TIDUR SIANG (QAILULAH) DALAM ANJURAN DAN PENINGKATAN KUALITAS HIDUP

Oleh Weny Noralita dan Alliffabri Oktano

Departemen Kajian Kedokteran Islam dan Advokasi Dewan Eksekutif Pusat

Forum Ukhuwah Lembaga Dakwah Fakultas Kedokteran Indonesia

Tidur adalah aktivitas rutin bagi setiap manusia. Setelah beraktivitas penuh di siang harinya, biasanya kita memanfaatkan waktu malam untuk kembali mengumpulkan energi dan digunakan esok harinya. Tanpa adanya tidur sebagai media istirahat, banyak hal yang dapat terganggu seperti mudah terkena penyakit, produktivitas harian yang menurun dan efek buruk lainnya. Namun terkadang, ada beberapa dari kita yang dapat beristirahat di waktu malamnya tetapi tetap tidak maksimal dalam melakukan rutinitas hariannya atau harus menggunakan waktu malamnya untuk melanjutkan pekerjaan yang belum terselesaikan di waktu siang, sehingga pemenuhan energi tubuh kurang tercapai. Oleh karenanya dalam Islam dikenal adanya qailulah atau tidur siang dan Rasulullah menganjurkan umatnya untuk melakukannya. Bahkan qailulah disebut juga sebagai power nap. Mengapa tidur siang dianjurkan oleh Rasulullah dan bagaimana pengaruhnya bagi kesehatan?


Tidur menurut kamus besar bahasa Indonesia adalah keadaan berhentinya badan dan kesadaran. Namun ternyata tidur tidak hanya hilangnya keterjagaan tapi juga merupakan suatu proses. Tingkat aktivitas otak keseluruhan tidak berkurang saat kita tidur. Selama tahap-tahap tertentu tidur, penyerapan oksigen oleh otak bahkan meningkat melebihi tingkat normal sewaktu terjaga. Dalam tidur, terdapat satu bagian otak yang berperan penting sebagai pusat pengatur tidur yaitu batang otak (Sherwood, 2011).

Terdapat dua jenis tidur, ditandai oleh pola elektroensefalogafi* (EEG) yang berbeda dan perilaku yang berlainan yaitu tidur gelombang lambat dan tidur paradoksal (tidur dengan gerak mata cepat atau rapid eye movement (REM)). Tidur gelombang lambat terjadi dalam empat tahap, yang masing-masing memperlihatkan gelombang EEG yang semakin pelan dengan amplitudo lebih besar (karenanya dinamai tidur “gelombang lambat”). Pada permulaan tidur, terjadi perpindahan dari tidur ringan (“tidur ayam”) stadium 1 menjadi stadium 4 (tidur gelombang lambat) dalam wakktu 30-45 menit. Pada akhir masing-masing siklus tidur gelombang lambat terdapat episode tidur paradoksal selama 10-15 menit. Secara paradoks, pola EEG selama periode ini mendadak berubah seperti dalam keadaan terjaga, meskipun masih dalam keadaan tertidur lelap. Setelah episode paradoks tersebut, stadium-stadium tidur gelombang kembali berulang (Sherwood, 2011).

Pola EEG

Gambar 1. Pola EEG selama berbagai jenis tidur

Siklus tidur

Gambar 2. Siklus Tidur

Sepanjang malam, seseorang secara siklus bergantian mengalami kedua jenis tidur tersebut. Dalam siklus tidur normal, terjadi perubahan dari tidur gelombang lambat menjadi tidur paradoksal (REM). Secara rerata tidur paradoksal menempati 20% dari waktu tidur total pada masa remaja dan sebagian besar masa dewasa. Bayi menghabiskan waktu jauh lebih banyak pada tidur paradoksal. Sebaliknya, pada usia lanjut tidur paradoksal dan tidur gelombang lambat stadium 4 berkurang (Sherwood, 2011). Lalu bagaimana dengan tidur siang?

Tidur sejenak pada siang hari memiliki manfaat yang besar bagi tubuh. Tidur bermanfaat untuk memulihkan dan mengistirahatkan otak dan tubuh. Relaksasi otak pada siang hari memungkinkan terjadinya konsolidasi informasi yang diperoleh sebelumnya. Saat beraktivitas di siang hari, tubuh dipengaruhi oleh hormon kortisol. Seseorang dapat mengalami stres apabila produksi hormon kortisol telah mencapai jumlah maksimum (Yusof et al., 2014). Selain itu pada siang hari, tubuh dapat mengalami kantuk sehingga hal tersebut dapat menyebabkan terjadinya penurunan efektifitas kinerja seseorang (Hayashi et al., 1999). Sehingga istirahat sangat diperlukan oleh tubuh meskipun hanya dalam waktu yang sebentar.

Bukti paling langsung yang menunjang anggapan bahwa tidur memulihkan proses-proses biokimia atau fisiologis adalah peran potensial adenosin** sebagai faktor tidur saraf. Adenosin merupakan tulang punggung adenosin trifosfat (ATP / energi), “mata uang” energi tubuh, yang terbentuk selama keadaan terjaga oleh neuron dan sel glia yang aktif secara metabolik. Karena itu, konsentrasi adenosin ekstrasel otak terus meningkat bila terjaga lebih lama. Adenosin, yang  bekerja sebagai neuromodulator***, telah dibuktikan melalui eksperimen dapat menghambat pusat keterjagaan. Efek ini dapat menimbulkan tidur gelombang lambat. Aktivitas pemulihan ini dipercayai berlangsung selama tidur gelombang lambat. Bila disuntikan adenosin akan menginduksi terjadinya tidur normal, sementara pemberian kafein dapat menghambat reseptor adenosin di otak, membangunkan orang yang mengantuk dengan menghilangkan pengaruh inhibitorik pada pusat keterjagaan. Kadar adenosin berkurang selama tidur, karena otak menggunakan adenosin ini sebagai bahan mentah untuk memulihkan simpanan energi. Jadi, kebutuhan tidur bagi tubuh dapat disebabkan oleh kebutuhan periodik otak untuk mengganti simpanan energi yang berkurang. Karena adenosin mencerminkan tingkat aktivitas sel otak maka konsentrasi bahan kimia ini di otak dapat berfungsi sebagai ukuran seberapa banyak energi yang telah terpakai (Sherwood, 2011).

Sara C. Mednick, PhD dalam bukunya “Take a nap! Change Your Life” mengatakan bahwa tidur siang selama 20 menit akan memberikan manfaat yang luar biasa.  Tidur siang selama 20 menit meningkatkan daya konstentrasi dan keterampilan motorik seperti mengetik dan bermain piano. Apa yang terjadi jika tidur siang selama lebih dari 20 menit? Penelitian menunjukkan tidur siang lebih lama membantu meningkatkan ingatan dan meningkatkan kreativitas. Tidur siang selama kurang lebih 30 sampai 60 menit (tidur gelombang lambat) baik untuk kemampuan dalam mengambil keputusan, seperti menghafal kosakata atau mengingat arah. Tidur siang selama 60 sampai 90 menit (tidur REM) memainkan peran kunci dalam membuat koneksi baru di dalam otak dan memecahkan masalah dengan kreatif. Lamanya waktu tidur siang dan jenis tidur dapat menentukan manfaat yang terjadi pada otak. Penelitian lain (Allen, 2003) menunjukkan bahwa  tidur siang dengan durasi 60 sampai 90 menit dapat mengembalikan hilangnya presepsi pembelajaran setelah beraktifitas dan apabila telah memasuki fase tidur REM (Rapid Eye Movement) maka akan dapat meningkatkan kinerja seseorang sama seperti setelah bangun dari tidur pada malam hari.

Teori lain yang menonojol adalah bahwa tidur, terutama tidur paradoksal (fase REM), diperlukan bagi otak untuk “berganti persneling”, untuk melaksanakan penyesuaian-penyesuaian kimiawi dan struktural jangka panjang yang diperlukan untuk belajar dan mengingat, terutama konsolidasi ingatan prosedural. Teori ini dapat menjelaskan mengapa bayi memerlukan banyak tidur. Otak mereka yang sangat lentur secara cepat mengalami modifikasi-modifikasi sinaps besar-besaran sebagai respons terhadap rangsangan lingkungan. Sebaliknya, orang dewasa, yang perubahan pada sarafnya lebih terbatas, tidur lebih sedikit (Sherwood, 2011).

Hasil penelitian yang dilakukan pada 23.681 orang dan menghabiskan waktu lebih dari 6 tahun menunjukkan bahwa mereka yang memiliki kebiasaan tidur siang secara teratur 3 kali dalam seminggu selama kurang lebih 30 menit menurunkan resiko kematian akibat penyakit jantung sekitar 37% dan mereka yang memiliki kebiasaan tidur siang secara tidak teratur memiliki risiko kematian 12% lebih rendah daripada orang yang tidak memiliki kebiasaan tidur siang (Naska et al., 2007).

Di negara-negara seperti Amerika Serikat, Kanada dan Jepang telah menjadikan qailulah atau sering disebut dengan  “power nap”  sebagai kebiasaan dan budaya yang dianjurkan bagi para pekerja dan siswa untuk meningkatkan produktivitas kerja. Misalnya, untuk meningkatkan kesadaran masyarakat tentang efek positif dari tidur siang, Amerika Serikat telah mendirikan National Sleep Disorder Association (Yusof et al., 2014).

Sebagian orang sering menganggap tidur sejenak pada siang hari sebagai hal yang sepele dan di Indonesia budaya tidur siang masih dianggap sebagai kebiasaan bagi mereka yang malas. Padahal tidur siang memiliki manfaat yang besar bagi tubuh dan Rasulullah SAW bersama para sahabat pun melakukan tidur siang. Beberapa abad sebelum penelitian-penelitian membuktikan bahwa tidur siang bermanfaat bagi kesehatan tubuh dan otak, Rasulullah SAW telah mengajarkan kepada umat Islam untuk memiliki kebiasaan tidur siang karena hal tersebut dapat membantu seseorang terbangun di malam hari untuk melaksanakan sholat tahajud. Lantas jika negara non Muslim saja telah menerapkan salah satu anjuran Rasulullah SAW, lalu bagaimana dengan kita?

Di dalam Islam tidur sejenak pada siang hari dikenal dengan “Qailulah”. Definisi qailulah dalam kamus Lisanul Arab berarti “tidur pada pertengahan siang”. Namun tidak hanya tidur, qailulah juga dapat didefinisikan sebagai istirahat pada pertengahan siang walaupun tidak tidur.

Di dalam Surat Ar-Rum ayat 23 Allah SWT berfirman:

وَمِنْ آيَاتِهِ مَنَامُكُمْ بِاللَّيْلِ وَالنَّهَارِ وَابْتِغَاؤُكُمْ مِنْ فَضْلِهِ إِنَّ فِي ذَلِكَ لآيَاتٍ لِقَوْمٍ يَسْمَعُونَ

 “Dan di antara tanda-tanda kekuasaan-Nya ialah tidurmu di waktu malam dan siang hari dan usahamu mencari sebagian dari karunia-Nya. Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda-tanda bagi kaum yang mendengarkan”.

Pada ayat tersebut, Allah SWT menunjukkan tanda kekuasaan dan kasih sayang-Nya. Diantaranya tanda-tanda-Nya adalah siklus tidur yang Allah SWT ciptakan pada malam dan siang hari sehingga manusia dapat beristirahat dan sedikit bergerak sehingga hilang rasa lelah. Allah SWT juga menjadikan manusia dari bertebaran atau mencari nafkah pada waktu yang lain untuk mencari karunia Allah SWT sebagai sumber kehidupan. Semua merupakan tanda kekuasaan Allah SWT bagi kaum yang mendengar (Sayyid Quthb, 2004).

Rasulullah SAW bersabda “Qailulah-lah (istirahat sianglah) kalian, sesungguhnya setan-setan itu tidak pernah istirahat siang.” (HR. Abu Nu’aim dalam Ath-Thibb, dikatakan oleh Al-Imam Al-Albani dalam Ash-Shahihah no. 1637:  shahihul isnad).

‘Umar ibnul Khaththab radhiyallahu ‘anhu: Pernah suatu ketika ada orang-orang Quraisy yang duduk di depan pintu Ibnu Mas’ud. Ketika tengah hari, Ibnu Mas’ud mengatakan, “Bangkitlah kalian (untuk istirahat siang). Yang tertinggal hanyalah bagian untuk setan.” Kemudian tidaklah Umar melewati seorang pun kecuali menyuruhnya bangkit.” (HR. Al-Bukhari dalam Al-Adabul Mufrad no.1238, dikatakan oleh Al-Imam Al-Albani rahimahullahu dalam Shahih Al-Adabil Mufrad no. 939: hasanul isnad).

Qailulah dapat dilakukan sebelum ataupun sesudah waktu zuhur tetapi lebih baik jika dilakukan setelah waktu dzuhur sebagaimana kebiasaan Rasulullah dan para sahabat dahulu. Anas bin Malik radhiallahu ‘anhu berkata,“Mereka (para sahabat) dulu biasa melaksanakan shalat Jum’at, kemudian istirahat siang ( qailulah).” (HR. Al-Bukhari dalam Al-Adabul Mufrad no.1240, dikatakan oleh Al-Imam Al-Albani t dalam Shahih Al-Adabil Mufrad no. 939: shahihul isnad).

Dari Sahl bin Sa’ad radhiallahu ‘anhu berkata,“Kami (dahulunya) tidaklah melakukan qailulah dan makan kecuali setelah shalat jumat di zaman Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam.( Muttafaq alaihi, lafadz Muslim).

Maha Suci Allah yang telah menerangkan dalam Al-Quran tentang pentingnya tidur pada malam dan siang hari serta menegaskan bahwa tidur merupakan tanda kebesaran Allah dan keajaiban yang harus dipelajari, diajarkan, dan diamalkan bagi orang-orang yang bertakwa. Oleh karena itu, sudah saatnya kita membudayakan salah satu sunnah Rasullullah SAW ini dengan niat mengikuti sunnah Rasulullah SAW, sehingga tidak hanya pahala dan keridhoan dari Allah SWT yang kita peroleh namun tubuh dan otak kita juga akan mendapatkan manfaat kesehatan yang sangat besar. InsyaAllah.

*elektroensefalografi : perekaman aktivitas listrik otak.

**adenosin : suatu nukleotida (molekul yang terdiri atas fosfat, pentosa dan basa purin atau pirimidin) adenin D-Ribose.

***neuromodulator : zat yang dirilis oleh neuron (sel saraf) pada sinaps untuk menyampaikan informasi kepada sel saraf yang berdekatan atau jauh, dengan tujuan untuk menguatkan, memperpanjang, menghambat atau membatasi efek neurotransmitter atau impuls saraf.

Daftar Pustaka :

Allen RP.2003. Take afternoon naps to improve perceptual learning. Sleep medicine, 4, 589-590.

Hayashi M, Ito S, Hori T.1999. The effects of a 20-min nap at noon on sleepiness, performance and EEG activity. International Journal of Psychophysiology, 32, 173-180.

Mandzur, Ibnu. 1993. Lisanul Arab. Beirut : Dar Shadir.

Naska A, Oikonomou E., Trichopoulou A, Psaltopoulou T. Trichopoulou D. 2007. Siesta in healthy adults and coronary mortality in the general population. Archives of internal medicine, 167, 296-301.

Quthb, Sayyid. 2004. Tafsir Fi Zhilalil-Qur’an. Jakarta: Gema Insani.

Sherwood, Lauralee. 2011. Fisiologi Manusia Dari Sel ke Sistem. Jakarta : EGC.

Yusof FM, Muhamad SN, Rosman, AS, Ahmad SN, Razak NF, Hashim NI, Awang A. 2014. Sleep Phenomena from the Perspectives of Islam and Science. Jurnal Teknologi, 67.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *


*

− two = 5