Penyatu Keputusan

Suatu waktu di hari yang cerah, tepatnya pukul 14.00 diadakan rapat penentuan tema Dies Natalis di aula kampus. Aula ini memang ber-AC, tapi rasanya suasana disini tidak kalah dengan terik matahari diluar. Panas.

Mengapa panas? Bagaimana tidak, semua panitia telah terbagi menjadi beberapa kubu. Rapat yang seharusnya menyatukan pemikiran malah menjadi ajang mementingkan ego dan mempertahankan pendapatnya masing-masing. Ada yang mau bertemakan budaya Indonesia, ada yang mau temanya tentang profesi, sampai ada yang menyampaikan tema super hero karena katanya lagi tren banget saat ini.

Semua menjadi semakin semrawut karena sepertinya sang ketua pelaksana pun juga tidak mau kalah dengan idenya. Sedangkan aku? Ah aku mau rapat ini cepat berakhir. Cukup lama rapat ini berlangsung hingga tidak terasa adzan Ashar berkumandang. Kata mufakat belum juga didapat.

Semua yang ada di Aula terdiam.

Ketua Pelaksana yang juga menjadi pemimpin rapat hari ini, mengatakan rapat ditunda sampai selesai shalat Ashar. Aku hanya bisa berucap syukur, Alhamdulillah, akhirnya aku bisa keluar dari aula ‘pengap’ ini. Kami pun berjalan menuju masjid kampus yang tidak terlalu jauh dari gedung aula tempat kami rapat.

Seusai sholat, ada sedikit ceramah dari ustadz yang menjadi Imam sholat Ashar tadi. Entah kenapa, isinya agak sedikit menyinggung.  Iya, menyinggung.  Khususnya para peserta rapat tadi. Ustadz tersebut memaparkan isi salah satu surah Ali Imran ayat 103 yang artinya:

“Dan berpeganglah kamu semuanya kepada tali (agama) Allah, dan janganlah kamu bercerai-berai”. QS. Ali Imran: 103

Aku termenung. Rasanya ayat Al-Qur’an itu salah satu teguran Allah untukku, kuharap teman-temanku yang lain juga menyadarinya, menyadari bahwa Allah sedang menyinggung kami. Sepulang dari masjid, rapat pun dilanjutkan. Namun, suasananya terasa berbeda. Tidak terasa lagi aura ‘panas’ seperti sebelumnya. Kami-para panitia lebih mau mendengarkan pendapat yang lain, tidak melulu menyela secara sembrono ketika yang lain tengah bersuara.

Pemimpin rapat pun sudah mengerti bagaimana cara mendapatkan keputusan terbaik. Dia tidak lagi ikut memaksakan kehendaknya dan dia mengarahkan rapat dengan sangat baik. Musyawarah lebih dikedepankan dengan pertimbangan yang matang, bukan hanya menguntungkan satu pihak melainkan dengan menyelaraskan kebaikan untuk khalayak. Akhirnya didapatkanlah keputusan tema Dies Natalis yang disetujui oleh semua peserta rapat.

Pada hakikatnya ketika sebuah perkumpulan hendak memutuskan suatu perkara, maka dengan musyawarahlah jalan terbaiknya. Musyawarah ada untuk menyatukan, bukan untuk mencerai berai.

Dan semua keputusan, kepada Allah-lah harus dikembalikan.

Begitupula dengan umat Islam, jika umat saling bercerai berai maka runtuhlah rasa persatuan dan kesatuan yang merupakan ciri kemunduran keimanan pada seseorang. Bandingkan jika umat Islam bersatu, mampu meredam ego pribadi, dan mementingkan kepentingan umat Islam, maka bukan tidak mungkin jika Islam kembali memasuki era kejayaannya, menghapuskan kemungkaran dari muka bumi. Bersatunya umat Islam merupakan cita-cita seluruh muslim yang dapat dimulai dari hal kecil seperti dalam kisah di atas. Membiasakan diri mengedepankan kebaikan demi khalayak meskipun meredam kehendak pribadi, tidak salah bukan?

Like
Like Love Haha Wow Sad Angry

Tinggalkan Balasan