Cinta dalam Ujian

oleh: Adillah

Assalamu’alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh

Hidup ini penuh akan lika-liku kehidupan, yang terjal akan perjalanannya, mendaki untuk mencapai titik puncak impian kehidupan, jatuh bangun melewati rintangan yang penuh akan pahit manis kehidupan. Ya begitulah hidup, tak selamanya apa yang kita inginkan akan selalu tercapai dan tak selamanya apa yang kita harapkan akan menjadi sebuah kenyataan, hanya Allah lah yang tahu mana yang terbaik untuk kita semua. Godaan terbesar umat manusia itu hawa nafsu, dan seperti halnya ketika ingin mencapai sesuatu, kita mestinya sangat bersemangat, dan ketika jiwa raga tak mampu tuk memumpuni maka hanya akan ada satu kata yang mewakili yaitu “mengeluh” dan berkata “Ujian apalagi ini ya Allah”. Tak bisa dipungkiri bahwa manusia senangnya mengeluh dan berkata lelah, tapi perlu kita sadari bahwa itu adalah ujian terindah dari Allah. Kadang kita tak sadar bahwa dari tiap ujian yang datang menghadang, itu suatu pertanda akan kehadiran Allah untuk kita, namun seringkali kita hanya memandang sebelah mata. Misalnya ketika mendapat nilai rendah saat ujian malah membuat kita semakin terpuruk, galau, jatuh, sakit hati, kecewa. Banyak masalah internal yang  datang kita hanya bisa menangis meronta kesakitan dalam diri, beranggapan bahwa “Allah tidak adil sama saya”, mendapat banyak kegagalan dalam hidup malah membuat kita semakin pesimis dan malas untuk mencoba lagi. Sahabat tak sadarkah kita bahwa itu semua adalah hal yang kurang tepat untuk kita lakukan sebagai hambanya Allah SWT, pada kenyataannya itu adalah anggapan kita saja sebagai manusia biasa yang hanya berpikir bahwa ujian itu adalah tanda Allah tidak sayang kepada kita. Sungguh sangat disayangkan jikalau kita selalu berpikiran begitu bukan?

Ujian itu adalah bentuk cintanya Allah kepada kita, hal tersebut dibenarkan didalam sebuah hadits :

إذا أحَبَّ اللهُ قومًا ابْتلاهُمْ

“Jika Allah mencintai suatu kaum maka mereka akan diuji” (HR. Ath-Thabrani dalam Mu’jamul Ausath, 3/302. Dishahihkan Al-Albani dalam Shahih Al-jami’ no. 285)

Dan Nabi shallallahu’alaihi wa sallam bersabda,

أشد الناس بلاء الأنبياء, ثم الصالحون, ثم الأمثل فالأمثل

Manusia yang paling berat cobaannya adalah para Nabi, kemudian orang-orang shalih, kemudian yang semisal mereka dan yang semisalnya” (HR. Ahmad, 3/78, dishahihkan Al-Albani dalam Shahih Al-Jami’ no. 995).

Mereka adalah orang-orang yang dicintai oleh Allah. Ujian yang menimpa orang-orang yang Allah cintai, itu dalam rangka mensucikannya, dan mengangkat derajatnya, sehingga mereka menjadi teladan bagi yang lainnya dan bisa bersabar.

Oleh karena itu Nabi shallallahu’alaihi wa sallam bersabda, “Manusia yang paling berat cobaannya adalah para Nabi, kemudian orang-orang shalih, kemudian yang semisal mereka dan yang semisalnya.”

Dalam riwayat lain,

الصالحون, ثم الأمثل فالأمثل يبتلى المرء على قدر دينِهم

…kemudian orang-orang shalih, kemudian yang semisal mereka dan yang semisalnya, mereka diuji sesuai dengan kualitas agama mereka.”

Jika ia orang yang sangat tegar dalam beragama, semakin berat ujiannya. Oleh karena itu Allah memberikan ujian kepada para Nabi dengan ujian yang berat-berat. Di antara mereka ada yang dibunuh, ada yang disakiti masyarakatnya, ada yang sakit dengan penyakit yang parah dan lama seperti Nabi Ayyub, dan Nabi kita shallallahu’alai wa sallam sering disakiti di Makkah dan di Madinah, namun beliau tetap sabar menghadapi hal itu. Intinya, gangguan semacam ini terjadi terhadap orang yang beriman dan bertaqwa sesuai dengan kadar iman dan taqwanya.

Jadi, kita yang sebagai umat manusia biasa ini sudah sepantasnyalah untuk selalu berbaik sangka kepada Allah, setiap masalah yang datang maka sebaiknya kita semakin mendekatkan diri kepada Allah SWT, karena ujian itu adalah bentuk cinta-Nya Allah kepada hamba-hambanya, supaya kita semakin sering mengadu kepada-Nya, memohon ampunan dan petunjuk-Nya. Semoga kita menjadi sebaik-baiknya hamba Aamiin Allahuma aamiin. Barakallah fikum.

Sumber : http://www.binbaz.org.sa/noor/8751

Bottom of Form

NGOPI DI CAFÉ? LIFESTYLE MASA KINI

oleh: Ana Khawarizna Maulida

            Lifestyle zaman sekarang adalah nongkrong di kafe. Sedikit-sedikit, mengerjakan tugas minum kopi, sedikit-sedikit membicarakan sesuatu hal minum bubble tea. Sangatlah lumrah sekarang, berkumpul bersama teman-teman di suatu kafe dengan alasan tempatnya comfortable maupun instagram-able.

            Barangkali, untuk satu gelas kopi atau minuman coklat minimal seharga Rp. 25.000,- per gelas. Dibandingkan dengan zaman dulu, masyarakat, anak-anak muda berkumpul sore-sore depan jual es buah ditambah pisang goreng hangat hanya menghabiskan minimal Rp. 10.000,-. Harga yang hampir 2 setengah kali lipatnya. Dan apa kesimpulannya, dimana saja pun cita-cita berkumpul itu bisa sampai, kawan!

            Sayangnya orang-orang pun tak menyadari, atas nama tempat comfortable dan instagram-able ini membawa suatu keburukan. Dimana orang-orang akan lebih sungkan untuk story gram atau lebih tepatnya instastory sebagai fitur harian dari instagram yang ngetren saat ini. Maka hanya di depan warung biasa dan hanya makan pisang goring membuat seseorang sungkan untuk menguploadnya. Akan lebih senang dengan membuat story di sebuah cafe dan kira-kira dilakukan setiap hari.

            Apa saja yang dilakukan seseorang, apa saja yang dirasakan seseorang, bahkan bersama dia saat ini dengan fitur live pun bisa diketahui hanya dengan melalui fitur storygram ini.

            Dalam ayat Al-Quran Allah SWT berfirman, “Dan orang-orang yang apabila membelanjakan harta mereka tidak berlebih-lebihan dan tidak pula mereka kikir. Dan adalah pembelanjaan itu ditengah-tengah yang demikian itu”. (QS. Al Furqan [25] : 67).

            Jelaslah kiranya bahwa sikap boros lebih dekat kepada perilaku setan, naudzubillaah. Karenanya, budaya bersahajalah salah satu budaya yang harus kita tanamkan kuat-kuat dalam diri. Memilih hidup dengan budaya bersahaja bukan berarti tidak boleh berkumpul di tempat yang comfortable dan instagram-able. Silahkan saja! Tapi, ingat, jangan berlebihan!

            Tidaklah menyalahkan terhadap lifestyle yang berkembang setiap zaman. Tapi berlebihan dan boros adalah sifat setan. Sebaliknya, kalau kita terbiasa dengan barang yang biasa-biasa, dapat dipastikan hidup pun akan lebih ringan.

            Karenanya, hati-hatilah, kawan. Apalagi dalam kondisi ekonomi bangsa kita yang sedang terpuruk seperti saat ini. Kita harus benar-benar mengendalikan penuh keinginan-keinginan kita jikalau ingin membeli suatu barang. Ingat, yang paling penting adalah bertanya pada diri apa yang paling bermamfaat dari barang yang kita beli tersebut.

Source : Ceramah AA Gym : Budaya Bersahaja

http://ceramahcenter.blogspot.com/2016/05/ceramah-aa-gym-budaya-bersahaja.html

Izinkanku Menemuimu, Ramadhanku

oleh: Dewi Fortuna A.

Suatu hari, di antara dentang waktu paling sempurna, akan kuceritakan kisah serta jiwaku yang menggebu untuk bertemu indahnya suatu kurun waktu yang membuat hatiku terpasung. Suatu kurun waktu yang mempersilakanku menyelami indahnya cinta Allah swt.

Bandung, 2018

Tepat pukul 16.00 WIB, aku dan ibu tiba di kota Bandung. Kami segera menuju ke rumah sakit Hasan Sadikin untuk segera mengurus persiapan terapi nuklir untuk penyakit Hyperthyroid-ku esok hari. Setelah selesai mengurus persiapan untuk terapi besok, aku dan ibu segera menuju ke penginapan yang sudah kupesan.

“Ibu, mbak ndak sabar pulang.”

“Kenapa atuh ?”

“Setelah 4 tahun dipondok, tahun ini kan tahun pertama mbak bisa puasa di rumah, bu.”

“Masya Allah, tapi kan di pesantren juga ndak kalah seru, nduk? Banyak teman, banyak kegiatan, jadi bisa produktif ibadahnya.”

“Betul, bu. Maka dari itu, mbak punya rencana, untuk buat list ibadah yang rutin dikerjakan di pesantren supaya bisa rutin dan istiqomah juga dilakukan di rumah, tapi bareng ayah, ibu sama adik-adik.”

Ibu tersenyum sembari menganggukkan kepalanya.

Selepas membersihkan kamar, aku bersiap untuk sholat isya. Kulirik ibu sejenak, ibu sudah tertidur. Pasti ibu sangat lelah.

Namun, tiba-tiba, pada saat sujud terakhirku, aku merasakan nyeri yang menyengat di perutku.

Kuputuskan untuk tetap melanjutkan sholatku. Selepas salam, ku tekuk kedua kakiku.

Astaghfirullah

Sakit sekali. Ibu. Ingin rasanya kusebut nama ibu. Tapi saat mataku mendapati ibu sedang tertidur, aku tak tega membangunkannya.

“Allahumma Antasyafi Laa Syifaa A Illa Syifaa uka Syifa Allayyughodhiru Saqoman Wa laa Alaman,” Ucapku sembari terus menekan perutku yang sakit.

Waktu menunjukkan sudah pukul 00.30 WIB.

Ya Allah sakit sekali.

Aku sudah tidak kuat menahannya, alhasil rintihanku tanpa sengaja membangunkan ibu. Ibu terkejut melihatku menangis menahan sakit.

“Kenapa, nduk? Apa yang sakit, nak?”

“Perut mbak sakit, bu.”

“Ya Allah, Kita ke rumah sakit, ya.”

Kuanggukkan kepalaku lemah.

Sesampainya kami di rumah sakit, beberapa dokter tampak datang dan memeriksaku. Saat seorang dokter menekan perut kanan bagian bawahku, rasa sakitnya semakin menjadi-jadi. Ditambah lagi, pada saat dokter menekuk kaki sebelah kananku.

“Jadi begini, bu. Berdasarkan pemeriksaan yang sudah dilakukan, disini saya mendiagnosis putri ibu mengalami Appendisitis, bu. Dan  harus segera di lakukan tindakan operasi. Jika tidak, ditakutkan dapat menyebabkan komplikasi yang lebih buruk, ibu.”

Ibu tercengang dengan penuturan dokter.

“Dok, sedari kemarin anak saya baik-baik saja. Bahkan kami besok akan melakukan terapi nuklir untuk Hyperthyroid anak saya.”

Setelah beberapa pertimbangan, akhirnya ibu menandatangani lembar persetujuan tindakan operasi. Operasi dilakukan besok malam pukul 21.00 WIB.

Pukul 19.00 WIB, seorang dokter menghampiri kami dan menjelaskan tindakan yang akan dilakukan pada saat operasi.

“Jadi begini, ibu. Nanti kami akan lakukan pembiusan setengah badan. Dikarenakan putri ibu memiliki riwayat Hypertyroid. Kemungkinan terburuk adalah bisa terjadi gagal jantung seketika di meja operasi. Jadi, persentase selamat hanya sekitar 20%, bu. Namun kami akan tetap usahakan yang terbaik, bu.”

Ibu terduduk lemas mendengarkan penjelasan dokter.

Pukul 20.50, aku sudah siap dengan jubah operasiku. Ibu masih tampak sembab dengan tangisnya. Ibu menciumi wajahku sembari menggenggam erat tanganku.

“Sholawat ya, nak. Hatinya terus dibawa muroja’ah ya, nak”

Kusunggingkan senyumku pada ibu. Hatiku ingin berteriak bahwa aku takut, tapi tidak. Allah bahkan jauh lebih dekat daripada urat nadiku.

Ya allah, aku ingin bertemu Ramadhan-Mu walau hanya sebentar. Namun, apabila Engkau berkehendak merenggut nyawaku sebelum aku bertemu dengannya, aku ridho, ya Allah.

Kuyakini dalam hatiku, jika ini terakhir kalinya aku bisa membaca Al-Qur’an, maka ini adalah ibadah terindah selama hidupku. Kulantunkan ayat demi ayat surat Al-Fath, hingga seorang dokter menyuntikkan suatu cairan di punggungku. Pandanganku mulai kabur dan akhirnya terpejam.

Allah Allah Allah

Kubuka mataku perlahan. Kurasakan tubuhku masih terasa kaku untuk bergerak. Tak kusangka, Allah mendengar do’aku. Allah izinkan aku bertemu ramadhan kembali.

Terima kasih atas rahmat-Mu, ya Allah, Engkau izinkan aku bertemu Ramadhan-Mu. Akan kujadikan setiap ibadahku menjadi ibadah-ibadah indah layaknya surat Al-Fath yang kulantunkan di meja operasi, ya Allah.

“Aku sangat mencintai-Mu, Ya Allah.”

Hampir saja aku mengeluh atas kuasa Allah yang memberikanku sakit, namun, Allah mengingatkan “Boleh jadi, kamu tidak menyenangi sesuatu padahal itu baik bagimu, dan boleh jadi, kamu menyukai sesuatu, padahal itu tidak baik bagimu.” Janganlah kita mudah berburuk sangka terhadap Allah. Karena Allah mengetahui apa-apa yang tidak kita ketahui.

Beauty Inside

Karya: Monica Adelia Puspitasari


Alhamdulillah,
Pujiku kepada Allah SWT. Telah dekat kepadaku bulan yang penuh berkah
itu.Suka cita menyambut datangnya dirimu. Banyak rencana yang telah kubuat
untuk menyambut dirimu. Oh ramadhanku.
Sayup-sayup kudengar teman-temanku mulai mempersiapkan diri datangnya
dirimu.
“Nanti sahur pertama mau lauk apa, mo?”
“Mending langganan aja menu saur dan buka di warung tendblue.”
“Masak aja lak wes.”
Begitulah ramadhan ku ditanah rantau kali ini, tidak kudengar lagi gedoran
pintu yang dilakukan oleh ibuku tercinta ketika membangunkan saur. Tidak
kurasa lagi tarawih berjamaah yang dilakukan bersama tetangga rumah. Tidak
ada lagi teriakan,kala menjelang buka puasa.
“Mo,udah buat teh belum?”
Ya begitulah kini ku bersiap melakukan rutinitas ramadhan kali ini seorang diri.
Namun aku tau sudah seharusnya diri ini mulai bersikap dewasa. Sudah
sepantasnya, diriku membuktikan bahwa aku mampu bertahan ditanah rantau
dengan segala fluktuasi kondisi yang ada.

Itu sepenggal cerita ramadhan pertamaku ditanah rantau, sahabat.
Oh iya, kenalin namaku Momo Intan yuwana. Anak pertama dari 1 bersaudara,
yang berambisi untuk bisa tinggal di Madinah Al-Munawarroh suatu saat nanti.
Aamiin. Panggil saja aku, Mo.
“Ci, udah siap sambut Ramadhan tahun ini?”
“Harus siap atuh, Mo.”
“Kalo didaerah sini teh sholat tarawihnya dimana,Ci?”
“Di pertigaan deket Indomarit, aku dulu disitu.”
“Serius,Ci? Jauh banget.”
Baiklah setiap yang kita lakukan pasti ada konsekuensinya. Kepindahan kostku
demi mencari suasana yang lebih nyaman memunculkan konsekuensi. Ya
betul, kini lingkungan kost baruku tidak dekat dengan musholla. Bahkan tak
jarang gema kumadang adzan terasa jauh.
Hal tersebut tentu membuatku bingung,galau dan gelisah.
“Kemana aku akan melaksanakan sholat tarawih berjamaah ramadhan kali
ini?”

Sudahlah kau ini, hal seperti itu saya kau pusingkan. Allah itu selalu punya
rencana terbaik untuk hambaNya. Jadi bertawakal diri saja akan segala
ketetapannya.
Seperti dalam firman Allah SWT, dalam QS. Aṭ-Ṭalāq : 2
Arab-Latin: wa may yattaqillāha yaj’al lahụ makhrajā
“Barang siapa bertakwa kepada Allah niscaya Dia akan membukakan jalan
keluar baginya”
Sudah tentu Allah itu maha baik bagi hamba-hambaNya. maka sudah
sepatutnya bagiku ini untuk tetap bertawakal.
“Rumah Sakit dr.Kariadi Semarang mengkonfirmasi adanya kasus positif pada
1 pasien setelah melakukan perjalanan ke luar negeri”
“Inaillahi, bener ini berita yang muncul ditimeline youtube?” Tanyaku pada
dirisendiri setelah melihat breaking news pada video YouTube.
Astaghfirullah, seketika perasaan was-was,takut dan tidak percaya muncul
dibenakku. Ditanah rantau kini sudah ada yang positif, menurut riset
sederhanaku dan banyak berita diinternet telah memberitakan bahwa
penyebaran virus tersebut tergolong cepat. Inaillahi.

“Oke ga boleh panik!”
Seketika grup kelas dan angkatan ramai seketika, teman-teman mulai merasa
risau dan terusik ketenangannya. Kemudian disusul berita berbagai kampus
ternama sudah mulai mengeluarkan pernyataan melalui surat edaran yang
dikeluarkan oleh masing-masing rektor. Pembelajaran tatap muka akan
dialihkan ke pembelajaran jarak jauh hingga batas waktu yang tidak ditentukan.
“Ini kampus kita belum keluarin edaran apa?”
“Aku habis pulang kampung dianter orangtua langsung disuruh balik lagi.
Bapakku ga bolehin aku stay dikost. Kata beliau percuma kamu kuliah di
jurusan kesehatan tapi kamu sendiri malah ga aware sama kesehatanmu.
Udah ayo pulang!”
“Bapakmu keren, Wid.”
“Aku mau balik kampung masih ngerasa ga enak temen-temen. Kampus kita
kan belum ngeluarin pernyataan resmi.”
Seperti itulah yang kami rasakan diawal bulan maret kemarin. Hingga akhirnya.
“Surat edaran rektor mengenai pembelajaran tatap muka semua dialihkan via
daring sudah muncul teman”
“Alhamdulillah, tapi dekan kita belum keluarin pernyataan mengenai surat
edaran rektor. Sebagai fakultas diranah kesehatan tentu banyak sekali
pertimbangannya. Jadi kita kudu sabar lagi teman. Tunggu info lebih lanjut.”
“Baiklah.”

Saat itu juga perasaanku mulai tidak nyaman, ingin sekali aku pulang agar bisa
berkumpul dengan orang tua dan tidak membuat mereka khawatir. Namun
apalah daya kewajiban sebagai pelajar tentu tetap diutamakan. Maka
menahan sedikit lebih lama dan bersabar merupakan kuncinya.
“Mba Dwi, gimana mau balik nggak?”
“Belum tau, Mo. Belum ada surat edaran lebih lanjut.”
“Yaudah kalo mau pulang, kabarin aja ya nanti kita pulang bareng.”
“Iya, Mo. Banyakin makan vit.C sama pake maskernya.”
Setelah aku telfon kakak sepupu yang memang sedang belajar di tanah rantau
yang sama denganku. Beban pikiranku sedikit lebih tenang. Namun aku belum
bisa memberi kabar pasti kepada orang tuaku. Hingga akhirnya
“Mo, mama dapet kiriman surat edaran kampusmu dari tante tata. Bener itu?”
“Iya bener, ma. Cuma mo masih tunggu surat edaran dari dekan fakultas
Momo,mah.”
“Yaudah hati-hati.”
Entah karena ada ikatan batin antara orangtua dan anak atau hari itu
perasaanku memang sedang peka sekali. Aku menangkap kekhawatiran yang
menguar dari pesan chat yang dikirimkan mama untukku yang meminta agar

anaknya segera pulang saja. Maka dari itu keesokan harinya ku beritahukan
informasi kepulanganku pada orangtua dan kakak sepupuku.
“Mo, mau balik besok.”
“Seriusan, Mo?”
“Iya mba, mama semalem chat Momo kirim surat edaran kampus. Mo, nggak
kirim padahal.”
“Oh ya udah, balik besok tapi tunggu ya. Mba, selesai magang siang habis itu
kita pulang bareng.”
“Oke mba. Ku tunggu.”
Malem harinya ku persiapkan segala keperluan kepulanganku. Di pagi harinya,
Keluarlah surat edaran dari dekan bahwa fakultasku mendukung surat edaran
rektor. Maka kepulanganku hari itu lebih terasa tanpa beban.
Maka disinilah aku sekarang, tempat aku tumbuh berkembang dari masa
kanak-anak hingga sebesar sekarang. Memang benar butuh effort untuk
menyesuaikan lingkungan dan situasi dengan perkuliahanku. Namun aku
mencoba menjalaninya dengan ikhlas dan semangat. Hingga kini bulan
ramadhan sudah didepan mataku.
Kini aku menyadari bahwa kejadian ini merupakan bagian dari jalan keluar
yang dijanjikan olehNya. Agar aku tidak lagi galau untuk tarawih ditanah rantau
maka Allah memberikan situasi yang tidak disangka-sangka oleh hambaNya.

Anjuran physical distancing dan social distancing menjadikan ramadhanku kali
ini menjadi lebih dekat denganMu. Tarawih dirumah bersama orangtua pun
menjadi agenda rutin. Selain itu kegiatan tadarus Al-quran pun menjadi lebih
masif. Serta ladang pahalaku semakin terbuka dengan dekatnya aku bersama
orangtua maka kesempatan menyempurnakan birrul walidain semakin terbuka
lebar .
Lalu, kuingat juga firman Allah dalam surat Al-Insyirah ayat 6:
Arab-Latin: Inna ma’al-‘usri yusrā
artinya “sesungguhnya sesudah kesulitan itu ada kemudahan”
Masyaallah. Sungguh nikmat yang tidak disangka bahwa ramadhan tahun ini
dengan situasi yang amat berbeda namun tidak mengurangi keberkahan dan
keindahan di dalamnya.
Semoga kita bisa menjadi hamba yang tidak kufur terhadap nikmatNya dan
selalu dalam lindunganNya. Aamiin.

Ada yang Berbeda Kali Ini

oleh: Nur Haura Zhafirah Lubis, S. Ked

Ramadhan 1441 Hijriah. Ada yang berbeda kali ini. Menunggu sidang isbat untuk pengumuman hari pertama Ramadhan, dari televisi tampak para alim ulama dan tokoh masyarakat dan aparat pemerintah menggunakan penutup yang menutupi mulut dan hidungnya. Setiap orang saat ini menggunakan masker. Ramadhan kali ini kita sambut di tengah pandemi penyakit yang disebabkan oleh virus.

Hasil keputusan sidang isbat menyepakati 1 Ramadhan bertepatan esok hari, hari Jumat. Malam ini kita menunaikan sholat tarawih, sholat yang keutamaannya sangat banyak dan hanya ditunaikan di bulan Ramadhan. Ada yang berbeda kali ini. Tarawih kita tunaikan di rumah masing-masing, tidak seperti biasanya, berjama’ah di masjid. Kami menunaikan sholat isya dilanjutkan sholat tarawih dan sholat witir berjama’ah diimami oleh Ayah.

Bangun pukul tiga lewat lima belas pagi, menyiapkan santapan sahur pertama. Ada yang berbeda kali ini. Tidak ada anak-anak yang membangunkan sahur dengan cara membunyikan tiang listrik di depan rumah.

Buka puasa pertama. Ada yang berbeda kali ini. Biasanya mengajak keponakan dan Ayah untuk ngabuburit dan mencari makanan untuk berbuka, kali ini memasak makanan sendiri di rumah. Tak banyak orang yang berjualan. Ada, tapi tidak banyak.

Ramadhan kali ini mungkin berbeda. Namun, semangat kita dalam menyambut bulan yang agung ini tak boleh sirna. Dua hari sebelum memasuki Ramadhan, jurnal Ramadhan dijilid spiral plastik di tempat fotokopi. Sangat menyenangkan mempunyai jurnal Ramadhan.

Halaman ketujuh jurnal Ramadhan. Bertuliskan ‘My Ideal Ramadhan’. Ramadhan yang extraordinary itu ketika setiap detik di bulan Ramadhan dihabiskan untuk mengerjakan kebaikan agar mendapat rahmat dan ridho Allah Subhanahu Wa Ta’ala yang berlimpah.

Ramadhan yang extraordinary itu ketika diri ini selalu bermuhasabah, merefleksikan diri tentang bekal apa yang sudah dipersiaplan untuk ke kampung halaman kelak. Ramadhan yang extraordinary itu ketika selesai bulan Ramadhan, maka target-target ibadah selama Ramadhan dikerjakan juga di luar Ramadhan.

Semoga My Ideal Ramadhan ini terwujud. Aamiin.

Ada yang berbeda kali ini. Biasanya semangat menuntut ilmu menghadiri kajian ilmu di masjid-masjid menggunakan motor, kali ini kajian ilmu pun secara daring. Pandemi ini membuat kami untuk lebih kreatif lagi dalam mengeksplor metode dakwah. Kajian ilmu berbagai cara, seperti zoom, youtube, WhatsApp, Line, live instagram, dan berbagai macam kajian via daring. Semoga tidak melunturkan semangat kita dalam menuntut ilmu dan semoga Allah berkahi kita di dalam taman-taman surgaNya.

Mungkin ada rasa takut, cemas, khawatir di tengah pandemi ini. Namun, datangnya bulan Ramadhan ini menumbuhkan rasa berharap yang tinggi kepadaNya. Untuk terus semangat beribadah dan memohon ridhoNya agar pandemi ini segera usai. Indahnya Ramadhan kali ini ditunjukkan dengan semakin banyak orang yang peduli, saling mengasihi, dan memperbaiki diri terhadap sesama.