Bersatu dalam dakwah,

solid,menyejarah,mengakar

 

Forum Ukhuwah Lembaga Dakwah Fakultas Kedokteran

Wadah sinergisasi dakwah lembaga dakwah fakultas kedokteran se-Indonesia

Aktivitas Kami

Kegiatan terkini kami

Rakernas XVI

Banjarmasin, 14-16 Februari 2020

Rapat Kerja Nasional, agenda awal tahun untuk pembahasan AD/ART, pemaparan program kerja, pelantikan pengurus dan penentuan tenderisasi periode sekarang.

FIMA CAMP 18th

Uganda, 03-09 Januari 2020

Federation of Islamic Medical Association Camp, kegiatan untuk mahasiswa dan profesi kesehatan yang berfokus pada masalah kesehatan global.

MMLC, Rakerwil dan Musykerwil

DEW I-IV sepanjang kepengurusan

Beberapa program kerja yang dilaksanakan oleh Dewan Eksekutif Wilayah.

Artikel

Klik menu Artikel untuk tulisan terbaru lainnya

Cinta dalam Ujian

oleh: Adillah


Assalamu’alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh

Hidup ini penuh akan lika-liku kehidupan, yang terjal akan perjalanannya, mendaki untuk mencapai titik puncak impian kehidupan, jatuh bangun melewati rintangan yang penuh akan pahit manis kehidupan. Ya begitulah hidup, tak selamanya apa yang kita inginkan akan selalu tercapai dan tak selamanya apa yang kita harapkan akan menjadi sebuah kenyataan, hanya
Allah lah yang tahu mana yang terbaik untuk kita semua. Godaan terbesar umat manusia itu hawa nafsu, dan seperti halnya ketika ingin mencapai sesuatu, kita mestinya sangat bersemangat, dan ketika jiwa raga tak mampu tuk memumpuni maka hanya akan ada satu kata yang mewakili yaitu “mengeluh” dan berkata “Ujian apalagi ini ya Allah”.

Tak bisa dipungkiri bahwa manusia senangnya mengeluh dan berkata lelah, tapi perlu kita sadari bahwa itu adalah ujian terindah dari Allah. Kadang kita tak sadar bahwa dari tiap ujian yang datang menghadang, itu suatu pertanda akan kehadiran Allah untuk kita, namun seringkali kita hanya memandang sebelah mata. Misalnya ketika mendapat nilai rendah saat ujian malah membuat kita semakin terpuruk, galau, jatuh, sakit hati, kecewa. Banyak masalah internal yang datang kita hanya bisa menangis meronta kesakitan dalam diri, beranggapan bahwa
“Allah tidak adil sama saya”, mendapat banyak kegagalan dalam hidup malah membuat kita semakin pesimis dan malas untuk mencoba lagi. Sahabat tak sadarkah kita bahwa itu semua adalah hal yang kurang tepat untuk kita lakukan sebagai hambanya Allah SWT, pada kenyataannya itu adalah anggapan kita saja sebagai manusia biasa yang hanya berpikir bahwa ujian itu adalah tanda Allah tidak sayang kepada kita. Sungguh sangat disayangkan jikalau kita selalu berpikiran begitu bukan?
Ujian itu adalah bentuk cintanya Allah kepada kita, hal tersebut dibenarkan didalam sebuah
hadits :

إذا أحَبَّ اللهُ قومًا ابْتلاهُمْ
“Jika Allah mencintai suatu kaum maka mereka akan diuji” (HR. Ath-Thabrani dalam Mu’jamul Ausath, 3/302. Dishahihkan Al-Albani dalam Shahih Al-jami’ no. 285)
Dan Nabi shallallahu’alaihi wa sallam bersabda,

أشد الناس بلاء الأنبياء, ثم الصالحون, ثم الأمثل فالأمثل

“Manusia yang paling berat cobaannya adalah para Nabi, kemudian orang-orang shalih, kemudian yang semisal mereka dan yang semisalnya” (HR. Ahmad, 3/78, dishahihkan Al- Albani dalam Shahih Al-Jami’ no. 995).
Mereka adalah orang-orang yang dicintai oleh Allah. Ujian yang menimpa orang-orang yang Allah cintai, itu dalam rangka mensucikannya, dan mengangkat derajatnya, sehingga mereka menjadi teladan bagi yang lainnya dan bisa bersabar.

Oleh karena itu Nabi shallallahu’alaihi wa sallam bersabda, “Manusia yang paling berat cobaannya adalah para Nabi, kemudian orang-orang shalih, kemudian yang semisal mereka dan yang semisalnya.”
Dalam riwayat lain,

الصالحون, ثم الأمثل فالأمثل يبتلى المرء على قدر دينِهم
“…kemudian orang-orang shalih, kemudian yang semisal mereka dan yang semisalnya, mereka diuji sesuai dengan kualitas agama mereka.”
Jika ia orang yang sangat tegar dalam beragama, semakin berat ujiannya. Oleh karena itu Allah memberikan ujian kepada para Nabi dengan ujian yang berat-berat. Di antara mereka ada yang dibunuh, ada yang disakiti masyarakatnya, ada yang sakit dengan penyakit yang parah dan lama seperti Nabi Ayyub, dan Nabi kita shallallahu’alai wa sallam sering
disakiti di Makkah dan di Madinah, namun beliau tetap sabar menghadapi hal itu. Intinya, gangguan semacam ini terjadi terhadap orang yang beriman dan bertaqwa sesuai dengan kadar iman dan taqwanya.
Jadi, kita yang sebagai umat manusia biasa ini sudah sepantasnyalah untuk selalu berbaik sangka kepada Allah, setiap masalah yang datang maka sebaiknya kita semakin mendekatkan diri kepada Allah SWT, karena ujian itu adalah bentuk cinta-Nya Allah kepada hamba- hambanya, supaya kita semakin sering mengadu kepada-Nya, memohon ampunan dan petunjuk-Nya. Semoga kita menjadi sebaik-baiknya hamba. Aamiin.

Allahuma aamiin.
Barakallah fikum.
Sumber : http://www.binbaz.org.sa/noor/8751

Mengikuti Strategi Dakwah Rasulullah untuk Indonesia

Oleh:

Achmad Nabil Hafidh Maftuhin
FKUPN Jakarta


Dakwah merupakan salah satu sarana untuk masuk kedalam surga Allah dimana dakwah itu sendiri merupakan kewajiban bagi setiap muslim untuk menyampaikan kebenaran terhadap setiap sesama kaum muslimin. Namun akhir ini, banyak sekali pendakwah bahkan hingga ustadz yang berdakwah tidak dengan mencontoh Rasulullah SAW. Dakwah mereka justru banyak sekali yang berisi caci makian, kebencian bahkan sampai mengkafir-kafirkan kepada sesama Muslim sekalipun.
Dakwah rasulullah hijrah sampai kepada Madinah dimana di Madinah beragam macam agama dan kultur budaya setempat. Kalimat yang pertama kali diucapkan oleh Rasulullah Saw, ketika sampai di Madinah adalah ajakan untuk melakukan hal-hal yang menjaga kondusifitas dan keamanan masyarakat setempat. Sebagaimana dalam sebuah hadis riwayat dari Abdullah bin Salam, bahwa Rasulullah Saw mengatakan, “Wahai segenap manusia, berbagilah makanan, tebarkanlah ucapan salam, pererat tali silaturahim, dan lakukanlah salat malam saat orang- orang tertidur pulas, niscaya akan masuk Surga dengan damai (HR. Al-Hakim)”. Rasulullah Saw mengajarkan bagaimana cara menghormati penduduk Madinah yang agamanya beragam. Untuk itulah, dalam ceramahnya Rasulullah Saw selalu menggunakan kalimat يأيها الناس (wahai para manusia). Bukan wahai para penduduk Madinah, atau wahai kaum Muslimin dan lainnya.
Hal ini menunjukkan bahwa dakwah Rasulullah Saw, yaitu Islam adalah pesan damai untuk kita semua dan seluruh alam (rahmatan lil ‘alamin).
Rasulullah Saw juga melarang umatnya untuk membunuh, namun yang terjadi justru malah saling memfitnah dan saling membunuh atas nama jihad. Begitu juga Rasulullah Saw melarang untuk mengambil hak orang lain, tetapi justru yang terjadi malah menghalalkan dengan segala cara untuk merampas apa yang bukan haknya. Jangan sampai hanya gara-gara perbedaan madzhab dan pandangan politik, persatuan, perdamaian dan persaudaraan yang terjaga bertahun-tahun rusak begitu saja. Sebagaimana di Suriah, hanya gara-gara perbedaan pandangan politik. Negeri yang dulunya indah, tentram dan damai menjadi hancur gara-gara konflik politik berbalut agama, sehingga menimbulkan konflik bersaudara.

Untuk itulah mari sebaiknya kita sebagai sesama umat muslim di Indonesia menjunjung tinggi nilai nilai persaudaraan dan menjauhkan diri dari kebencian atas segala perbedaan baik itu pendapat, budaya, ataupun lainnya karena sesungguhnya setiap manusia memiliki pola berpikir mereka masing-masing dan kita tidak mungkin menyamakan persepsi atau pola pikir jutaan manusia menjadi satu, sehingga alangkah baiknya bagi kita untuk menghormati satu sama lain.

Sumber Artikel :
Alif.id (2019, 29 Oktober). Strategi Dakwah Rasulullah. Diakses pada 29 Oktober 2019,
dari https://alif.id/read/nur-hasan/strategi-dakwah-rasulullah-saw-b213262p/

BIRRUL WALIDAIN


Oleh: DEW 4

Bismillahirrahmanirrahim…

Birrul walidain adalah berbakti kepada orang tua. Birrul walidain adalah hal yang diperintahkan dalam agama. Al-Walidain maksudnya adalah kedua orang tua kandung. Al-Birr maknanya kebaikan, berdasarkan hadits rasulullah SAW.: “Al-Birr adalah baiknya akhlak”. Al-Birr merupakan hak kedua orang tua dan kerabat dekat, lawan dari Al-‘Uquuq (durhaka), yaitu "kejelekan dan menyia-nyiakan hak“. Al-Birr adalah mentaati kedua orang tua di dalam semua apa yang mereka perintahkan kepada engkau, selama tidak bermaksiat kepada Allah, dan Al-‘Uquuq dan menjauhi mereka dan tidak berbuat baik kepadanya.”
Dalam Islam, kedudukan perintah berbakti kepada orang tua berada setelah perintah tauhid dan lebih utama dari jihad fi sabililah. Sebagaimana telah kami sampaikan, berbakti kepada orang tua dalam agama kita yang mulia ini, memiliki kedudukan yang tinggi. Sehingga berbakti kepada orang tua bukanlah sekedar balas jasa, bukan pula sekedar kepantasan dan kesopanan. Sebagaimana Allah berfirman dalam Q.S Al-An’am: 151.
Katakanlah (Muhammad), “Marilah aku bacakan apa yang diharamkan Tuhan kepadamu. Jangan mempersekutukan-Nya dengan apapun, berbuat baiklah kepada ibu bapak, janganlah membunuh anak-anakmu karena takut miskin, kamilah yang memberi rezeki kepadamu dan kepada mereka; janganlah kamu mendekati perbuatan yang keji, baik yang terlihat ataupun yang tersembunyi, dan janganlah kamu membunuh orang yang diharamkan Allah kecuali dengan alasan yang benar. Demikianlah Dia memerintahkan kepadamu agar kamu mengerti. – (Q.S Al-An’am: 151)
Pada saat anak-anak, orang tua di rumah maupun guru di sekolah sekalipun selalu mengajarkan tentang doa untuk orang tua. Doa untuk orang tua tidak terbatas waktu dan keadaan. Siapa pun bisa mendoakan orang tua baik saat orang tua masih hidup ataupun sudah meninggal karena doa untuk orang tua adalah amal jariah yang pahalanya tidak akan pernah putus sebagaimana Rasululllah SAW bersabda dalam sebuah hadist yang diriwayatkan oleh Muslim, yaitu:
“Jika seseorang telah meninggal dunia maka terputuslah amalannya kecuali 3 perkara, yaitu sedekah jariyah, ilmu yang bermanfaat dan anak yang sholeh.” (HR. Muslim).
Anak yang shalih dan shalihah adalah investasi dunia dan akhirat. Kita semua pasti menginginkan surga Allah yang nilainya tidak terhingga. Allah SWT menjelaskan dalam QS. Al-Isra: 23-24, yaitu:
“Dan Tuhanmu telah memerintahkan agar kamu jangan menyembah selain Dia dan hendaklah berbuat baik kepada kedua orangtua. Jika salah seorang di antara keduanya atau kedua-duanya mencapai usia lanjut dalam pemeliharaanmu, maka sekali-kali janganlah engkau mengatakan kepada keduanya perkataan “ah” dan janganlah engkau membentak keduanya, dan ucapkanlah kepada keduanya perkataan yang baik. (23) Dan rendahkanlah dirimu di hadapan keduanya dengan penuh kasih sayang dan ucapkanlah, “Wahai Tuhanku, sayangilah keduanya sebagaimana mereka berdua telah mendidik aku di waktu kecil.” (24) – (Q.S Al-Isra: 23-24).
Sangatlah menyedihkan apabila dengan perkataan “ah” kepada orang tua saja adalah dosa besar oleh seorang anak apalagi jika membentak melebihi itu. Banyak hal yang bisa kita lakukan untuk memohon ampun kepada Allah SWT dan dapat masuk ke dalam pintu surga. Surga memiliki beberapa pintu, dan salah satu pintunya adalah birrul walidain. Nabi Muhammad SAW bersabda dalam sebuah hadis yang diriwayatkan oleh Tirmidzi, yaitu:
“Kedua orang tua itu adalah pintu surga yang paling tengah. Jika kalian mau memasukinya maka jagalah orang tua kalian. Jika kalian enggan memasukinya, silakan sia-siakan orang tua kalian” (HR. Tirmidzi, ia berkata: “hadits ini shahih”, dishahihkan Al Albani dalam Silsilah Ash Shahihah no.914).
Selain itu, birrul walidain adalah salah satu cara ber-tawassul kepada Allah. Tawassul artinya mengambil perantara untuk menuju kepada ridha Allah dan pertolongan Allah. Salah satu cara bertawassul yang disyariatkan adalah tawassul dengan amalan shalih. Dan diantara amalan shalih yang paling ampuh untuk bertawassul adalah birrul walidain. Sebagaimana hadits dalam Shahihain mengenai kisah yang diceritakan oleh Rasulullah Shallallahu’alaihi Wasallam mengenai tiga orang yang terjebak di dalam gua yang tertutup batu besar, kemudian mereka bertawassul kepada Allah dengan amalan-amalan mereka, salah satunya berkata:
“Ya Allah sesungguhnya saya memiliki orang tua yang sudah tua renta, dan saya juga memiliki istri dan anak perempuan yang aku beri mereka makan dari mengembala ternak. Ketika selesai menggembala, aku perahkan susu untuk mereka. Aku selalu dahulukan orang tuaku sebelum keluargaku. Lalu suatu hari ketika panen aku harus pergi jauh, dan aku tidak pulang kecuali sudah sangat sore, dan aku dapati orang tuaku sudah tidur. Lalu aku perahkan untuk mereka susu sebagaimana biasanya, lalu aku bawakan bejana berisi susu itu kepada mereka. Aku berdiri di sisi mereka, tapi aku enggan untuk membangunkan mereka. Dan aku pun enggan memberi susu pada anak perempuanku sebelum orang tuaku. Padahal anakku sudah meronta-ronta di kakiku karena kelaparan. Dan demikianlah terus keadaannya hingga terbit fajar. Ya Allah jika Engkau tahu aku melakukan hal itu demi mengharap wajahMu, maka bukalah celah bagi kami yang kami bisa melihat langit dari situ. Maka Allah pun membukakan sedikit celah yang membuat mereka bisa melihat langit darinya“(HR. Bukhari-Muslim).
Oleh karena itu, wajib bagi kita sebagai anak untuk menjadi kebahagiaan orang tua dunia akhirat. Kita juga bisa menjadi penyejuk hati orang tua kita sendiri. Berkata-kata yang lembut, selalu menyayangi orang tua, dan selalu berbakti kepada orang tua. Itulah maksud dari birrul walidain. Dengan seperti itu, kita akan membuka pintu surga untuk kita dan orang tua kita karena itulah harapan ayah dan ibu kita Allah SWT berfirman dalam QS. Al-Furqan: 7, yaitu:
“Dan orang orang yang senantiasa berdoa: Wahai Tuhan kami, karuniakanlah kepada kami penyejuk pandangan kami dari istri-istri dan anak-anak kami, dan jadikanlah kami sebagai pemimpin orang orang yang bertaqwa” (QS. Al Furqan: 72)

Sumber :
Perintah Untuk Birrul Wallidain
https://muslim.or.id/47127-perintah-untuk-birrul-walidain.html
cited 17 Agustus 2020
Birrul Walidain
https://id.wikipedia.org/wiki/Birrul_Walidain#Definisi
cited 17 Agustus 2020
Kumpulan Ayat-Ayat Alquran Tentang Birrul Walidain (Berbakti pada Kedua Orangtua)
https://mutiaraislam.net/ayat-alquran-berbakti-pada-orangtua/
cited 17 Agustus 2020
Doa untuk Orang Tua yang menjadi Amal Jariah yang Tidak Pernah Putus
https://qazwa.id/blog/doa-untuk-orang-tua/
cited 17 Agustus 2020
Menjadi Penyejuk Pandangan Bagi Orang Tua
https://muslim.or.id/22215-menjadi-penyejuk-pandangan-bagi-orang-tua.html
cited 17 Agustus 2020