Ada yang Berbeda Kali Ini

oleh: Nur Haura Zhafirah Lubis, S. Ked

Ramadhan 1441 Hijriah. Ada yang berbeda kali ini. Menunggu sidang isbat untuk pengumuman hari pertama Ramadhan, dari televisi tampak para alim ulama dan tokoh masyarakat dan aparat pemerintah menggunakan penutup yang menutupi mulut dan hidungnya. Setiap orang saat ini menggunakan masker. Ramadhan kali ini kita sambut di tengah pandemi penyakit yang disebabkan oleh virus.

Hasil keputusan sidang isbat menyepakati 1 Ramadhan bertepatan esok hari, hari Jumat. Malam ini kita menunaikan sholat tarawih, sholat yang keutamaannya sangat banyak dan hanya ditunaikan di bulan Ramadhan. Ada yang berbeda kali ini. Tarawih kita tunaikan di rumah masing-masing, tidak seperti biasanya, berjama’ah di masjid. Kami menunaikan sholat isya dilanjutkan sholat tarawih dan sholat witir berjama’ah diimami oleh Ayah.

Bangun pukul tiga lewat lima belas pagi, menyiapkan santapan sahur pertama. Ada yang berbeda kali ini. Tidak ada anak-anak yang membangunkan sahur dengan cara membunyikan tiang listrik di depan rumah.

Buka puasa pertama. Ada yang berbeda kali ini. Biasanya mengajak keponakan dan Ayah untuk ngabuburit dan mencari makanan untuk berbuka, kali ini memasak makanan sendiri di rumah. Tak banyak orang yang berjualan. Ada, tapi tidak banyak.

Ramadhan kali ini mungkin berbeda. Namun, semangat kita dalam menyambut bulan yang agung ini tak boleh sirna. Dua hari sebelum memasuki Ramadhan, jurnal Ramadhan dijilid spiral plastik di tempat fotokopi. Sangat menyenangkan mempunyai jurnal Ramadhan.

Halaman ketujuh jurnal Ramadhan. Bertuliskan ‘My Ideal Ramadhan’. Ramadhan yang extraordinary itu ketika setiap detik di bulan Ramadhan dihabiskan untuk mengerjakan kebaikan agar mendapat rahmat dan ridho Allah Subhanahu Wa Ta’ala yang berlimpah.

Ramadhan yang extraordinary itu ketika diri ini selalu bermuhasabah, merefleksikan diri tentang bekal apa yang sudah dipersiaplan untuk ke kampung halaman kelak. Ramadhan yang extraordinary itu ketika selesai bulan Ramadhan, maka target-target ibadah selama Ramadhan dikerjakan juga di luar Ramadhan.

Semoga My Ideal Ramadhan ini terwujud. Aamiin.

Ada yang berbeda kali ini. Biasanya semangat menuntut ilmu menghadiri kajian ilmu di masjid-masjid menggunakan motor, kali ini kajian ilmu pun secara daring. Pandemi ini membuat kami untuk lebih kreatif lagi dalam mengeksplor metode dakwah. Kajian ilmu berbagai cara, seperti zoom, youtube, WhatsApp, Line, live instagram, dan berbagai macam kajian via daring. Semoga tidak melunturkan semangat kita dalam menuntut ilmu dan semoga Allah berkahi kita di dalam taman-taman surgaNya.

Mungkin ada rasa takut, cemas, khawatir di tengah pandemi ini. Namun, datangnya bulan Ramadhan ini menumbuhkan rasa berharap yang tinggi kepadaNya. Untuk terus semangat beribadah dan memohon ridhoNya agar pandemi ini segera usai. Indahnya Ramadhan kali ini ditunjukkan dengan semakin banyak orang yang peduli, saling mengasihi, dan memperbaiki diri terhadap sesama.

Like
Like Love Haha Wow Sad Angry
241

Leave a Reply