Pacaran beda agama/Cinta beda agama, boleh kah?

Pacaran beda agama/Cinta beda agama, boleh kah?
.
Sebuah pertanyaan klasik pun muncul, lalu kembali ke pertanyaan diatas, apakah boleh? 🙂 mari kita coba bahas satu persatu..
.
Dalam Islam sendiri, pacaran sudah jelas haram hukumnya.
“Dan janganlah kamu mendekati zina, sesungguhnya zina itu adalah suatu perbuatan yang keji. Dan suatu jalan yang buruk” (QS. Al-Isro:32)
Jadi, mau pacaran dengan yang seagama ataupun dengan yang beda agama, hukumnya tetap sama yaitu haram.. 🙂
.
‘Kalo begitu, sungguh Allah itu tidak adil, kenapa Allah memberikan fitrah rasa cinta sedang Allah melarang untuk kedua insan yang sedang dilanda cinta untuk berpacaran?’ Yakin berkata demikian dengan hati dan pikiran jernih? Yuk sahabat mari kita coba untuk renungkan sejenak, bagaimana Allah mencintai hamba-Nya? Justru karena cinta-Nya kepada kita, Allah atur sedemikian rupa tentang hubungan antara dua lawan jenis agar tak berujung pada kesesatan yang menjerumuskan dua insan yg sedang dilanda cinta untuk masuk ke neraka.. memang pacaran tidak selalu berakhir dengan zina, tapi hampir semua zina diawali dengan pacaran 🙂 Jadi tidak ada solusi lain untuk dua insan yang saling mencintai untuk menyatukan cinta mereka selain dengan suatu ikatan suci nan halal bernamakan pernikahan, #yukmenikah :D, tapi kalo belum mampu untuk menikah gimana? Ingat pesan Rasul untuk berpuasa 🙂
.
“Wahai para pemuda! Barang siapa diantara kalian yang telah mampu, maka menikahlah, karena demikian (nikah) itu lebih menundukkan pandangan dan menjaga kemaluan. Barang siapa yang belum mampu, maka berpuasalah, karena puasa akan menjadi perisai baginya“.[HR. Al-Bukhori (5066), dan Muslim (1400)]
.
Lalu kembali ke pertanyaan atas, mencintai seseorang yang berbeda aqidahnya, apakah boleh? Apakah itu disebut cinta? Yuk coba kita renungkan kembali dan pikirkan baik-baik, jika cinta yang engkau maksudkan adalah hal yang membuatmu jauh dari-Nya, maka itu bukanlah cinta yang sesungguhnya, melainkan nafsu yang berlindung di balik selimut indah bernama cinta. Hingga tak jarang kita ‘salah paham’ dan menganggap itu adalah cinta. Dan yang menyedihkan lagi, acap kali seseorang menambahkan bumbu manis nan agamis dengan dalih ‘rasa cinta ini datangnya dari Allah, jadi ya gapapa’, padahal kalau kita mau berpikir ulang mana mungkin Allah memberikan sesuatu hal yang malah membuat seorang hamba jauh dari-Nya? 🙂 dan kalaupun memang Allah yang memberikan, maka itu sesungguhnya adalah ujian bagi hamba-Nya.. Allah ingin mengetahui seberapa setiakah kita kepada-Nya?
Allah ingin memastikan apakah kita lebih mencintai Allah Sang Maha Pencipta atau malah lebih mencintai Ciptaan-Nya? 🙂
.
“Dijadikan indah pada manusia kecintaan kepada apa-apa yang diingini, yaitu: wanita-wanita, anak-anak, harta yang banyak dari jenis emas, perak, kuda pilihan, binatang-binatang ternak dan sawah ladang. Itulah kesenangan hidup di dunia, dan di sisi Allah-lah tempat kembali yang baik” (QS. Ali Imran:14).
.
“….seorang (di hari kiamat) akan bersama orang yang dicintainya, dan engkau akan bersama yang engkau cintai..” (HR. Bukhori no.6171 dan Tirmidzi no.2385)
.
Rasulullah saw pun telah mengatakan bahwa kelak kita akan bersama dengan orang-orang yang kita cintai. Jadi masih mau mencintai dia yang berbeda aqidahnya, dia yang jauh dari Allah swt? 🙂
Kalau Allah saja ia tinggalkan, apalagi kamu? 🙂
.
“Sungguh cinta terbaik adalah ketika kau mencintai seorang kekasih yang membuat imanmu mendewasa, taqwamu bertumbuh, cintamu pada-Nya juga bertumbuh, cinta terbaik adalah saat kau mencintai seorang yang membuat akhlaqmu makin indah, jiwamu makin damai, hatimu makin bijak. Dia jadi penegur saat taatmu luntur. Dia jadi penasehat saat kau maksiat. Dia jadi pelipur saat semangatmu lebur. Ya, dialah cinta terbaik. Yang tak hanya ingin bersamamu di dunia, tapi juga ingin bersamamu di Syurga.”
Wallahua’lam bisshowab.. Semoga bermanfaat 🙂
.
Penulis : Sandria | Kadept KKIA

Inilah 3 Perkara yang Harus Disegerakan

Sahabat Dunia islam, setiap manusia memiliki kepentingan, kebutuhan, pengharapan dan keinginan yang berbeda. Skala prioritas kita pun kadang berbeda-beda, sesuai dengan pertimbangan-pertimbangan yang kita lakukan.

Nah… ternyata ada 3 Perkara yang Harus Disegerakan ketika kita dihadapkan pada hal-hal berikut ini. Apa saja 3 hal tersebut? simak penjelasan lengkapnya yang di ambil dari majalah ummi online.

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam mewasiatkan tiga hal yang harus disegerakan. Tidak boleh ditunda-tunda. Sebagaimana tertera dalam hadits berikut ini.

Rasulullah shallallahu ‘alaihu wasallam bersabda:

“Wahai Ali, ada tiga perkara yang tidak boleh engkau tunda, yakni shalat jika telah tiba waktunya, jenazah apabila telah hadir, dan wanita apabila telah ada calon suami yang sekufu.” (HR. Tirmidzi dan Ahmad; hasan)

Walaupun dalam hadits ini Rasulullah Saw bersabda kepada Ali bin Abu Thalib radhiyallahu ‘anhu, para ulama menjelaskan bahwa hadits ini berlaku umum untuk seluruh umatnya.

Pertama, Shalat tepat waktu

Rasulullah Saw mengajarkan umatnya untuk shalat tepat waktu. Bagi laki-laki, shalat berjama’ah di masjid. Namun saat ini, yang terjadi ketika Suara adzan telah berkumandang, banyak orang yang masih sibuk dengan aktivitas duniawinya. Memilih menunda shalat, dan menyelesaikan pekerjaan atau tugas terlebih dahulu dibandingkan memenuhi panggilan-Nya. Hanya beberapa orang yang mendahulukan shalat ke masjid dibandingkan melanjutkan pekerjaannya.

Apapun alasannya, sebaiknya sebagai seorang muslim yang taat, kita harus mendahulukan panggilan-Nya. Meninggalkan segala aktivitas duniawi dan memilih untuk memenuhi panggilan-Nya terlebih dahulu.

Pertemuan dengan Allah adalah kesempatan yang seharusnya sangat kita nantikan. Menceritakan semua keluh kesah, beban, kesedihan, serta mengungkapkan kesyukuran kita pada-Nya.

Kita perlu membiasakan untuk segera bangkit dan menunda aktivitas lainnya ketika adzan berkumandang. Hal ini perlu pembiasaan agar kita terbiasa dan akhirnya menjadi kebiasaan. Merasa tidak nyaman ketika belum shalat saat waktunya tiba.

Kedua, Memakamkan jenazah

Jenazah perlu diurus dan dimakankan dengan segera. Jangan ditunda, lebih baik segera dimandikan, dikafani, dishalatkan dan dimakamkan. Dalam salah satu hadits disebutkan mengapa harus mempercepat pemakaman jenazah; jika ia orang yang taat berarti kita mempercepat ia bertemu nikmat-Nya, sedangkan jika ia pendosa berarti kita mempercepat berlepas dari fitnahnya.

Terkadang, pengurusan jenazah ditunda-tunda dengan berbagai alasan. Ada yang beralasan agar seluruh kerabatnya datang dulu melihat wajahnya untuk terakhir kalinya. Ada pula karena alasan ia pejabat atau orang terkenal sehingga ditunda berhari-hari pemakamannya.Na’udzubillah.

Ketiga, Menikahkan wanita yang telah datang jodohnya

Rasulullah menganjurkan para orangtua agar segera menikahkan putrinya jika telah ada pria sekufu yang melamarnya. Menurut banyak ulama, kufu itu dalam urusan agama. Senada dengan hadits lain yang menjelaskan bahwa jika ada pria saleh yang datang melamar hendaklah diterima atau akan ada fitnah dan kerusakan yang terjadi di muka bumi.

Jadi, buat sahabat dunia islam yang punya anak perempuan, jika sudah datang jodohnya maka jangan menunda-nunda untuk segera dinikahkan.

Wallahu’alam.

Semoga bermanfaat

Sumber : Ummi-online.com

DUKA SYIRIA, DUKA KITA BERSAMA

BBC Indonesia melaporkan bahwa sekurangnya tiga dokter dan 14 pasien meninggal dunia dalam sebuah serangan udara atas sebuah rumah sakit di kota Aleppo Syria (27/04), menurut organisasi Medecins sans Frontieres (MSF).

Di antara yang tewas di rumah sakit Al-Quds yang dikelola MSF itu adalah salah seorang dari sedikit dokter anak yang masih ada di Syria. Kelompok pertahanan sipil menyalahkan pemerintahan Syria untuk serangan udara tersebut, tetapi hingga kini belum ada pengukuhan resmi mengenai hal ini.

Kekerasan di Syria terus meningkat beberapa hari ini sekalipun sedang ada gencatan senjata.
Peningkatan kekerasan terjadi di tengah-tengah laporan bahwa tentara Syiria yang didukung kekuatan udara Rusia bersiap untuk serangan besar di Aleppo.

Kekerasan ini mengancam pelaksanaan perundingan damai yang disponsori PBB, yang diteruskan bulan lalu. Hari Rabu (27/04), utusan PBB untuk Syria Staffan de Mistura mendesak pejabat “tingkat tertinggi” Amerika dan Rusia untuk campur tangan demi menyelamatkan perundingan damai ini.

Berbicara di Jenewa, Staffan mengatakan bahwa perundingan damai ini dalam kondisi rapuh dan ‘bisa gagal setiap saat’.

Dalam sepekan terakhir, lebih dari 100 warga sipil tewas dalam pengeboman yang baru-baru ini dilakukan lagi baik oleh kelompok pemberontak maupun pemerintah Syiria, menurut organisasi pengawas, Syrian Observatory for Human Rights yang berkantor di Inggris.

Sumber : http://www.bbc.com/indone…/…/2016/04/160428_dunia_aleppo_msf

“Adalah sebuah kejahatan perang ketika Rumah Sakit Aleppo dibom hingga menewaskan warga sipil. Tenaga medis dan anak-anak menjadi bagian korban yang tak terhindarkan.”

Saatnya kita peduli dan beraksi untuk Syria!

Rekening Donasi:
# Bank BRI
An. Muhammad Salsabil Lasarik
6640 01 001728 50 2

Untuk DONASI SYIRIA, silakan dikasih angka 111 di nominal dana agar tidak tercampur dgn donasi lain …

Misal
100.111
500.111
1.000.111
5.000.111
Dan KONFIRMASI ke 085728995328 (Humam)

Kami menerima donasi transfer maksimal hingga hari Senin, 9 Mei 2016. Pukul 20.00 WIB. Baarokallahu fiikum..

‪#‎FULDFK‬
‪#‎solidmengakarmenyejarah‬

MEMILIKI KETURUNAN DENGAN TEKNOLOGI BAYI TABUNG, BOLEHKAH?

Dokumen PDF Lengkap Dapat Download di Kajian 2 KKIA FULDFK

DEPARTEMEN KAJIAN KEDOKTERAN ISLAM DAN ADVOKASI
DEWAN EKSEKUTIF PUSAT
FORUM UKHUWAH LEMBAGA DAKWAH FAKULTAS KEDOKTERAN INDONESIA
Sekretariat : Forum Studi Islam Senat Mahasiswa Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia
Jalan Salemba No 6 Jakarta
Home page: http://www.medicalzone.org Email: sekumfuldfk@yahoo.com

MEMILIKI KETURUNAN DENGAN TEKNOLOGI BAYI TABUNG, BOLEHKAH?
Penulis: Rezeki Ananda Elyani1, Rafsanjani Hidayatullah2
Editor: Sandria3
1
Fakultas Kedokteran Universitas Lambung Mangkurat
2Fakultas Kedokteran Universitas Diponegoro
3Fakultas Kedokteran Universitas Sriwijaya
Departemen Kajian Kedokteran Islam dan Advokasi Dewan Eksekutif Pusat
Forum Ukhuwah Lembaga Dakwah Fakultas Kedokteran Indonesia

Perubahan gaya hidup, perubahan jenis makanan dan minimnya aktivitas olahraga dewasa ini telah memberikan masalah baru bagi aspek kesehatan terutama pada sistem reproduksi, dari masalah amenorea sekunder sampai dengan infertilitas. Infertilitas menjadi masalah besar terutama bagi pasangan yang telah menikah dan ingin memiliki keturunan, infertilitas juga akan menyebabkan dampak negatif berupa gangguan psikologis bagi kedua pasangan. Seiring dengan kemajuan ilmu dan teknologi, berbagai cara dilakukan untuk mengatasi masalah infertilitas, yaitu terapi hormonal, terapi siklus ovulasi dan inseminasi bayi tabung. Muncul pertanyaan dikalangan masyarakat Indonesia, Bagaimanakah inseminasi bayi tabung dilihat dari segi medis dan bagaimanakah pandangan agama Islam terhadap inseminasi bayi tabung? Halalkah? Bagaimanakah peraturan nasab dan hukum waris anak hasil inseminasi bayi tabung?

Bayi tabung atau dalam bahasa kedokteran disebut In Vitro Fertilization (IVF)  atau fertilisasi in vitro adalah suatu upaya memperoleh kehamilan dengan jalan mempertemukan sel sperma dan sel telur dalam suatu wadah khusus. Pada kondisi normal, pertemuan ini berlangsung di dalam saluran tuba. Proses bayi tabung ini berlangsung di laboratorium dan dilaksanakan oleh tenaga medis sampai menghasilkan suatu embrio dan diimplantasi di dalam rahim wanita dan akan terjadi proses kehamilan layaknya kehamilan normal di rahim wanita tersebut.(1,2)
Fertilisasi boleh dilakukan jika pada keadaan terdapatnya kerusakan atau sumbatan pada saluran reproduksi wanita, infertilitas pada laki-laki, dan infertilitas yang tidak diketahui sebabnya (idiopatik). Sebelum proses fertilisasi in vitro dilakukan, terdapat beberapa persyaratan yang harus dipenuhi yaitu: umur wanita tidak boleh lebih dari 30 tahun, mempunyai status hormonal yang normal dengan ovulasi regular, setidak-tidaknya didapatkan satu indung telur yang normal, dan dapat dicapai untuk melakukan aspirasi sel telur (ovum pick up).(1,3,4)
Prosedur fertilisasi in vitro secara umum dapat dibagi menjadi beberapa tahapan. Tahapan awal sebelum memasuki 5 prosedur dasar proses bayi tabung adalah seleksi dan persiapan pasien terlebih dahulu. Jika pasien ada indikasi untuk mengikuti program bayi tabung, maka langkah selanjutnya adalah:

cProses Fertilisasi In Vitro

5 prosedur dasar proses bayi tabung (In Vitro Fertilization Process)5,6,7
Langkah 1: Stimulasi atau Merangsang Indung Telur
Normalnya seorang perempuan memproduksi satu sel telur setiap bulannya, oleh karena itu diberikan obat-obatan atau hormon yang dapat merangsang produksi sel telur lebih banyak lagi sebab dalam proses bayi tabung memerlukan lebih dari satu sel  telur untuk memeroleh embrio.
Langkah 2: Pengambilan Sel Telur
Proses selanjutnya adalah melakukan pengambilan sel telur untuk kemudian diproses  di laboratorium. Prosedur dapat dilakukan dengan cara follicular aspiration ataupun melalui laparoscopy. Pada hari yang sama juga akan dilakukan pengambilan sperma suami.
Langkah 3: Inseminasi dan Fertilisasi
Setelah proses di atas selesai, maka langkah selanjutnya adalah melakukan inseminasi atau pencampuran sperma dan sel telur pada media kultur di laboratorium sehingga diharapkan proses pembuahan (fertilisasi) dapat terjadi untuk menghasilkan embrio. Jika pada tahap ini diperkirakan kemungkinan proses pembuahan (fertilisasi) tidak dapat terjadi maka dapat dilakukan Intracytoplasmic Sperm Injection (ICSI) atau menginjeksikan sperma ke sel telur secara langsung.
Langkah 4: Kultur Embrio
Sel telur yang sudah dibuahi oleh sperma atau disebut juga embrio disimpan di tempat dan suhu yang sesuai di dalam inkubator selama 48 jam. Pada tahap ini juga petugas laboratorium akan memeriksa secara rutin untuk memastikan bahwa embrio tumbuh dan berkembang sebagaimana mestinya.
Langkah 5: Transfer Embrio
Setelah embrio terbentuk dan berkembang dengan baik, langkah selanjutnya adalah melakukan proses implantasi atau transfer embrio kembali ke dalam rahim agar terjadi proses kehamilan. Jumlah embrio yang diimplantasi atau ditransfer dapat lebih dari satu embrio agar dapat menghasilkan kehamilan kembar, triplet, atau lebih. Jika masih terdapat sisa embrio yang tidak diimplantasikan ke dalam rahim saat itu, maka embrio tersebut dapat disimpan pada suhu yang rendah untuk proses kehamilan berikutnya. Baru kemudian proses bayi tabung memasuki fase luteal untuk mempertahankan dinding rahim dengan memberikan Progesterone. Biasanya dokter akan memberi obat selama 15 hari pertama untuk mempertahankan dinding rahim ibu agar terjadi kehamilan. Proses terakhir adalah melakukan pemeriksaan apakah telah terjadi kehamilan atau belum, baik dengan pemeriksaan darah maupun USG.

  1. Di Indonesia, terdapat hukum kesehatan terkait teknik reproduksi buatan yang diatur dalam :
    UU Kesehatan No. 36 Tahun 2009, pasal 127 menyebutkan bahwa upaya kehamilan diluar cara alamiyah hanya dapat dilakukan oleh pasangan suami yang sah dengan ketentuan :
    a.    Hasil pembuahan sperma dan ovum dari suami istri yang bersangkutan ditanamkan dalam rahim istri dari mana ovum berasal;
    b.    Dilakukan oleh tenaga kesehatan yang mempunyai keahlian dan kewenangan untuk itu; Pada fasilitas pelayanan kesehatan tertentu.
  2. Keputusan Menteri Kesehatan No. 72/Menkes/Per/II/1999 tentang Penyelenggaraan Teknologi Reproduksi Buatan.(1,3,4)

BAYI TABUNG DARI SUDUT PANDANG ETIKA

Program bayi tabung pada dasarnya tidak sesuai dengan budaya dan tradisi ketimuran serta agama islam. Di Indonesia jika dipandang dari segi etika, pembuatan bayi tabung tidak melanggar norma jika sel sperma dan sel ovum berasal dari pasangan suami istri yang sah secara hukum dan agama. Namun, dalam kasus proses bayi tabung yang berasal dari pasangan suami istri yang tidak sah secara hukum dan agama atau dari pasangan suami istri yang sah namun bukan diinseminasi di rahim istri yang sah atau sewa rahim maka akan menimbulkan perdebatan dalam segi etika. Ada yang berpendapat ibu yang menyewakan rahimnya adalah sama seperti ibu yang menyusukan anak tersebut, karena pada masa kehamilan anak tersebut mendapatkan nutrisi dari ibu yang menyewakan rahimnya, namun ada juga yang berpendapat bahwa hal tersebut tergolong dalam keadaan zina karena telah menanamkan hasil gamet di dalam rahim yang bukan mahromnya..(8,9,10)

  1. Mochammad Anwar, Sp.OG dalam Seminar Nasional Continuing Medical Education pada tahun 2009 menyatakan dengan banyaknya masalah norma dan etika dalam teknologi ini seorang tenaga kesehatan harus secara selektif memilah aspek etika yang dipegang oleh para penenliti di bidang rekayasa genetika yang didasarkan pada Deklarasi Helsinki antara lain :
  2. Riset biomedik pada manusia harus memenuhi prinsip-prinsip ilmiah dan didasarkan pada pengetahuan yang adekuat dari literatur ilmiah.
  3. Desain dan pelaksanaan eksperimen pada manusia harus dituangkan dalam suatu protokol untuk kemudian diajukan pada komisi independen yang ditugaskan untuk mempertimbangkan, memberi komentar dan kalau perlu bimbingan.
  4. Penelitian biomedik pada manusia hanya boleh dikerjakan oleh orang-orang dengan kualifikasi keilmuan yang cukup dan diawasi oleh tenaga medis yang kompeten.

Dalam protokol riset selalu harus dicantumkan pernyataan tentang norma etika yang dilaksanakan dan telah sesuai dengan prinsip-prinsip deklarasi Helsinki.(8,9,10)

BAYI TABUNG DALAM PANDANGAN HUKUM INDONESIA

Hukum perdata di Indonesia juga mengatur terkait masalah proses bayi tabung.

  1. Jika benihnya berasal dari suami istri lalu diimplantasikan ke dalam rahim istri, maka anak tersebut baik secara biologis ataupun yuridis mempunyai status sebagai anak sah (keturunan genetik) dari pasangan tersebut. Jika embrio diimplantasikan kedalam rahim ibunya di saat ibunya telah bercerai dari suaminya dan anak itu lahir sebelum 300 hari perceraian, mempunyai status sebagai anak sah dari pasangan tersebut. Namun jika dilahirkan setelah masa 300 hari maka anak itu bukan anak sah dari ayah biologisnya dan tidak memiliki hubungan keperdataan apapun dengan bekas suami ibunya berdasarkan Pasal 255 KUHP.
  2. Jika embrio diimplantasikan ke dalam rahim wanita lain yang bersuami maka secara yuridis status anak itu adalah anak sah dari pasangan penghamil, bukan pasangan yang mempunyai benih, dasar hukumnya adalah pasal 42 UU No.1/1974 dan pasal 250 KUHP
  3. Jika salah satunya berasal dari donor. Jika suami mandul dan istrinya subur maka dapat dilakukan fertilisasi in vitro dengan sperma dari donor dan akan diimplantasikan ke rahim istri, status anak yang dilahirkan akan menjadi sah dan memiliki hubungan mewaris dan hubungan keperdataan lainnya sepanjang si suami tidak menyangkalnya dengan melakukan tes golongan DNA sesuai dasar hukum 250 KUHP. Jika embrio diimplantasikan ke dalam rahim wanita lain yang bersuami maka anak yang dilahirkan merupakan anak sah dari pasangan penghamil tersebut sesuai hukum pasal 42 UU No. 1/1974 dan pasal 250 KUHP.
  4. Jika semua benihnya dari donor yang tidak terikat perkawinan namun embrio diimplantasikan ke dalam rahim wanita yang terikat perkawinan yang sah dengan suaminya maka sang anak yang lahir mempunyai status anak yang sah karena dilahirkan dari perempuan yang terikat dalam perkawinan yang sah. Jika transfer embrio diimplantasikan kedalam rahim seorang gadis, maka status anak yang dilahirkan memiliki status sebagai anak luar kawin karena gadis tersebut tidak terikat perkawinan secara sah kecuali sel telur berasal darinya maka anak tersebut sah secara yuridis dan biologis sebagai anaknya.

Ketua Majelis Ulama Indonesia, Prof. Dr. Khuzaimah T Yanggo berpendapat mengenai teknik bayi tabung “Teknik bayi tabung diperbolehkan menurut Islam adalah tidak melibatkan pihak ketiga, jadi sperma dan ovum harus berasal dari suami istri yang sah dan masih rukun. Bila sperma dan ovumnya diambil bukan dari pasangan suami istri sah maka hukumnya  haram dan status zina”. Jadi bayi tabung diperbolehkan dengan syarat diatas.(1,3,4)

BAYI TABUNG MENURUT PANDANGAN ISLAM

Islam pada dasarnya tidak mempersulit keadaan sesuai dengan Firman Allah SWT

اِنَّ مَعَ العُشْرِ يُشْرَا

Artinya: “Setiap ada kesulitan, ada kemudahan” (QS. Al-Insyirah: 5).

Aspek hukum penggunaan bayi tabung didasarkan kepada sumber sperma dan ovum serta rahim. Dalam hal ini bayi tabung ada tiga macam, yaitu:

  1. Jika dilakukan dengan sperma dan ovum pasangan suami istri yang sah dan diimplantasikan ke istri yang sah maka hukumnya mubah. Dalam hal ini kaidah fiqih menentukan bahwa “Hajat (kebutuhan yang sangat penting itu) diperlakukan seperti dalam keadaan terpaksa (emergency) padahal keadaan darurat/terpaksa membolehkan hal-hal yang terlarang.”
  2. Proses bayi tabung yang dilakukan dengan menggunakan sperma dan ovum dari donor maka hukumnya haram karena hukumnya sama dengan melakukan zina sehingga anak yang dilahirkan melalui proses bayi tabung tersebut tidak sah dan nasabnya hanya dihubungkan dengan ibu yang melahirkannya. Termasuk juga haram menggunakan sperma mantan suami yang telah meninggal dunia, sebab antara keduanya tidak terikat perkawinan lagi sejak suaminya meninggal dunia.
  3. Haram hukumnya bayi tabung yang diperoleh dari sperma dan ovum dari suami istri yang terikat perkawinan yang sah namun transfer embrio ke rahim wanita yang bukan ibu biologisnya. Atau dengan donor sperma yang bukan suami sah dari pasangan tersebut. Ini berarti bahwa kondisi darurat tidak menolerir perbuatan zina atau bernuansa zina, zina tetap haram dalam keadaan darurat sekalipun.

Alasan-alasan haramnya bayi tabung dengan menggunakan sperma dan ovum dari donor atau ditansfer kedalam rahim wanita lain, adalah:

  1. Firman Allah dalam Al Qur’an :
    Artinya : “Dan sesungguhnya telah Kami muliakan anak-anak Adam, kami angkut mereka di daratan dan di lautan, kami beri mereka rezki dari yang baik-baik dan kami lebihkan mereka dengan kelebihan yang Sempurna atas kebanyakan makhluk yang Telah kami ciptakan.” (Q.S Al-Isra: 70)

    Artinya : “Orang-orang diantara kamu yang menzihar istrinya (menganggap istrinya sebagai ibunya, padahal) istri mereka itu bukanlah ibunya. Ibu-ibu mereka hanyalah perempuan yang melahirkannya. Dan sesungguhnya mereka benar-benar telah mengucapkan suatu perkataan yang munkar dan dusta. Dan sesungguhnya Allah Maha Pemaaf dan Maha Pengampun” (Q.S Al-Mujadilah: 2)

  1. Hadits Nabi Muhammad SAW
    “Tidak halal bagi seseorang yang beriman kepada Allah dan hari akhir menyiramkan airnya (sperma) pada tanaman orang lain (istri orang lain)”. (HR Abu Daud, Thirmidzi, dan dipandang Shahih oleh Ibnu Hibban) Hadits ini tidak saja mengandung arti penyiraman sperma ke dalam vagina seorang wanita melalui hubungan seksual, melainkan juga mengandung pengertian memasukkan sperma donor melalui proses bayi tabung, yaitu pencampuran sperma dan ovum di luar rahim yang tidak diikat perkawinan yang sah.
  2. Kaidah Fiqih
    Islam pada dasarnya memperbolehkan proses inseminasi bayi tabung dalam pelaksanaannya jika sperma dan ovum yang digunakan dari pasangan suami istri yang sah, namun ada beberapa hal yang membuat mafsadah (bahaya) bayi tabung, terutama pada proses bayi tabung dengan donor sperma maupun donor ovum.
  1. Pencampuran nasab, karena pencampuran hasil donor akan berkaitan dengan masalah mahrom dan hukum waris.
  2. Bertentangan dengan sunnatullah.
  3. Statusnya sama dengan zina, karena pencampuran sperma dan ovum tanpa perkawinan yang sah.
  4. Anak yang dilahirkan dari hasil bayi tabung dengan donor akan menjadi sumber konflik karena perbedaan gen sifat/fisik dan karakter serta mental yang tidak sama dengan ibu/bapaknya.
  5. Anak yang dilahirkan melalui bayi tabung yang pencampuran nasabnya terselubung dan dirahasiakan donornya, lebih jelek daripada anak adopsi yang umumnya diketahui asal atau nasabnya.
  6. Bayi tabung dengan menggunakan rahim sewaan akan lahir tanpa proses kasih sayang yang alami (tidak terjadi hubungan mental antar ibu dan janin).

Nabi Muhammad SAW bersabda, diriwayatkan dari Anas RA “Menikahlah kalian dengan wanita-wanita yang subur, sebab sesungguhnya aku akan berbangga di hadapan para Nabi dengan banyaknya jumlah kalian pada hari kiamat nanti.” (HR.Ahmad). Syariat Islam mengajarkan kita untuk tidak berputus asa dan menganjurkan untuk senantiasa berusaha dalam menggapai karunia Allah, termasuk dalam kesulitan reproduksi manusia. Dengan adanya kemajuan teknologi kedokteran dan ilmu biologi modern yang Allah karuniakan kepada umat manusia agar mereka bersyukur dan menggunakannya sesuai dengan kaidah-kaidah ajaranNya.

Kesulitan reproduksi tersebut dapat diatasi dengan upaya medis agar pembuahan antara sel sperma suami dengan sel telur istri dapat terjadi di luar tempatnya yang alami. Hal ini diperbolehkan dengan syarat jika upaya pengobatan untuk mengusahakan pembuahan dan kelahiran alami telah dilakukan dan tidak berhasil. Dalam proses pembuahan di luar tempat yang alami tersebut, setelah sel sperma suami dapat sampai dan membuahi sel telur istri dalam suatu wadah yang mempunyai kondisi mirip dengan kondisi alami rahim maka sel telur yang telah terbuahi diletakkan pada tempatnya yang alami (rahim istri). Dengan demikian, kehamilan alami diharapkan dapat terjadi dan selanjutnya akan dapat dilahirkan bayi secara normal. Proses seperti itu merupakan upaya manusia melalui medis untuk mengatasi kesulitannya dalam reproduksi dan hukumnya boleh menurut syara’. Sebab upaya tersebut merupakan upaya untuk mewujudkan apa yang disunnahkan oleh Islam yaitu kelahiran dan perbanyak anak, yang merupakan salah satu tujuan dasar dari suatu pernikahan sebagaimana hadits di atas.

“Sesungguhnya Kami telah menciptakan manusia dalam bentuk yang sebaik-baiknya.” (Q.S At-Tiin: 4). (2,8,9,10)

Wallahu’alam bisshowab.

DAFTAR PUSTAKA

  1. Soimin, Soedharyo, SH. (1995) Kitab undang-undang hukum perdata. Jakarta. Sinar Grafika.
  2. http://keperawatanreligionsantims.wordpress.com/2013/05/20/undang-undang-dan-kontroversi-mengenai-bayi-tabung/ – diakses tanggal 29 Maret 2016
  3. Guwandi, J, SH. (2007) Hukum dan dokter. Jakarta. CV.Sagung Seto.
  4. Fahri (2010). Bayi Tabung. http://fachri-kencana.blogspot.com/2010/11/bayi-tabung.html- diakses tanggal 28 Maret 2016
  5. Jackson RA, Gibson KA, Wu YW, et al (2004). Perinatal Outcomes in Singletons following in vitro fertilization: a meta-analysis. Obstet Gynecol. 103: 551-563
  6. Goldberg JM (2007). In vitro fertilization update. Cleve Clin J Med. 74(5): 329-38.
  7. The Practice Committee of the Society for Assisted Reproductive Technology and the Practice Committee of the American Society for Reproductive Medicine (2013). Criteria for number of embryos to transfer: a committee opinion. Fertil Steril. 99 (1):44-46.
  8. http://indonesiaindonesia.com/f/82005-kontroversi-bayi-tabung- diakses tanggal 29 Maret 2016
  9. http://abdulhelim.com/2012/06/anak-hasil-inseminasi-bayi-tabung-dala m.html- diakses tanggal 29 Maret 2016
  10. http://www.republika.co.id/berita/ensiklopedia-islam/fatwa/10/05/08/1 14856-apa-hukum-bayi-tabung-menurut-islam diakses tanggal 29 Maret 2016

 

Dokumen PDF Lengkap Dapat Download di Kajian 2 KKIA FULDFK

Rapat Kerja Wilayah 4 FULDFK Indonesia

80630

Musyawarah Kerja Wilayah Forum Ukhuwah Lembaga Dakwah Fakultas Kedokteran Dewan Eksekutif Wilayah IV  (MUSKERWIL FULDFK DEW IV) tahun 2016  merupakan suatu forum yang digunakan Lembaga Dakwah Fakultas Kedokteran (LDFK) di wilayah IV untuk menjalin silaturahim. Tak hanya itu, forum tersebut juga digunakan untuk sharing, mendiskusikan tentang proker-proker antar LDFK serta kegiatan-kegiatan yang akan dijalankan FULDFK Wilayah IV untuk menjembatani antara LDFK dan FULDFK.

Kegiatan tersebut dimulai pukul setengah sembilan dan diikuti oleh sebelas LDFK dari tiga belas LDFK di Wilayah IV. Kesebelas lembaga tersebut adalah CMIA (FK UII), KaLAM (FK UGM), SKIF AL- Jundi (FK UMY), SKI FK (FK UNS), FSIKI (FK UMS), Avicenna (FK UNDIP), BAI (FK Unissula), HMMK (FK Unsoed), Madani (FK Unimus), KMM As Syifaa’ (FK Unmul), dan Kusi Ar-Razi (FK UMP).

 

12985537_1115739035127467_2947899578864788940_n

Peserta RAKERWIL4 sedang menyimak tausyah oleh dr. Arifudin, Sp.Ot.

MUSKERWIL diawali dengan menyanyikan lagu indonesia raya dan sambutan, kemudian dilanjutkan dengan pemilihan mas’ul (ketua) FULDFK DEW IV. Dari dua calon yang sama-sama berasal dari FSIKI, akhirnya terpilihlah Yoga Nuswantoro sebagai mas’ul periode 2015/2016. Kegiatan lalu dilanjutkan dengan mendengarkan pengarahan dari Dewan Eksekutif Pusat (DEP) serta tausyah yang disampaikan oleh dr. Arifudin, Sp.Ot, yang merupakan salah satu dari pendiri FULDFK. Setelah itu, terdapat sharing proker antar divisi yang dilanjutkan dengan pemaparan hasil diskusi dan foto bersama.

12985451_1115739075127463_5651890562846092443_n

Para Peserta Menyanyikan Lagu Indonesia Raya
12985428_1115739061794131_1216804748805926007_n
Suasana sebelum acara dimulai

Oleh: CIMIA FK Universitas Islam Indonesia

Sumber : spektrumonline.bpn-ismki.org