih. [HR. At Tirmidzi no. 2933).

Pada suatu hari, Nabi Muhammad SAW mendapatkan surat berbahasa Suryani, bukan bahasa arab maupun bahasa yang dipakai oleh orang Yahudi. Lalu Beliau bertanya kepada Zaid, “Kamu menguasai bahasa Suryani?” Zaid menjawab, “Belum.”. Kemudian Nabi menyuruh Zaid untuk mempelajari bahasa Suryani. Zaid pun mempelajari bahasa Suryani hingga paham hanya dalam waktu singkat.

Dalam riwayat lain:

أَمَرَنِي رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَنْ أَتَعَلَّمَ السُّرْيَانِيَّةَ

“Rasulullah ShallAllahu ‘alaihi wa sallam memerintahkanku untuk mempelajari bahasa Suryani.” [HR. At-Tirmidzi: 2639).

Nah, sekarang sudah tau kan pentingnya mendidik anak untuk menguasai berbagai macam bahasa? Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wa sallam mengajarkan agar kita menguasai bahasa asing agar terhindar dari tipu daya. Selain itu, kita jadi bisa mendakwahi orang yang berbeda bahasa dengan kita, menguasai banyak ilmu, dan meningkatkan rasa percaya diri pada anak. Orang tua adalah madrasah bagi anak-anaknya. Untuk itu tak ada salahnya, para orang tua mulai belajar menguasai bahasa asing, yah, minimal bahasa Arab dan bahasa Inggris lah. Namun, utamakan dahulu bahasa Arab karena bahasa Arab dapat digunakan untuk mempelajari Al-Qur’an, As-Sunnah, hadits, bacaan sholat, maupun doa. Maka dari itu, yuk ajarkan berbagai macam bahasa mulai sejak dini. Dan jangan lupa, tetap mengajarkan bahasa Nusantara ke anak ya…

Referensi:

  1. Buku “Masa Kecil Para Ulama”, penulis Ustadz Abu Umar Abdillah, Cetakan pertama – Klaten, penerbit Wafa Press, terbit tahun 2012.
  2. http://tashfiyah.com/zaid-bin-tsabit-sang-penulis-wahyu/
  3. https://www.hidayatullah.com/kajian/oase-iman/read/2015/07/22/74376/haramkah-mempelajari-bahasa-asing.html

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *


*

sixty five + = 66