Aku CINTA mati padaMU

image001

AKU CINTA MATI PADAMU

by : MDR-

Kalau kata bang Rhoma Irama,

Hidup tanpa cinta

Bagai taman tak berbunga…

 

Masih dalam edisi cinta-cintaan, Kali ini kita bakal membahas tentang kisah cinta yang bikin kalian baper nih, guys… Kisah percintaan siapa ya kira-kira? Apakah Romeo-Juliet? Beuty and the Beast? Atau Kisah Cinta Majikan Cantik Kepentok Hati Sopir Super? Eh,, kok jadi yang terakhir kayak judul FTV yang biasa muncul di siang bolong ya..

Jangan salah, gengs. Cerita di bawah ini lebih dahsyatt loh daripada kisah cinta Romeo–Juliet apalagi kisah cinta di FTV itu, jauh lah..

———————————————————————————————

Asiyah binti Muzahim. Pasti kalian pernah mendengar kisahnya kan? Asiyah bukanlah istri biasa. Asiyah bersuamikan seorang raja dari Mesir, Fir’aun. Raja yang sangat kejam nan sombong pangkat infinity karena mengaku sebagai Tuhan. Siapa saja yang tidak mengakui ke-Tuhanannya maka dibunuhlah ia.

Pertemuan Asiyah dengan Nabi Musa ‘alahis salam bukanlah hanya suatu kebetulan belaka, melainkan sudah direncanakan oleh Allah Shubhannahu Wa Ta’ala. Pada saat kepemimpinan Fir’aun, Fir’aun membuat peraturan yang sangat keji. Ia menyuruh bala tentaranya untuk membunuh setiap bayi laki-laki kaum Bani Israil. Hal ini dilakukannya karena Fir’aun teringat akan janji Allah Shubhannahu Wa Ta’ala kepada Nabi Ibrahim ‘alahissalam bahwa akan ada keturunan Nabi Ibrahim ‘alahis salam yang akan menjadi nabi sekaligus raja.  Hadirnya nabi tersebut dianggap Fir’aun sebagai ancaman akan kekuasaannya, oleh karena itu dibunuhlah bayi laki-laki kaum Bani Israil…

image002

 “Dan (ingatlah) ketika Kami selamatkan kamu dari (Firaun) dan pengikut-pengikutnya; mereka menimpakan kepadamu siksaan yang seberat-beratnya, mereka menyembelih anak-anakmu yang laki-laki dan membiarkan hidup anak-anakmu yang perempuan. Dan pada yang kedemikian itu terdapat cobaan-cobaan yang besar dari Tuhanmu.” [Al-Baqarah: 49].

 

Ibu kandung Musa  khawatir bayi kecilnya tersebut akan dibunuh oleh tentara Fir’aun. Beliau merasa sedih, takut, dan gelisah. Akhirnya, Allah Sang Maha Pemberi Petunjuk memerintahkannya untuk meletakkan Musa di dalam suatu perahu kecil dan menghanyutkannya di Sungai Nil.

image003

 “Dan Kami ilhamkan kepada ibu Musa; “Susuilah dia, dan apabila kamu khawatir terhadapnya maka jatuhkanlah dia ke sungai (Nil). Dan janganlah kamu khawatir dan janganlah (pula) bersedih hati, karena sesungguhnya Kami akan mengembalikannya kepadamu, dan menjadikannya (salah seorang) dari para rasul.” [Al-Qashash: 7]

 

Sampailah perahu tersebut di istana Fir’aun. Asiyah yang pertama kali melihat Musa langsung jatuh cinta dan meminta Fir’aun untuk merawat Musa. Musa tumbuh menjadi sosok yang mulia nan tangguh.

Musa diutus untuk menjadi seorang Rasul oleh Allah Shubhannahu Wa Ta’ala. Fir’aun yang mendengar bahwa Musa ialah seorang nabi, tidak percaya akan hal itu. Fir’aun ingin menguji kekuatan Musa menggunakan sihir dan  memerintahkan para tukang sihirnya untuk melawan Musa. Nabi Musa ‘alaissalam dapat mengalahkan sihir tersebut atas izin dan kehendak Allah Shubhannahu Wa Ta’ala. Kejadian itu membuat para tukang sihir Fir’aun yang selama ini sihirnya belum pernah terkalahkan menjadi beriman kepada Allah Shubhannahu Wa Ta’ala. Tak hanya para tukang sihir, Asiyah juga mengakui keimanannya terhadap Allah Shubhannahu Wa Ta’ala didepan Fir’aun. Fir’aun yang mendengar hal itu murka.

Fir’aun yang merupakan suami dari Asiyah pun melakukan penyiksaan terhadap istrinya. Fir’aun memerintahkan para algojonya untuk memasang tonggak, mengikat kedua tangan dan kaki Asiyah pada tonggak tersebut, meletakkan batu besar diatas punggungnya dan menjemurnya dibawah terik sinar matahari. Betapa kejamnya Fir’aun terhadap istinya. Mampukah kita menghadapi siksaan seperti itu? Jangankan menghadapinya, membayangkannya pun aku tak sanggup. Na’udzubillahimindzalik.

Namun, apakah siksaan tersebut mampu menggoyahkan keimanan Asiyah? TIDAK. Siksaan itu justru semakin menambah keimanan Asiyah. Masyaa Allah sungguh besar keimanan Asiyah. Sungguh besar CINTA Asiyah kepada Allah Shubhannahu Wa Ta’ala. Berbeda dengan kehidupan jaman sekarang. Tak sedikit orang yang merelakan keimanannya untuk kehidupan duniawi saja, menukarkan keimanan dan keyakinannya dengan jabatan, harta, dll.

Allah Shubhannahu Wa Ta’ala tidaklah menyia-nyiakan keteguhan iman wanita ini. Para malaikat pun datang menaunginya dari terik sinar matahari. Ditengah sadisnya siksaan Fir’aun, Asiyah senantiasa berdoa kepada Allah Shubhannahu Wa Ta’ala.

2x

 

“Ya Rabbku, bangunkanlah untukku sebuah rumah di sisi-Mu dalam surge dan selamatkanlah aku dari Fir’aun dan perbuatannya dan selamatkan aku dari kaum yang dzalim.” (Qs. At-Tahrim:11).


Allah mengabulkan doa Asiyah dan memperlihatkan rumah tersebut kepadanya. Asiyah yang melihat rumah itu pun bahagia, tak sabar untuk menuju rumah itu, semakin kuat keinginannya untuk memasuki rumah itu, dan semakin naik pula derajat keimanannya. Sudah tak dipedulikannya siksaan yang diberikan oleh Fir’aun. Tersenyumlah Asiyah. Fir’aun yang melihat Asiyah tersenyum dibawah siksaan Fir’aun merasa heran. How can? Seseorang yang tengah disiksa malah tersenyum. Berakhirlah siksaan Asiyah. Allah mencabut jiwa wanita tangguh nan shalihah ini dan menaikkannya menuju rumah yang telah dijanjikan oleh Allah Shubhannahu Wa Ta’ala di Surga-Nya.

Yap, itulah yang baru bisa dinamakan cinta mati. Cinta seorang hamba kepada sang Pencipta,  Allah Shubhannahu Wa Ta’ala hingga akhir hayatnya. Cinta yang sebenar-benarnya cinta. Mentauhidkan Allah Shubhannahu Wa Ta’ala diatas kepentingan lainnya.

*Berdasar cerita Asiyah, dapat ditarik kesimpulan bahwa:

  1. Kita sebagai manusia haruslah berharap hanya pada pertolongan Allah Shubhannahu Wa Ta’ala semata. Karena sebaik-baik penolong adalah Allah Shubhannahu Wa Ta’ala.

 

Apakah kamu mengira bahwa kamu akan masuk surga, padahal belum datang kepadamu (cobaan) sebagai mana halnya orang-orang terdahulu sebelum kamu? Mereka ditimpa oleh malapetaka dan kesengsaraan, serta digoncangkan (dengan bermacam-macam cobaan) sehingga berkatalah Rasul dan orang-orang yang beriman bersamanya: “Bilakah datangnyapertolongan Allah?” Ingatlah, sesungguhnya pertolongan Allah itu amat dekat. (Al-Baqarah 2:214)

 

  1. Kecintaan terhadap manusia, binatang, tumbuhan, ataupun barang lainnya tidaklah boleh melebihi cinta kita kepada sang pencipta Allah Shubhannahu Wa Ta’ala. Tidaklah salah jika kita mencintai pasangan kita (*pasangan halal ya), namun yang perlu diperhatikan cintailah sewajarnya jangan berlebihan.

 

Rasulullah Shalallahu’alaihi wa sallam, bersabda : Cintailah kekasihmu sewajarnya saja karena bias saja suatu saat nanti ia akan menjadi orang yang kamu benci. Bencilah sewajarnya karena bias saja suatu saat nanti ia akan menjadi kekasihmu. (HR. Al-Tirmidzi).

 

  1. Cinta kepada Allah Shubhanahu Wa Ta’ala lebih indah daripada cinta yang pernah ada.

 

-Aku cinta mati padamu ya Allah. Insyaa Allah hingga akhir hayat ini-

–AAMIIN–

 

 

Referensi:

  1. http://www.dakwatuna.com/2013/07/27/37313/firaun-kalah-dengan-keyakinan-seorang-ibu/#ixzz4ZR63TGWX
  2. https://muslimah.or.id/439-asiyah-wanita-yang-ditampakkan-surga-untuknya.html

 

 

 

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *


*

56 − = fifty one