Perspektif Islam Mengenai Wanita Melalui Pendekatan Al-Quran

Pria dan Wanita memiliki perbedaan fisik dan psikis yang berbeda, dan hal ini tidak dapat dipungkiri. Dengan adanya perbedaan ini bukan berarti pria lebih unggul dari wanita dan sebaliknya, hal ini menunjukkan bahwa adanya bentuk fisik dan psikis atau karakter yang berbeda. Secara phiolosphy yang terkandung di dalamnya adalah keduanya harus dapat bekerja sama dan berperan sesuai dengan kodrat dan tabiatnya masing-masing.

 

Pembahasan wanita memang selalu menarik dan aktual untuk dikupas, hal ini disebabkan wanita mampu menggoncang dunia dan menjadi indikator dalam kebaikan dan kemajuan dunia. Sebagaimana yang diungkap bahwa jika baik wanita suatu negara maka baik pula negaranya dan jika wanita suatu negara buruk maka buruk pula negaranya.

Islam sebagai agama tidak pernah mendeskriminasi wanita. Islam memiliki  norma-norma yang berasal dari kalam ilahi dan menempatkan wanita pada posisi yang sangat terhormat dan memuliakan wanita sesuai dengan kodratnya sebagai muslimah. Dalam tinjauan sejarah menunjukkan wanita sebagai masyarakat kelas dua seperti pada zaman jahiliyah. Wanita dianggap sebagai objek dan lebih banyak dibebani kewajiban daripada memperoleh haknya.

Artikel ini menulis dan mengemukakan perspektif Islam terhadap derajat wanita ditinjau dari pendekatan Alquran dan Historis. Alquran sebagai pedoman dan sumber primer dalam mengungkap bagaimana Islam mengangkat derajat wanita.

 

Wanita berdasarkan Alquran

Alquran sebagai kitab suci ummat Islam berbicara mengenai wanita. Wanita dalam Alquran sangat variatif. Ada yang disebut an-nisa’, dimana kata an-nisa’  menunjukkan jender atau perempuan dan bermakna istri-istri[1] yaitu dalam bentuk jama’. Kemudian ada pula yang ditulis a-mar’ah artinya istri[2], yaitu sebagai bentuk mufrad dari an-nisa’.

Alquran yang pertama kalinya mengakui wanita sebagai entitas yang sah dan memberikan mereka hak dalam perkawinan, perceraian, harta dan warisan. Keadaan ini ditunjukkan dalam sejarah bahwa Rasulullah telah melakukan perubahan besar dalam tradisi masyarakat Arab khususnya terkait posisi dan kedudukan wanita.[3]

Beberapa hal yang dipromosikan oleh Muhammad saw. adalah:

  • Hak waris kepada wanita dimana wanita Arab pra-Islam tidak mendapatkan warisan bahkan pada saat itu wanita dianggap sebagai komoditas yang diwariskan.
  • Penetapkan kepemilikan mahar sebagai hak penuh wanita dalam perkawinan dimana pada saat itu kepemilikan mahar dianggap hak monopoli dari orang tua dan wali mempelai wanita.
  • Sistem poligami masyarakat Arab pra Islam yang tanpa batas, maka Islam membatasinya maksimal empat orang.
  • Posisi ibu adalah yang tertinggi di masyarakat, dimana Arab pra Islam menganggap ibu hanya sebagai mesin produksi belaka.
  • Posisi istri sebagai mitra sejajar suami. Dimana saat Arab pra Islam menganggap bahwa istri dibawah suami, apapun yang dikatakan suami istri tidak boleh memberikan pendapatnya. Namun Rasul merubah kondisi tersebut dengan menjadikan istri sebagai mitra dalam berumah tangga.

Wanita adalah makhluk unik yang diciptakan Tuhan. Aquran surah An-nisa’ ayat 1 menjelaskan bahwa manusia diciptakan dari nafs wahidah. Menurut kebanyakan ahli tafsir yang dimaksud nafs wahidah yaitu Adam. Namun Jaluddin al-Suyuti menafsirkan an-nafs artinya jenis. Athiyah Saqar berpendapat bahwa penciptaan hawa dari tulang rusuk adam bukanlah ittifaq ulama, menurut Saqar artinya Adam dan Hawa diciptakan dari jenis yang sama yaitu tanah.[4] Quraish Shihab tidak mendukung pendapat yang mengatakan bahwa wanita diciptakan dari tulang rusuk Adam, beliau lebih menekankan persamaan unsur kejadian Adam dan Hawa serta persamaan kedudukannya[5] Kataa nafs  dalam Aquran terdapat 295 kali dan tidak ada yang berkonotasi Adam melainkan menunjukkan konteks jiwa[6] dan juga jenis atau bangsa[7]. Sehingga dapat dilihat bahwa Aquran mendudukkan posisi wanita pada tempat yang sejajar serta meluruskan pandangan yang keliru mengenai perempuan. Sehingga perempuan pantas mendapat apresiasi.

Apresiasi Alquran terhadap perempuan diantaranya;

  1. Surah khusus mengenai wanita yaitu surah an-Nisa’
  2. Larangan berbuat masalah terhadap wanita, yaitu:
  • Masalah wa’du al- banaat (pembunuhan bayi perempuan), Arab jahiliyah menganggap kelahiran bayi perempuan sebagai aib kepada keuarga. Alquran membersihkan anggapan tersebut dengan; menyebutkan bahwa bayi perempuan yan g lahir sebagai berita gembira dari Allah Alquran mengutuk melalui firman surah at-takwir: 8-9 tentang gambaran tanggung jawab yang besar pada hari kiamat dan an-Nahl : 58-59 mengenai kutukan bagi masyarak jahiliyah.
  • Masalah al-‘ajal (adat menghalangi atau melarang perempuan dari nikah setelah talak). Larangan ini terdapat pada surah al-Baqarah:
  • Masalah al-Qisamah (kebiasaan buruk yang cukup aneh dikalangan orang Arab Jahiliyah berupa larangan kepada kaum wanita meminum susu binatang seperti onta, kambing dan sebagainya, sementara kaum pria dibolehkan. Larangan ini terdapat pada surah al-an’am ayat 139.
  • Masalah al-zhihar, berupa pernyataan seorang laki-laki kepada Istrinya bahwa idtrinys itu baginya seperti punggung ibunya, sehingga terlaranglah mereka berhubungan suami istri sebagaimana larangan berbuat itu kepada ibunya sendiri. Larangan ini terdapat pada surah Al-Mujadillah ayat 1-3.
  • Masaah al-ilaa’, kebiasaan sumpah seorang suami untuk tidak bergaul dengan istri, sebagai hukuman padanya. Pada Arab jahiliyyah hukuman tersebut tanpa batas waktu, Alquran membolehkannya jika diperukan namun hanya sampai maksimal empat bulan atau talak. Sumpah tidak berhubungan dengan istri tanpa menceraikannya adalah penyiksaan dan perendahan derajat wanita. larangan ini terdapat pada surah al-baqarah ayat 226-227.
  1. Penegasan kesamaan hak dan kewajiban (QS. 53: 45-46; QS. 4:1; QS. 49: 13 dan QS. 7: 190) diantaranya
  • Kesamaan dalam bekerja secara profesional (QD an-Nisa’; 32)
  • Kesamaan menuntut ilmu (QS. Al-‘Alaq : 1-5; Al-Thaha:114)
  • Kesamaan dalam bidang poitik (QS.Al-Ahzab: 33, an-Nisa’ : 34, at-Tawbah: 71)

 

Islam Memuliakan Wanita

Islam muncul disaat jahiliyah sangat membenci anak perempuan.[8] Mereka mendandani bayi tersebut lalu menguburnya hidup-hidup tanpa merasa ada dosa dan kesalahan. Islam muncul dan mengharamkan perbuatan tersebut. Dan mengajak pemeluknya untuk mengankat kedudukan wanitan dan memuliakannya.[9]

Nabi bersabda:

 “Barang siapa yang mempunyai dua anak perempuan (lalu) ia mengurusnya sampai baligh, maka pada hari kiamat nanti ia bersama saya seperti ini’. Dan beliau merapatkan jari jemarinya. HR. Muslim.

 

Dalam lafaz lain Nabi bersabda:

“Barangsiapa yang diberi beban dengan mengururus anak perempuannya, lalu ia berbuat baik kepadanya, maka mereka akan menjadi hijabnya dari api neraka”. HR Bukhari dan Musim[10]

 

Ketika Islam datang jahiliyah tidak memberikan hak waris kepada wanita bahkan mereka mempunyai kebiasaan mewarisi wanita yang ditinggal mati suaminya dengan paksa, dan menyamakan wanita tersebut dengan harta . Kemudian Islam datang dengan mengharamkan perbuatan yang rendah dan hina tersebut sebagaimana yang dijelaskan dalam surah an-Nisa’ ayat 19. Selain itu kebiasaan jahiliyah yang ain suami melarang mantan istrinya yang teah dicerainya untuk menikah lagi sampai ia dapat mengembalikan mahar yang pernah diberikannya kepada mantan istrinya, begitu pula bapak dan kakak laki-laki yang sesuka hatinya melarang anak atau adik perempuannya untuk menikah tanpa ada alasan yang jelas. Namun Islam datang dan memerangi kebiasaan buruk ini dan membatalkan adat istiadat yang salah ini dengan firmannya surah an-Nisa’:19 dan al-Baqarah: 232. Selain itu pula masa iddah wanita jahiliyah yang ditinggal mati suaminya adalah satu tahun penuh, lalu islam memberikan rukhsoh dengan sepertiganya sesuai dengan surah al-Baqarah ayat 234.[11]

Untuk menyempurnakan wanita agar menjadi lebih mulia  maka islam menganjurkan wanita agar menjaga auratnya yaitu dengan menggunakan hijab (QS. Al-Ahzab: 53, 55,59 dan an-Nur: 31). Oleh karena itu Islam telah menetapkan standar berpakaian dengan pakaian taqwa yang mengandung dua fungsi, yakni fungsi etis sebagai penutup aurat dan fungsi estetis dengan memperhatikan aspek seni / keindahan. Dalam Alquran terdapat istilah pakaian yakni; libas dan tsiyah  yang identik dengan pakaian dan istilah zinah dan riyas yang identik dengan fungsi pakaian sebagai perhiasan.

 

Penutup

Wanita dalam pandangan Islam memiliki kehormatan tinggi dalam bermasyarakat. Wanita menjadi indikator baiknya sebuah negara karena peran wanita sangat penting. Oleh sebab itu kesetaraan antara wanita dan pria merupakan hal yang dibenarkan di dalam Islam dilahat dari kodrat dan tabiatnya sebagai muslimah.

Aquran sebagai pedoman dalam menjalankan aktifitas muslim/muslimah mengupas mengenai wanita perspektif Alquran yang sangat menjaga kehormatan wanita baik fisik maupun psikis , hal ini bertujuan untuk memperoleh kehidupan yang baik untuk dunia dan akhirat.

 

 

Daftar Pustaka

 

Abdullah bin Jarullah bin Ibrahim al-Jarullah, 2012. Masuliyatul Marah al Musimah, Terj. Kemuliaan Wanita Dalam Islam, Jakarta: IslamHousecom

 

Ali Ajufri, Kedudukan perempuan menurut Aquran, Musawwa, Vol 3, No. 4, Desember 2011

 

Athiyah Saqar, 1999. Fatawa al-Mizan, Kairo: Al-Azhar al-Syarif.

 

Lajnah Pentashihan Mushaf a-Qur’an, Tafsir al-Qur’an Tematik, 2009. Jilid II, Jakarta: Badan Litbang dan Diklat Kemenag RI

 

Quraish Shihab, 1996. Wawasan Al-quran, Bandung, Mizan, 1996

[1] Lihat surah: Albaqarah: 187, 222, 223 dan 226

[2] Lihat surah al-Tahrim ayat 10

[3] Ali Ajufri, Kedudukan perempuan menurut Aquran, Musawwa, Vol 3, No. 4, Desember 2011: 235-246

[4] Athiyah Saqar, Fatawa al-Mizan (Kairo: Al-Azhar al-Syarif, 1999), h. 78

[5] Quraish Shihab, Wawasan Al-quran (Bandung, Mizan, 1996), h. 300

[6] Lihat Surah Yusuf ayat 53, Lajnah Pentashihan Mushaf a-Qur’an, Tafsir al-Qur’an Tematik, Jilid II, (Jakarta: Badan Litbang dan Diklat Kemenag RI, 2009), h.4

[7] Lihat an-Nahl ayat 72

[8] Lihat an-Nahl ayat 58.

[9] Lihat at-Takwir ayat 89

[10] Riyadus saihin dalam bab Mulaathafatul yatim wal banaat, hadis no 8-9

[11] Abdullah bin Jarullah bin Ibrahim al-Jarullah, Masuliyatul Marah al Musimah, Terj. Kemuliaan Wanita Dalam Islam, (Jakarta: IslamHousecom, 2012)h.5-10

 

Like
Like Love Haha Wow Sad Angry

Tinggalkan Balasan