Perempuan, Ibu, dan Emansipasi

Suatu ketika, saya prihatin dengan kejadian yang beberapa kali terjadi di negeri ini. Keprihatinan saya yang paling dalam seketika muncul ketika mengetahui bahwa ada orang yang mencuri –maaf- celana dalam wanita, divonis harus mendekam di penjara selama 5 tahun. Ada pula buruh yang mencuri 2 kilogram kapas senilai 4 ribu rupiah, mesti dikurung sembari menunggu putusan sidang. Mengapa mereka dihukum? Karena mereka mengaku, pikir saya. Sementara itu, ada orang lain, yang bukan buruh, bukan fakir, bukan miskin, dan tidak sedang kelaparan, mencuri uang milik rakyat bernilai trilyunan. Mungkin kalau uang itu kalau dibelikan kapas bisa dapat berton-ton, atau bisa juga untuk membeli celana dalam yang bisa dipakai oleh seluruh rakyat Indonesia. Dipenjarakah mereka? Bisa jadi saat ini mereka sedang dugem atau main golf menghabiskan uang haram itu. Ironisnya, mereka tidak mengaku. Mereka lebih suka berlakon ala bajaj, ngeles, dan menyumpal palu para penegak hukum dan menjejali dompet mereka dengan uang hasil curian juga. Dugaan terbaik saya, salah satu hal yang berperan dalam mencetak mental para pejabat itu tidak lain perkara peran keibuan.

Jika kita membaca sejarah, kita akan mudah untuk menyimpulkan bahwa peran perempuan dalam masyarakat Indonesia dahulu sangat terkerdilkan. Bahkan pada kaum priyayi sekalipun. Perempuan telah didesain memiliki hak yang kelewat terbatas, lalu mereka terpaksa mempercayainya, dan kepercayaan itu diwariskan pada anak perempuan dalam keluarga.  Pada masa itu -menurut saya- perempuan hanya diplot sebagai istri, bukan dipersiapkan untuk menjadi Ibu. Jobdesc perempuan disimplifikasi, dan ranah aktivitasnya dikerangkeng sebatas dapur, sumur, dan kasur. Yang paling gawat, potensi utama seorang Ibu sebagai pendidik digunduli dan dipangkas habis. Perempuan jaman itu tidak terdidik, dan tidak disiapkan untuk jadi pendidik. Wajar jika anak-anaknya kemudian seperti tidak pernah mendapatkan sentuhan didikan ala seorang Ibu, yang lebih banyak ke perkara softskills. Produk generasi itu memiliki kualitas budi pekerti yang minimal, mental yang melempem, dosis kejujuran yang kelewat sedikit, keberanian yang tipis, pemahaman agama yang dangkal, dan seterusnya. Sekolah formal bisa jadi akan kesulitan mengajarkan penatalaksanaan semua masalah tadi, tapi sekolah ala Bunda di rumah saya yakin pasti bisa.

1616368_10200494958376670_1636910664_n

Perempuan itu kadang serupa dengan pers. Dahulu dikekang, sekarang bebas. Mungkin memang terinspirasi dari pers, ada juga perempuan yang oportunis dan bertingkah kelewat batas. Macam infotainment, semua perkara di muka bumi dianggap jadi hak mereka untuk disiarkan, ditonton dan didengar seluruh pasang mata-telinga manusia. Pokoknya bebas. Ironisnya, mereka yang mempertuhankan kebebasan itu, walaupun di satu sisi sukses merebut kembali hak-hak perempuan yang sempat tercerabut, di sisi lain kewajiban utamanya justru terbengkalai. Sunnahnya jalan, fardhunya kedodoran.

Perempuan itu, sebelum menjadi apapun profesinya, sejatinya ia adalah calon Ibu. Maka ia harus belajar dan dikondisikan untuk mendapatkan kurikulum pendidikan keibuan. Dari kecil, kebanyakan orang tua kita lebih banyak menanyakan tentang cita2, profesi, mau jadi apa kelak ketika besar, dan mengecek setiap hal yang berkaitan dengan cita2 tadi secara berkala. Sudah mengerjakan PR atau belum, sudah belajar atau belum, dan seterusnya. Tapi perkara lain yang lebih pasti, bahwa si gadis ini akan menjadi Ibu, jarang sekali dikonfirmasi kemajuannya. Apakah si anak ini sudah cukup memahami agama, menguasai ketrampilan manajemen keuangan rumah tangga, memasak berbagai makanan yang memenuhi kebutuhan gizi keluarga, hingga kemampuan mendidik anak. Sayang sekali.

Yasudahlah, itu masa yang sudah lewat. Durhaka rasanya kalo kita menyalahkan orang2 tua kita atas apa yang terjadi pada diri kita sekarang. Urusan kita adalah masa depan, bukan masa lalu. Dalam konteks peningkatan peran keibuan, yang bisa kita perbuat kini adalah hendaknya masing2 perempuan mempersiapkan diri untuk menguasai seluruh kompetensi wajib seorang Ibu. Para lelaki pun tidak bisa tak acuh, berpikir bahwa ini bukan porsinya. Karena bisa jadi anak kita nanti adalah perempuan, yang juga akan menjadi calon Ibu, yang otomatis harus terpapar dengan kurikulum pendidikan calon Ibu. Karena itu, pastikan calon anak kita nanti akan mendapat didikan yang baik, dari seorang Ibu terpilih, yang juga baik. Jangan lagi mereproduksi generasi bermental tempe, yang bahkan untuk bertobat dan mengakui kesalahan diri sendiripun malu.

Wallahua’lam.

Ditulis oleh:

Hilmi Sulaiman Rathomi _Kadept KKIA-DEW3
dan
Sofa Rahmannia Hilmi _ Kadiv KKI-KKIA DEP 2010/2011

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *


*

sixty − 55 =