Sikap FULDFK terkait Masalah Uang Registrasi Perlombaan

Assalamu’alaykum warohmatullahi wabarokatuh
Bismillaahirrohmaanirrohiim

Sikap FULDFK terkait Masalah Uang Registrasi Perlombaan

Mengikuti perlombaan untuk memperoleh hadiah pada dasarnya hukumnya boleh, dengan syarat uang yang digunakan untuk hadiah harus bersumber dari seseorang atau sekelompok orang.
Contohnya, sebuah organisasi mengadakan perlombaan ilmiah tingkat nasional maka hadiah perlombaan bukan diambil dari uang registrasi peserta yang mengikuti perlombaan.
Hal ini dikarenakan ketika hadiah perlombaan diambil dari uang registrasi peserta maka hukumnya menjadi sama seperti perjudian.
Perjudian adalah ketika seluruh peserta mengumpulkan uang lalu pemenang dari perlombaan berhak atas uang taruhan tersebut.

Dasar Hukum :

“Mereka bertanya kepadamu tentang khamar dan judi. Katakanlah: “Pada keduanya terdapat dosa yang besar dan beberapa manfaat bagi manusia, tetapi dosa keduanya lebih besar dari manfaatnya”. Dan mereka bertanya kepadamu apa yang mereka nafkahkan. Katakanlah: “Yang lebih dari keperluan”. Demikianlah Allah menerangkan ayat-ayat-Nya kepadamu supaya kamu berfikir” (QS. Al Baqarah: 219)

“Hai orang-orang yang beriman. Sesungguhnya minuman keras, berjudi,(berkurban untuk) berhala, dan mengundi nasib dengan anak panah adalah perbuatan keji dan termasuk perbuatan setan. Maka jauhilah (perbuatan perbuatan) itu agar kamu beruntung.
Dengan minuman keras dan judi itu, setan hanyalah bermaksud menimbulkan permusuhan dan kebencian diantara kamu, dan menghalang-halangi kamu dari mengingat Allah dan melaksanakan sholat. maka tidakkah kami mau berhenti?”
(QS. Al-Ma’idah: 90-91)

Simpulan :

Jika uang registrasi perlombaan digunakan untuk memberikan hadiah lomba maka hukum nya haram sama seperti judi.
Apabila ada perlombaan dengan sebagian peserta membayar dan sebagian lagi tidak membayar, maka uang registrasi bisa digunakan sebagai hadiah, karena yang tidak membayar menjadi penghalal perlombaan.

Dengan demikian perlu diperhatikan oleh panitia adalah panitia penyelenggara untuk tidak menggunakan uang registrasi peserta dalam hadiah perlombaan. hadiah perlombaan sebaik nya di peroleh dari dana fakultas, universitas atau sponsor yang membiayai perlombaan tersebut.

Sumber :
Al-Quran

Adapun dasar hukum lain beserta contoh masalah :

Deskripsi Masalah
Ada sekelompok orang mengadakan perlombaan tertentu dengan mengenakan pembayaran pendaftaran bagi setiap peserta masing-masing Rp 25.000,-. Peserta berjumlah 20 orang sehingga jumlah uang yang terkumpul Rp 500.000,-.Ternyata kontribusi pendaftaran dari setiap peserta tersebut digunakan sebagai hadiah dengan rincian juara I mendapat Rp 250.000,-, juara II mendapat Rp 150.000,- dan juara III mendapat Rp 100.000,-
Pertanyaan;
Bagaimana hukumnya kasus yang terjadi sebagaimana diskripsi di atas?
Jawaban; Hukumnya haram, sebab termasuk perjudian.
ﺗﺤﻔﺔ ﺍﻟﺤﺒﻴﺐ ﻋﻠﻰ ﺷﺮﺡ ﺍﻟﺨﻄﻴﺐ ـ ﻣﺸﻜﻮﻝ ‏( /13 296)
( ﻭَﻳُﺨْﺮِﺝُ ﺍﻟْﻌِﻮَﺽَ ‏) ﺍﻟْﻤَﺸْﺮُﻭﻁَ ‏( ﺃَﺣَﺪُ ﺍﻟْﻤُﺘَﺴَﺎﺑِﻘَﻴْﻦِ ﺣَﺘَّﻰ ﺇﺫَﺍ ﺳَﺒَﻖَ ‏) ﺑِﻔَﺘْﺢِ ﺃَﻭَّﻟِﻪِ ﻋَﻠَﻰ ﺍﻟْﺒِﻨَﺎﺀِ ﻟِﻠْﻔَﺎﻋِﻞِ ‏( ﺍﺳْﺘَﺮَﺩَّﻩُ ‏) ﻣِﻤَّﻦْ ﻫُﻮَ ﻣَﻌَﻪُ ‏( ﻭَﺇِﻥْ ﺳُﺒِﻖَ ‏) ﺑِﻀَﻢِّ ﺃَﻭَّﻟِﻪِ ﻋَﻠَﻰ ﺍﻟْﺒِﻨَﺎﺀِ ﻟِﻠْﻤَﻔْﻌُﻮﻝِ ‏( ﺃَﺧَﺬَﻩُ ﺻَﺎﺣِﺒُﻪُ ‏) ﺍﻟﺴَّﺎﺑِﻖُ ، ﻭَﻟَﺎ ﻳُﺸْﺘَﺮَﻁُ ﺣِﻴﻨَﺌِﺬٍ ﺑَﻴْﻨَﻬُﻤَﺎ ﻣُﺤَﻠِّﻞٌ ‏( ﻭَﺇِﻥْ ﺃَﺧْﺮَﺟَﺎ ‏) ﺃَﻱْ ﺍﻟْﻤُﺘَﺴَﺎﺑِﻘَﺎﻥِ ﺍﻟْﻌِﻮَﺽَ . ‏( ﻣَﻌًﺎ ﻟَﻢْ ﻳَﺠُﺰْ ‏) ﺣِﻴﻨَﺌِﺬٍ ‏( ﺇﻟَّﺎ ﺃَﻥْ ﻳَﺪْﺧُﻠَﺎ ‏) ﺃَﻱْ ﻳَﺸْﺮِﻃَﺎ ‏( ﺑَﻴْﻨَﻬُﻤَﺎ ﻣُﺤَﻠِّﻠًﺎ ‏) ﺑِﻜَﺴْﺮِ ﺍﻟﻠَّﺎﻡِ ﺍﻟْﺄُﻭﻟَﻰ ﻓَﻴَﺠُﻮﺯُ ﺇﻥْ ﻛَﺎﻧَﺖْ ﺩَﺍﺑَّﺘُﻪُ ﻛُﻔُﺆًﺍ ﻟِﺪَﺍﺑَّﺘَﻴْﻬِﻤَﺎ ﺳُﻤِّﻲَ ﻣُﺤَﻠِّﻠًﺎ ﻟِﺄَﻧَّﻪُ ﻳُﺤَﻠِّﻞُ ﺍﻟْﻌَﻘْﺪَ . ﻭَﻳُﺨْﺮِﺟُﻪُ ﻋَﻦْ ﺻُﻮﺭَﺓِ ﺍﻟْﻘِﻤَﺎﺭِ ﺍﻟْﻤُﺤَﺮَّﻣَﺔِ
Artinya: jika masing-masing peserta lomba membayar taruhan maka tidak diperbolehkan kecuali jika menyertakan seorang muhallil {orang ketiga yang tidak membayar taruhan}
ﺗﺤﻔﺔ ﺍﻟﺤﺒﻴﺐ ﻋﻠﻰ ﺷﺮﺡ ﺍﻟﺨﻄﻴﺐ ـ ﻣﻮﺍﻓﻖ ﻟﻠﻤﻄﺒﻮﻉ ‏( /5 270 )
. ﻗﻮﻟﻪ : ‏( ﻋﻦ ﺻﻮﺭﺓ ﺍﻟﻘﻤﺎﺭ ‏) ﺑﻜﺴﺮ ﺍﻟﻘﺎﻑ ﻛﻤﺎ ﻳﺆﺧﺬ ﻣﻦ ﺍﻟﻘﺎﻣﻮﺱ ﻭَﻫُﻮَ ﻣَﺎ ﻓِﻴْﻪِ ﺗَﺮَﺩُّﺩٌ ﺑَﻴْﻦَ ﺍﻟْﻐَﻨْﻢِ ﻭَﺍﻟْﻐَﺮْﻡِ
Artinya: perjudian adalah pertaruhan untung dan rugi.

Ulama Hanafiyah- berkata,
ﻭَﺃَﻣَّﺎ ﺍﻟﺴِّﺒَﺎﻕُ ﺑِﻠَﺎ ﺟُﻌْﻞٍ ﻓَﻴَﺠُﻮﺯُ ﻓِﻲ ﻛُﻞِّ ﺷَﻲْﺀٍ
“Adapun perlombaan tanpa taruhan, itu boleh dalam berbagai macam bentuknya.” (Roddul Muhtar, 27: 20, Asy Syamilah)

Ibnu Qudamah –ulama Hambali- berkata,
ﻭَﺍﻟْﻤُﺴَﺎﺑَﻘَﺔُ ﻋَﻠَﻰ ﺿَﺮْﺑَﻴْﻦِ ؛ ﻣُﺴَﺎﺑَﻘَﺔٌ ﺑِﻐَﻴْﺮِ ﻋِﻮَﺽٍ ، ﻭَﻣُﺴَﺎﺑَﻘَﺔٌ ﺑِﻌِﻮَﺽ .
ﻓَﺄَﻣَّﺎ ﺍﻟْﻤُﺴَﺎﺑَﻘَﺔُ ﺑِﻐَﻴْﺮِ ﻋِﻮَﺽٍ ، ﻓَﺘَﺠُﻮﺯُ ﻣُﻄْﻠَﻘًﺎ ﻣِﻦْ ﻏَﻴْﺮِ ﺗَﻘْﻴِﻴﺪٍ ﺑِﺸَﻲْﺀٍ ﻣُﻌَﻴَّﻦٍ
“Perlombaan itu ada dua macam: perlombaan tanpa taruhan dan dengan taruhan. Adapun perlombaan tanpa taruhan, itu boleh secara mutlak tanpa ada pengkhususan ada yang terlarang.” (Al Mughni, 11: 29)
Dalam Al Mawsu’ah Al Fiqhiyyah (15: 79) disebutkan,
ﻓﺈﻥ ﻛﺎﻧﺖ ﺍﻟﻤﺴﺎﺑﻘﺔ ﺑﻐﻴﺮ ﺟﻌﻞ ﻓﺘﺠﻮﺯ ﻣﻦ ﻏﻴﺮ ﺗﻘﻴﻴﺪ ﺑﺸﻲﺀ ﻣﻌﻴّﻦ
“Jika musabaqoh (perlombaan) dilakukan tanpa adanya taruhan, itu boleh pada setiap bola tanpa pengkhususan.

Permasalahan ini juga pernah disinggung dalam forum Muktamar Ke-30 Nahdlatul Ulama pada tahun 1999 di Pondok Pesantren Lirboyo, Kediri. Muktamirin sepakat bahwa lomba dengan menarik uang saat pendaftaran dari peserta untuk hadiah termasuk judi. Dengan bahasa lain, praktik semacam ini termasuk haram.

Yang perlu menjadi perhatian di sini adalah uang pendaftaran sengaja diperuntukkan sebagai biaya hadiah. Sehingga, apabila uang pendafataran itu bukan untuk hadiah maka hal itu di luar kategori judi.

Dengan demikian, penting bagi penyelenggara lomba berhadiah untuk tidak menggunakan uang pendaftaran peserta sebagai bagian dari biaya hadiah. Ongkos pengeluaran hadiah bisa diambilkan dari sumber lain, seperti sponsor, donatur, atau lainnya.

Selain alokasi dana hadiah, penyelenggara juga perlu memperhatikan jenis perlombaannya pun agar tidak bertentangan dengan syariat. Karena bisa jadi proses penyelenggaraan sudah tepat, tapi karena jenis perlombaan melanggar syariat, praktik tersebut berstatus haram.

Forum Muktamar NU mendasarkan hukum menggunakan uang pendaftaran peserta lomba pada sejumlah rujukan:

1. Hasyiyah al-Bajuri ‘ala Fath al-Qarib

وَإِنْ أَخْرَجَاهُ أَيِ الْعِوَضَ الْمُتَسَابِقَانِ مَعًا لَمْ يَجُزْ … وَهُوَ أَيِ الْقِمَارُ الْمُحَرَّمُ كُلُّ لَعْبٍ تَرَدَّدَ بَيْنَ غَنَمٍ وَغَرَمٍ

“Dan jika kedua pihak yang berlomba mengeluarkan hadiah secara bersama, maka lomba itu tidak boleh … dan hal itu, maksudnya judi yang diharamkan adalah semua permainan yang masih simpangsiur antara untung dan ruginya.” (Ibrahim al-Bajuri, Hasyiyah al-Bajuri ‘ala Fath al-Qarib [Singapura: Sulaiman Mar’i, t. th.], Jilid II, h. 310)

2. Is’ad al-Rafiq Syarh Sulam al-Taufiq

(كُلُّ مَا فِيْهِ قِمَارٌ) وَصُوْرَتُهُ الْمُجْمَعُ عَلَيْهَا أَنْ يَخْرُجَ الْعِوَضُ مِنَ الْجَانِبَيْنِ مَعَ تَكَافُئِهِمَا وَهُوَ الْمُرَادُ مِنَ الْمَيْسِرِ فِيْ اْلآيَةِ. وَوَجْهُ حُرْمَتِهِ أَنَّ كُلَّ وَاحِدٍ مُتَرَدِّدٌ بَيْنَ أَنْ يَغْلِبَ صَاحِبَهُ فَيَغْنَمَ. فَإِنْ يَنْفَرِدْ أَحَدُ اللاَّعِبَيْنِ بِإِخْرَاجِ الْعِوَضِ لِيَأْخُذَ مِنْهُ إِنْ كَانَ مَغْلُوْبًا وَعَكْسُهُ إِنْ كَانَ غَالِبًا فَاْلأَصَحُّ حُرْمَتُهُ أَيْضًا

“(Setiap kegiatan yang mengandung perjudian) Bentuk judi yang disepakati adalah hadiah berasal dua pihak disertai kesetaraan keduanya. Itulah yang dimaksud al-maisir dalam ayat al-Qur’an. [QS. Al-Maidah: 90]. Alasan keharamannya adalah masing-masing dari kedua pihak masih simpang siur antara mengalahkan lawan dan meraup keuntungan -atau dikalahkan dan mengalami kerugian-. Jika salah satu pemain mengeluarkan haidah sendiri untuk diambil darinya bila kalah, dan sebaliknya -tidak diambil- bila menang, maka pendapat al-Ashah mengharamkannya pula.” (Muhammad Salim Bafadhal, Is’ad al-Rafiq Syarh Sulam al-Taufiq [Indonesia: Dar Ihya al-Kutub al-‘Arabiyah, t. th.], Juz II, h. 102)

3. Hasyiyah al-Bajuri ‘ala Fath al-Qarib

وَيَجُوْزُ شَرْطُ الْعِوَضِ مِنْ غَيْرِ الْمُتَسَابِقَيْنِ مِنَ اْلإِمَامِ أَوِ اْلأَجْنَبِيِّ كَأَنْ يَقُوْلَ اْلإِمَامُ مَنْ سَبَقَ مِنْكُمَا فَلَهُ عَلَيَّ كَذَا مِنْ مَالِيْ، أَوْ فَلَهُ فِيْ بَيْتِ الْمَالِ كَذَا، وَكَأَنْ يَقُوْلَ اْلأَجْنَبِيُّ: مَنْ سَبَقَ مِنْكُمَا فَلَهُ عَلَيَّ كَذَا، لأَنَّهُ بَذْلُ مَالٍ فِيْ طَاعَةٍ

“Dan boleh menjanjikan hadiah dari selain kedua peserta lomba balap hewan, seperti penguasa atau pihak lain. Seperti penguasa berkata: “Siapa yang menang dari kalian berdua, maka aku akan memberi sekian dari hartaku, atau ia memperoleh sekian jumlah dari bait al-mal.” Dan seperti pihak lain itu berkata: “Siapa yang menang dari kalian berdua, maka ia berhak mendapat sekian harta dariku.” Karena pernyataan itu merupakan penyerahan harta dalam ketaatan. (Ibrahim al-Bajuri, Hasyiyah al-Bajuri ‘ala Fath al-Qarib [Singapura: Sulaiman Mar’i, t. th.], Jilid II, h. 309)

4. Minhaj al-Thalibin

كِتَابُ الْمُسَابَقَةِ وَالْمُنَاضَلَةِ هُمَا سُنَّةٌ وَيَحِلُّ أَخْذُ عِوَضٍ عَلَيْهِمَا، وَتَصِحُّ الْمُنَاضَلَةُ عَلَى سِهَامٍ وَكَذَا مَزَارِيْقُ وَرِمَاحٌ وَرَمْيٌ بِأَحْجَارٍ وَمَنْجَنِيْقٍ وَكُلُّ نَافِعٍ فِيْ الْحَرْبِ عَلَى الْمَذْهَبِ

“Kitab tentang lomba balap dan lomba membidik. Keduanya sunah dan boleh mengambil hadiah dari keduanya. Lomba membidik itu sah dengan panah. Begitu pula tombak pendek, tombak, melempar dengan batu, manjaniq (alat perang pelempar batu jaman kuno), dan semua yang bermanfaat dalam peperangan menurut madzhab Syafi’iyah.” (Yahya bin Syaraf al-Nawawi, Minhaj al-Thalibin pada Mughni al-Muhtaj ila Ma’rifah Alfazh al-Minhaj [Mesir: al-Tujjariyah al-Kubra, t. th.], Jilid IV, h. 311)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *


*

eleven − 4 =