Al Qur’an pun Menjaga Kehormatan Mereka

Allah menciptakan manusia dalam dua jenis kelamin, lelaki dan perempuan. Keduanya adalah makhluk yang berdudukan sama di mata Allah. Hanya ketakwaanlah yang membedakan derajat kemuliaan seorang lelaki atau perempuan.

Hal ini merupakan sesuatu yang ‘radikal’ di masa Islam baru diturunkan. Dimana pada masa itu, perempuan benar-benar kehilangan tempat di komunitasnya, hak-hak mereka tidak diacuhkan, bahkan pembunuhan terhadap bayi perempuan adalah suatu hal yang ‘wajar’, karena menurut mereka, bayi perempuan adalah aib bagi keluarga.

 

Akan tetapi, Islam mengembalikan kehormatan perempuan dan memberikan kembali hak-hak mereka. Mereka berkesempatan sama untuk berkarya dan beribadah, sedang di sisi lain mereka juga ditempatkan sebagai makhluk yang istimewa sehingga begitu dilindungi oleh syariat Allah yang mulia. Keistimewaan ini sampai-sampai diabadikan dalam al-Qur’an, suatu surah khusus yang sebagian besar ayatnya di-‘dedikasi’-kan untuk membahas banyak hal perihal perempuan, hingga surahnya sendiri dinamakan surah an-Nisa (perempuan).

 

Selain itu, beberapa kisah perempuan-perempuan pada masa lalu juga diabadikan dalam al- Qur”an. Kisah mereka diharapkan menjadi ibrah bagi pembacanya. Ibrah untuk diteladani riwayat hidup mereka yang telah mengambil jalan taqwa dan penghambaan diri pada Ilahi Rabbi. Ibrah untuk dihindari jalan yang serupa yang telah diambil oleh perempuan-perempuan yang berkukuh dalam keburukan.

 

“Sungguh, pada kisah-kisah mereka itu terdapat pengajaran bagi orang yang mempunyai akal. (Al Quran) itu bukanlah cerita yang dibuat-buat, tetapi membenarkan (kitab-kitab) yang sebelumnya, menjelaskan segala sesuatu dan (sebagai) petunjuk dan rahmat bagi orang-orang yang beriman.” (QS. Yusuf : 111) – [1]

 

Namun, tahukah Sejawat bahwa dari semua kisah perempuan yang diabadikan dalam al-Qur’an, hanya ada satu perempuan yang namanya disebutkan secara jelas dan bahkan dijadikan nama suatu surah. Ia adalah Maryam binti Imran.

“(ingatlah) Maryam binti Imran yang memelihara kehormatannya, Maka Kami tiupkan ke dalam rahimnya sebagian dari ruh (ciptaan) Kami, dan dia membenarkan kalimat Rabbnya dan kitab-kitab-Nya, dan dia adalah Termasuk orang-orang yang taat” (QS. At-Tahrim: 12)

 

Dan sudah tentu, hal ini mengandung hikmah yang luar biasa! Berikut penjelasan al-Qurthubi dan az-Zarkasyi [2]:

 

“Allah tidak menyebutkan nama seorangpun wanita dalam kitab-Nya selain Maryam bintu Imran. Allah menyebutkan namanya sekitar 30 kali kesempatan. Karena mengandung hikmah sebagaimana yang disebutkan para ulama.

 

Bahwa para raja dan orang-orang terpandang, mereka tidak pernah menyebutkan nama istrinya di depan rakyat, tidak pula mempopulerkan nama mereka. Akan tetapi, mereka menyebut istrinya dengan ungkapan pasangan, ibu, keluarga raja, dst.

 

Namun ketika mereka bersikap terhadap budak, mereka tidak merahasiakannya dan tidak menyembunyikan namanya. Ketika orang nasrani mengatakan bahwa Maryam istri tuhan dan Isa anak tuhan, maka Allah terang-terangan menyebut nama Maryam. Dan tidak Allah sembunyikan dengan budak Allah atau hamba Allah, yang merupakan sifat asli Maryam. Dan Allah jadikan hal ini sebagai kebiasaan masyarakat arab dalam menyebutkan budaknya” (Tafsir al Qurthubi, 6/21).

 

Kemudian Az-Zarkasyi menambahkan,

 

“Sesungguhnya Isa terlahir tanpa bapak. Ini keyakinan yang wajib kita miliki. Ketika keterangan nasabnya ke ibunya disebutkan berulang-ulang, maka akan muncul perasaan dalam hati, berupa keyakinan bahwa beliau tidak memiliki bapak. Dan memutihkan nama baik ibunya sang wanita suci, dari perkataan kotor orang yahudi” (al-Burhan fi Ulum al-Qur’an, 1/163).

 

Kesimpulannya, bahwa ada suatu hal yang sangat besar dibalik disebutnya nama Maryam dalam al-Qur’an, yakni yang pertama untuk menunjukkan bahwa Maryam bukanlah sesembahan atau bagian dari Tuhan, Ia adalah hamba Allah yang sebenar-benarnya. Yang kedua, untuk memutihkan nama Maryam dari fitnah orang-orang yahudi yang menuduhnya berzina. Dan ada suatu hal yang luar biasa dibalik disimpannya nama-nama perempuan yang lain, yakni bahwa semakin disimpan, semakin terhormat. Wallahu a’lam bishshawab

 

 

[1] https://www.salimah.or.id/2017/salam-salimah/perempuan-dalam-al-quran

[2] https://muslimah.or.id/6219-hikmah-mengapa-hanya-maryam-yang-disebut-dalam-al-quran.html

Like
Like Love Haha Wow Sad Angry

Tinggalkan Balasan