Gerhana Matahari; Mari Lakukan Amalan yang di Pesankan Rasulullah SAW

Sebagai seorang muslim, Anda tidak perlu bingung, apalagi melakukan hal-hal yang tidak ada tuntunannya, karena Rasulullah Shalallahu álaihi wasallam sudah memberikan tuntunan berupa ibadah yang bisa kita amalkan ketika terjadi gerhana, baik gerhana matahari maupun gerhana bulan. Apa sajakah itu? Simak  informasi yang berjudul Lima Pesan Nabi Saat Terjadi Gerhana Matahari Total, berikut ini :

1.    Perbanyak dzikir, takbir, istighfar dan amalan lainnya

Saat terjadi gerhana matahari total, jangan sibukkan diri Anda dengan mengamati apalagi mengabadikannya saja, karena Rasulullah sudah memberi tuntunan agar kita memperbanyak dzikir, istighfar, takbir maupun alaman lainnya.
Dari ‘Aisyah radhiyallahu ‘anha, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
”Sesungguhnya matahari dan bulan adalah dua tanda di antara tanda-tanda kekuasaan Allah. Gerhana ini tidak terjadi karena kematian seseorang atau lahirnya seseorang. Jika melihat hal tersebut maka berdo’alah kepada Allah, bertakbirlah, kerjakanlah shalat dan bersedekahlah.” (HR. Al Bukhari)

2.    Mengerjakan shalat gerhana secara berjamaáh di masjid

Amalan lainnya yang bisa Anda kerjakan adalah melaksanakan shalat gerhana secara berjamaah di masjid/tanah lapang. Namun bisa juga jika Anda melaksanakannya sendiri di rumah, karena tidak ada tuntunan harus sendiri atau berjamaah.
”Jika kalian melihat gerhana tersebut, maka shalatlah” (HR. Bukhari)
Ibnu Hajar mengatakan, ”Yang sesuai dengan ajaran Nabi shallallahu ’alaihi wa sallam adalah mengerjakan shalat gerhana di masjid. Seandainya tidak demikian, tentu shalat tersebut lebih tepat dilaksanakan di tanah lapang agar nanti lebih mudah melihat berakhirnya gerhana.” (Fathul Bari)

3.    Wanita diperbolehkan shalat gerhana bersama kaum pria

Bagi para wanita, tidak ada larangan jika ingin ikut mengerjakan shalat Gerhana secara berjamaah di Masjid.
Dari Asma` binti Abi Bakr, beliau berkata, “Saya mendatangi Aisyah radhiyallahu ‘anha -isteri Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam- ketika terjadi gerhana matahari. Saat itu manusia tengah menegakkan shalat. Ketika Aisyah turut berdiri untuk melakukan sholat, saya bertanya: “Kenapa orang-orang ini?” Aisyah mengisyaratkan tangannya ke langit seraya berkata, “Subhanallah (Maha Suci Allah)”. Saya bertanya: “Tanda (gerhana)?” Aisyah lalu memberikan isyarat untuk mengatakan iya.” (HR. Bukhari)

4.    Menyeru jama’ah dengan “’ash sholatu jaami’ah”, tidak

ada adzan dan iqomah.

Dari ’Aisyah radhiyallahu ’anha, beliau mengatakan, “Aisyah radhiyallahu ‘anha menuturkan bahwa pada zaman Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah terjadi gerhana matahari. Beliau lalu mengutus seseorang untuk memanggil jama’ah dengan: ‘ASH SHALATU JAMI’AH’ (mari kita lakukan shalat berjama’ah). Orang-orang lantas berkumpul. Nabi lalu maju dan bertakbir. Beliau melakukan empat kali ruku’ dan empat kali sujud dalam dua raka’at.”
Hadits ini menjelaskan bahwa tidak ada perintah untuk mengumandangkan adzan dan iqomah. Jadi bisa disimpulkan bahwa adzan dan iqomah tidak ada dalam shalat gerhana.

5.    Berkhutbah setelah shalat gerhana

Setelah melaksanakan shalat gerhana, disunnahkah untuk berkhutbah, sebagaimana yang dipilih oleh Imam Asy Syafi’i, Ishaq, dan beberapa sahabat lainnya. Hal ini berdasarkan dalam hadits berikut ini :
Dari Aisyah, beliau menuturkan bahwa gerhana matahari pernah terjadi pada masa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Lantas beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam bangkit dan mengimami manusia dan beliau memanjangkan berdiri, memperpanjang ruku’, memperpanjang sujud. Kemudian seusai melaksanakan shalat gerhana, Beliau berkhotbah di hadapan orang banyak, beliau memuji dan menyanjung Allah, kemudian bersabda,
”Sesungguhnya matahari dan bulan adalah dua tanda di antara tanda-tanda kekuasaan Allah. Gerhana ini tidak terjadi karena kematian seseorang atau lahirnya seseorang. Jika melihat hal tersebut maka berdo’alah kepada Allah, bertakbirlah, kerjakanlah shalat dan bersedekahlah.”
Nabi selanjutnya bersabda,
”Wahai umat Muhammad, demi Allah, tidak ada seorang pun yang lebih cemburu daripada Allah karena ada seorang hamba baik laki-laki maupun perempuan yang berzina. Wahai Umat Muhammad, demi Allah, jika kalian mengetahui yang aku ketahui, niscaya kalian akan sedikit tertawa dan banyak menangis.”(HR. Bukhari)

KH. Maimun Zubair : Tips Memiih Istri

“Ketika kamu memilih istri, carilah wanita yang tidak terlalu tahu akan dunia. Karena keshalihan anakmu bergantung pada seberapa shalihah ibunya.”

Shahabat Abbas ra. mempunyai istri yang tidak suka berhias, sampai membuatnya malu saat keluar dengan istrinya. Tapi beliau mempunyai anak yang sangat alim, yaitu Abdullah ibnu Abbas.

Sayyid Husain cucu Rasulullah Saw. punya istri dari keturunan Raja Persia. Walaupun berasal dari Putri Raja, setelah menjadi istri Husain menjadi wanita yang tidak mencintai dunia. Maka mempunyai anak Ali Zainal Abidin bin Husain, paling alim dari keturunan Rasulullah Saw.

Para kyai dari Sarang Jawa Tengah bisa menjadi alim seperti itu karena nenek-nenek mereka suka berpuasa.

Syekh Yasin Al Fadani ulama dari Padang yang tinggal di Makkah mempunyai istri yang pandai berdagang, dan punya dua anak. Salah satu anaknya menjadi ahli bangunan dan yang satunya lagi bekerja di bagian transportasi. Kedua anaknya tidak ada yang bisa meneruskan dakwahnya Syekh Yasin.

Di dalam Al-Qur’an disebutkan dalam sebuah ayat:

نِسَاؤُكُمْ حَرْثٌ لَكُمْ

“Isteri-isterimu adalah (seperti) tanah tempat kamu bercocok-tanam.” (QS. Al Baqarah : 223) Istri itu ladang bagi suami. Seberapa bagusnya bibit ketika tanah atau ladangnya tidak bagus, maka tidak bisa menghasilkan padi (panen) yang bagus pula.

Intinya, bisa mempunyai anak yang alim ketika istrinya tidak terlalu mengurusi dunia dan sangat taat atau patuh terhadap suaminya.

Ketika kamu lebih memilih istri yang mengurusi dunia, maka kamu yang harus berani riyadhoh (berdoa). Jika tidak berani riyadhoh, maka carilah istri yang suka berdzikir dan kamu yang memikirkan dunia atau kerja.”

KESEMPATAN

Pernah baca buku Setengah Isi Setengah Kosong? Parlindungan Marpaung dalam bukunya menuliskan ada 3 tipe manusia menyikapi kesempatan, yaitu:
1. Orang yang lemah, menunggu kesempatan.
2. Orang yang kuat, menciptakan kesempatan.
3. Orang yang bijak, memanfaatkan kesempatan.

Bagi orang yang lemah, saat kesempatan belum datang dia akan menunggu dan hanya menunggu dengan sabar sampai kesempatan itu datang. Jika kesempatan itu tak kunjung datang, dia cenderung pasrah dan menerima keadaan. Sementara bagi orang yang kuat, jika kesempatan belum datang, maka dia berikhtiar menggunakan berbagai macam cara dan segenap kemampuannya untuk menciptakan kesempatan itu agar datang padanya. Orang tipe seperti ini biasanya berprinsip kesempatan tidak datang begitu saja, harus dicari atau diciptakan. Dan bagi orang bijak, dia akan memanfaatkan kesempatan yang datang dengan sebaik-baiknya. Tidak akan melepaskan begitu saja karena dia menyadari bahwa kesempatan adalah karunia yang sangat berharga, belum tentu dimiliki semua orang dan mungkin tidak datang dua kali.

Hanya terkadang, pada kondisi tertentu sebuah kesempatan datang tidak bersama kesiapan. Maka keputusan mengambil atau melepaskan kesempatan itu tergantung bagaimana kenyakinan kita padaNya (yang memberi kesempatan).

Kamu termasuk tipe yang mana? Berani menciptakan kesempatan?
‪#‎kesempatanmenikahmisalnya‬

Hal yang urgensinya dikatakan setengah agama ini selalu hangat untuk diperbincangkan. Setidaknya hal itu yang terlihat akhir-akhir ini pada pengurus FULDFK. Satu hal yang menjadi opini “sepertinya kebanyakan akhwat cenderung tipe pertama. Butuh keberanian ektra untuk dikategorikan tipe kedua. Sementara kebanyakan ikhwan mungkin memilih tipe ketiga. Padahal si tipe kedua sangat dinantikan para akhwat” Kondisi masih kuliah, sedang sibuk koas, ada tuntutan beasiswa, belum memiliki penghasilan tetap atau alasan lainnya yang sebenarnya tidak bisa dikatakan syar’i menjadi penghalang menciptakan kesempatan itu.

Ibnu Mas’ud pernah mengatakan “seandainya tinggal sepuluh hari saja dari usiaku, niscaya aku tetap ingin menikah agar aku tidak menghadap Allah dalam keadaan masih bujang”

“Dan nikahkanlah orang-orang yang sendirian di antara kamu, dan orang-orang yang layak (menikah) dari hamba sahayamu yang lelaki dan perempuan. Jika mereka dalam keadaan miskin Allah akan mengkayakan mereka dengan karuniaNya. Dan Allah Maha Luas (pemberianNya) dan Maha Mengetahui.” (QS. An Nuur (24) : 32).

Karena menggenapkan agama juga sebuah kesempatan, maka untuk urusan ini kamu tipe manusia yang mana? grin emotikon

Medan, 26 Jumadil Awal 1437 H || JAPS

Pacaran; Bukanlah Solusi CINTA

Begitu sering aku mendengar kata-kata yang menurutku sangatlah indah “CINTA”, Sangat banyak mengungkapkan maupun mengungkapkan kata-kata ini, namun sebenarnya apalah arti sesungguhnya.
Apa sih itu CINTA…???
=> Cinta adalah ungkapan dan perasaan rasa memiliki dan jalan mencapai tujuan tertentu.

Dalam hal ini ada 2 jalan menuju cinta itu sendiri :

  1. Pertama,  jalan yang telah dibenarkan dalam ajaran agama, seperti mencintai Allah SWT, Rasulullah SAW, Orang Tua, Pasangan Suami/Istri, Sesama Muslim, Sesama Manusia, dan Sesama Makhluk Ciptaan Allah SWT, dll.
  2. Kedua, jalan yang tidak dibenarkan dalam ajaran agama, misalnya mencintai lawan jenis yang bukan Mahram karena rasa ingin memiliki bukan karena Allah SWT dan karena nafsu semata, cinta dunia yang berlebihan,dll, yang jelas tidak diperbolehkan dalam agama.

Mencintai itu boleh, tetapi ada aturan dan tata cara dalam mencinta lawan jenis. Islam dengan sempurna telah mengatur hubungan dengan lawan jenis. Hubungan ini telah diatur dalam syariat suci yaitu pernikahan. Pernikahan yang benar dalam Islam juga bukanlah yang diawali dengan pacaran, tapi dengan mengenal karakter calon pasangan tanpa melanggar syariat. Melalui pernikahan inilah akan dirasakan percintaan yang hakiki dan berbeda dengan pacaran yang cintanya hanya cinta bualan.
“Barangsiapa yang mampu untuk menikah, maka menikahlah. Karena itu lebih akan menundukkan pandangan dan lebih menjaga kemaluan. Barangsiapa yang belum mampu, maka berpuasalah karena puasa itu bagaikan kebiri.” (HR. Bukhari dan Muslim).

 

Arif Wibowo
Kadept IT FULDFK 2016