Apa Kabar Ramadanmu?

oleh: Salsabila Nur Rahmah Ali

“Hai, apa kabar Ramadanmu? Semoga baik-baik saja yaa”, entah sudah kali ke-berapa pertanyaan kawan karibku terulang, dengan kalimat yang sama sekali tak berbeda. Hmm baik-baik saja, bagaimana? Bagaimana bisa menjadikan Ramadan baik-baik saja pada situasi seperti ini? Aku merengut.

            Hari-hari telah berlalu. Bila saja semua jari tangan dan kaki digabungkan untuk menghitungnya, niscaya tetap saja tak akan cukup. Kebosanan melanda hingga mencapai tahap kronis. Terlebih, keresahan dan kerisauan turut muncul tak dapat dihentikan.

Ya, sudah dua bulan lamanya keadaan ini berlangsung. Keadaan yang menjadikan sistem WFH (Work from Home) ini harus diberlakukan. Masih terngiang dengan jelas bagaimana seruan gembiraku tatkala pengumuman WFH untuk kali pertamanya disiarkan, ‘Alhamdulillah Ummii, aku masih bisa di rumah nihh sampai 2 minggu kedepan!’. Alih-alih merasa khawatir dan resah, euforia gembira saat itu benar-benar terasa. Membayangkan bisa sejenak lebih lama beristirahat di rumah, terbebas dari perjuangan menjadi anak rantau, benar-benar membuat senyumanku saat itu tak hentinya terkembang.  Kuliah dari rumah benar-benar menjadi kali pertamanya dalam sejarah. Terbayang bagaimana bisa menyimak materi kuliah ditemani satu toples cemilan, tutor online dengan ‘selonjoran’, dan wahai! Kapan lagi kami dapat melakukan praktikum sembari ‘rebahan’. Ya, minggu awal WFH ini mewujud dengan lancar dan penuh keriangan.

Sampai pada akhirnya, keriangan itu lambat laun pudar, tergantikan kebosanan. Rasa kesal tatkala pembelajaran skills lab yang mengharuskan kami praktik dengan guling sebagai probandus dan headset sebagai stetoskop, rasa kesal karena aplikasi pembelajaran yang dipilih terlalu besar bagi sinyal mahasiswa daerah perkampungan, dan rasa rindu pada teman yang tak tertahankan, menjadikan suasana tak lagi menyenangkan, namun dipenuhi dengan sejuta keluhan.

Lantas, kini lihatlah! Tanpa perlu memperhatikan kami yang sedang bersama siapa, tanpa peduli kami sedang merisaukan apa, Ramadan bertamu sebagaimana biasanya.

@@@

            “Lisa, Lisa! Kok belum muncul-muncul juga? Segera sini Nak!” teriakan umiku dari arah dapur membuatku tersadar. Menengok jam, aku terkaget. Satu jam telah berlalu! Betapa telalu lama aku berbincang dengan kawan karibku, bahkan hingga melupakan garapan tutor yang hari ini harus terselesaikan.

Segera, aku beranjak menuju dapur. “Lisa, konsumsi makanan untuk 11 orang ya, tambah 2 karena ada kunjungan dari kantor!” Aku mengangguk dan lekas membantu menyelesaikan permintaan tanpa sepatah kata yang aku ujarkan. Ini menjadi kegiatan rutinan keluarga kami tiap bulan Ramadan, membagikan makanan buka pada pekerja usaha keluarga kami. Tahun-tahun sebelumnya, aku hanya membantu pada akhir bulan puasa ketika diliburkan. Akan tetapi, karena posisiku di rumah, kini aku tak alpa membantu tiap hari meski selalu saja terbayang tugas kuliahku yang menunggu untuk diselesaikan.

“Duh Lisa, konsentrasi! Dilihat yang benar-benar!” teriakan Umiku terdengar lebih lantang dari biasanya bagi aku yang sedang terbengong dengan pikiran melayang. “Eh iya, Umi”, gelagapan aku menyadari keteledoranku. Persoalan membuka toples lada saja aku tidak fokus, menyebabkan toples garam tersenggol hingga sebagian jatuh bertebaran. Aku segera membereskan.

Aku duduk sebentar. Belum terlaksana niatku untuk istirahat sejenak, “Lisa, setelah ini adiknya diajari ngaji ya! Bacaan qurannya sering salah, belum bisa membedakan ikhfa’ haqiqi dan idzhar halqi. Bisa jadi rusak itu bacaan Alquran”, gantian abiku yang memberi tugas tambahan. “Iya Bii,” lekas aku menuju musola rumahku, mengajari adikku cepat. “Kak, habis ini ajari aku hafalan yak. Seperti biasa, Kakak bacain aku satu baris, nanti aku ulangi”, adikku menahanku yang ingin segera pergi. Aku kembali duduk, menghela nafas, sembari mengingat bahwa target ngajiku hari ini saja juga masih jauh dari terpenuhi.

@@@

“Hei, apa kabar Ramadanmu? semoga baik-baik saja yaa”, entah sudah kali ke-berapa pertanyaan kawan karibku terulang dengan kalimat yang sama sekali tak berbeda. Hmm baik-baik saja, bagaimana? Bagaimana bisa menjadikan Ramadan baik-baik saja pada situasi seperti ini? Aku merengut.

Aku benar-benar resah. Ramadan kali ini mewujud menjadi Ramadan paling merana dalam hidupku, sepertinya. Lirih aku berbisik. ‘Betapa aku bosan di rumah, betapa aku merindukan kajian-kajian di sekitar kampusku, betapa aku merindukan berlomba tilawah dengan teman-temanku.’ Aku begitu membandingkan Ramadan yang terjadi pada tahun ini, pada rumah sederhana ini. Lancang, mulutku mengeluh. ‘Buat apa sih umiku susah-susah memberi buka puasa kepada para pekerja, kenapa tidak dalam bentuk uang saja? Kenapa tidak meminta pembantu buat masak saja? Harusnya kan ini menjadi waktu meraup pahala dengan mendengarkan kajian. Kenapa malah menghabiskan dua jam di dapur? Dan juga, kenapa pula adikku tidak dipanggilkan saja guru ngaji, menjadikan waktuku untuk mengejar target khataman berkurang.’ Ya Rabb, mengapa Ramadan kali ini benar-benar terasa asing bagiku?

Allah, sebenarnya sudah benarkah apa yang kulakukan? Bagaimana dengan seabrek kegiatan yang kulakukan dengan keluhan, apakah ia akan memperberat timbangan? Ataukah hanya menjadi sebuah kesia-siaan? Ah,  ketakutanku mulai membayang.

@@@

“Hai, apa kabar Ramadanmu? Semoga …”, hey! aku langung membekap erat mulut kawan karibku. Bagaimana bisa ia menanyakan hal serupa dan berharap hal yang sama, lagi dan lagi? Sedang ia saja telah mendengar seluruh rangkaian keluh kesahku.

“Sayang,,” kawan karibku menarik nafas panjang, mengambil posisi terbaiknya, sebagaimana biasanya ketika ia bersiap menasihatiku. “Aku memahami kondisimu, sangat bisa membayangkan berada dalam posisimu. Berbahagialah Sayang, kamu sudah berjalan sejauh ini. Kamu sudah berhasil melampui seluruh fase kehidupan sebelum ini. Hanya satu langkah dalam penyelesaian masalahmu. Bertahanlah! Bertahanlah sembari ubah sudut pandangmu, Sayang. Segalanya akan berjalan dengan baik-baik saja, percayalah!” Aku menghela nafas pelan, bersiap mendengar lebih lanjut sembari mencari celah untuk dapat mengkritiknya.

“Cobalah untuk melihat dengan kaca mata yang berbeda, Sayang. Kamu tau, betapa matematika Allah tidak selalu dapat kita tebak rumusnya. Betapa perhitungan Allah kadang berbeda dengan perhitungan sederhana kita. Sayang, tak hanya solat dan tilawah saja yang bisa menjadi cara kita meraup pahala. Tak hanya solat dan tilawah yang bisa menjadi tolak ukur seberapa kebaikan yang telah kita lakukan. Aduhai! Bahkan kamu seperti tak paham saja pelajaran agama di masa sekolah dasar. Segala aktivitas dan kesibukan yang diniatkan ibadah, akan bernilai sama dengan ibadah. Pun sebaliknya, sebanyak apapun ibadah kamu, seberagam apapun ibadah yang telah kamu lakukan, apabila pada akhirnya hanya untuk kamu sombongkan, akan menjadi tidak bernilai harganya.” Kawan karibku benar juga. Betapa selama ini, aku terbius untuk mengejar target khataman dengan mengabaikan banyak ladang pahala lainnya.

“Sayang, kamu lancang sekali jika mengatakan tak perlu ada usaha umimu untuk memasak dan memberikan buka puasa bagi para pekerja! Camkan baik-baik, menyiapkan buka orang yang berpuasa adalah bernilai mendapat pahala puasa tanpa mengurangi pahala orang berpuasa yang diberikan buka tersebut. Perihal alasanmu bahwa waktu menyiapkan berbuka adalah lebih baik diganti untuk mendengarkan kajian ataupun tilawah mandiri, coba kamu tanyakan pada ibumu. Sudah berapa juz yang diperolehnya dalam Ramadan ini. Terkadang kita yang terlalu jumawa, merasa lebih lama mengaji dibanding orang tua. Sedang kamu saja yang tidak tahu. Bahwasanya, sebelum membangunkan dirimu, disela pekerjaannya, dan pada akhir hari tatkala semua anggota keluarga terlelap, ibumu tak lupa untuk mengaji dan memanjatkan doa atasmu.” Kawan karibku sedikit menaikkan intonasi suaranya, pipinya memerah, merasa iba atas celoteh kekanakanku.

“Sayang, terus bersyukurlah. Bersyukurlah atas segala anugerah yang telah Allah berikan. Bersyukur atas kesibukan kuliah, bersyukur atas tanggungan amanah, dan bersyukur atas pekerjaan rumah yang berlimpah. Work from home ini nyatanya benar-benar menjadi ladang pahala bagi orang yang memahaminya. Bagaimana segala aktivitas produktifmu, waktu bermanfaatmu, dapat benar-benar dirasakan oleh orang terdekatmu, keluargamu. Sosok-sosok terdepan dibalik kehebatan dan segala kisah perjuangan dalam hidupmu.” Ya, aku mulai sepakat dengan kawan karibku. Aku percaya, hanya sedikit mengubah sudut pandang saja, Ramadan ini akan menjadi lebih indah.

            “Lantas sekarang, apa kabar Ramadanmu? semoga baik-baik saja yaa”. Tidak lagi merasa pelu jenuh dengan pertanyaan tidak kreatifnya, kali ini aku mengangguk mantap. Ya, aku akan mengusahakan ayng terbaik. Ramadan ini akan baik-baik saja dan luar biasa.

Kawan karibku tersenyum lebar, mengetahui pemahaman baruku. Ialah yang tak pernah alpa dalam mengingatkan atas jalur kebaikan. Ialah ia, titik bersih dalam hatiku.

-Tamat –

Like
Like Love Haha Wow Sad Angry
4257811

Leave a Reply