TOKSOPLASMOSIS PADA IBU HAMIL, BENARKAH KARENA KUCING?

Penulis: Hanan Anwar1, Aisyah Liputa Indeka2

Editor: Sandria3

1Fakultas Kedokteran Universitas Udayana

2Fakultas Kedokteran Universitas Muhammadiyah Yogyakarta

3Fakultas Kedokteran Universitas Sriwijaya

Departemen Kajian Kedokteran Islam dan Advokasi Dewan Eksekutif Pusat

Forum Ukhuwah Lembaga Dakwah Fakultas Kedokteran Indonesia.

 

Apakah Anda termasuk orang yang menyukai kucing? Jika berbicara tentang binatang, maka kucing termasuk yang paling banyak dipelihara. Rasulullah dan beberapa sahabat pun juga memelihara kucing. Tetapi, banyak beredar isu di kalangan masyarakat bahwa kucing dapat menyebarkan virus toksoplasma yang dapat membahayakan janin yang dikandung ibu. Umumnya kucing dapat terkontaminasi virus ini dengan memakan daging tikus atau burung yang telah terinfeksi. Manusia dapat tertular apabila ia memakan daging mentah atau kurang matang yang mengandung kista jaringan atau takizoit Toksoplasma ataupun ketika ookista yang terdapat pada tinja kucing tertelan. Namun sebenarnya, hal ini tidak akan terjadi apabila ibu benar-benar menjaga kesehatan, daya tahan tubuh dan kebersihan, karena infeksi toksoplasma akan mudah mengalami penyebaran apabila hal-hal tersebut tidak diperhatikan. Selain itu, kucing yang dipelihara pun harus selalu terjaga kesehatannya dan kebersihannya.

Banyak alasan mengapa kucing menjadi favorit, misalnya karena wajahnya yang imut dan lucu atau karena tingkahnya yang menggemaskan. Kucing memiliki banyak jenis di dunia, jenis kucing Persia yang setia atau kucing lincah seperti Anggora selalu memikat bagi para penggemarnya. Tidak sedikit pula yang memelihara kucing domestik karena perawatannya yang mudah.  Di dalam Islam, memiliki hewan peliharaan adalah mubah dan bukanlah suatu hal yang baru. Rasulullah memperbolehkan memelihara kucing karena kucing tidak termasuk hewan yang najis.

Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

إِنَّهَا لَيْسَتْ بِنَجَسٍ إِنَّهَا مِنَ الطَّوَّافِينَ عَلَيْكُمْ وَالطَّوَّافَاتِ

“Kucing ini tidaklah najis. Sesungguhnya kucing merupakan hewan yang sering kita jumpai dan berada di sekeliling kita. ”

(HR. At Tirmidzi, Abu Daud, An Nasa’i, Ibnu Majah, Ad Darimi, Ahmad, Malik. Syaikh Al Albani dalam Irwa’ul Gholil no. 173 mengatakan bahwa hadits ini shahih. 1

Rasulullah saw pun memiliki hewan peliharaan yaitu kucing bernama Muezza. Ada cerita unik antara Rasulullah dengan kucingnya. Saat itu, Rasulullah ingin pergi ke suatu tempat dan ingin mengambil jubahnya. Terlihat Muezza berbaring dengan lelapnya di atas bagian lengan dari jubah Rasulullah. Karena tak ingin mengganggu hewan kesayangannya tersebut, Rasulullah pun memotong bagian tangan dari jubahnya tersebut. Sebegitu sayangnya Rasulullah dengan kucing, sampai-sampai ketika kucingnya tidur pun, ia tak ingin mengganggu kucing terlebih menyakiti kucingnya.2

Diriwayatkan dan Ali bin Al-Hasan, dan Anas yang menceritakan bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam pergi ke Bathhan, suatu daerah di Madinah. Lalu, beliau berkata, “Ya Anas, tuangkan air wudhu untukku ke dalam bejana.” Lalu, Anas menuangkan air. Ketika sudah selesai, Nabi menuju bejana. Namun, seekor kucing datang dan menjilati bejana. Melihat itu, Nabi berhenti sampai kucing tersebut berhenti minum lalu berwudhu. Nabi ditanya mengenai kejadian tersebut, beliau menjawab, “Ya Anas, kucing termasuk perhiasan rumah tangga, ia tidak dikotori sesuatu, bahkan tidak ada najis.”

Kalangan sahabat juga memiliki kisah istimewa tentang kucing. Siapa yang tidak kenal salah satu sahabat nabi bernama Abu Hurairah? Tentu nama sahabat yang satu ini sangat akrab di telinga kita, beliau dikenal sebagai sahabat yang sabar dalam menuntut ilmu dan meriwayatkan banyak hadist. Nama aslinya menurut Ibnu Hisyam adalah Abdullah bin Amin. Begitu sayangnya  beliau terhadap kucing, sampai-sampai beliau dijuluki Abu Hurairah. Abu Hurairah Radhiyallahu ‘anhu berkata, “Aku pernah menggembalakan kambing untuk keluargaku. Dan saat itu kudapati anak kucing liar, lalu aku masukkan ke kantong lenganku. Ketika aku pulang kembali ke rumah, mereka mendengar suara kucing di kamarku, kemudian bertanya, ‘Suara apakah itu, wahai Abdu Syams?’ Akupun menjawab,‘Anak kucing yang kutemukan (saat menggembala kambing)’. Mereka berkata,‘Kalau begitu, engkau adalah Abu Hurairah’. Semenjak itu, julukan dan gelar itu terus melekat padaku.”3

Berdasarkan uraian mengenai hadist Rasulullah dan kisah sahabat di atas, kucing merupakan binatang yang istimewa di dalam Islam dan diperbolehkan memeliharanya. Memeliharanya tentulah harus dengan mengikuti sunnah rasul yaitu menyayangi dan memberi makannya secara teratur.  Di sisi lain timbul pertanyaan di masyarakat mengenai risiko yang dapat timbul ketika memelihara kucing terutama bagi seorang ibu yang sedang hamil, akankah berbahaya bagi kandungan ibu?  Hal ini mengingat kucing adalah salah satu agen pembawa parasit Toksoplasma sp. yang merupakan penyebab Toxoplasmosis dan dapat menimbulkan infeksi pada masa kehamilan.

Toksoplasma gondii adalah parasit obligat intraseluler yang menginfeksi burung dan mamalia. Tahap utama reproduksi seksual parasit ini terjadi pada epitel pencernaan kucing sebagai (pejamu definitif). Kucing pada umumnya dapat terkontaminasi toksoplasma dengan memakan daging tikus atau burung dan biasanya infeksi pada kucing bersifat asimtomatik.4,5 Penularan ke manusia dapat terjadi bila seseorang memakan daging mentah atau kurang matang yang mengandung kista jaringan atau takizoit Toksoplasma. Penularan ke manusia juga dapat terjadi jika ookista yang terdapat pada tinja kucing tertelan.5

vv

Gambar 1. Siklus Hidup Toksoplasma. 6

Pada saat janin di dalam kandungan, muncul risiko-risiko yang berasal dari lingkungan yang mungkin dapat memberikan pengaruh pada kondisi janin, termasuk dari hewan peliharaan seperti kucing. Masa perinatal merupakan masa yang riskan,  mortalitas dan morbiditas pada masa perinatal cukup tinggi, dimana sekitar 30% kehamilan mengalami abortus. Salah satu bentuk ancaman bagi janin adalah adanya infeksi TORCH (Toxoplasmosis, Rubella, Cytomegalovirus, Herpes Simplex).7  Di Amerika Serikat toksoplasmosis kongenital jarang ditemukan, hanya diperkirakan sekitar 400 sampai 4000 kasus setiap tahunnya.8 Gejala yang timbul pada ibu hamil yang terinfeksi toksoplasma tidaklah jelas dan hanya sedikit yang menunjukkan gejala klinis dari penyakit. Manifestasi klinis dari ibu hamil tidaklah lebih parah jika dibandingkan dengan ibu yang tidak hamil dan biasanya gejala yang muncul berupa flu-like illness. Diagnosis dapat ditegakkan dengan pemeriksaan serum dan juga dari pemeriksaan ultrasound.4

Infeksi TORCH terutama toksoplasma berbahaya karena dapat menimbulkan kelainan pada mata, hidrosefalus, kalsifikasi intrakaranial, korioretinitis, ikterus, hepatosplenomegali, dan demam pada neonatus. Pada ibu hamil, penularan secara vertikal terjadi melalui jalur transplasenta dimana terjadi perpindahan organisme dari ibu ke janin. Penularan dari ibu yang terinfeksi akut ke janinnya sebesar 30%-40%, risiko infeksi dapat meningkat sampai 90% dengan bertambahnya usia kehamilan dan pendeknya interval saat infeksi dari ibu ke janin.9

Penularan toksoplasma melalui kontak langsung dengan kucing, resikonya kecil karena tidak semua kucing membawa parasit ini dan makanan kucing peliharaan biasanya sudah merupakan makanan yang terpilih. Selain itu, hadist dari Abu Qatadah di atas menunjukkan bahwa kucing tidaklah najis, secara tidak langsung ini dapat menjelaskan bahwa kucing termasuk binatang yang terjamin kebersihannya dari berbagai mikroorganisme berbahaya. Risiko penularan toksoplasma umumnya meningkat pada pasien-pasien terutama dengan kondisi imunokompromais.5 Oleh karena itu bagi ibu hamil sebenarnya tidak perlu takut memelihara atau menyayangi kucing asal dapat menjaga kebesihan dan kesehatannya.

Zaid bin Muslim mengatakan, “Umar Radhiyallahu ‘anhu pernah memberikan pencegahan kepada orang sakit, karena saking susahnya menahan diri dari makanan, terpaksa orang itu menghisap biji-bijian.” Dapat disimpulkan pencegahan merupakan obat yang terbaik terhadap ancaman penyakit, berbagai upaya dapat dilakukan untuk mencegah timbulnya penyakit atau setidaknya mencegah agar penyakit tidak semakin parah dan menyebar. 10

Sebagai upaya pencegahan bagi yang sedang merencanakan kehamilan atau ibu yang sedang hamil lebih baik jika menjauhi kucing untuk sementara waktu. Apabila ibu masih ingin memelihara kucing, maka ibu sebaiknya harus benar-benar menjaga kesehatan, daya tahan tubuh dan kebersihan, karena infeksi toksoplasma akan mudah mengalami penyebaran apabila hal-hal tersebut tidak diperhatikan. Berikut ini adalah tips aman bagi ibu hamil yang ingin memelihara kucing.: 4,11

  1. Melatih kucing agar memiliki kebiasaan kotoran di tempat yang disediakan. Kemudian apabila kucing selesai buang air besar segera buang kotoran tersebut dengan menggunakan sarung tangan
  2. Menghindari agar kucing peliharaan agar tidak mendekati daerah dapur dan juga meja makan
  3. Sebaiknya memberi makanan kucing sendiri, dan jangan membiarkan kucing peliharaan mencari makanan di luar yang diragukan kebersihannya
  4. Membiasakan mencuci tangan pada saat bermain dengan kucing peliharaan dan juga membuatkan kandang khusus
  5. Memakan daging yang matang ( > 67°C/153°F)
  6. Mendinginkan daging pada suhu −20°C/−4°F dapat membunuh kista Toksoplasma gondii
  7. Mencuci bersih buah dan sayuran yang akan dimakan
  8. Skrining rutin kehamilan pada kelompok ibu hamil yang berisiko tinggi misalnya pada pasien imunokompromais

Untuk itu, bagi ibu-ibu pencinta kucing, baik yang sedang mengandung ataupun tidak, jangan khawatir untuk tetap memelihara kucing di rumah ibu. Berkurangnya ancaman infeksi Toksoplasma saat memelihara kucing tentunya akan tercapai dengan tetap mengupayakan usaha-usaha pencegahan seperti yang telah terurai di atas. Salam sehat !

 

DAFTAR PUSTAKA

  1. IH, Asqalani.  Kitab Taharah, dalam Asqalani IH. Dalam: Terjemah Bulughul Maram. Diterjemahkan oleh: Badrusalam. Bogor: Pustaka Ulil Albab. 2006.
  2. 2013. Mengapa Rasulullah Sangat Sayang Kepada Kucing. http://www.eramuslim.com/hikmah/mengapa-rasulullah-sangat-sayang-terhadap-kucing.htm. Diakses tanggal 20 Maret 2016 [online]
  3. 2011. Abu Hurairah Radhiyallahuanhu Pribadi yang Mengagumkan. https://almanhaj.or.id/3095-abu-hurairah-radhiyallahu-anhu-pribadi-yang mengagumkan.html. Diakses tanggal 16 Maret 2016 [online]
  4. Paquet C, Yudin MH. Toxoplasmosis in Pregnancy: Prevention, Screening, and Treatment. J Obstet Gynaecol Can. 2013; 35:1-6
  5. Pohan HT. 2014. Toksoplasmosis, dalam Buku Ajar Ilmu Penyakit Dalam. Ed 6. Jakarta: Interna Publishing
  6. Toksoplasma gondii. http://en.citizendium.org/wiki/Toksoplasma_gondii,Diakses tanggal 16 Maret 2016 [online]
  1. Soetjiningsih, Ranuh IGNG. 2013. Tumbuh Kembang Anak Ed.2. Jakarta: EGC Penerbit Buku Kedokteran.
  2. Kravetz JD, Federman DG. Toxoplasmosis in Pregnancy. The American Journal of Medicine. 2005;118: 212–216
  3. Marcdante KD, Kliegman RM, Jenson HB, Behrman RE. 2014. Nelson Ilmu Kesehatan Anak Esensial. Edisi 6. Diterjemahkan oleh: Soebadi A, dkk. Jakarta: Saunders Elsevier
  4. IQ, Al Jauziyah. 2013.Metode Pengobatan Nabi. Diterjemahkan oleh: Al Maidani AUB. Jakarta: Griya Ilmu
  5. R, Bahraen. 2013. Antara Kucing Toksoplasma dan Wanita, Bahayakah? https://kesehatanmuslim.com/antara-kucing-toksoplasma-dan-wanita-bahayakah/ Diakses tanggal 16 Maret 2016 [online]

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *


*

3 + three =