KHANSA Magz; Majalah Dept. Kemuslimahan DEP FULDFK 2015

Assalamu’alaikum ikhwah fillah,

Alhamdulillah, Departement Kemuslimahan Dewan Eksekutif Pusat Forum Ukhwah Lembaga Dakwah Fakultas Kedokteran Indonesia telah menyelesaikan program kerja Majalah Kemuslimahan dengan nama Khansa Magazine.

Daftar Isi :

Hal. 1 Kisah Lahirnya Khansa
Hal. 2 Timeline Agenda Khusus
Hal. 3 Kisah Inspiratif #1; Aisyah binti Abu Bakar
Hal. 4 Kisah Inspiratif #2 : dr. Dyah Prameswati, Sp.OG.MHSM
Hal. 5-9 Fiqh Wanita

  • Kewajiban Muslimah Terhadap Dirinya
  • Hakikat Mempercantik Diri
  • Hukum Mencukur Alis

Hal. 10-14 Motivasi

  • Pentingnya Peran Seorang Ibu Membangun Peradaban Islam
  • Bidadari Penghafal Qur’an
  • Muslimah Sejuta Karya

Hal. 15 Kreatif : Gantungan Jilbab

Ayo download Majalah Lengkapnya :

Majalah Kemuslimahan

 

MURATTAL AL QUR’AN SEBAGAI SOLUSI ATASI DEPRESI

Oleh Hanan Anwar Rusidi dan Silmi Kaffah

Departemen Kajian Kedokteran Islam dan Advokasi Dewan Eksekutif Pusat

Forum Ukhuwah Lembaga Dakwah Fakultas Kedokteran Indonesia

 

Gangguan depresi adalah salah satu jenis gangguan jiwa yang paling sering terjadi pada manusia. Menurut World Health Organization (WHO) dalam penelitiannya tahun 2000, penderita gangguan depresi berada pada urutan ke empat penyakit di dunia. Pada tahun 2020, diperkirakan jumlah penderita gangguan depresi akan semakin meningkat dan akan menempati urutan kedua penyakit di dunia. Seakan sulit untuk dicegah dan disembuhkan, menjelaskan bahwa kemajuan tekhnologi abad dua puluh belum dapat membantu memecahkan masalah ini seutuhnya. Perlu solusi lain untuk mencegah ketidaktenangan hati dan ketidaktentraman jiwa tersebut. Salah satunya adalah dengan murratal Al-qur’an.


Gangguan depresif merupakan gangguan medik serius menyangkut kerja otak, bukan sekedar perasaan murung atau sedih dalam beberapa hari. Gangguan ini menetap selama beberapa waktu dan mengganggu fungsi keseharian seseorang. Gangguan depresif masuk dalam kategori gangguan mood, merupakan periode terganggunya aktivitas sehari-hari, yang ditandai dengan suasana perasaan murung dan gejala lainnya, termasuk perubahan pola tidur dan makan, perubahan berat badan, gangguan konsentrasi, anhedonia (kehilangan minat apapun), lelah, perasaan putus asa dan tak berdaya serta pikiran untuk bunuh diri. Jika gangguan depresif berjalan dalam waktu yang panjang (distimia) maka orang tersebut dikesankan sebagai pemurung, pemalas, menarik diri dari pergaulan, karena ia kehilangan minat hampir di semua aspek kehidupannya. [1]

Menurut Freud, kehilangan obyek cinta, seperti orang yang dicintai, pekerjaan tempatnya berdedikasi, hubungan relasi, harta, sakit terminal, sakit kronis dan krisis dalam keluarga merupakan pemicu episode gangguan depresif. Seringkali kombinasi faktor biologik (genetik), psikologik dan lingkungan merupakan campuran yang membuat gangguan depresif muncul.

Setiap individu tentunya pernah mengalami suatu kondisi depresi dan memiliki solusi yang berbeda-beda untuk mengatasi kondisi tersebut. Sayangnya, tidak sedikit yang lebih memilih mengambil solusi yang membawa kepada kubangan dosa dan kemaksiatan. Minuman keras, narkoba, dan perzinahan marak terjadi dimana-mana. Contoh perbuatan-perbuatan dosa tersebut sudah dianggap sesuatu yang wajar dan dianggap membawa kesenangan dan ketentraman dalam hidup mereka. Tetapi faktanya, perbuatan-perbuatan tersebut yang akan menyeret manusia pada kondisi psikis yang lebih buruk. Solusi dalam mengatasi  gangguan depresi sebenarnya bukanlah sesuatu yang sulit untuk dicari, namun kebanyakan orang hanya tidak menyadari bahwa solusi tersebut telah ada.

Salah seorang ulama salaf berkata: “Sungguh kasihan orang-orang yang cinta dunia, mereka (pada akhirnya) akan meninggalkan dunia ini, padahal mereka belum merasakan kenikmatan yang paling besar di dunia ini”, maka ada yang bertanya: “Apakah kenikmatan yang paling besar di dunia ini?”, Ulama ini menjawab: “Cinta kepada Allah, merasa tenang ketika mendekatkan diri kepada-Nya, rindu untuk bertemu dengan-Nya, serta merasa bahagia ketika berzikir dan mengamalkan ketaatan kepada-Nya”

Ibnu Qayyim membagi penyakit hati menjadi dua, yang pertama adalah penyakit hati yang tidak dirasakan oleh pemilik hati seperti penyakit jahl (kebodohan) dan syubhat atau syukuk (keraguan). Selain itu ada penyakit hati yang langsung dirasakan seperti kecemasan, kesedihan, kesusahan dan kemarahan. [2] Jika dilihat dari pendapat Ibnu Qayyim tersebut, maka gangguan depresi termasuk ke dalam penyakit hati yang langsung dirasakan.

Allah Subhana Wa Ta’ala berfirman bahwa obat yang paling agung adalah Al-Qur’an.

murratal

“Dan Kami turunkan dari Al-Qur`an suatu yang menjadi penyembuh dan rahmat bagi orang-orang yang beriman dan Al-Qur`an itu tidaklah menambah kepada orang-orang yang dzalim selain kerugian.” (Al-Isra`: 82)

Dari ayat tersebut, kata ‘min’ tersebut berfungsi sebagai libayanil jinsi atau menjelaskan jenis, bukan sekadar lit-tab’idh (menunjukkan makna sebagian). Hal ini menunjukkan bahwa semua bagian dari Al-Qur’an memiliki manfaat sebagai obat atau penawar pada penyakit jasmani dan rohani.[3]

Al-Qur’an sebagai solusi depresi dapat dilakukan dengan menggunakan metode murattal Al-Qur’an. Murattal adalah membaca Al-Quran dengan memfokuskan pada dua hal yaitu kebenaran bacaan dan irama. Saat ini banyak manusia justru jauh dari Al-Qur’an. Al-Qur’an hanya diletakkan sebagai pajangan, ditempatkan di almari yang paling tinggi, tetap terjaga tanpa ada tangan yang menyentuhnya, dan tanpa ada suara merdu yang melantunkannya. Banyak orang menutup mata dan tidak mengerti akan keberadaan Al-Qur’an yang merupakan solusi dalam menata dan membersihkan hati dari berbagai penyakit hati. Padahal, hanya dengan mengingat Allah lah (berzikir) hati menjadi tenang dan bersih. Sesuai dengan firman Allah :

الَّذِينَ آمَنُوا وَتَطْمَئِنُّ قُلُوبُهُمْ بِذِكْرِ اللَّهِ أَلا بِذِكْرِ اللَّهِ تَطْمَئِنُّ الْقُلُوبُ

“Orang-orang yang beriman dan hati mereka menjadi tenteram dengan berzikir (mengingat) Allah. Ingatlah, hanya dengan mengingat Allah hati menjadi tenteram” (QS ar-Ra’du:28).

Suatu hari Rasulullah SAW meminta Ibnu Mas’ud untuk membacakan Al Qur’an: “Bacakanlah kepadaku Al-Quran”. Kemudian Abdullah bin Mas’ud berkata: “Saya membacakan Al-Qur’an atasmu sementara Al-Qur’an turun kepadamu?” Beliau shallallahu ‘alaihi wasallam menjawab, “Aku sangat senang mendengar ayat Al-Qur’an dari selainku”. Maka Ibnu Mas’ud membaca surat An-Nisa, maka Rasulullah shallahu ‘alaihi wasallam pun menangis dan berkata kepadanya: Cukuplah sampai disitu.(HR Bukhari).

Hadist tersebut menunjukkan bahwa mendengarkan Al Qur’an dari orang lain pada waktu tertentu merupakan sunnah. Di dalam Al-Quran terdapat perintah untuk kita dalam mendengarkan Al-Qur’an dengan tenang. Menurut Salim, mendengar lantunan ayat-ayat Al-Qur’an dapat menimbulkan efek positif pada tingkat kecemasan, stress ataupun depresi.[4] Dalam penelitian lain, pada dua kelompok anak autis yang sebelumnya memiliki nilai kognitif yang sama, setelah dilakukan terapi dengan menggunakan musik klasik dan mendengarkan murattal Al-Qur’an menunjukkan bahwa kelompok yang diperdengarkan murattal Al-Qur’an mempunyai skor perkembangan kognitif yang lebih baik dibandingkan pada kelompok musik klasik. Hal ini menunjukkan bahwa Al-Qur’an memiliki pengaruh yang nyata pada tubuh manusia.[5]

Ayat-ayat Al Qur’an yang diperdengarkan kepada seseorang akan membawa efek ketenangan pada tubuh.[6] Mendengar murattal Al Qur’an akan memunculkan suatu medan gelombang yang akan memengaruhi gelombang otak manusia. Dengan menggunakan alat Electroencephalograph (EEG), terlihat reaksi otak berupa perubahan gelombang otak dari frekuensi beta menjadi frekuensi alfa yang membuat kondisi tubuh dalam keadaan relaksasi. Selain itu pada tahap selanjutnya akan terjadi peningkatan frekuensi gelombang delta yang akan membuat tingkat relaksasi lebih dalam dan penurunan depresi yang lebih signifikan. Gelombang delta merupakan gelombang utama yang berperan pada tidur manusia tingkat III dan IV. Semua reaksi pada otak yang dipengaruhi oleh medan gelombang tersebut akan meningkatkan berbagai neurotransmitter seperti serotonin dan dopamin yang pada akhirnya akan memberikan efek pada tubuh sehingga akan muncul ketentraman dan perasaan tenang pada hati.[7]

Begitu banyak manfaat dari mendengar murattal Al-Qur’an yang dapat dibuktikan secara ilmiah. Melalui Al Qur’an pula, kita dapat mendekatkan diri pada Allah, mempertebal iman dan memunculkan ketaqwaan. Demikian pula jalan keluar dan penyelesaian terbaik dari semua masalah yang di hadapi seorang manusia adalah dengan bertakwa kepada Allah Ta’ala, sebagaimana dalam firman-Nya:

وَمَنْ يَتَّقِ اللَّهَ يَجْعَلْ لَهُ مَخْرَجاً. وَيَرْزُقْهُ مِنْ حَيْثُ لا يَحْتَسِبُ

Barangsiapa yang bertakwa kepada Allah niscaya Dia akan memberikan baginya jalan keluar (dalam semua masalah yang dihadapinya), dan memberinya rezki dari arah yang tidak disangka-sangkanya” (QS. ath-Thalaaq:2-3).

وَمَنْ يَتَّقِ اللَّهَ يَجْعَلْ لَهُ مِنْ أَمْرِهِ يُسْراً

“Barangsiapa yang bertakwa kepada Allah niscaya Dia akan menjadikan baginya kemudahan dalam (semua) urusannya” (QS. ath-Thalaaq:4).

Berbagai fakta dari hasil penelitian ilmiah telah menunjukkan bahwa Al-Qur’an dapat dijadikan sebagai suatu penawar dalam mengatasi berbagai masalah hati manusia seperti gangguan depresi. Alangkah baiknya kita melakukan suatu koreksi diri, sudah dekatkah kita dengan Al-Qur’an yang merupakan suatu petunjuk nyata dengan berbagai manfaatnya?

DAFTAR PUSTAKA

  1. Kaplan HI, Sadock BJ, Grebb JA. 2010. Sinopsis Psikiatri Ilmu Pengetahuan Perilaku Psikiatri Klinis. Binarupa Aksara, Tangerang, Indonesi
  2. Al-Jauziyyah, Ibnu Qayyim. 2011. Al Ighatsatul Lahfan. Al Qowam, Surakarta.
  3. Al-Jauziyyah, Ibnu Qayyim. 2013. Al Jawabul Kafi, Solusi Qur’ani dalam Mengatasi Masalah Hati. Al Qowam, Surakarta.
  4. Salim SA. 2012. Ensiklopedi Pengobatan Islam. Pustaka Arafah, Surakarta.
  5. Wahyuni NA, Purwaningsih W. Perbedaan Efektifitas Terapi Musik Klasik dan Terapi Musik Murattal terhadap Perkembangan Kognitif Anak Autis di SLB Autis di Kota Surakarta. Gaster:1-10.
  6. Mueller PS, Plevak DJ, Rummans TA. 2001. Religious Involvement, Spirituality, and Medicine: Implications for Clinical Practice. Mayo Foundation for Medical Education and Research. 76: 1-11.
  7. Shaw G.L. 2000. Keeping Mozart in Mind. Academy Press, San Diego: California.

Hakikat Bid’ah menurut Muallim Syafii Hadzami

Hingga kini perkara bid’ah masih saja diperselisihkan. Baik dalam teori maupun praktiknya. Sebagian orang menganggap bid’ah sebagai sesuatu yang salah dan harus diluruskan. Dan sebagian yang lain memposisikan bid’ah sebagai suatu kreatifitas yang dibolehkan selama tidak menerjang rambu-rambu al-Qur’an dan as-sunnah.

Mengenai perkara bid’ah ini Muallim Syafi’i Hadzami ulama Betawi menerangkan dengan cukup panjang dalam bukunya Taudhihul Adillah juz tiga. Muallim Syafi’i memulai tulisannya dengan menukil perkataan As-Syatibi dalam kitabnya al-I’tisham begini kalimatnya:

أصل مادة بدع للاختراع على غير مثال سابق ومنه قوله تعالى بديع السموات والأرض اى مخترعهما من غير مثال سابق وقوله تعالى قل ما كنت بدعا من الرسل اى ما كنت اول من جاء بالرسالة من الله الى العباد بل تقدمنى كثير من الرسل ويقال ابتدع فلان بدعة اذا ابتداْ طريقة لم يسبق اليها. وهذا امر بديع يقال فى الشيئ المستحسن الذى لا مثل له فى الحسن.

Kata bada’a pada mulanya menunjukkan arti mengada-adakan sesuatu tanpa ada contoh sebelumnya. Seperti dalam firman Allah ‘بديع السموات والأرض’ (Allah menciptakan tujuh lapis langit dan bumi) maksudnya Dialah Allah yang mengadakan keduanya tanpa ada contoh sebelumnya. Begitu pula firman-Nya dalam ayat ‘قل ما كنت بدعا من الرسل’(katakanlah Muhammad “bukanlah aku ini Rasul yang diutus mula-mula/pertama kali) maksudnya bahkan sebelumku (Muhammad) telah banyak Rasul yang diutus Allah swt.Ddalam bahasa Arab kata bid’ah juga sering digunakan seperti kalimat ‘ إبتدع فلان بدعة’ (si fulan telah merintis satu jalan yang belum pernah didahului orang lain). Atau juga dalam kalimat ‘هذا أمر بديع’ (ini adalah perkara yang indah) yaitu perkara yang indah dan belum pernah ada tandingannya.

Demikian Muallim Syafi’i Hadzami memulai keterangan tentang arti bid’ah dari sisi kebahasaan. Karena kata bid’ah itu berasal dari bahasa Arab maka yang menjadi rujukan juga penggunaan kata tersebut dalam keseharian masyarakat Arab. Selanjutnya dijabarkan bahwa kata bid’ah digunakan untuk menunjuk suatu hasil atu karya.  Sedangkan proses pekerjaannya (berkreasi) dikatkan ibda’.

Dengan demikian bid’ah merupakan hasil pekerjaan yang bisa terkena hukum, bukan hukum itu sendiri. Karena pada hakikatnya hukum syar’i itu cuma lima yaitu wajib, sunnah, haram, makruh dan mubah. Tidak ada bid’ah di dalamnya. Jadi sangat tidak tepat jika dikatakan “yang begini atau begitu hukumnya bid’ah”. Intinya keterangan ini menegaskan bahwa bid’ah bukanlah termasuk hukum syar’i.

Adapun secara istilah Muallim Syafi’i Hadzami memberi pemahaman bid’ah sebagaimana dipergunakan dan difahami kebanyakan orang Indonesia sebagai suatu amalan yang tidak ada dalil syara’nya. Bid’ah biasa dijadikan pembanding dengan sunnah yaitu sesuatu yang ada dalil syar’inya.

Selanjutnya Muallim Syafi’i Hadzami menjelaskan rincian macam bid’ah dengan diawali pendapat Imam Syafi’i katanya

البدعة بدعتان بدعة محمودة و بدعة مذمومة فما وافق السنة فهو محمود وماخالفها فهو مذموم

Bida’ah itu ada dua macam. Bid’ah yang terpuji dan bid’ah yang tercela. Maka mana-mana yang sesuai dengan sunnah itulah yang terpuji, dan mana-mana yang menyalahinya itulah yang tercela

Ini merupakan dalil pertama yang digunakan oleh Muallim Syafi’i Hadzami menunjukkan adanya dua macam bid’ah. Penunjukan dalil ini tidaklah sembarangan, mengingat otoritas Imam Syafi’i sebagai salah satu peletak dasar madzhab syafi’i yang telah diakui secara mufakat hasil ijtihadnya.

Guna menguatkan dan menjelaskan rincian bid’ah ini, Muallim Syafi’i Hadzami mengambil satu pendapat lagi dari Al-Baihaqi sebagaimana tersebut dalam manakibnya:

المحدثات ضربان ما احدث يخالف كتابا اوسنة او اثرا او اجماعا فهذه بدعة الضلالة وما احدث من الخير لا يخالف شيئا من ذلك فهذه بدعة غير مذمومة

Segala yang diadakan itu ada dua macam. Sesuatu yang diadakan padahal menyalahi kitab atau sunnah atau atsar ataupun ijma’ maka inilah bid’ah yang sesat. Sedangkan apa-apa yang baik yang  diadakan yang tidak bertentangan dengan tersebut (kitab atau sunnah atau atsar ataupun ijma’) maka itulah bid’ah yang tidak tercela.

Sampai di sini semakin jelas bahwa pemahaman tentang bid’ah sebagai sesuatu kreasi baru tidaklah sesederhana pemahaman hitam dan putih. Karena tidak semua yang baru itu dapat dianggap sesat. Mengingat banyak hal-hal baru yang tidak ada di zaman Rasulullah saw juga baik.

Dalam rangka menklasifikasikan bid’ah Muallim Syafi’i Hadzami memperjelas dengan pendapat Al-Hadidi dalam Syarah Nahjul Balaghah menyatakan yang artinya demikian “lafald bid’ah dipakai untuk dua pengertian. Salah satunya yang untuk menunjukkan sesuatu yang melanggar al-Qur’an dan as-sunnah semisal puasa di hari idul adha ataupu pada hari-hari tasyriq. Karena puasa pada hari-hari tersebut dilarang. Pengertian kedua, kata bid’ah digunakan untuk menunjuk sesuatu pekerjaan yang dilakukan tanpa dasar nash, namun syara’ membiakannya. Dan kemudian biasa dilakukan oang-orang Islam setelah wafatnya Rasulullah saw. Adapun hadits yang berbunyi “ كل بدعة ضلالة وكل ضلالة فى النار “ setiap bid’ah itu sesat dan setiap kesesatan masuk neraka dapat diperuntukkan terhadap makna bid’ah yang pertama. Sedangkan perkataan sayyidina Umar as. Sehubungan dengan shalat tarawih berjama’ah yang berbunyi “ إنها لبدعة ونعمت البدعة هي  “ sesungguhnya yang demikian ini bid’ah dan inilah sebaik-baik bid’ah. Dapat diaterapkan pada pemahaman makna bid’ah yang kedua.

Demikianlah pendapat Muallim Syafi’i Hadzami mengenai arti bid’ah sebagaimana diterbitkan dalam bukunya Taudhihul Adillah jilid ke III. Sesungguhnya pengambilan berbagai rujukan ini merupakan bukti betapa luasnya pengetahuan agama Muallim Syafi’i di satu sisi. Dan pada sisi lain menunjukkan ketawadhu’annya sebagai seorang alim yang tidak mau menunjukkan pendapat sendiri selagi masih ada rujukan para ulama.

 

Sumber : http://www.nu.or.id/a,public-m,dinamic-s,detail-ids,11-id,57292-lang,id-c,syariah-t,Hakikat+Bid+ah+menurut+Muallim+Syafii+Hadzami-.phpx

Menjaga Pandangan dalam Al-Qur’an

Allah  SWT. Berfirman:

وَاللَّهُ جَعَلَ لَكُمْ مِنْ أَنْفُسِكُمْ أَزْوَاجًا وَجَعَلَ لَكُمْ مِنْ أَزْوَاجِكُمْ بَنِينَ وَحَفَدَةً وَرَزَقَكُمْ مِنَ الطَّيِّبَاتِ أَفَبِالْبَاطِلِ يُؤْمِنُونَ وَبِنِعْمَةِ اللَّهِ هُمْ يَكْفُرُونَ

Artinya: “Allah menjadikan bagi kamu istri-istri dari jenis kamu sendiri dan menjadikan bagimu dari istri-istri kamu itu, anak anak dan cucu-cucu, dan memberimu rezeki dari yang baik-baik. Maka mengapakah mereka beriman kepada yang batil dan mengingkari nikmat Allah?” (An-Nahl: 72)

يَا أَيُّهَا النَّاسُ اتَّقُوا رَبَّكُمُ الَّذِي خَلَقَكُمْ مِنْ نَفْسٍ وَاحِدَةٍ وَخَلَقَ مِنْهَا زَوْجَهَا وَبَثَّ مِنْهُمَا رِجَالًا كَثِيرًا وَنِسَاءً وَاتَّقُوا اللَّهَ الَّذِي تَسَاءَلُونَ بِهِ وَالْأَرْحَامَ إِنَّ اللَّهَ كَانَ عَلَيْكُمْ رَقِيبًا

Artinya: “Hai sekalian manusia, bertakwalah kepada Tuhan-mu yang telah menciptakan kamu dari diri yang satu, dan daripadanya Allah menciptakan istrinya; dan daripada keduanya Allah memperkembang biakkan laki-laki dan perempuan yang banyak. Dan bertakwalah kepada Allah yang dengan (mempergunakan) nama-Nya kamu saling meminta satu sama lain, dan (peliharalah) hubungan silaturahmi. Sesungguhnya Allah selalu menjaga dan mengawasi kamu.” (An-Nisa’: 1)

Sedangkan pandangan adalah salah satu jalan untuk membangkitkan hasrat seksual baik pada laki-laki maupun perempuan. Dalam waktu 10/3 detik apa yang ditangkap oleh mata akan terkirim ke otak untuk membuat perubahan-perubahan anatomi dan fungsi, yang akan menyebabkan perubahan pada sikap.

Ghaddul Bashar dalam Al-Qur’an

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آَمَنُوا لَا تَدْخُلُوا بُيُوتًا غَيْرَ بُيُوتِكُمْ حَتَّى تَسْتَأْنِسُوا وَتُسَلِّمُوا عَلَى أَهْلِهَا ذَلِكُمْ خَيْرٌ لَكُمْ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُونَ

Artinya: “Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu memasuki rumah yang bukan rumahmu sebelum meminta izin dan memberi salam kepada penghuninya. Yang demikian itu lebih baik bagimu, agar kamu (selalu) ingat.” (An-Nur: 27)

قُلْ لِلْمُؤْمِنِينَ يَغُضُّوا مِنْ أَبْصَارِهِمْ وَيَحْفَظُوا فُرُوجَهُمْ ذَلِكَ أَزْكَى لَهُمْ إِنَّ اللَّهَ خَبِيرٌ بِمَا يَصْنَعُونَ

Artinya: “Katakanlah kepada orang laki-laki yang beriman: “Hendaklah mereka menahan pandangannya, dan memelihara kemaluannya; yang demikian itu adalah lebih suci bagi mereka, sesungguhnya Allah Maha Mengetahui apa yang mereka perbuat.” (An-Nur: 30)

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آَمَنُوا لِيَسْتَأْذِنْكُمُ الَّذِينَ مَلَكَتْ أَيْمَانُكُمْ وَالَّذِينَ لَمْ يَبْلُغُوا الْحُلُمَ مِنْكُمْ ثَلَاثَ مَرَّاتٍ مِنْ قَبْلِ صَلَاةِ الْفَجْرِ وَحِينَ تَضَعُونَ ثِيَابَكُمْ مِنَ الظَّهِيرَةِ وَمِنْ بَعْدِ صَلَاةِ الْعِشَاءِ ثَلَاثُ عَوْرَاتٍ لَكُمْ لَيْسَ عَلَيْكُمْ وَلَا عَلَيْهِمْ جُنَاحٌ بَعْدَهُنَّ طَوَّافُونَ عَلَيْكُمْ بَعْضُكُمْ عَلَى بَعْضٍ كَذَلِكَ يُبَيِّنُ اللَّهُ لَكُمُ الْآَيَاتِ وَاللَّهُ عَلِيمٌ حَكِيمٌ

Artinya: “Hai orang-orang yang beriman, hendaklah budak-budak (lelaki dan wanita) yang kamu miliki, dan orang-orang yang belum balig di antara kamu, meminta izin kepada kamu tiga kali (dalam satu hari) yaitu: sebelum sembahyang subuh, ketika kamu menanggalkan pakaian (luar) mu di tengah hari dan sesudah sembahyang Isya. (Itulah) tiga ‘aurat bagi kamu.  Tidak ada dosa atasmu dan tidak (pula) atas mereka selain dari (tiga waktu) itu. Mereka melayani kamu, sebahagian kamu (ada keperluan) kepada sebahagian (yang lain). Demikianlah Allah menjelaskan ayat-ayat bagi kamu. Dan Allah Maha Mengetahui lagi Maha Bijaksana.” (An-Nur: 58)

وَعِنْدَهُمْ قَاصِرَاتُ الطَّرْفِ عِينٌ

Artinya: “Di sisi mereka ada bidadari-bidadari yang tidak liar pandangannya dan jelita matanya.” (Ash-Shaffat: 48)

يَعْلَمُ خَائِنَةَ الْأَعْيُنِ وَمَا تُخْفِي الصُّدُورُ

Artinya: “Dia mengetahui (pandangan) mata yang khianat dan apa yang disembunyikan oleh hati.” (Ghafir: 19)

Ghaddul bashar adalah menundukkan atau menjaga pandangan, sehingga pandangan tertuju ke tanah, tidak diangkat ke atas. Maksudnya adalah menghindarkan pandangan dari menikmati wanita yang bukan mahram beserta perhiasan-perhiasannya. Sehingga terhindarkan dari pandangan yang menjadi sumber godaan bagi seorang laki-laki. Sebagaimana diperintahkan kepada laki-laki, ghaddul bashar juga diperintahkan kepada perempuan.

Pandangan adalah Titik Lemah untuk Jatuh pada Godaan

Ada saluran yang sangat kuat antara hati dan mata. Apa yang tersembunyi di dalam hati seringkali dapat dibaca pada kedua mata. Allah swt. berfirman:

يَعْلَمُ خَائِنَةَ الْأَعْيُنِ وَمَا تُخْفِي الصُّدُورُ

Artinya: “Dia mengetahui (pandangan) mata yang khianat dan apa yang disembunyikan oleh hati.” (Ghafir: 19)

Dalam surat An-Nur: 30 di atas, perintah menjaga pandangan diteruskan dengan perintah menjaga kemaluan. Hal itu karena pandangan adalah jalan bagi seseorang untuk jatuh pada perbuatan zina, baik laki-laki maupun perempuan. Oleh karena itu, Rasulullah saw. bersabda:

كُتِبَ عَلَى ابْنِ آدَمَ نَصِيبُهُ مِنْ الزِّنَا مُدْرِكٌ ذَلِكَ لَا مَحَالَةَ فَالْعَيْنَانِ زِنَاهُمَا النَّظَرُ وَالْأُذُنَانِ زِنَاهُمَا الِاسْتِمَاعُ وَاللِّسَانُ زِنَاهُ الْكَلَامُ وَالْيَدُ زِنَاهَا الْبَطْشُ وَالرِّجْلُ زِنَاهَا الْخُطَا وَالْقَلْبُ يَهْوَى وَيَتَمَنَّى وَيُصَدِّقُ ذَلِكَ الْفَرْجُ وَيُكَذِّبُهُ

Artinya: “Setiap manusia sudah ditentukan bagiannya dari berzina. Hal itu pasti akan dirasakannya. Zina kedua mata adalah dengan memandang. Zina kedua telinga adalah dengan mendengar. Zina lisan adalah dengan berucap. Zina tangan adalah dengan memukul. Zina kedua kaki adalah dengan melangkah. Hati itu bisa suka dan berkeinginan, sedangkan kemaluan bisa melaksanakan hal itu atau pun tidak melaksanakannya.” (HR. Bukhari dan Muslim)

Maksudnya, semua hal yang disebutkan dalam hadits di atas bisa menjadi jalan menuju perbuatan zina. Dan yang paling kuat pengaruhnya adalah mata, sehingga disebutkan paling awal. Namun tentunya memandang wanita yang bukan mahram tidak diharamkan secara mutlak dalam semua kondisi. Dalam kondisi-kondisi tertentu, memandang wanita yang bukan mahram diperbolehkan, misalnya seorang dokter yang akan mengobati pasien wanitanya; seorang hakim yang akan harus mengenali wanita yang sedang menjalani persidangan; dan lain sebagainya. Namun dalam kondisi-kondisi itu pun niatan dalam hati harus tetap dijaga, sehingga memandang mereka saat itu tidak membangkitkan syahwat.

Dalam surat An-Nur ayat 27 seperti yang disebutkan di atas, seorang yang akan bertamu diharuskan meminta ijin sebelum masuk rumah. Ketika sedang menunggu, dia tidak diperkenankan berdiri menghadap pintu, melainkan di pinggirnya saja. Dan jika penghuni rumah menanyakan siapa yang mengetuk pintu, maka sang tamu diharuskan menjawabnya, dengan menyebutkan namanya secara jelas. Muhammad bin Al-Munkadir ra. meriwayatkan, “Aku pernah mendatangi Rasulullah saw. untuk membayar hutang ayahku. Setelah aku mengetuknya, Rasulullah saw. bertanya dari dalam, “Siapa itu?” Aku menjawab, “Saya.” Kemudian beliau kembali berkata, “Saya, saya?” Seakan-akan beliau tidak senang dengan jawaban seperti ini. Karena jawaban ini tidak bisa mengidentifikasikan siapa sebenarnya orang yang datang tersebut. Oleh karena itu, sebenarnya beliau harus menyebutkan nama, atau kun-yah beliau yang terkenal sehingga bisa diketahui siapa beliau. Karena untuk maksud inilah disyariatkan kewajiban meminta ijin.

Dalam sebuah hadits disebutkan,  “Ada seseorang (menurut perawi, dia adalah Sa’ad) datang kepada Rasulullah saw., kemudian berdiri menghadap pintu untuk meminta ijin masuk. Melihat hal tersebut, Rasulullah saw. berkata:

فَإِنَّمَا الِاسْتِئْذَانُ مِنْ النَّظَرِ

Artinya: “Meminta ijin itu adalah meminta ijin untuk melihat.” (HR. Abu Daud)

Imam Muslim meriwayatkan dari Jarir bin Abdillah Al-Bajilli ra., beliau berkata, “Aku bertanya kepada Rasulullah saw. tentang pandangan yang mengagetkanku. Beliau memerintahkanku untuk mengalihkannya kea rah yang lain.”

Imam Abu Daud meriwayatkan dari Abdullah bin Buraidah ra., dari ayahnya, bahwa Rasulullah saw. berkata kepada Ali bin Abi Thalib ra.:

يَا عَلِيُّ لَا تُتْبِعْ النَّظْرَةَ النَّظْرَةَ فَإِنَّ لَكَ الْأُولَى وَلَيْسَتْ لَكَ الْآخِرَةُ

Artinya: “Wahai Ali, janganlah engkau lanjutkan pandangan pertamamu (pandangan yang mengagetkan) dengan pandangan berikutnya. Sesungguhnya pandangan yang pertama itu untuk kamu, sedangkan yang kedua tidak demikian.”

Dalam shahih Bukhari diriwayatkan bahwa Rasulullah saw. juga bersabda:

إِيَّاكُمْ وَالْجُلُوسَ عَلَى الطُّرُقَاتِ فَقَالُوا مَا لَنَا بُدٌّ إِنَّمَا هِيَ مَجَالِسُنَا نَتَحَدَّثُ فِيهَا قَالَ فَإِذَا أَبَيْتُمْ إِلَّا الْمَجَالِسَ فَأَعْطُوا الطَّرِيقَ حَقَّهَا قَالُوا وَمَا حَقُّ الطَّرِيقِ قَالَ غَضُّ الْبَصَرِ وَكَفُّ الْأَذَى وَرَدُّ السَّلَامِ وَأَمْرٌ بِالْمَعْرُوفِ وَنَهْيٌ عَنْ الْمُنْكَرِ

Artinya: “Kalian hindarilah duduk-duduk di pinggir jalan.” Para sahabat berkata, “Tapi kami memang harus duduk-duduk di sana untuk membicarakan banyak hal.” Rasulullah saw. kembali berkata, “Kalau memang harus begitu, maka berikanlah jalan itu haknya.” Mereka kembali berkata, “Apa itu hak-hak jalan?” Beliau menjawab, “Menjaga pandangan, tidak menyakiti orang lain, menjawab salam, memerintakan yang makruf dan melarang yang munkar.”

Imam Muslim meriwayatkan dari Sahl bin Sa’d As-Sa’idy ra. bahwa ada seseorang mengintip salah satu kamar Rasulullah saw., dan saat itu Rasulullah saw. sedang memegang semacam sisir dari besi. Ketika mengetahuinya, beliau berkata, “Kalau aku tahu bahwa kamu mengintipku, pasti matamu sudah kutusuk dengan ini.”

Imam Ahmad meriwayatkan dari Ibnu Mas’ud ra. bahwa Rasulullah saw. bersabda, “Janganlah seorang wanita berdekatan-dekatan dengan wanita lain, kemudian dia menceritakan kepada suaminya tentang wanita tersebut. Karena hal itu membuat suami seakan melihatnya sendiri.”

Imam Muslim juga meriwayatkan dari Jabir ra. bahwa Rasulullah saw. melihat seorang wanita, maka beliau kemudian menemui Zainab ra. yang sedang menyamak kulit binatang. Beliau menggauli Zainab ra. Kemudian beliau menemui para sahabat, dan berkata:

إِنَّ الْمَرْأَةَ تُقْبِلُ فِي صُورَةِ شَيْطَانٍ وَتُدْبِرُ فِي صُورَةِ شَيْطَانٍ فَإِذَا أَبْصَرَ أَحَدُكُمْ امْرَأَةً فَلْيَأْتِ أَهْلَهُ فَإِنَّ ذَلِكَ يَرُدُّ مَا فِي نَفْسِهِ

Artinya: “Sesungguhnya wanita itu, dari depan bisa digunakan setan untuk menggoda, dari belakang juga bisa digunakan setan untuk menggoda. Maka jika seseorang melihat wanita, sebaiknya segera mendatangi isterinya. Karena hal itu akan menghapus pikiran-pikiran tadi.”

Dari ayat dan hadits di atas, dapat disimpulkan beberapa hal:

  1. Anjuran untuk menyegerakan menikah. Karena menikah adalah sarana yang paling tepat untuk menundukkan syahwat. Jika memang belum mampu menikah, hendaknya sering melakukan puasa.
  2. Menjaga pandangan.
  3. Bagi wanita, hendaklah mengenakan hijab, dan menutup perhiasan-perhiasannya (bagian tubuhnya yang membangkitkan birahi)
  4. Hendaknya tidak berdua-duaan antara laki-laki dan perempuan.
  5. Dan anjuran bagi seorang suami agar segera menggauli isterinya, jika melihat dan memikirkan wanita lain.
  6. Seorang isteri dilarang menceritakan secara detail tentang wanita lain, karena hal itu membuat seorang suami seakan melihat wanita itu dengan mata kepalanya sendiri.

Keutamaan membaca surat Al-Kahfi pada malam dan hari Jum’at

Hari Jum’at merupakan hari yang mulia. Bukti kemuliaannya, Allah mentakdirkan beberapa kejadian besar pada hari tersebut. Dan juga ada beberapa amal ibadah yang dikhususkan pada malam dan siang harinya, khususnya pelaksanaan shalat Jum’at berikut amal-amal yang mengiringinya.

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,

إِنَّ مِنْ أَفْضَلِ أَيَّامِكُمْ يَوْمَ الْجُمُعَةِ فِيهِ خُلِقَ آدَمُ وَفِيهِ قُبِضَ وَفِيهِ النَّفْخَةُ وَفِيهِ الصَّعْقَةُ

“Sesungguhnya di antara hari kalian yang paling afdhal adalah hari Jum’at. Pada hari itu Adam diciptakan dan diwafatkan, dan pada hari itu juga ditiup sangkakala dan akan terjadi kematian seluruh makhluk. . . . “ (HR. Abu Dawud, an Nasai, Ibnu Majah, Ahmad, dan al Hakim dari hadits Aus bin Aus)

Amal khusus di hari Jum’at

Pada dasarnya, tidak dibolehkan menghususkan ibadah tertentu pada malam Jum’at dan siang harinya, berupa shalat, tilawah, puasa dan amal lainnya yang tidak biasa dikerjakan pada hari-hari selainnya. Kecuali, ada dalil khusus yang memerintahkannya. Hal ini berdasarkan hadits dari Abu Hurairah radliyallaahu ‘anhu, bahwa Nabi shallallaahu ‘alaihi wasallam bersabda;

لَا تَخُصُّوا لَيْلَةَ الْجُمُعَةِ بِقِيَامٍ مِنْ بَيْنِ اللَّيَالِي ، وَلَا تَخُصُّوا يَوْمَ الْجُمُعَةِ بِصِيَامٍ مِنْ بَيْنِ الْأَيَّامِ ، إلَّا أَنْ يَكُونَ فِي صَوْمٍ يَصُومُهُ أَحَدُكُمْ

“Janganlah menghususkan malam Jum’at untuk mengerjakan shalat dari malam-malam lainnya, dan janganlah menghususkan siang hari Jum’at untuk mengerjakan puasa dari hari-hari lainnya, kecuali bertepatan dengan puasa yang biasa dilakukan oleh salah seorang kalian.” (HR. Muslim, al-Nasai, al-Baihaqi, dan Ahmad)

Membaca surat Al-Kahfi

Salah satu amal ibadah khusus yang diistimewakan pelakasanaannya pada hari Jum’at adalah membaca surat Al-Kahfi. Berikut ini kami sebutkan beberapa dalil shahih yang menyebutkan perintah tersebut dan keutamaannya.

1. Dari Abu Sa’id al-Khudri radliyallahu ‘anhu, dari Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:

مَنْ َقَرَأَ سُوْرَةَ الْكَهْفِ لَيْلَةَ الْجُمْعَةِ أَضَاءَ لَهُ مِنَ النُّوْرِ فِيْمَا بَيْنَهُ وَبَيْنَ الْبَيْتِ الْعَتِيْقِ

“Barangsiapa membaca surat al-Kahfi pada malam Jum’at, maka dipancarkan cahaya untuknya sejauh antara dirinya dia dan Baitul ‘atiq.” (Sunan Ad-Darimi, no. 3273. Juga diriwayatkan al-Nasai dan Al-Hakim serta dishahihkan oleh Al-Albani dalam Shahih al-Targhib wa al-Tarhib, no. 736)

2. Dalam riwayat lain masih dari Abu Sa’id al-Khudri radhiyallahu ‘anhu,

مَنْ قَرَأَ سُوْرَةَ الْكَهْفِ فِي يَوْمِ الْجُمْعَةِ أَضَآءَ لَهُ مِنَ النُّوْرِ مَا بَيْنَ الْجُمْعَتَيْنِ

“Barangsiapa membaca surat Al-Kahfi pada hari Jum’at, maka akan dipancarkan cahaya untuknya di antara dua Jum’at.” (HR. Al-Hakim: 2/368 dan Al-Baihaqi: 3/249. Ibnul Hajar mengomentari hadits ini dalam Takhrij al-Adzkar, “Hadits hasan.” Beliau menyatakan bahwa hadits ini adalah hadits paling kuat tentang surat Al-Kahfi. Syaikh Al-Albani menshahihkannya dalam Shahih al-Jami’, no. 6470)

3. Dari Ibnu Umar radhiyallahu ‘anhuma, berkata: Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,

مَنْ قَرَأَ سُوْرَةَ الْكَهْفِ فِي يَوْمِ الْجُمْعَةِ سَطَعَ لَهُ نُوْرٌ مِنْ تَحْتِ قَدَمِهِ إِلَى عَنَانِ السَّمَاءَ يُضِيْءُ لَهُ يَوْمَ الْقِيَامَةِ وَغُفِرَ لَهُ مَا بَيْنَ الْجُمْعَتَيْنِ

“Siapa yang membaca surat Al-Kahfi pada hari Jum’at, maka akan memancar cahaya dari bawah kakinya sampai ke langit, akan meneranginya kelak pada hari kiamat, dan diampuni dosanya antara dua jumat.”

Al-Mundziri berkata: hadits ini diriwayatkan oleh Abu Bakr bin Mardawaih dalam tafsirnya dengan isnad yang tidak apa-apa. (Dari kitab at-Targhib wa al- Tarhib: 1/298).”

 

Sumber : http://www.arrahmah.com/kajian-islam/keutamaan-membaca-surat-al-kahfi-pada-malam-dan-hari-jumat.html