TAHAJUD SEBAGAI PENAWAR STRES

Oleh Silmi Kaffah dan Alliffabri Oktano

Departemen Kajian Kedokteran Islam dan Advokasi Dewan Eksekutif Pusat

Forum Ukhuwah Lembaga Dakwah Fakultas Kedokteran Indonesia

Hidup manusia ditandai oleh usaha-usaha pemenuhan kebutuhan, baik fisik, mental-emosional, material, maupun spiritual. Bila kebutuhan dapat di penuhi dengan baik berarti tercapai keseimbangan dan kepuasan. Tetapi pada kenyataannya sering kali usaha pemenuhan kebutuhan-kebutuhan tersebut mendapat banyak rintangan dan hambatan. Tekanan-tekanan dan kesulitan-kesulitan dalam hidup sering membawa manusia dalam keadaan stres. Penyelesaian masalah yang tidak tepat, semakin memperburuk keadaan. Oleh karenanya sebagai seorang individu yang beragama langkah spiritual merupakan salah satu cara positif yang dapat digunakan dalam mengatasinya.


Stres dan Akibatnya            

Stres merupakan suatu fenomena yang tidak dapat dielakkan dalam kehidupan seseorang. Stres dapat dialami oleh siapa saja baik yang masih muda maupun yang sudah tua dan ini merupakan sesuatu yang wajar (Atkinson, 2000).

Sejak kelahiran ataupun sejak pembuahan, setiap makhluk sudah berada dalam situasi yang menggambarkan adanya 2 pihak yang saling bertentangan, yaitu kondisi pada makhluk itu sendiri dan lingkungan. Akibatnya dibutuhkan upaya untuk menyesuaikan diri untuk memenuhi tuntutan lingkungan. Respon organisme untuk menyesuaikan diri dengan tuntutan-tuntutan itu disebut sebagai stres (Wiramihardja, 2005).

Lazarus & Folkman (dalam Morgan, 1986) mendefinisikan stres sebagai suatu kondisi internal seseorang yang dirasakan membahayakan, tidak terkontrol ataupun kejadian di luar batas kemampuan individu yang disebabkan oleh fisik atau lingkungan dan situasi sosial.

Stres merupakan reaksi fisiologis dan psikologis manusia terhadap situasi yang menekan (Lahey, 2003). Stress menurut Selye (dalam Hardjana, 1994) adalah tanggapan yang menyeluruh dari tubuh terhadap setiap tuntutan yang datang atasnya. Tanggapan ini tidak hanya terbatas pada satu bagian tubuh, tetapi menyangkut seluruh bagian tubuh, dari ujung kaki hingga ujung kepala. Bila terkena stres, segala segi dari diri terkena. Stres tidak hanya menyangkut segi lahir, tetapi batin. Secara umum, wanita cenderung lebih sering mengalami stres (Sarafino, 2006). Stres juga didefinisikan sebagai tanggapan atau proses internal atau eksternal yang mencapai tingkat ketegangan fisik dan psikologis sampai pada batas atau melebihi batas kemampuan subyek (Cooper, 1994).

Situasi stres akan menghasilkan reaksi emosional tertentu pada individu. Reaksi tersebut dapat meliputi reaksi positif (jika stres dapat ditangani) dan reaksi negatif seperti kecemasan, kemarahan dan depresi. Reaksi negatif timbul jika stres yang dialami individu tidak dapat ditangani (Atkinson, 2000). Reaksi-reaksi emosi yang mungkin muncul saat menghadapi situasi stres adalah kecemasan, kemarahan, agregasi, apati, depresi dan gangguan kognitif.

Kecemasan merupakan salah satu respon yang muncul ketika individu dihadapkan pada situasi stres. Kecemasan dalam bahasa sehari-harinya dapat didefinisikan sebagai emosi yang tidak menyenangkan yang ditandai oleh perasaan khawatir, perasaan tidak nyaman, tegang dan takut. Reaksi-reaksi ini umumnya dialami individu ketika mengalami stres tetapi dengan intensitas yang berbeda-beda. Pada keadaan tertentu, kecemasan dapat menjadi berat dan akhirnya membuat orang tersebut menarik diri dari lingkungan (Gunarsa, 2002).

Reaksi umum lain yang timbul ketika individu dihadapkan pada situasi stres adalah kemarahan yang mungkin akan mengarah pada perilaku agresi (Atkinson, 2000). Perasaan marah yang dirasakan individu dapat membangkitkan perilaku agresi, seperti menendang, memukul. Hal ini sejalan dengan hipotesa frustrasi-agresi (Dollard dalam Morgan, 1986) bahwa frustrasi yang timbul akibat kegagalan individu dalam mencapai tujuannya, dapat menyebabkan agresi. Orang dewasa umumnya mengekspresikan agresi mereka secara verbal daripada secara fisik, mereka lebih mungkin untuk melontarkan hinaan daripada pukulan (Atkinson, 2000).

Apati merupakan bentuk respon umum lainnya yang muncul ketika berhadapan dengan situasi stres. Atkinson (2000) mengatakan bahwa apati adalah keadaan tanpa gairah, sikap acuh dan menarik diri. Ketidakmampuan individu dalam mencapai tujuan menyebabkan individu bertindak apatis. Jika keadaan ini terus berkelanjutan dan individu tidak berhasil untuk mengatasinya maka apati dapat berkembang menjadi depresi (Atkinson, 2000).

Individu sering menunjukkan gangguan kognitif ketika berhadapan dengan situasi stres. Gangguan kognitif dapat berupa kesulitan dalam berkonsentrasi dan mengorganisasikan pikiran secara logis sehingga performansi tidak dapat optimal. Gangguan kognitif yang terjadi selama periode stres ini sering menyebabkan seseorang mengikuti pola perilaku yang kaku karena mereka tidak dapat mempertimbangkan pola-pola alternatif (Atkinson, 2000).

Salah satu faktor yang terpenting dalam penjelasan gejala stres adalah penggunaan strategi penanggulangan adaptif (coping mechanism) respon individu terhadap stres. Penanggulangan adaptif yang positif dan efektif dapat menghilangkan atau meredakan stres (Folkman S., Lazarus,1988).

Shalat Tahajud dam Stres

Dalam menjalankan kehidupan sehari-hari. Jelaslah bahwa seseorang pasti pernah mendapatkan stres. Kemampuan seseorang dalam beradaptasi dan mengontrolnya akan membentuk stres tersebut menjadi stres fisiologis atau patologis. Khususnya mahasiswa yang penuh dengan tugas akademik, aktivitas keorganisasian, jauh dari orang tua (perantauan) dan rutinitas lainnya. Kondisi ini mendorong mahasiswa untuk mencari cara agar keluar dari faktor-faktor stressor tersebut. Tindakan yang dilakukan mulai dari cara spritual sampai dengan merokok, mengonsumsi alkohol, mengunjungi klub-klub malam, mencari tempat pelarian dan tidak dipungkiri ada yang memilih jalan untuk mengakhiri hidupnya.

Sebagai seseorang yang percaya akan keberadaan Allah. Ternyata Islam telah memberikan solusi akan kondisi stres yang dialami seseorang yaitu dengan melakukan shalat tahajud. Tahajud berasal dari kata tahajjada yang berpadanan kata istaiqazha, yang berarti terjaga, sengaja bangun, atau sengaja tidak tidur.

Shalat tahajud adalah shalat sunat pada malam hari setelah tidur. Bilangan rakaatnya paling sedikit dua rakaat dan banyaknya tak terbatas. Waktunya mulai dari setelah mengerjakan salat isya’ sampai terbit fajar (Nawawi, 2006).

Hubungan antara shalat tahajjud dan kesehatan, salah satu penjelasannya adalah berkenaan dengan hormon kortisol. Hormon kortisol, disebut juga sebagai hormon stres, adalah hormon yang sangat penting yang dapat meningkatkan tekanan darah dan kadar gula darah (Guyton, 2007). Kortisol berperan kunci dalam adaptasi terhadap stres. Segala jenis stres merupakan rangsangan utama bagi peningkatan sekresi kortisol (Sherwood, 2011).

Hipotalamus menerima masukan mengenai stressor fisik dan emosi dari hampir semua daerah di otak dan dari banyak reseptor di seluruh tubuh. Sebagai respon, hipotalamus akan mengaktifkan saraf simpatis, dan sekresi CRH (Corticotropin Releasing Hormon)–ACTH (Adrenocorticotropic Hormone)-kortisol serta vasopressin sebagai respon stres (Sherwood, 2001).

Kadar hormon kortisol mulai meningkat pada 2-3 jam setelah dimulainya tidur dan terus meningkat hingga subuh dan waktu bangun di pagi hari. Shalat tahajjud dapat menurunkan jumlah hormon kortisol yang meningkat, pada saat tidur, menjadi seimbang kembali. Sehingga dapat mengurangi tingkat stres seseorang dan menstabilkan sistem imun dalam tubuh. (Sholeh, 2003)  Seseorang memiliki imun yang kuat sehingga tubuhnya mampu menyembuhkan berbagai penyakit. Sebuah penelitian membuktikan bahwa ketenangan jiwa dapat meningkatkan ketahanan tubuh imunologik, mengurangi resiko terkena penyakit jantung, meningkatkan usia harapan (Mc Leland, 1998: 44). Sedangkan stres menyebabkan rentan terhadap infeksi, dapat mempercepat perkembangan sel kanker, dan meningkatkan metastasis.

Berdasarkan penelitian yang dilakukan Hari (2011) dalam karya tulis ilmiahnya. Ia melakukan penelitian terhadap 20 orang  mahasiswa. Didapatkan bahwa shalat tahajud yang dilakukan secara benar memiliki peranan dalam menghadapi stres berupa ketenangan yang memberikan manfaat lain pada mahasiswa seperti meningkatkan konsentrasi dan lain halnya. Kemudian dari hasil penelitian juga dapat dilihat bahwa 12 orang (60%) dari 20 orang partisipan yang melakukan shalat tahajud tidak mengalami stres.

Stressor bagi mahasiswa bisa bersumber dari kehidupan akademiknya, terutama tuntutan dari eksternal dan tuntutan dari harapannya sendiri. Tuntutan eksternal bisa berasal dari tugas-tugas kuliah, beban pelajaran, tuntutan orang tua untuk berhasil di kuliahnya dan penyesuaian sosial di lingkungan kampusnya. Tuntutan akademik juga termasuk kompentisi perkuliahan dan meningkatnya kompleksitas materi perkuliahan yang semakin lama semakin sulit ( Heiman, & Kariv, 2005).

Salah satu faktor yang ikut menentukan bagaimana stress bisa dikendalikan dan diatasi secara efektif adalah strategi coping yang digunakan individu (Ashel, & Delany, 2001). Coping adalah cara sadar individu untuk mengelola situasi yang menekan atau intensitas kejadian yang di tanggapi sebagai situasi yang menekan (Lazarus, & Folkman, 1984). Jika individu berhasil secara efektif mengendalikan situasi yang dinilai menekan, maka dampak negatif dari stres bisa di kurangi secara maksimal.

Tindakan coping bisa dilakukan dengan shalat. Shalat merupakan suatu aktivitas jiwa (soul) yang termasuk dalam kajian ilmu psikologi transpersonal, karena shalat adalah perjalanan spiritual yang penuh makna yang dilakukan seorang manusia untuk menemui Tuhan semesta alam. Shalat dapat menjernihkan jiwa dan mengangkat peshalat untuk mencapai taraf kesadaran yang lebih tinggi (altered states of consciousness) dan pengalaman puncak (peak experience). Shalat memiliki kemampuan untuk mengurangi kecemasan karena terdapat 5 unsur di dalamnya. Yaitu, meditasi atau do’a yang teratur, relaksasi melalui gerakkan-gerakkan shalat, hetero atau auto sugesti dalam bacaan shalat, group therapy dalam shalat berjama’ah, atau bahkan dalam shalat sendirian pun minimal ada peshalat dan Allah, hydro terapy dalam mandi junub atau wudhu sebelum shalat (Wibisono, 2002). Hal ini sesuai dengan hasil penelitian terhadap 20 orang partisipan yang menjalankan rutinitas sebagai mahasiswa, kemudian rata-rata dari partisipan menjadikan aktivitas shalat tahajud menjadi pilihan dalam mengendalikan tekanan-tekanan yang menimbulkan kecemasan dalam dirinya.

Berdasarkan hasil penelitian didapati bahwa ada beberapa hal yang yang berperan dari pelaksanaan shalat tahajud yang terdiri dari pemahaman peshalat sendiri terhadap aktivitas yang dikerjakan kemudian faktor-faktor yang secara tidak sengaja mempengaruhi shalat tahajud diantaranya niat dan motifasi, suasana, waktu pelaksanaan, kebiasaan serta keteraturan dalam menjalankannya.

Ada beberapa faktor yang mempengaruhi peran shalat tahajud dalam mengatasi stress. Dilihat dari teori faktor motivasi dan niat yang ikhlas menjadi salah satu faktor kualitas dari shalat tahajud sehingga menimbulkan efek yang baik terhadap kondisi tubuh. Penyelenggaraan shalat tahajud secara ikhlas mampu menurunkan respon sekresi kortisol dan meningkatkan perubahan respon ketahanan tubuh imunologik. Dengan dasar temuan ini, konsep ikhlas menjadi penting dalam kesadaran religius, tetapi amat sukar menemukan parameternya (Sholeh, 2006). Teori ini dapat mendukung hasil dari penelitian yang mendapatkan bahwa niat ikhlas menjadi salah satu faktor utama untuk mencapai kadar ketenangan yang maksimal.

Kemudian dari pada itu, kerutinitasan dan dengan cara yang tepat jelas memberikan manfaat yang nyata baik untuk kondisi fisik maupun psikologis. Efek dari keteraturan ini menyebabkan terjadinya perubahan-perubahan hormon di dalam tubuh sehingga tercapai sebuah keseimbangan. Hasil sebuah penelitian menjelaskan shalat tahajud yang dijalankan dengan memenuhi syarat dapat menumbuhkan respon emosional positif, coping yang efektif, dan mampu beradaptasi dengan perubahan irama sirkardian, sebuah irama kehidupan yang memiliki siklus 24 jam untuk beradaptasi dengan lingkungan. Dengan terkendalinya sekresi kortisol yang sering berlangsung secara berlebihan, subyek akan terhindar dari stres dan akan memperbaiki sistem imun tubuh (Sholeh, 2006). Pendapat ini sesuai dengan hasil penelitian yang ditemukan bahwa partisipan yang melaksanakan shalat tahajud secara rutin dan teratur merasakan kondisi tubuh yang lebih segar.

Kondisi yang tenang dan terbebas dari segala jenis polusi dapat menghindarkan diri dari potensi stres, stress yang terkendali mampu mempengaruhi daya ingat karena stress dapat melemahkan ingatan dan perhatian dalam aktivitas kognitif (Cohen dkk dalam Srarafino, 1994). Pendapat ini mendukung dalam penelitian ini, dimana rata-rata partisipan merasakan ketenangan dan merasakan kemampuan berkonsentrasi menjadi lebih baik.

Dari penelitian ini juga didapati bahwa shalat tahajud merupakan salah satu cara bermeditasi yang menimbulkan rasa nyaman. Hal ini sesuai dengan pendapat Lawrence Leshan, dalam bukunya “Bagaimana Bermeditasi” menyebutkan, bahwa kita bermeditasi untuk menemukan, merebut kembali kepada sesuatu dari diri kita yang secara samar-samar dan tanpa sadar pernah menjadi milik kita dan hilang tanpa mengetahui apakah itu atau dimana atau kapan kita kehilangan benda tersebut. Salat tahajjud memiliki kandungan aspek meditasi dan relaksasi yang cukup besar, dan kandungan yang dapat digunakan sebagai coping mechanism pereda stres (Sholeh,2007). Pada pagi hari di kala udara bersih akan memberi manfaat kesehatan yang nyata (Assegaf, 2008).

Menurut hasil penelitian Alvan Goldstein, ditemukan adanya zat endorfin dalam otak manusia yaitu zat yang memberikan efek yang menenangkan yang disebut endogegoneus morphin. Untuk mengembalikan produksi endorfin di dalam otak bisa dilakukan dengan meditasi, shalat yang benar atau melakukan dzikir-dzikir yang memang banyak memberikan dampak ketenangan.

Ikhlas Dalam Bertahajud

Syaikhu (1997) dalam Sholeh (2007) mengemukakan bahwa telaah medis menunjukkan terdapat dua kelompok para pengamal shalat tahajud yang memiliki dampak kesehatan yang berbeda setelah melakukan shalat tahajud, masing-masing adalah kelompok individu yang sehat dan kelompok individu yang sakit.

Sholeh (dalam Ramadhani, 2007) menjelaskan bahwa shalat Tahajud yang dijalankan dengan tepat, kontinu, khusyuk, dan ikhlas mampu menumbuhkan persepsi, motivasi positif dan memperbaiki suatu mekanisme tubuh dalam mengatasi perubahan yang dihadapi atau beban yang diterima.

Arlson (1994) dalam Sholeh (2007) menyatakan, secara fisiologis, sebenarnya pola kehidupan manusia mempunyai irama sirkardian *diurnal. Dan, jika siklus ini ditambah dengan melakukan salat tahajjud di malam hari, ia akan berubah menjadi **nokturnal. Hal ini akan menyebabkan perubahan perilaku dari sistem saraf pusat yang bertujuan beradaptasi dengan irama sirkardian. Penyelenggaraan shalat tahajjud secara terpaksa akan mengakibatkan kegagalan proses adaptasi terhadap perubahan irama sirkardian tersebut (Sholeh, 2007). Oleh sebab itu diperlukan sebuah keikhlasan dalam melakukan ibadah ini, dimana seseorang tersebut melakukannya atas keinginan sendiri tanpa ada rasa keterpaksaan dan merasa adanya beban dalam melakukan hal tersebut. Apabila melakukan shalat tahajjud dengan rasa adanya tekanan maka akan menimbulkan gangguan irama sikardian dan beban yang lain dari masalah yang ada. Bahkan Reichlin (1992) dalam Sholeh (2007) menyatakan bahwa gangguan irama sikardian akan mendatangkan stress.

Begitulah istimewanya shalat tahajud ini, sehingga membuat Rasulullah tidak pernah meninggalkannya. Rasulullah SAW menganjurkan umatnya untuk senantiasa selalu melakukan shalat malam. Beliau memberi contoh melakukan shalat malam setiap hari hingga kedua kakinya bengkak dikarenakan banyaknya beliau berdiri dalam shalat, meskipun beliau adalah orang yang sudah diampuni dosanya oleh Allah dan dijamin menjadi penghuni surga-Nya.

Dari ‘Aisyah –Radhiallahu ‘Anha berkata “Bahwasanya Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam shalat malam sampai pecah-pecah (bengkak) kedua kakinya, lalu akupun berkata kepada Beliau: “Mengapa Anda lakukan ini wahai Rasulullah, padahal telah diampuni dosa anda yang lalu dan yang akan datang?” Beliau –Shallallaahu ‘Alaihi Wa Sallam bersabda: Tidakkah sepatutnya aku menjadi hamba yang bersyukur” (HR. Bukhari-Muslim)

Dari Abu Hurairah radhiallahu anhu bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:

يَعْقِدُ الشَّيْطَانُ عَلَى قَافِيَةِ رَأْسِ أَحَدِكُمْ إِذَا هُوَ نَامَ ثَلَاثَ عُقَدٍ يَضْرِبُ كُلَّ عُقْدَةٍ: عَلَيْكَ لَيْلٌ طَوِيلٌ فَارْقُدْ. فَإِنْ اسْتَيْقَظَ فَذَكَرَ اللَّهَ انْحَلَّتْ عُقْدَةٌ فَإِنْ تَوَضَّأَ انْحَلَّتْ عُقْدَةٌ فَإِنْ صَلَّى انْحَلَّتْ عُقْدَةٌ فَأَصْبَحَ نَشِيطًا طَيِّبَ النَّفْسِ وَإِلَّا أَصْبَحَ خَبِيثَ النَّفْسِ كَسْلَانَ

“Setan mengikat tengkuk kepala seseorang dari kalian saat dia tidur dengan tiga tali ikatan, dimana pada tiap ikatan tersebut dia meletakkan godaan, “Kamu mempunyai malam yang sangat panjang, maka tidurlah dengan nyenyak.” Jika dia bangun dan mengingat Allah, maka lepaslah satu tali ikatan. Lalu jika dia berwudhu, maka lepaslah tali ikatan yang lainnya. Dan jika dia mendirikan sholat (malam), maka lepaslah seluruh tali ikatannya sehingga pada pagi harinya dia akan merasakan semangat & tenang jiwanya. Namun bila dia tak melakukan hal itu, maka pagi harinya jiwanya menjadi jelek & menjadi malas beraktifitas”. (HR. Imam Al-Bukhari no. 1142, & Muslim no. 776)

“Lakukanlah shalat malam karena itu adalah tradisi orang-orang shaleh sebelum kalian, sarana mendekatkan diri kepada Allah, pencegah dari perbuatan dosa, penghapus kesalahan, dan pencegah segala penyakit dari tubuh” (HR, Tirmidzi).

Melihat Rasululllah Shallallahu ‘alaihi wa sallam begitu menjaga shalat tahajudnya dan penelitian-penelitian terkait yang telah dilakukan, dapat disimpulkan bahwa shalat sunnah ini memiliki banyak manfaat yaitu memberikan ketentraman pada jiwa manusia, sebagai penawar stres dan efek positif lainnya. Selain itu shalat tahajud dapat meningkatkan derajat manusia di sisi Allah.

Allah Subhana Wa Ta’ala Berfirman :

إِنَّ الْمُتَّقِينَ فِي جَنَّاتٍ وَعُيُونٍ , آخِذِينَ مَا آتَاهُمْ رَبُّهُمْ إِنَّهُمْ كَانُوا قَبْلَ ذَلِكَ مُحْسِنِينَ , كَانُوا قَلِيلاً مِّنَ اللَّيْلِ مَا يَهْجَعُونَ  وَبِالْأَسْحَارِ هُمْ يَسْتَغْفِرُونَ

 “Sesungguhnya orang-orang yang bertakwa itu berada dalam taman-taman surga dan di mata air-mata air, sambil mengambil apa yang diberikan oleh Rabb mereka. Sesungguhnya mereka sebelum itu (di dunia) adalah orang-orang yang berbuat kebaikan, (yakni) mereka sedikit sekali tidur di waktu malam, dan di akhir-akhir malam mereka memohon ampun (kepada Allah).” (QS. Adz-Dzariyat (51): 15-18)

Cintailah malam karena ia kelak akan memberimu syafaat.

Paksalah dirimu untuk bergabung dalam golongan orang-orang yang bertahajud.

Menyepilah untuk bermunajat kepada Rabbmu dengan merendah dan mengharap.

 

*Diurnal : Terjadi pada siang hari

**Nocturnal : Timbul di waktu malam

 

Daftar Pustaka :

Assegaf, M. 2008. Smart Healing, Kiat Hidup Sehat Menurut Nabi Ed.3. Jakarta Timur : Pustaka Al-Kautsar. 69-74.

Atkinson, Rita L. 1991. Motivasi dan Emosi. In Agus Dharma S.H., M. Ed, PhD., (edisi 8_. Pengantar Psikologi Jilid 2. Jakarta: Erlangga, 73-90.

Guyton, A.C & J. E. Hall. 1997. Buku Ajar Fisiologi Kedokteran. Terjemahan : Irawati Setiawan. Jakarta : EGC.

Haryanto. 2003. Psikologi shalat. Yogyakarta: Mitra Pustaka.

Hardjana,A.M.1994. Stres tanpa Distres. Jakarta: Kanisius.

Lahey,B.B.,2004. Stres and Health psychology: an introduction ed. New York: Mac-Graw Hill. 500-508.

Markam, S dkk. 2011. Kamus Kedokteran. Jakarta : Badan Penerbit FKUI

Putra, Hari K. 2011.  Peranan Shalat Tahajud Dalam Menghadapi Stres Pada Mahasiswa Universitas Sumatera Utara. http://repository.usu.ac.id/handle/123456789/31210 – Diakses Maret 2015.

Ramadhani,2008. Super Health Gaya Hidup Sehat Rasulullah.Yogyakarta: Pro-U Media.120-132.

Sarafino, E.P. 2006. Stress, Ilness and Coping. In: Flahive R. ed. Health Psychology Biopsychosocial Interaction 5th ed. New Jersey : John Wiley & Sons, Inc.66-71.

Sherwood,L. 2001. Mekanisme Stres. In : Santoso B.I. ed. Fisiologi Manusia dari Sel ke System Edisi ke-2. Jakarta: EGC,654-661

Sholeh.2007. Terapi Shalat Tahajjud. Bandung: Hikmah.

Sholeh, Moh. 2001. Tahajud: Manfaat Praktis Ditinjau dari Ilmu Kedokteran. Jakarta: Pustaka Pelajar.

Sholeh, Moh. 2009. Terapi Shalat Tahajud: Menyembuhkan Berbagai Penyakit. Jakarta: Mizan

Sisyanto, Rudi. 2010. Panduan Qiyamul Lail. Pekanbaru

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *


*

66 − sixty two =