Surat Untuk Ayah Dari Putri Kecilmu

20170311060714

Ayah…

Kumandang Adzan mu lah yang pertama kali aku dengar di telinga kananku… saat aku terlahir di dunia.

Iqamat mu lah yang pertama kali aku dengar di telinga kiriku.

Aku tak tau Ayah… bagaimana perasaanmu saat melihatku.

Yang aku tahu.. ibu berkata padaku bahwa saat itu engkau sangat bahagia melihatku.

Ayah…

Engkau tau bahwa anak merupakan amanah dari Allah Subhanahu wa ta’ala… yang kelak akan diminta pertanggung jawaban oleh-Nya… Namun, ketika aku terlahir di dunia, tidak ada sedikit pun sesal di dadamu… Engkau tidak merasa bahwa aku adalah beban untukmu…  justru engkau berterima kasih kepada Allah Subhanahu wa ta’ala atas kehadiranku. Engkau merasa bahwa aku ialah rahmat yang diberikan dari Allah Subhanahu wa ta’ala kepadamu…. Terima Kasih Ayah.

Seiring berjalannya waktu, engkau selalu menjagaku… Merawatku bak perhiasan termahal di dunia… Memperlakukanku layaknya seorang ratu… dan Menyayangiku dengan sepenuh jiwamu… Terima Kasih Ayah.

Saat ibu melarangku makan permen karena gigiku sudah berlubang, aku pun berlari ke arahmu.. memintamu membelikanku permen… dan engkau pun membelikan permen untukku tanpa peduli kau akan dimarahi ibu setelah itu… Terima Kasih Ayah.

Ayah.. engkau rela bekerja dari pagi hingga malam hari… untuk mencari ridho Allah Subhanahu wa ta’ala, dan engkau juga melakukan semua itu  untuk memberikan penghidupan yang layak bagi keluargamu. Setiap pulang kerja, engkau pun selalu menyempatkan  diri untuk menanyakan “How was your day, Princess?”. Padahal saat itu aku bisa melihat lelahnya matamu. Tapi hal se-sederhana itu tetap kau lakukan hanya untuk melihatku tersenyum… Terima Kasih Ayah.

Dikala Princess-mu ini lalai akan sholat, engkau menegur putrimu ini dengan lembut. Saat aku kelelahan menghapal Doa atau ayat suci Al-Qur’an, engkau selalu menyemangatiku dengan berbagai cara… kadang memberiku hadiah.. mengajakku jalan-jalan atau mengajak ku makan ditempat favoritku. Tak lupa juga kau selalu ajarkan aku akan sopan-santun terhadap semua orang.. tanpa terkecuali… Terima Kasih Ayah.

Saat aku beranjak remaja, engkau semakin protektif… Engkau melarangku keluar rumah bila tidak ada keperluan penting. Engkau mengantar jemputku ke sekolah setiap hari. Engkau menanyakan perkembanganku kepada guruku setiap minggunya. Engkau membatasi pergaulanku dengan lawan jenisku. Engkau selalu memeriksa handphone ku karena khawatir bila aku berhubungan dengan teman pria ku hingga melewati batas. Ayah, saat itu aku menjadi kesal padamu. Kenapa engkau begitu protektif padaku? Kenapa engkau sangat membatasi pergaulanku? Kenapa engkau selalu ingin tau akan keseharianku?

Baru sekarang aku mengetahuinya Ayah. Baru sekarang aku menyadarinya mengapa engkau begitu protektif kepadaku. Semua itu kau lakukan demi kebaikanku. Kau menjaga agar aku tidak salah memilih pergaulan. Kau menjagaku tetap berada di jalan-Nya.. Aku baru menyadarinya ketika kita sudah tak lagi bisa bertatap muka.. Ayah. Aku rindu akan sifat mu, Ayah.

Sekarang.. bahumu sudah tidak setegak dulu… jalanmu sudah melambat. Tapi, semangatmu tidak pernah berubah, Ayah. Semua jasamu tak akan pernah bisa ku balas, Ayah. Namun.., mulai detik ini aku akan mengamalkan semua ilmu yang telah kau ajarkan. Mulai detik ini, Insyaa Allah, aku akan menjadi anak yang sholehah dan istiqomah di jalan-Nya hingga akhir nanti, Ayah. Agar aku bisa terus menerus mendoakanmu.

إِذَا مَاتَ الْإِنْسَانُ انْقَطَعَ عَمَلُهُ إِلَّا مِنْ ثَلَاثَةٍ مِنْ صَدَقَةٍ جَارِيَةٍ وَعِلْمٍ يُنْتَفَعُ بِهِ وَوَلَدٍ صَالِحٍ يَدْعُو لَهُ

“Jika seseorang meninggal dunia, maka terputuslah amalannya kecuali tiga perkara yaitu: sedekah jariyah, ilmu yang dimanfaatkan, atau do’a anak yang sholeh” (HR. Muslim no. 1631).

Ayah, doakan agar aku tetap menjadikan Al-Qur’an dan As-Sunnah sebagai pedoman hidupku. Aku ingin sekali memberikan jubah (kemuliaan) yang  abadi untuk Ayah dan Ibu.

Rasulullah Saw. bersabda “Siapa yang membaca Alquran, mempelajarinya dan mengamalkannya, maka dipakaikan mahkota dari cahaya pada hari kiamat, cahayanya seperti cahaya matahari, kedua orang tuanya dipakaikan dua jubah (kemuliaan), yang tidak pernah didapatkan di dunia, keduanya bertanya: mengapa kami dipakaikan jubah ini? Dijawab “Karena kalian berdua memerintahkan anak kalian untuk mempelajari Alquran”. (HR. Al Hakim).

Terima Kasih Ayah. Engkau telah mengasuh, merawat, dan menyayangiku sepenuh jiwamu. Insyaa Allah, Surga Untukmu Ayah.

Dari Jabir radhiyallahu ‘anhu bahwasanya Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda (artinya): “Barangsiapa yang memiliki tiga anak perempuan, ia mengasuh mereka (dalam rumahnya), mencukupi mereka, dan menyayangi mereka maka tentu telah wajib baginya surga”. Maka ada salah seorang dari kaum berkata, “Kalau dua anak perempuan Ya Rasulullah?”. Nabi berkata, “Dua anak perempuan juga” (HR. Ahmad, dinilai shahih oleh Al Albani)

Dalam riwayat lain ada tambahan, “Sampai-sampai kami menyangka kalau ada orang yang berkata, “Kalau satu anak perempuan?”, maka tentu Nabi akan menjawab (artinya), “Satu anak perempuan juga”. [Dihasankan oleh Al-Albani].

Dari Uqbah bin ‘Amir dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda  (artinya) “ Barangsiapa memiliki tiga anak perempuan, lalu ia bersabar terhadap mereka, ia beri makan mereka, ia beri minum mereka dan ia beri pakaian kepada mereka dari kecukupannya,, niscaya mereka akan menjadi penghalang baginya dari api neraka pada hari kiamat”.  [HR Ibnu Maajah no 3669 dan dinilai shahih oleh Al-Albani]

Referensi: .
https://muslimah.or.id/9183-pahala-mendidik-anak-perempuan.html

https://rumaysho.com/1663-terputusnya-amalan-kecuali-tiga-perkara.html

http://www.alquran-syaamil.com/2013/10/6-janji-allah-swt-bagi-para-hafidz.html

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *


*

− 4 = five