Langkah Menuju Persatuan

Di antara keistimewaan ajaran Islam adalah seruan kepada umat agar mempertahankan persatuan di antara umat Islam dan menghindari perpecahan. Allah ﷻ sudah mengingatkan pentingnya bersatu dalam firman-Nya;

“Dan berpegang eratlah kalian semua dengan tali Allah dan janganlah berpecah belah”

Read More

Pentingnya Bersatu

Bersatu sangat penting karena umat Islam harus menyadari bahwa dalam Islam memelihara ukhuwah islamiyah adalah kewajiban setiap Muslim. Karena itu, lalai atau bahkan merusak jalinan ukhuwah islamiyah adalah dilarang dan bahkan dianggap mendapatkan dosa, sebagaimana meninggalkan bentuk kewajiban-kewajiban yang lain.

Read More

Penyatu Keputusan

Suatu waktu di hari yang cerah, tepatnya pukul 14.00 diadakan rapat penentuan tema Dies Natalis di aula kampus. Aula ini memang ber-AC, tapi rasanya suasana disini tidak kalah dengan terik matahari diluar. Panas.

Mengapa panas? Bagaimana tidak, semua panitia telah terbagi menjadi beberapa kubu. Rapat yang seharusnya menyatukan pemikiran malah menjadi ajang mementingkan ego dan mempertahankan pendapatnya masing-masing. Ada yang mau bertemakan budaya Indonesia, ada yang mau temanya tentang profesi, sampai ada yang menyampaikan tema super hero karena katanya lagi tren banget saat ini.

Semua menjadi semakin semrawut karena sepertinya sang ketua pelaksana pun juga tidak mau kalah dengan idenya. Sedangkan aku? Ah aku mau rapat ini cepat berakhir. Cukup lama rapat ini berlangsung hingga tidak terasa adzan Ashar berkumandang. Kata mufakat belum juga didapat.

Semua yang ada di Aula terdiam.

Ketua Pelaksana yang juga menjadi pemimpin rapat hari ini, mengatakan rapat ditunda sampai selesai shalat Ashar. Aku hanya bisa berucap syukur, Alhamdulillah, akhirnya aku bisa keluar dari aula ‘pengap’ ini. Kami pun berjalan menuju masjid kampus yang tidak terlalu jauh dari gedung aula tempat kami rapat.

Seusai sholat, ada sedikit ceramah dari ustadz yang menjadi Imam sholat Ashar tadi. Entah kenapa, isinya agak sedikit menyinggung.  Iya, menyinggung.  Khususnya para peserta rapat tadi. Ustadz tersebut memaparkan isi salah satu surah Ali Imran ayat 103 yang artinya:

“Dan berpeganglah kamu semuanya kepada tali (agama) Allah, dan janganlah kamu bercerai-berai”. QS. Ali Imran: 103

Aku termenung. Rasanya ayat Al-Qur’an itu salah satu teguran Allah untukku, kuharap teman-temanku yang lain juga menyadarinya, menyadari bahwa Allah sedang menyinggung kami. Sepulang dari masjid, rapat pun dilanjutkan. Namun, suasananya terasa berbeda. Tidak terasa lagi aura ‘panas’ seperti sebelumnya. Kami-para panitia lebih mau mendengarkan pendapat yang lain, tidak melulu menyela secara sembrono ketika yang lain tengah bersuara.

Pemimpin rapat pun sudah mengerti bagaimana cara mendapatkan keputusan terbaik. Dia tidak lagi ikut memaksakan kehendaknya dan dia mengarahkan rapat dengan sangat baik. Musyawarah lebih dikedepankan dengan pertimbangan yang matang, bukan hanya menguntungkan satu pihak melainkan dengan menyelaraskan kebaikan untuk khalayak. Akhirnya didapatkanlah keputusan tema Dies Natalis yang disetujui oleh semua peserta rapat.

Pada hakikatnya ketika sebuah perkumpulan hendak memutuskan suatu perkara, maka dengan musyawarahlah jalan terbaiknya. Musyawarah ada untuk menyatukan, bukan untuk mencerai berai.

Dan semua keputusan, kepada Allah-lah harus dikembalikan.

Begitupula dengan umat Islam, jika umat saling bercerai berai maka runtuhlah rasa persatuan dan kesatuan yang merupakan ciri kemunduran keimanan pada seseorang. Bandingkan jika umat Islam bersatu, mampu meredam ego pribadi, dan mementingkan kepentingan umat Islam, maka bukan tidak mungkin jika Islam kembali memasuki era kejayaannya, menghapuskan kemungkaran dari muka bumi. Bersatunya umat Islam merupakan cita-cita seluruh muslim yang dapat dimulai dari hal kecil seperti dalam kisah di atas. Membiasakan diri mengedepankan kebaikan demi khalayak meskipun meredam kehendak pribadi, tidak salah bukan?

Islam itu Indah!

            Islam itu Indah….

Ya benar sekali, Islam itu adalah agama yang sangat indah, menjunjung keadilan, kedamaian, dan ketenteraman. Islam itu adalah agama Rahmatan Lil’alamin yang berarti rahmat seluruh alam, juga merupakan agama yang diakui oleh Allah subhanahu wa ta’ala sebagai agama yang paling sempurna sampai hari kiamat kelak.

Sudah tau sendiri kan kalau Islam itu adalah agama yang damai, tidak saling menyakiti antar sesama umat muslim maupun umat beragama lain. Penyebaran agamanya pun tidak melalui kekerasan ataupun paksaan. Dalam perjalanannya, Nabi Muhammad ﷺ menyebarkan agama Islam selama berpuluh-puluh tahun, ada yang secara sembunyi-sembunyi maupun terang-terangan pada masyarakat luas. Nabi Muhammad ﷺ tidak pernah sekalipun memaksakan orang-orang yang telah ia sampaikan ajaran tentang Islam untuk bersegera mungkin masuk Islam. Namun, beliau berserah diri pada Allah ﷻ agar membukakan pintu hati mereka agar senantiasa diberikan hidayah dalam memilih agama yang benar.

Pada zaman sekarang, dimana kejahatan sudah merajalela, miris ketika kita melihat saudara kita sesama muslim harus berjuang mempertaruhkan nyawanya untuk mempertahankan keimanan yang ia yakini sepenuh hati. Mereka bersatu atas nama Allah ﷻ, membela diri mereka dan terus mempertahankan apa yang mereka anut. Persatuan umat sangat dibutuhkan, saling bahu-membahu dan menguatkan keyakinan karena tanpa itu mungkin saja Islam telah habis terkikis zaman.

Lalu bagaimana dengan kita muslim di Indonesia-negara dengan mayoritas muslim terbanyak di dunia? Tidakkah seharusnya kita malu pada muslim di negara yang tengah berperang? Mereka bersatu melawan kedzaliman musuh-musuh Islam yang siap kapan saja menghancurkan Islam. Kita bagaimana? Bukankah seharusnya kita bersatu agar menegakkan Islam kembali menuju puncak kejayaannya seperti berabad-abad lalu?

Sebagai muslim yang mengaku muslim zaman now, seharusnya kita bisa lebih cerdas dalam menanggapi segala tipu muslihat yang disebarkan oleh musuh Islam, berikut beberapa langkahnya:

Pertama, seorang muslim yang cerdas harus bisa menyaring berita-berita yang mengatasnamakan Islam. Pilah dan pilih mana berita yang benar, selain itu kita juga harus mengecek kebenaran berita itu pada situs-situs yang terpercaya sebelum kita menyebarluaskannya. Ingat, kita sekarang berada di zaman milenial dimana informasi sekecil apapun dapat dengan mudah menyebar hanya dengan menekan layar handphone. Jangan sampai kita menjadi pelaku penyebar HOAKS.

Kedua, jangan terhasut dengan omongan-omongan orang untuk mencelakakan umat agama lain. Ingat Islam itu damai, tidak ada satu pun ayat Allah yang menyatakan bahwa muslim itu boleh mencelakakan orang-orang yang tidak bersalah. Pada zaman Rasulullah saja, beliau tidak pernah membalas perilaku seorang pengemis non-muslim yang setiap harinya mencaci maki beliau bahkan sampai melemparkan kotoran pada beliau. Rasulullah malah menjenguk pengemis itu ketika sedang sakit, tidak ada perasaan dendam sedikitpun padanya.

Ketiga, mempercayai bahwa ajaran Islam adalah satu-satunya. Tidak ada ajaran lain yang menyamai Islam. Tolak dengan tegas jika ada orang yang mengajarkan ajaran Islam tidak sesuai dengan Al-Qur’an dan As-Sunnah, karena semua pengajaran tentang berkehidupan tertuang dalam dua sumber tersebut, seperti yang tertuang dalam QS. An-Nisa : 59

يَاأَيُّهَا الَّذِينَ أمَنُوا أَطِيعُوا اللهَ وَأَطِيعُوا الرَّسُولَ وَأُوْلِى اْلأَمْرِ مِنكُمْ فَإِن تَنَازَعْتُمْ فِي شَىْءٍ فَرُدُّوهُ إِلَى اللهِ وَالرَّسُولِ إِن كُنتُمْ تُؤْمِنُونَ بِاللهِ وَالْيَوْمِ اْلأَخِرِ ذَلِكَ خَيْرُُ وَأَحْسَنُ تَأْوِيلاً

Artinya: “Hai orang-orang yang beriman, taatilah Allah dan taatilah Rasul(Nya), dan ulil amri diantara kamu. Kemudian jika kamu berlainan pendapat tentang sesuatu, maka kembalikanlah ia kepada Allah (Al-Qur’an) dan Rasul (sunnahnya), jika kamu benar-benar beriman kepada Allah dan hari kemudian. Yang demikian itu lebih utama (bagimu) dan lebih baik akibatnya.”

Keempat, menuntut ilmu syar’i dan mendalami agama dari ahlinya. Hal ini dapat dilakukan dengan mengikuti sunnah Rasulullah ﷺ dan para sahabatnya yang dapat dijalankan dengan bimbingan para ulama yang lurus aqidahnya, terpercaya amanahnya, dan agamanya. Bergaul dengan ahli ilmu, meneladani akhlak, mengambil ilmu mereka dengan manhaj yang lurus merupakan langkah untuk menjaga persatuan umat dan menjauhi perpecahan.1

Dari sekarang kita harus menjadi muslim yang cerdas dan tidak terhasut oleh musuh-musuh Islam yang ingin memecah belah persatuan umat. Kita sebagai muslim zaman now seharusnya tidak hanya melek teknologi tetapi juga peduli dengan Islam dan bisa menjadi salah satu bagian dari umat yang mengembalikan keberjayaan Islam di masa depan, mewujudkan ungkapan bahwa Islam itu memang agama yang indah dan damai. Aamiin ya Rabbal ‘alamin.

Semoga bermanfaat, Wallahu A’lam Bishshowab

 

Sumber:

  1. Al-Atsari, Muslim. Bersatulah dan jangan berpecah belah. Muslim.or.id. 2011, 21 Sept. Available from: https://muslim.or.id/6884-bersatu-dan-jangan-berpecah-belah.html