RAMADHAN HARI PERTAMAKU

oleh: Zuraida Ahadiyah Bulqies

“Hai, senang bertemu denganmu!”

Sontak perlahan aku menyodorkan tangan sambil gemetaran. Sejak saat itu aku mulai mengenalnya, gadis lemah lembut nan cantik. Matanya bening seakan kilau mutiara south sea pearl. Panggilannya  Zidya.

Zidya teman pertama yang kukenal di Junrejo. Sejak sepekan di Junrejo, aku tak pernah keluar rumah dan bermain dengan siapapun kecuali dengannya, teman baruku.

Sedianya Zidya gadis yang cukup aneh bagiku. Seragam sekolah yang ia gunakan menguning, kusam dan kurang rapi.

Kadang tebersit empati padanya, tiap kali melihat penampilannya yang sangat dekil. Rambutnya terurai dan nampak kusam.

“Kamu mau aku belikan seragam baru, Zid?” aku menawarkannya karena kasihan melihat penampilannya.

“Tidak usah. Begini saja sudah cukup bagiku. Alhamdulillah” Zidya memasang wajah tegar.

Zidya dan aku berkawan baik. Ia bercerita banyak tentang guru, satpam,  pegawai dan semua hal tentang sekolah baruku. Ia bercerita seolah guru TK mendongengkan fabel kepada muridnya. Sangat jelas, detail dan menarik perhatian.

“Kamu pernah membaca buku apa?” gadis itu bertanya.

”Ehmmm … buku sains, matematika, dan buku pelajaran lainnya, Zid,” jawabku sambil menggaruk kepala karena malas membaca kecuali pelajaran sekolah.

“Wah, bagus. Membaca harus digemari dan aku akan mengajakmu ke perpustakaan setiap hari agar kamu terbiasa membaca buku sekaligus kita bisa membaca Alquran dan murojaah.” Kata Zidya.

Zidya senang sekali membaca buku. Ia mengajakku ke perpustakaan di waktu istirahat dan jam kosong. Perpustakaan sudah menjadi tempat tongkronganku dan Zidya.

“Ayo ke perpus, ada buku novel baru. Sekaligus kita membaca Alquran dan murojaah.” Ujar Zidya.

Padahal aku termasuk orang yang anti membaca buku. Bahkan selama hidupku, bisa dihitung jari berapa kali aku mengkhatamkan buku.

Notabene siswa-siswi di sekolah baruku juga sama. Mereka tidak banyak yang gemar ke perpustakaan. Perpustakaan hanya akan menjadi tempat tongkrongan sambil rebahan karena lantainya dilapisi karpet.

Entah apa yang membuat Zidya tertarik membaca buku, dan berhasil menyihirku untuk gemar membaca. Setiap kali sekolah menginformasikan terbitan buku baru yang dimiliki sekolah di mading, aku enggan menolak ajakan Zidya. Rasanya kebiasaanku membaca menjadi makanan pokok dalam sehari.

“Baca buku novel terbaru, baca Alquran dan murojaah asyik juga ya, Zid,” cakapku dengan percaya diri.

“Ya, karena kamu ikhlas. Segala yang dilakukan dengan ikhlas akan menyenangkan diaplikasikan,”balasnya ramah.

Banyak waktu yang kita luangkan di perpustakaan. Hampir satu buku baru yang terkini khatam setiap hari dengan membacanya cepat. Buku yang kubaca adalah novel kontemporer yang new release dan best seller. Meskipun demikian, membaca Alquran tak kutinggalkan. Aku merehat sejenak otakku dengan membaca Alquran dan novel bergantian.

“Wah, lumayan juga uang jajanku tersisa sepuluh ribu rupiah karena sedang puasa bulan ramadhan.” Tak jarang kami menyisihkannya ke kotak amal El-zawa, pusat kajian zakat dan waqof di sekolah kami. Kotak amal di sekolah baruku terkenal akan kehampaannya. Takmir masjid jarang meliriknya karena saking seringnya tak terisi. Semenjak aku dan Zidya rutin mengisinya, kotak itu mulai penuh sehingga pernah suatu saat kami melihat takmir masjid keheranan dan kebingungan mencari kunci kotak amal untuk mengamankannya karena telah penuh. Saking lamanya.

Zidya mengingatkan dan mengajakku bershodaqoh. Alangkah tentramnya bersama Zidya, aku merasa lebih baik dan damai berteman dengannya.

Sekali waktu pulang sekolah, ia menyodorkan jari telunjuknya kepada anak kecil yang sedang memainkan gitar sambil kocar-kacir bernyanyi. Lampu merah merupakan tanda mulainya anak itu bernyanyi. Sedangkan lampu hijau menjadi tanda selesainya bocah itu menembang. Zidya menasihatiku,” Lihatlah pengamen cilik itu, untuk makan pun mereka harus berusaha keras. Jangan lupa bersyukur.”

Rumahku dan Zidya berdekatan, hanya terpisah 5 bangunan sehingga sangat sering kita bertemu di taman dekat rumah untuk membaca buku, membaca Alquran dan murojaah bersama.

“Ayo berangkat, ayo berangkat.” Setiap berangkat sekolah, Zidya rutin menjemputku 30 menit sebelum bel sekolah berbunyi. Zidya bagaikan alarm sekolahku. Di sekolah lama, aku terkenal siswi yang sering telat.

“Tumben sekali kamu rajin berangkat pagi. Cepat habiskan sereal yang telah ibu seduh dengan susu coklat kesukaanmu.” Ibu mengusap hangat kerudungku. Aku berlari kecil merapikan kancing lengan seragam. Ibu berusaha menangkapku dan memijat pundakku yang sedang menali sepatu di halaman depan.

“Tidak, bu. Temanku telah menunggu. Akan kuhabiskan seusai sekolah nanti.”

“Tidak akan renyah lagi, Nak. Ibu siapkan kotak bekal agar kamu memakannya di sekolah ya.”

“Assalamu’alaikum, Bu.”

“Eh, tapi … Wa’alaikumussalam.”

Akhir-akhir ini ibu sering memuji perubahan tingkah laku dan prestasi akademikku. Padahal aku merasa biasa saja dalam belajar. Bedanya, hanya semakin banyak buku yang kubaca dan kedisiplinanku ke sekolah semakin tertata.

Teman memang berpengaruh terhadap kehidupan. Berteman dengan Zidya membuatku berubah ke arah yang semakin baik. Ketika aku kesulitan menyelesaikan tugas sekolah, Zidya selalu ada untuk membantuku. Saat ulangan, Zidya mengingatkanku untuk re-call materi yang telah dipelajari. Kehadirannya kadang tidak disangka-sangka. Tiba-tiba mengetuk pintu kamar dan masuk menjelma peri yang berhumanitas.

Di perpustakaan, aku dan Zidya sering bercengkrama seolah-olah saudara kandung sendiri. Zidya mengajariku akan keikhlasan, prestasi akademik, kiat belajar, tips melawan bosan membaca dan menghafal Alquran dan banyak hal yang kupelajari darinya.

“Buku berjudul Buto Biru ini sangat berarti bagiku.” Zidya menunjukkannya padaku sambil ia peluk mesra.

“Bolehkah aku membacanya, Zid?” pintaku penuh pengharapan.

“Tidak perlu, cukup kamu membaca Alquran dan membaca novel kontemporer dan murojaah seperti kebiasaanmu,” katanya sambil menepuk pundakku.

Tidak lama kemudian, aku bergegas keluar menuju kelas karena bel berbunyi menandakan jam pelajaran kedelapan telah dimulai.

“Ayo Zid, ke kelas,” ajakku sambil menggandeng tangannya kemudian berlari menuju kelas. Namun, tiba-tiba Zidya menghilang. Tanganku yang semula bergandengan tangan dengannya menjadi kosong, tidak ada jejak sedikitpun darinya.

Di lorong-lorong menuju kelas, saru antara gelap yang pekat. Hening hampa ini membuatku merinding. Sesuatu menyentuhku dari belakang. Suara tawa dengan lantang terdengar membuat kupingku tak tahan.

“Hai, gadis kecil. Huahuaaaahuaaaahah. Kemarilah. Aku sangat lapar.” Suara ini menggema sepanjang koridor sekolah.

Aku menoleh ke belakang dan melihat raksasa yang amat besar dan menyeramkan.

“Tolong jangan mendekat, pergilah dari sini! Jangan coba-coba mendekat wahai makhluk aneh” teriakku keras.

“Ini adalah tempat yang sudah kulalui.” Ucapku dalam hati melihat lorong itu tiada putus-putusnya rasanya aku berada tetap di tempat awal dan terus memutari tempat yang sama.

Sedangkan raksasa terus saja menyeru.”Kemarilah wahai gadis. Aku sangat lapar. Aku akan memakanmu untuk makan siangku huahaahahahah ”

Raksasa bertubuh biru besar itu memegang jarum tajam yang besar sekali dengan bekas darah yang melekat dan mengarahkannya pada tubuhku yang terus berlari menghindarinya. Betapa menakutkannya saat itu. Setiap inci permukaan kulitku seperti berada di atas awang, tak menapak meski semili saja. Hening hampa ini membunuhku.

“Tolong, tolong, tolong. Pergi dari sini, tolong pergi, Raksasa.” Aku menjerit sekuat tenaga.

“Kamu bermimpi? Jangan tidur di perpustakaan. “Ayo, pulang.” Seseorang mengguncang tubuhku.

“Siapa kamu?” Aku keheranan.

Tak ada yang meyahut. Semua bak jalur hitam berputar melewati pintu ajaib Doraemon. Sembari terus berasumsi,aku berusaha tenang. Hal pertama yang kuingat saat itu adalah silaunya sengatan sinar mentari bersamaan dengan guncangan dari pundak belakangku. Aku berbalik. Semua terasa asing yang familier.

Nampak cahaya biru di meja belakangku.

Pandanganku semakin jelas. Aku terkejut mengetahui diriku berada di perpustakaan bersama sebuah kitab Alquran yang kupegang. Aku mencelos dan mengusap wajah frustasi. Sekali lagi kutepuk wajahku kuat-kuat.

Aku bersegera meninggalkan perpustakaan.

“Siang-siang saat bulan ramadhan ini menjadikanku terlelap nyenyak di perpustakaan sekolah dengan berbagai mimpi yang aneh.” Ini adalah puasa hari pertamaku di bulan Ramadhan, membaca Alquran dan murojaah hingga tertidur di perpustakaan sekolahku.

Like
Like Love Haha Wow Sad Angry
181921

Leave a Reply