Akankah Rindu Ini Berbalas?

oleh: Muhammad Ihsan Nabil Fadhlurrahman

Mata yang kini lelah itu terus menatap layar yang terpampang di depannya. Tertuliskan berbagai tugas yang harus dikerjakan entah suka maupun tidak. Begitulah, ketika kuliah online dicanangkan, matanya yang dahulu punya banyak kesempatan istirahat hanya menjadi alat penerima sinar biru laptop “kentang”-nya yang sudah jenuh dipakai untuk mengetik berbagai tugas dan laporan tutorial.

Di belakang benda itu terdapat sebuah buku, yang dahulu tiada bosan dibaca olehnya meski sudah selesai berulang kali. Kumpulan kertas penuh tulisan yang dahulu menjadi peneman di kala sepi dan penghibur di kala sedih. Menikmati kedalaman makna yang dimilikinya, yang tak sebanding walau ada seribu lagu seperti “Peradaban”-nya Feast. Menjalani waktu ngabuburit dengan bercengkerama berdua, menikmati senja dengan indahnya lantunan suara sendiri.

Terbayang olehnya masa-masa studi di pondok. Penuh canda bermakna, tawa dalam ukhuwah, dan tangis yang hanya lillah. Saat dimana tidak ada dinding penghalang antara sehatnya jasmani dan kenikmatan rohani, membentuk pribadi tawadhu yang penuh syukur kepada Yang Mahakuasa.

Tergambar di angannya memori saat pertama kali Ramadan menyapa fisik mungilnya di pondok, menyuntikkan semangat berbeda dalam hidup bersamanya. Berlomba-lomba dalam kebaikan, itulah isi injeksi yang diberikan olehnya selama di pondok. Menikmati waktu siang dengan kebiasaan murojaah, berusaha sembunyi dari teman lain, menjaga kerahasiaan jumlah hafalan yang dimiliki.

Pada saat itu, kegiatan keseharian santri adalah kekuasaan OSIS, yang dipimpin oleh santri, berisi santri, dan menciptakan peraturan untuk santri. Mulai dari jadwal imam tarawih hingga harits lail—petugas jaga malam dan pembangun sahur—adalah buah dari pekerjaan organisasi santri ini. Menjadi sebuah kehormatan apabila seorang santri menjadi anggotanya, merasa diri setingkat lebih tinggi dari teman sekelasnya.

“Rahman, kamu jadi imam tarawih di malam ke-7 ya!” sapa kak Amrul, pengurus OSIS bagian ibadah. “Afwan kak, hafalan juz 7 ana belum lancar… mendingan ganti yang lain deh…” balas sosok mungil itu menolak. Kebiasaan di pondok itu hampir sama dengan beberapa masjid di daerah itu, sholat tarawih dengan bacaan 1 juz per hari. “Udah deh, coba aja dulu. Entar juga ketagihan… oke sip,” jawabnya lantas meninggalkan santri baru itu dalam keadaan bengong.

Saat itu hafalannya sudah mencapai 15 juz, cukup cepat di antara teman seangkatannya namun masih jauh dari kesempurnaan menurut pandangannya. Di tengah lamunannya, tepukan pelan terasa di belakang, “MasyaAllah akhi… tidak boleh melamun seperti itu!” sapa ramah seorang pemuda dengan postur jangkung. Rahman, yang tertarik dari dunia khayalnya, menjawab “Afwan kak, ana tadi diminta jadi imam di malam ke-7… jadi ana lagi berpikir cara murojaahnya kak.” Tersenyum,, pemuda yang diberi nama Nur oleh kedua orangtuanya itu membalas, “Kayak gak biasa aja murojaah dadakan. Coba aja, entar juga ketagihan… duluan ya Man!”

Setelah mengatakan hal itu, langkah pemuda itu berlanjut, menuju tempat ternyaman miliknya untuk murojaah. Gerakan kaki yang menggambarkan kedewasaan dalam berpikir; tegas, ringan, dan cepat. Begitulah sosoknya, seorang mantan pegawai sebuah merek otomotif dengan gaji mencapai 10 juta Rupiah yang merasakan kekosongan dalam jiwa walaupun secara dunia ia sudah mapan.

Tangan kanan mudir—pemimpin—pondok, begitulah julukan yang diberikan santri ke sosok itu. Selalu menjadi teman berdiskusi utama dari kalangan santri hingga membaca kitab bersama. Keistimewaan ini menciptakan kekaguman di antara penuntut ilmu. Semangat Ramadan tidak terlihat pudar dalam dirinya, berusaha meningkatkan amal ibadah hari demi hari, menghidupkan malam dengan tadarus, lantas melanjutkan salat sunnah sebelum sahur.

Terasa suntikan semangat memenuhi dirinya, Rahman memantapkan hati dan kaki menuju tempat favorit dimana hatinya terbiasa menyejukkan diri di dalamnya, memantapkan hafalan kitab primadona muslim seluruh dunia. Kalau orang berkata bahwa berkumpul dengan orang saleh dapat mengenyahkan penyakit futur, remaja itu merasakan dampaknya lebih dari rumor yang beredar.

Ondeh… kalaulah semua orang mengetahui dahsyatnya bertemu manusia berhati mulia

Tak akan lagi terdengar tangisan di tengah gulita

Hebatnya dampak itu tak tampak oleh mata

Namun hati penerima cahaya tak akan lupa dengan rasa

Telapak kakinya yang masih dalam masa perkembangan berkali-kali menjejak ke lantai, membunyikan kerinduan akan tujuan hidup yang sebenarnya. Lisannya tak berhenti bergerak mengulang memori yang telah dicapainya, membiasakannya agar menjadi refleks dalam kehidupan sehari-hari. Senyuman selalu tersungging dalam dirinya, memberikan kebahagiaan ke lingkungan sekitar.

“Man, bisa tukeran jadwal gak?” tanya seorang teman yang muncul secara tiba-tiba, memutus untaian kenikmatannya dan memaksanya menoleh untuk mengetahui siapa penanya tersebut. “Malam ke berapa?” balas Rahman setelah melihat lawan bicaranya. Ainul, begitulah ia disapa, seorang santri yang memiliki jiwa kepemimpinan dan merupakan ketua angkatan penuh warna dalam sejarah pondok itu.

“Gantian ya Man, ana diminta ngimamin pas malam ke-11. Ente kan malam ke-7 tuh… hafalan juz 7 ana lebih kuat dibandingkan juz 11… tolong ya Man…” wajahnya yang memelas menggugurkan niatan santri itu untuk menolak mentah-mentah permintaan ketua angkatannya. Dengan terpaksa, anggukan kepala tergerak perlahan menyetujui permintaannya. “Syukron san, insyaAllah hafalan ente kuat kok!” balasnya sembari menggerakkan tungkainya menjauh dari Rahman yang membatu memikirkan strategi baru lagi.

Tubuhnya perlahan bergerak merendah dan memberikan sedikit kenyamanan bagi pantatnya. Rasa bingung kembali hadir dan memenuhi benak remaja yang masih labil. Semua itu terjadi hingga lewat sebuah pemandangan di sudut matanya. Dari sana ia melihat sesosok pria kecil yang berusaha memasukkan hafalan dengan susah payah. Terkadang air mata terlihat jatuh mengikuti gaya gravitasi, menandakan sulitnya proses yang dialami untuk mencapai kuatnya hafalan.

Pras namanya, teman yang menjaga sifat rendah hati walau memiliki segudang bakat. Usaha yang dilakukannya dalam menjaga konsistensi amal selalu menjadi panutan teman sebayanya. Berusaha agar tak terjatuh ke dalam lubang kemalasan ketika banyak orang justru menjerumuskan diri ke dalamnya. Selalu memancarkan cahaya di setiap senyumanya.

Betapa ajaibnya kalian hai orang berakhlak emas

Menciptakan ketenangan hanya dengan menatap wajah

Lantas mengobarkan api di tengah lesunya diri

Menghempaskan segala gundah yang kian menguasai hati

Dan dengan itulah kabut yang bertebaran mulai mengabur, memberikan kejelasan baginya dalam melangkah. Remaja tanggung yang tadinya kebingungan itu kini dapat melanjutkan langkahnya, membiarkan segala galau pergi meninggalkan diri dan mencegahnya datang kembali lagi. Ramadan telah menyapanya, dan kini ia harus menjadikan setiap hari yang dijalani memiliki makna.

Begitulah jiwa mereka yang hidup di antara Alquran, selalu tercerahkan dengan kebahagiaan hakiki, tersenyum walau beban berat menghampiri, menangis dalam mengharap ridho ilahi. Menyenangkan, itulah satu kata untuk hari-hari yang terjalani di masa itu.

Dan inilah ia kini, seorang mahasiswa kedokteran, yang menjadi budak berbagai tugas, membutakan langkahnya dari menggapai kitab tercinta, meninggalkan jiwanya dalam keadaan kosong tanpa mengetahui penyebab kehampaan itu. Terkadang ia jatuh ke dalam tangisan tak beralasan, bingung dimana letak akar sedihnya diri, lantas kembali menjatuhkan air bening untuk meringankan beban di hati.

Dan seperti inilah kondisinya sekarang, seorang mahasiswa sok aktivis, berusaha mengikuti berbagai organisasi, yang lantas mendorong jiwa belum matangnya menuju jurang kesibukan, memaksakan pilihan antar dua tugas duniawi, melupakan tugas terpenting yang menjadi bekal pulang menuju kampung yang sesungguhnya.

Entahlah, ia kini hanya seekor burung yang terjebak dalam perangkap pemburu yang lapar, menunggu untuk dipanggang Bersama dengan rempah penikmat rasa. Menunggu akan datangnya penolong, membebaskannya dari derita tak berujung, membawanya kembali menuju jalan yang terang, lantas membimbingnya agar sesat tak terulang.

Dan kesucian yang dahulu diagungkan

Kini hanya tinggal kenangan yang dirindukan

Beratnya beban yang telah disetujui

Sekarang menjadi domino yang akan menimpa diri

Kecuali jasad itu dapat menghindar

Dan menjadikannya senjata penyerang buruknya tabiat

Like
Like Love Haha Wow Sad Angry
1130

Leave a Reply