Sampaikan Salamku untuk Ramadhan Tahun Depan

RAMADHAN 1437 H

Manusia yang bertanggung jawab tidak akan pernah ingkar pada janjinya. Ia akan memberikan yang terbaik bagi orang yang disayanginya. Mungkin, begitu pula sikap yang harus kita tunjukkan pada Allah. Bukankah setiap manusia berhutang tauhid hanya pada Allah? Ketidaktenangan adalah perasaan yang akan hinggap dalam setiap jiwa yang berhutang. Maka, sudah semestinya bagi setiap Muslim untuk mencapai ketenangan jiwanya, maka ia harus memberikan yang terbaik di hadapan Allah, mencintaiNya dengan sebaik-baik pembuktian

 

Baris terkahir penulisan bukuku sudah selesai. Minggu depan insyaAllah masuk tahap editing. Malam ini, lorong di RS PKU Muhammadiyah sudah sangat sepi, hanya ada perawat shift malam yang masih berjaga dan mondar-mandir. Aku masih menunggu ibu yang tidak kian datang membawa kantung darah untuk Ayah.

“Mbak nia. Bisa bantu aku nenangin bapak?”, kata Ardi adik lelakiku.

“Bapak kenapa dek?”tanyaku panik

Ayahku adalah seorang penderita gagal ginjal. Beliau sudah cuci darah selama 9 bulan. Tapi sayang, aku terlalu lalai dan sibuk mengurusi kehidupanku sebagai mahasiswi kedokteran yang (mengaku) seorang aktivis. Aku gagal merawat ayah, beliau harus dirawat di Rumah sakit selama 4 bulan karena edema pulmo dan anemia berat. Dan sekarang, penyakitnya sudah merambat ke jantung dan otak. Hasil rontgen terakhir yang kubaca terlihat sekali jantungnya sudah membesar. Sesak nafasnya pun semakin tak terkendalikan. Beliaupun jadi sering marah-marah. Bicara nya ngelantur kemana-mana. Aku seperti tidak kenal dengan Ayahku yang sekarang. Malam itu aku kaget ketika masuk kamar, karena Ayah melepas infusnya secara paksa dan darah mulai bercucuran.

“Astaghfirullahaladzim. Dek Ardi panggil suster!!”

“Pergiii!! Kamu bukan anak bapak!!! teriak bapak membuat seisi ruang gusar.

Sungguh sejujurnya aku sudah tak kuat menahan air mata atas kalimat yang bapak lontarkan tadi. Tak lama kemudian, ibu datang membawa kantung darah untuk tranfusi dan sayur untuk makan sahur.

“Ibu, tadi bapak nekat melepas infusnya.”, ceritaku pada ibu sambil melahap makanan sahurku

“Iya, tadi dek Ardi sudah cerita”, jawab ibu sambil menyiapkan minum untukku

“Maafin nia ya buu”, sejenak aku berhenti melahap santap sahurku

“Tadi suster bilang, untuk mengantisipasi itu. Mungkin kedepannya satu tangan bapak akan diikat”, kata ibu sambil meneteskan air mata

“Astaghfirullah, tapi bapak kan nggak gila”, jawabku dengan wajah tidak terima

Ibu pun hanya menangis dan memelukku erat. Waktu sahur hingga shubuh aku pakai untuk tilawah dan ziyadah di dekat telinga Ayah. Waktu sudah menunjukkan pukul 06.00.     “Bapak, nia kuliah dulu ya”, bisiku ke telinga bapak

“Nia, Bapak minta maaf ya kemarin”

“Alhamdulillah, iya paak. Bapak cepet sembuh yaa”, jawabku sambil menangis

“Kamu naik bst ya? Ada ongkosnya?”Tanya bapak dengan wajah berseri

“Iya pak, ada insyaAllah”

“Maafin bapak juga yaa, belum bisa belikan kamu sepeda motor. Jadi kamu harus capek seperti ini”, kata bapak sambil menatapku

“Bapak, nggak usah dipikirin. Nanti biar Allah yang kasih langsung motornya ke Nia. Bapak nggak usah mikir itu. Yang penting bapak sehat. Nia buat lomba sama adek-adek. Pokoknya yang Ramadhan tahun ini hafalannya nambah paling banyak dapat hadiah langsung dari Allah. Jadi aku minta motornya langsung sama Allah Pak. Doain aja aku yang menang yaa”

“Kamu memang kakak yang baik, Nak. Terus seperti ini ya. . .”, jawab Ayah sambil memelukku.

——————————————————————————————————————

Pagi itu aku berangkat ke kampus pagi sekali. Jam 06.30 aku sudah sampai di masjid Rahmi FK UNS. Di bulan Ramadhan ini, SKI FK UNS punya program “Ramadhan Bersemi”, salah satu kegitannya adalah tilawah pagi 1 juz. Dan kebetulan bidangku Nisaa yang bertugas piket. Setelah itu aku pergi ke kelas untuk persiapan kuliah. Pukul 08.15, dosen tak kunjung datang. Tanda-tanda akan ada kuliah pengganti. Beberapa dari kami ada yang mengisi waktu untuk mengejar target ramadhan dengan tilawah. Senang sekali melihatnya, rasanya kelas menggema dengan suara Qur’an. 1 jam berlalu, ternyata benar, dosen yang akan memberi kuliah ada miss komunikasi, jadi kelasku terpaksa harus mengatur ulang jadwal pengganti.

“Yaaah, udah perjalanan ke kampus 30 menit, dosennya nggak dateng lagi:, gerutu teman sebelahku

“Kamu mau balik nggak di?”, Tanya salah satu kawan kepadaku berniat memberi tumpangan ke gerbang depan

“Aku sendiri aja nggak papa fid, aku mau ke histologi dulu untuk persiapan mengampu pratikum besok”.

 

(Tiba-tiba hp ku bergetar)

“Halo asssalamualaikum”

“Waalaikumusalam, ada apa bu?”, jawabku

“Bapak masuk ICU dek.”, kata ibu dengan isak tangisnya

“Innalilahi . . .Nia langsung kesana bu”

“Jangan nak, disini sudah ada yang jaga. Kamu selsaikan dulu tahfidzmu baru nanti pulang. Jangan lupa doakan ibu bapak ya. Jangan lupa juga beli buka, jangan irit-irit”, jawab ibuku menenangkan

“Iya bu. Ibu juga ya”, timpalku sambil menutup telepon.

 

Aku pun berangkat tahfidz dan tak terasa sudah menunjukkan pukul 17.15

“Ustadzah, nia pulang duluan yaa. Takut nggak dapat bst”, sambil mencium tangan ustadzah

“Loh, buka disini dulu aja nduk.”, kata ustadzah sambil menahan tanganku

“Waduh ndak usah repot ust, saya buka di jalan saja”,elakku lembut

“Eh ora-ora. Ini tak bawakan saja minum dan makannya”,sambil membawakan sebungkus plastik berisi es teh dan nasi bungkus.

“Matur suwun ustadzah”, jawabku smabil menerima pemberian ustadzah

 

Aku pun pergi berjalan meninggalkan markas manarul menuju ke halte di gerbang depan kampus. Adzan magrib sudah berkumandang, tapi bst tidak ada yang lewat. Kalau 10 menit lagi belum lewat, aku harus cari masjid terdekat dulu. Dan Alhamdulillah, tak lama kemudian, ada angkot lewat.

“Mau kemana mbak?”, Tanya abang angkot padaku

“Ke RS PKU Pak”, jawabku gelisah

“Waah, wis ora ono bst mbak. Numpak angkot wae”,bujuk pak angkot

Aku pun naik ke angkot itu, walaupun resikonya aku harus oper lagi.

“Kok pulangnya malem-malem mbak?  Kalau pulang jam segini, sudah ndak ada bst”, kata bapak angkot sambil menasihatiku bahwa tidak baik perempuan pulang malam

“Iya pak, tadi ada urusan sebentar”, jawabku dengan sungkan

“Saya sudah nggak narik lagi malam ini mbak. Saya antar saja lamgsung  ke depan PKU”, kata pak angkot dengan nada ramah

“Alhamdulillah, makasih banyak Pak”, jawabku. Allahuakbar . . .rasanya seperti ditolong langsung sama Allah

 

Sesampainya di Rumah Sakit, aku langsung sholat magrib dan menemui ibu di ruang ICU.

“Minta maaf sama bapak nduk”, tegur ibu padaku

Tubuhku rasanya terpaku melihat keadaan ayah yang semakin memburuk, bahkan sekarang untuk bernafas beliau harus dibantu ventilator.

“Bapak . . .Assalamualaikum”, bisik ku ke telinga Ayah

“Ini nia pak”,kataku yang sudah tak sanggup lagi membendung tangis

“Bapak minta maaf ya Nak. Maafkan bapakmu ini yang mungkin akan melanggar janji menemanimu hingga sumpah dokter nanti. Maafin juga bapakmu ini yang belum bisa belikan motor”

“Astaghfirullah. Jangan bicara gitu Pak, bapak pasti sembuh. Bismillah bapak pasti sembuh”, kataku sambil menenangkan Ayah

“Nak, bacakan bapak hafalanmu yang tadi kamu setorkan. Bapak mau dengar”, pinta Ayahh padaku

“Iya paak. . .”

Seusai aku membacakan quran. Bapak pun memelukku dan berkata dengan terengah-engah

,           “Kejar lailatul qodar ya Nak, doakan bapak ibu mu ini. Sampaikan salam bapak untuk ramadhan tahun depan”

Allah SWT sudah terlampau rindu dengan hambanya yang satu ini. Ayah meninggal malam itu. Sungguh ramadahan tahun itu, adalah ramadhan yang tak kan pernah kulupakan hingga sekarang.

 

Keesokan harinya, ada sepasang suami istri. Seorang dokter spesialis di RS Moewardi.. Mereka datang untuk mengucapkan belasungkawa dan memberikan sebuah hania yang Allah titipkan. Sebuah sepeda motor yang selalu kusebut di doa-doaku, hari ini diijabah oleh Allah tepat 1 hari setelah kepulangan Ayah. Adik-adikku pun langsung memeluk dan berkata, “Aku tau siapa yang menang di lomba kemarin mbak. Aku tau siapa yang dapet hania dari Allah”

 

Aku pun berbisik dalam hati, “Ya Allah terimakasih atas hania indah di bulan suci ini, aku

akan selalu ingat nasihat Ayah bahwa Allah sesuai prasangkaan hamba-Ku. Aku bersamanya ketika ia mengingat-Ku. Jika ia mengingat-Ku saat bersendirian, Aku akan mengingatnya dalam diri-Ku. Jika ia mengingat-Ku di suatu kumpulan. Aku akan mengingatnya di kumpulan yang lebih baik dari poada itu (kumpulan malaikat). Jika ia mendekat kepada-Ku sejengkal, Aku mendekat kepadanya sehasta. Jika ia mendekat kepada-Ku sehasta, Aku mendekat kepadanya sedepa. Jika ia datang kepada-ku dengan berjalan (biasa), maka Aku mendatanginya dengan berjalan cepat. Semoga aku bisa menyampaikan salam Ayah untuk Ramadhan tahun depan dan semoga aku bisa memberikan amal terbaik di sisa Ramadhan yang harus berakhir tanpa Ayah.

 

RAMADHAN 1438 H

Bahkan yang terlihat kuatpun harus ada yang menguatkan. Bahkan yang terlihat bersemangatpun harus tetap disemangati. Bahkan yang dianggap paham pun harus tetap dipahmkan karena itulah Allah menjadikan Nabi Harun penguat Nabi Musa. Saudaramu, amanahmu. Minimal jaga dia dalam doa-doa di ujung sajadahmu.

 

Alhamdulillah Ayah, aku sampai di Ramadhan 1438 H. Salam ayah sudah kusampaikan. Semoga Ramadhan kali ini, bisa menjadi Ramdhan terbaik Nia, bisik ku dalam hati. Sejujurnya ini adalah ramadhan tersulit karena harus dilewati bersamaan dengan berbagai macam ujian blok, osce dan kawan kawannya. Alhamdulillah ada sahabat dan adik-adikku yang selalu membuatku terpacu untuk melakukan kebaikan.

“Mbak, di hari ke 4 Ramdhan ini aku udah khatam loo. Masak mbak yang hafidzah kalah sama aku”

“MasyaAllah, aku pun jadi semakin terpacu untuk berfastabiqul khoiroot. Ramadhan terlalu sayang untuk dilewatkan begitu saja. Apalagi belum tentu aku dipertemukan dengan Ramadhan tahun depan.”

 

(HP ku bergetar)

“Assalamu’alaikum. Benar dengan mbak nia?”, sapa seorang perempuan dengan nada lembut

“Waalaikumusalam. Iya dengan siapa ya?”, jawabku

“Saya Ekalia mbak. Saya dapat kontak njenengan dari ustadzah mu’minah.”

“Oiya, ada apa mbak?”

“Begini mbak nia, untuk ramadhan tahun ini taman bermain Maya Ananta di RS. Moewardi akan ada TPA setiap senin-jumat. Dan kebetulan kita kekurangan pengajar. Ustadzah mu’minah yang merekomendasikan antum mbak”

“Maya Ananta?”, tanyaku dengan nada sedikit ragu

“Iya, itu taman bermain untuk anak-anak kanker mbak”

“MasyaAllah . . . .insyaAllah saya usahakan. Tapi saya hanya bisa hari senin dan kamis saja. Bagaimana mbak?”, balasku dengan tertegun akan adanya agenda TPA yang mulia itu

“Ogitu ya mbakk, oke ndak apa”

 

Sore ini, aku langsung bisa berkunjung ke Maya Ananta untuk belajar quran bersama anak-anak penderita kanker. Ada satu anak khusus yang harus aku sendiri yang mendatangi ke kamarnya, karena ia baru saja selesai di kemoterapi. Jadi belum beoleh kemana-mana. Tapi karena semangatnya kuat, maka aku yang akan mendatanginya.

“Assalamualaikum”, sapaku kepada penghuni kamar

“Waalaikumusalam. Kakak pasti Kak Nia ya”, jawab seorang anak dengan rambut botak yang terlihat puscat sekali

“Iyaa, kok kamu tau? Namamu siapa?”, timpalku padanya

“Aku suka baca buku kakak tentang perjuangan kakak mengahafal quran dan merawat Ayah. Namaku Afsya”, jawab ia dengan senyum cerah seakan bukan penderita kanker

“MasyaAllah kamu baca bukunya?”, tanyaku dengan wajah kagum

“Aku boleh minta tanda tangan nggak kak?”, sambil menyodorkan buku kepadaku

“Boleh. . . .Asalkan kita tilawah dulu yaa”

 

Seusai tilawah, Afsya pun meneteskan air mata. Dan ia memberiku pesan yang masih terngiang hingga sekarang. “Sedih sekali kak rasanya harus berbaring di kasur ini. Aku ingin sekali bisa bermanfaat untuk banyak orang, aku ingin sekali bisa kuat baca ber juz-juz setiap harinya. Aku heran, kenapa orang yang diberi nikmat sehat masih saja menduakan ramadhan dengan hal duniawi lain. Kak, temani aku mengkhataman quran ku ya”

“InsyaAllah Afsya. Kita luruskan niat kita untuk-Nya ya”, jawabku sambil menangis mengingat segala nikmat yang kadang aku lupa untuk mensyukurinya

“ Oiya aku juga lagi nulis buku kak, nanti kalau Allah lebih dulu memanggilku sebelum buku ini selsai. Tolong lanjutkan ya. Aku percaya kakak penulis hebat.”, kata Afsya sambil memberikan rancangan bukunya padaku dengan judul Sampaikan Salamku untuk Ramdhan Tahun Depan

Aku sanagt kaget membaca judul rancangan buku itu. Karena itu adalah kalimat terkahir yang Ayah ucapkan sebelum meninggal. Qadarullah. Afsya pun meninggal tepat setelah ia khatamkan  bacaan qurannya. Di hari ke 20 Ramadhan. Aku baru saja ingin berpamitan untuk i’tikaf dan tidak mengajarnya di penghujung ramdhan. Tapi Allah berkehendak lain, ia lebih dahulu berpamit untuk selamanya. Semoga Allah menerima segala amalnya. Dan semoga aku juga berkesempatan untuk menyampaikan salamnya untuk ramadhan tahun depan.

 

Tulisan ini adalah kisah nyata dan didedikasikan untuk 2 orang yang telah mengingatkan saya bahwa teman terbaik tak akan berubah. Teman sejati yang ada disamping kita tetaplah kematian. Tak kan disangka apakah salam untuk ramadhan selanjutnya tersampaikan. Semoga dengan mengingat kematian, tak ada lagi amal yang dirasa cukup untuk Ramadhan yang akan berakhir ini. Dan Semoga tahun depan kita masih bisa menyambut dan mengakhiri ramadhan dengan sebaik baiknya kemenangan.

 

29 Ramadhan 1438

 

Diah Kurniawati

Like
Like Love Haha Wow Sad Angry

Tinggalkan Balasan